Bab 2: Terima Kasih Untuk Nanti

1000 Words
Esoknya Febri turun dari angkutan umum dan berlari ke gerbang sekolah sambil terus mengumpat. Sial! Sial! Sial! Dilihatnya jam tangan sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Febri mendelik. Ia mempercepat lariannya hingga gerbang sekolah sudah terlihat di depan mata. Ah, dikit lagi! Febri terus berlari hingga tidak menyadari tali sepatunya terlepas. Alhasil, tak lebih dari dua detik, ia jatuh terjerembab tali sepatunya sendiri. “Aw!” pekiknya. Ya ampun! Kesialan apa lagi, sih, ini? Febri merintih pelan sambil mengusap-usap dengkulnya yang sedikit lecet akibat gesekan dengan aspal.  Cewek itu langsung cepat-cepat berdiri merapikan seragamnya dan berlari pelan menuju satpam gerbang. “Stop! Kamu terlambat 5 menit! Berdiri di sana sama yang lainnya!” Pak satpam menunjuk ke beberapa anak yang sama telatnya juga berdiri di samping gerbang sekolah. “Yah, Pak… saya ada pelajaran fisika di jam pertama. Saya bisa mati kalo ketahuan datang telat di jam Bu Cinta,” rengek Febri sambil memohon-mohon untuk diperbolehkan masuk kelas. “Salah kamu sendiri datang telat. Cepat sana!” Febri mengentakkan kakinya dengan kesal. Cewek itu belum menyadari bahwa semua siswa yang telat saat ini sedang menatap dirinya. Saat Febri menyadari sesuatu, pipinya memerah dan kepalanya tertunduk malu. Ia berjalan ke samping gerbang, bergabung dengan yang lainnya. Ia mencoba untuk memberanikan diri melihat siapa saja yang telat. Matanya berhenti ketika menemukan sosok cowok yang pernah membuatnya pingsan saat itu. Dimas. Febri terus mengutuki dirinya sendiri setelah melihat seulas senyum di wajah Dimas. Malu. Sangat malu. Duh, Gusti. Apa mereka tadi liat ya waktu gue jatuh? Huwaaa!!! Malu banget! rutuk Febri dalam hati. Kaki Febri mengetuk-ketuk tanah, bibirnya terus mengigit kuku-kuku jarinya. Ia gelisah. Ia merasa seperti sedang diamati oleh Dimas. Tepat jam menunjukkan pukul delapan pagi, pintu gerbang telah terbuka lebar. Semua siswa yang telat sudah diperbolehkan masuk. Febri langsung berlari ke kelas walaupun lelah karena di jemur di luar gerbang sekolah. Pintu kelas terbuka. Cewek itu membungkuk sambil mengatur napasnya yang terengah-engah. Semua mata kelas spontan memandang cewek itu. “Febriana! Kenapa telat?” tegur langsung Bu Cinta. “Masih kelas 10 udah berani telat!” lanjutnya. Febri gelagapan. Guru di depannya saat ini tidak main-main jika memberi hukuman pada siswa yang tidak disiplin. Pasti saat ini Febri akan dihukum…. “Minta tanda tangan lima anak OSIS. Sekarang!” tegas Bu Cinta. Kan benar. Sekalinya memberi hukuman, langsung mematikan. Ini benar-benar hukuman yang memalukan bagi Febri. Apalagi ia jarang berinteraksi dengan anak OSIS. Cewek itu bergegas keluar kelas setelah meletakkan tas di bangkunya dan memungut satu kertas dan satu pulpen, kemudian berjalan malas menelusuri lorong-lorong sekolah. Mencari lima anak OSIS yang sedang berkeliaran. “Kak Nando!” panggil Febri kepada Nando, yang tak lain tak bukan, kakak kandung Erina. Walaupun Nando mantan OSIS, bukan masalah, kan? Yang penting ada embel-embel OSIS-nya. Bu Cinta pasti tidak akan keberatan. Nando terlihat buru-buru dengan seragam olahraganya. “Apaan, Feb?” “Minta tanda tangannya, dong. Bentar aja, buat tugas,” kata Febri sambil memberikan pulpen dan kertasnya. Tanpa banyak cakap, Nando langsung menandatangi kertas kosong itu dan berlalu pergi. Sepertinya ia juga telat memasuki jam olahraga. “Sip,” kata Febri pada dirinya sendiri. “Siapa lagi, ya?” Ia meletakkan kedua lengannya di atas railing lorong. Merasakan embusan angin yang sedikit demi sedikit menghilangkan rasa kesal dalam dirinya. “Hai.” Febri terkejut dan langsung menolehkan kepalanya ke kiri. Dia mengerutkan dahi saat melihat Dimas sudah berdiri di sampingnya. “Ngapain di sini, Feb?” “Um, itu… lo sendiri ngapain di sini?” Bukannya menjawab pertanyaan, Febri justru melemparkannya lagi pada Dimas. “Ini kelas gue,” jawab Dimas sambil menunjuk papan yang bertuliskan 10 IPA 7. Febri menyengir, kemudian dia teringat akan hukumannya. “Oh, ya, Dim. Lo OSIS, kan?” Dimas mengangguk. “Kenapa?” “Gue butuh tanda tangan lo buat hukuman gue dari Bu Cinta karena telat,” jelas Febri. Dimas mengangguk lagi. “Boleh.” Febri memberikan kertas itu, namun ada satu yang kurang. Pulpen! Ah, iya! Pasti terbawa Nando tadi. Febri menoleh ke kanan-kiri sambil menggigit bibir bawahnya. “Pake pulpen gue aja dulu.” Seperti paham dengan situasi, Dimas mengambil pulpen dari saku seragamnya. “Makasih,” balas Febri pelan. “Yup. Sama-sama. Oh, ini buat lo.” Dimas memberikan sebuah plester bersamaan dengan pulpen dan kertas yang sudah dia tanda-tangani. Kemudian, berlalu pergi. Febri terdiam. Jarinya mengusap plester pemberian Dimas. “Thanks, Dim,” lirih Febri dengan tersenyum. . === . Pak Alvan menerangkan tentang pelajaran ekonomi. Di samping menjadi siswa jurusan IPA, siswa boleh memilih pelajaran peminatan di luar jurusan mayor. Seperti kelas Febri yang memilih pelajaran tambahan ekonomi di samping jurusan IPA. Febri tidak begitu fokus pada penjelasan Pak Alvan di papan tulis. Pikirannya sedang tidak berada di kelas. Ia menopang dagunya di tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya masih menyentuh pulpen Dimas. Hingga pelajaran usai, Febri masih termenung. “Lo nggak dengerin gue, ya?” senggol Erina di lengan Febri. “Hah, apa?” “Udah gue duga. Lo melamun dari tadi. Masih untung nggak kesambet,” gerutu Erina. “Omong-omong, pulpen baru?” Febri melirik tangan kanannya yang masih menggenggam erat bolpoin Dimas. “Eng-enggak. Bukan bolpoin gue.” “Bolpoin siapa, dong?” “Dimas,” ucap Febri lirih. “Dimas? Dimas siapa?” tanya Erina. “Dimas Anggara. Udah, yuk, ke kantin.” Febri langsung menarik lengan Erina keluar kelas. . === . “Dimas!” panggil Febri saat mereka berdua bertemu di parkiran. “Hai.” Dimas tersenyum. “Ini. Makasih, ya.” Febri mengembalikan pulpen milik Dimas. “Nggak usah. Buat lo aja,” tolak Dimas. “Tapi—“ “Buat kenang-kenangan,” canda Dimas sambil memasang helm dan menyalakan mesin motornya. “Lo pulang sama siapa? Mau gue anterin?” Febri menggeleng cepat. “Ng-nggak usah. Gue bisa pulang sendiri. Makasih.” “Oh, yaudah. Hati-hati, ya, gue duluan.” Febri mengangguk sambil tersenyum. Dimas langsung melajukan motornya hingga tak terlihat lagi di mata Febri. Cukup lama Febri terdiam di parkiran, hingga ia memutuskan untuk pulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD