Bab 19: Dimas Adalah Malaikat Pelindung

1212 Words
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Febri keluar dari toko makanan dan hendak berjalan ke halte. Wajahnya menengadah ke langit. Setetes air menjatuhi wajahnya yang terbalut bedak tipis. Cewek itu buru-buru mempercepat langkahnya ke halte. Ketika kakinya sudah menapak aman di lantai halte, hujan langsung mengguyur deras malam itu. Semua orang yang dilihatnya buru-buru berteduh. Namun halte tempat Febri berada tak kunjung didatangi orang untuk berlindung. Memang, letaknya yang cukup menjorok ke jalan raya membuat orang lebih baik meneduh di depan toko-toko. "Gawat,” gumamnya khawatir. Dia tak membawa payung. Sebuah kesalahan besar karena sudah beberapa hari ini hujan terus turun di kota Surabaya. Bunyi klakson kian lama bunyinya meredup. Mobil-mobil yang berjajar macet di jalanan kini berkurang seiring berjalannya waktu. Febri kembali duduk di kursi halte sendirian. “Gue pulangnya gimana, nih? Gojek aja deh.” Sayangnya, driver Gojek pun tak ada yang mau menerima orderan Febri. Bisa dipahami, karena hujan benar-benar deras dan berangin. Petir juga sering kali terdengar. Alternatif lainnya adalah Febri mengontak Papski untuk menjemputnya. Begini deh susahnya kalau nggak bisa mengendarai motor atau mobil. Baru terasa repotnya sekarang. Lagi-lagi angin mengembus kasar tubuh Febri membuatnya lebih merapatkan diri di sisi pojok halte, berharap halte itu dapat menelannya saat itu juga. “Papski, jemput Febri dong. Ini hujan,” kata Febri sambil memeluk tubuhnya perkara hujan angin yang mengempas tubuhnya. “Lah, Papski sama Mamski kan lagi ada acara di Malang. Coba telepon Kak Tika deh, siapa tahu bisa jemput kamu. Kamu meneduh dulu ya, Sayang.” “Ah iya, Febri lupa kalo Papski dan Mamski di Malang. Ya udah deh, ini udah neduh kok, aman.” Kata-katanya bohong. Saat ini posisinya tidak aman. Tubuhnya mulai merinding merasakan terpaan angin. Setelah mengakhiri percakapan dengan Papski, Febri buru-buru menghubungi Tika. Namun, sepertinya tidak ada tanda-tanda telepon akan dijawab. “Duh angkat dong!” Febri makin panik. Di sisi lain, handphone Tika sedang tidak bersamanya. Cewek itu mengeringkan rambut di kamar mandi. Handphone-nya berdering pun tidak akan terdengar. Febri menjauhkan handphone-nya dari telinga. Bingung sudah mau menghubungi siapa lagi. Dia semakin merapatkan tubuhnya dari serangan hujan angin. Mana jalanan mulai sepi lagi. Mau berganti tempat berteduh juga nggak mungkin. Hujan sederas ini nggak mungkin ada yang nekat berlarian di jalanan. Kepalanya jadi mendadak pusing. Tubuhnya sudah menggigil. Hari ini mungkin akan menjadi hari tersial di hidup Febri. Di saat sedang meratapi nasib, tiba-tiba Febri teringat Rama. Mungkin saja dia bisa menjemputnya sekarang juga. Jarinya kembali mencari kontak Rama secepat kilat. Sejenak keraguan melanda hatinya. Ia takut jika Rama akan menganggapnya cewek yang merepotkan walau faktanya begitu. Namun, keadaannya sekarang lebih mengenaskan daripada memikirkan rasa sungkannya. Dengan memaksakan kepercayaan dirinya dan setengah keraguannya, dia menekan tombol telepon. “Halo?” sahut Rama di seberang telepon. “Halo, Kak ... anu ... saya lagi kehujanan di halte. Um, Kak Rama bisa jemput saya nggak? Yang lainnya nggak bisa dihubungi...,” ucap Febri terpatah-patah. “Lo di mana posisi?” “Di halte dekat toko makanan di seberang toko buku itu, Kak.” “Oke. Gue jemput sekarang.” Telepon terputus. Febri mengelus dadanya yang berdegup kencang. Sekarang Rama pasti berpikir bahwa Febri adalah cewek super merepotkan. Tapi mau bagaimana lagi. Semoga pikirannya tidak terbukti benar. Rama buru-buru mengambil kunci mobilnya. Namun, begitu melangkah ke garasi, handphone-nya berdering. Langkahnya terhenti untuk memeriksa siapa yang menghubunginya. Della is calling… Matanya menyipit. Benda itu masih berdering di tangannya. Lalu dengan sekali ketuk, telepon itu terhubung. “Kenapa?” “Rama ... gue kangen.” Sial! Rama mengumpat dalam hati. Tampaknya Della ingin Rama menjadi teman curhatnya. Biasanya seperti itu. “Gue perlu ke sana?” tanya Rama. “Nggak usah, lagi hujan nih. Lo dengerin gue curhat aja. Gak papa kan?” Rama memejamkan matanya sambil mengepalkan tangan. Dia harus mengambil keputusan yang sangat egois, yaitu mengorbankan Febri demi Della. Sorry, Feb. Gue b******k banget. Hujan semakin deras. Tubuh Febri hampir basah seluruhnya. Makanan yang sengaja disisihkan untuk ucapan terima kasih pada Rama yang akan menjemputnya pun sudah tercampur dengan air hujan. Namun Febri terus menjaganya agar makanan ini tidak menjadi lebih parah. Bahkan Febri rela menutupi makanan itu dengan tubuhnya, karena tas yang ia bawa sudah basah kuyup. Alhasil bajunyalah yang kebas akibat air hujan. Tangannya terangkat ke udara. Sekarang sudah pukul setengah sembilan malam. Nggak terasa Febri sudah menunggu kehadiran Rama selama satu setengah jam sendirian di halte. Namun Febri tetap berpikiran positif. Mungkin Rama sedang dihadang kemacetan. Cewek itu mengusap wajahnya yang basah. Kehadiran angin membuat keadaan Febri lebih memburuk. Sudah basah, kedinginan pula. “Semoga Kak Rama nggak kenapa-napa,” ucapnya lirih dengan bibir bergetar. Jalanan di depannya sudah sepi. Hanya ada lampu sorot yang memperjelas derasnya hujan. Kulit jari Febri sudah mengerut. Tubuhnya menggigil sambil terus memeluk makanan untuk Rama. Tak lama handphone-nya berdering. Ada pesan Line dari Rama. Duh, hati Febri ketakutan. Takut jika hal buruk menimpa Rama di jalanan. Jika itu terjadi, Febri tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Rama: Sorry, Feb. Gue tiba-tiba ada urusan. Gue udah ngasih tau Dimas. Lo sama dia, ya. Sorry, Feb. Hancur. Hati Febri hancur membacanya. Air matanya lolos begitu saja dari kelopak matanya yang sayu. Makanan untuk Rama yang dijaganya mati-matian terlepas bebas dari genggamannya. Febri menutup mukanya dengan kedua tangannya yang bergetar. Menutupi air mata yang mengucur deras. Lalu tubuhnya terhuyung ke samping membiarkannya semakin basah oleh air hujan. Wiper mobil Dimas terus bergerak ke kanan dan ke kiri. Derasnya hujan benar-benar membuat jalanan jadi tak terlihat dengan jelas. Mobil itu melesat cepat begitu dikeluarkan dari garasi. Matanya sibuk mencari sosok Febri di tiap-tiap halte yang dilaluinya. Hatinya sakit sekali mendengar Febri menghubungi Rama untuk menjemputnya. Mengapa bukan dirinya? Ketika dilihatnya halte dekat toko makanan seberang toko buku itu, mobil Dimas merapat pada pinggir jalan. Tubuhnya bergerak untuk melihat apakah Febri ada di dalamnya. Demi Tuhan! Dimas langsung membuka pintu mobil begitu dilihatnya Febri tergeletak di bangku halte dengan basah kuyup. “Feb! Feb!” tepuk Dimas di pipi Febri. “Kak … Rama?” gumamnya lirih dengan mata terpejam. Tanpa aba-aba, Dimas langsung membopong tubuhnya masuk ke mobil. Ditaruhnya pelan tubuh Febri di kursi tengah. Dimas langsung memutari mobil untuk duduk di sampingnya. “Febri… bangun, Feb!” Dimas menepuk lagi pipi Febri. Dia masih menggumamkan nama Rama. Membuat hati Dimas semakin sakit mendengarnya. Dimas yang kini ada di hadapannya, mengapa nama Rama yang terus diucapkannya? “Febri, ya ampun, Feb, badan lo panas.” Dimas meletakkan kepala Febri di dadanya. Lalu dengan segenap jiwanya, ia memeluk cewek itu. Berusaha menghilangkan dingin yang menusuk tubuh Febri. “Kak … Rama,” lirihnya membuat luka Dimas semakin perih. “Iya, Feb, ini gue, Rama.” Demi Tuhan, Dimas menahan sesaknya di hati mengetahui bahwa yang diinginkan Febri adalah Rama. Bukan Dimas. “M-maaf ya, K-Kak.” Tubuh Febri langsung melemas di pelukan Dimas. Dimas mengusap pipi Febri berusaha membangunkannya yang pingsan di dadanya. Ditatapnya wajah Febri yang sayu karena menunggu Rama sedari tadi, namun tak kunjung datang. Rama b******k! Gila! Pedih sekali hati Dimas melihat cewek yang dicintainya menunggu sesuatu yang tidak pasti kapan datangnya. Sedangkan dirinya akan selalu ada untuknya. “Lo tau gue akan selalu ada buat lo,” lirih Dimas, semakin erat memeluk tubuh Febri. “Sisakan sedikit ruang di hati lo untuk nama gue.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD