Bab 3: Pertemuan yang Tak Terduga

1290 Words
Tinggal menghitung hari perlombaan karya ilmiah remaja dimulai. Febri tengah sibuk-sibuknya menyusun materi di komputer perpustakaan. Ia mendapatkan izin meninggalkan jam pelajaran dari pembina untuk menyelesaikan materi. Seharusnya sekarang Febri sedang ditemani oleh kedua temannya, Erina dan Vira. Namun, kedua temannya itu memilih untuk mengerjakan karya ilmiah di ruangan yang berbeda dengan Febri. Alhasil, kini Febri sendirian di deretan komputer perpustakaan. “Feb!” seru Erina lirih dan langsung menghampiri kursi Febri. “Lo suka Kak Rama?” tanya Erina to the point. “Apa?” “Lo suka Kak Rama?” ulang Erina sekali lagi. “Siapa itu?” tanya Febri mengernyitkan dahi. Erina mendecak tak sabar. “Jangan berlagak nggak tau, deh. Ini, ini, kan, fotonya Kak Rama?” Febri mengambil handphone-nya dari genggaman tangan Erina. Sebelum masuk perpustakaan tadi, ponsel Febri memang dipinjam Erina untuk selfie. “Oh, jadi namanya Kak Rama....” Febri tersenyum-senyum sendiri memandang foto Kak Rama yang ia ambil secara diam-diam saat bermain bulu tangkis. Erina tersenyum kecut. “Jadi gitu. Ternyata selama ini sahabat gue suka sama Kak Rama. Pantes.” “Apaan, sih, sirik aja.” Tak lama, pintu perpustakaan terbuka. Mata Febri melebar begitu yang dilihatnya masuk adalah Rama alias Si Balok Es! Sendirian. “Oh-my-god, Rin. He’s here,” lirih Febri menahan senyuman lebarnya. Jantungnya kembali berpacu cepat, membuat perutnya mendadak mulas. Erina menyentuh kedua tangan Febri. “He’s here. Now is your chance. Get to know him.” Erina berdiri dan meninggalkan Febri berdua dengan Rama di deretan komputer. Febri sempat melirik Erina yang mengucapkan “good luck” padanya. Oke. Get to know him. This is your chance, ucap Febri dalam hati. Jantungnya semakin cepat memompa darah ke seluruh tubuh. Membuat Febri mendadak merasa panas. “Mas, sudah presensi?” tanya salah satu petugas perpustakaan. “Sudah. Sambungan internetnya lancar, kan, Pak?” tanya Rama sambil berjalan melewati Febri dan duduk tak jauh darinya. “Dicoba aja,” balas petugas perpustakaan sambil berlalu. Hening. Tidak ada lagi satu patah kata terdengar. Hanya bunyi CPU yang bekerja dan semburan AC yang makin lama makin menusuk kulit. Rama tampak semakin menawan begitu memasang raut serius menatap layar komputer, membuat Febri diam mematung sesaat. Otaknya tak mampu lagi mengolah kata-kata. Bibirnya tak mampu berucap. Kini, hanya jari-jemari tangan Febri yang mampu mengetikkan beberapa pesan chat kepada Erina. Febri : God! Help me! Erina : Kenapa, Feb? Sukses? Lancar? Febri : Lancar pala lo. Buat napas aja gue sesak. Gue nggak tau harus gimana, Rin. Erina : Bilang aja “hai.” Febri : Gitu doang? Erina : Dimulai dari sesuatu yang sederhana, Feb. Febri : Sori. Gue nggak bisa. Gue takut. Erina : Ah, elo, mah, nyerah duluan. Handphone itu diletakkan kembali ke atas meja. Matanya melirik ke arah Rama yang sedang mengutak-atik komputer. Kemudian, dia melirik ke arah komputer Febri. Spontan, Febri memalingkan wajahnya seolah tidak tahu apa-apa. Hendak bibir berucap, Rama sudah dulu berdiri dan pergi dari perpustakaan. Febri menatap punggung Rama hingga tak terlihat lagi di matanya. Ia mendesah dalam hati. Kecewa pada dirinya sendiri. Padahal kesempatan seperti ini mungkin tidak akan pernah datang lagi. Dan karena ketakutannya sendiri, ia kehilangan kesempatan emas itu. Momen seperti ini, akan terus tersimpan dalam benak Febri sebagai hari di mana ia telah kehilangan kesempatan emas hanya untuk menyapa seseorang yang ia suka. . === . Febri melemparkan tasnya ke sembarang arah begitu memasuki kamarnya. Ia merasa kesal. Lalu mengempaskan dirinya di atas kasur yang nyaman, membuat matanya terpejam untuk sesaat. Kemudian sebersit tugas Biologi siang tadi membuat Febri kembali membuka matanya. "Anjir, kudu beli buku biologi!" Febri menepuk jidatnya lalu cepat-cepat mengganti pakaian tanpa harus mandi dulu. Cewek itu lalu turun dan mengambil tas selempangannya di samping kursi makan. Rin—mamski Febri—berjalan menghampiri anaknya yang tampak tergesa-gesa. "Febri mau ke mana?" tanya Mamski sambil duduk di kursi meja makan dan menggigit sebuah apel. Febri langsung mencium pipi Mamski sambil pamit. "Ke toko buku, Mamski. Lupa tadi." "Lah, kok nggak langsung tadi pulang sekolah?" "Lah iya, lupa Mamski." Febri ikut menggigit apel di tangan Mamski, lalu segera keluar rumah. "Febri pamit, Mam. Assalamualaikum." Setelah cewek itu mengunci pintu gerbang, ia melangkah keluar perumahannya dan mencari tukang ojek. Kenapa? Karena Febri nggak bisa naik motor dan nggak mau belajar naik sepeda motor. Maunya langsung naik mobil, karena sepeda motor berbahaya. Papski hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Bang, ke toko buku, ya," kata Febri ketika sudah duduk di atas motor. "Siap, Neng." Sepeda motor itu melaju di tengah kepadatan jalan raya kota Surabaya. . === . Febri menelusuri tiap rak di toko buku tersebut. Suasana dingin dan sepi membuat cewek itu bisa bertahan lebih lama dan betah di sana. Ia berjalan mencari buku tentang kinerja otak. Buku itu wajib dibawa tiap kali ada pelajaran biologi dan diharapkan para siswa mampu memahami bagaimana otak bekerja dalam kondisi apa pun. Setelah memutari beberapa rak, akhirnya ia menemukan buku yang dicarinya. Sempat ia baca sekilas lalu berjalan lagi untuk mencari buku tentang filosofi penyair terkenal sekaligus idola Febri sejak SMP, Kahlil Gibran. Siapa yang tidak tahu Gibran? "Gibran... di mana ya?" Febri menggumam sambil mengingat-ingat rak buku tempat karya Kahlil Gibran dipajang. Ia berhenti pada rak di dekat puisi-puisi. "Ah, ini." Febri langsung mengambil buku itu dan membukanya. Kembali lagi ia terlarut dalam dunianya sendiri. Kemudian di tengah-tengah imajinasinya, matanya menyapu dari bulu mata yang tidak terlalu lentik kepada seseorang di sampingnya. Seorang cowok yang memunggunginya sedang bertanya-tanya pada penjaga toko buku. Febri yang sedikit bisa mendengarnya tampak salut dengan keholikannya mengenai buku Kahlil Gibran. "Mbak, kalo versi Inggris-nya ada nggak? Saya kurang suka yang versi terjemahan Indonesia, kurang ngeuh aja artinya," kata cowok itu yang sepertinya sedang mencari buku Gibran versi aslinya yang dalam bahasa Inggris itu. Pastinya cowok tersebut mahir sekali dalam berbahasa Inggris. Febri semakin salut mendengarnya. "Oh, maaf, Mas, di sini buku versi asli adanya cuma buku Sherlock Holmes. Kalo Kahlil Gibran masih belum ada. Coba cari di pusat kota, kayaknya ada, Mas." Pegawai dan cowok itu berjalan mendekat, kemudian berhenti tepat di sebelah Febri. Pegawai itu menunjukkan kumpulan buku Gibran versi Indonesia. "Sherlock Holmes saya sudah punya banyak," jawab cowok itu. Ternyata Sherlockian juga ya? Kok sama sih? Keren deh. Febri menertawai kesamaannya dengan cowok di sampingnya dalam hati. Cewek itu menjadi lebih terfokuskan pada obrolan cowok di sampingnya daripada buku yang digenggamnya. Menurutnya, mendengarkan persamaan orang lain dengan dirinya itu menarik. Seolah dapat melihat diri sendiri dalam diri orang lain. "Omong-omong, novel terlaris di sini apa aja, Mbak?" tanya cowok itu sambil menelusuri rak-rak lainnya. Febri diam-diam merapatkan dirinya pada cowok itu saking tertariknya dengan percakapan mereka. Buku pada genggamannya semakin menutupi wajahnya, sehingga modusnya tak akan kelihatan. "Oh, terbitan w*****d semua ya?" Cowok itu terdiam sejenak. "Next time aja deh, Mbak, kalau gitu. Makasih ya." Lalu pegawai itu kembali membiarkan cowok tersebut kembali melihat-lihat koleksi buku di depannya. Febri adalah cewek yang penuh dengan rasa penasaran. Sering sekali dalam lamunannya terdapat pertanyaan-pertanyaan ilmiah yang ingin ia pecahkan. Karena itu tak jarang Mamski dan Papski melihat Febri sering berbicara sendiri di dalam kamar. Menurut ensiklopedia yang ia baca, jika orang berbicara sendiri itu adalah tanda-tandanya orang jenius. Bukan orang gila (yah, pokoknya jangan yang berlebihan banget). Dulu Albert Eisten juga sering berbicara sendiri. Ia mengungkapkan penelitiannya berulang-ulang dengan pelan untuk dirinya sendiri. Bicara sendiri juga membuat otak bekerja lebih efektif. Tanpa berpikir panjang, Febri langsung menyapa cowok di sampingnya yang jauh lebih tinggi dibandingnya. Kira-kira Febri setinggi dagunya. Jadi, ia harus sedikit mendongakkan kepala. "Suka Kahlil Gibran juga?" Cowok di sampingnya menurunkan bukunya lalu menoleh ke arah Febri. Saat itu juga Febri membeku di tempat. “Iya? Siapa, ya?” Febri mengerjapkan matanya berulang kali. Tanpa berpikir panjang, ia langsung terbirit-b***t membayar bukunya dan keluar dari toko buku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD