Mampus! Kenapa di saat begini, justru Kak Balok Es datang? Udah muka gue b**o lagi, rutuk Febri dalam hati sambil meremas-remas plastik bukunya.
Febri menunggu ojek yang lewat di depan toko buku. Hari sudah menjadi malam. Namun jalanan tetap saja tidak ada letihnya. Setiap harinya selalu sama. Ramai. Macet. Polusi.
Febri lebih suka merasakan sejuknya sebuah tempat dalam keheningan. Merasakan embusan angin yang selalu saja dapat membuatnya tenang. Berjalan di tengah rerumputan sambil memandang indahnya alam.
Namun realita yang ada saat kini berbeda dengan khayalannya. Mana ojek nggak lewat-lewat lagi.
Pintu toko buku terbuka membuat rasa sejuk dari dalam menyentuh kulitnya. Febri sedikit memiringkan kepala melihat kakak kelas itu keluar dari toko buku. Ia berjalan tanpa menoleh pada Febri yang jelas-jelas ada di sampingnya.
Ia mengeluarkan kunci motor dan menduduki motornya yang berada di depan Febri. Jelas saja cewek itu jadi mendadak bingung harus memandang mana. Depan salah, kiri mau lihat apa, kanan mau lihat apa. Akhirnya Febri hanya bisa menunduk menatap bungkusan buku yang dibelinya.
Mau lari lagi juga nggak mungkin.
"Lo pulang sama siapa?"
Sontak kepala Febri terangkat dan didapatinya kakak kelas itu menatapnya sambil memasang helm.
Febri menggaruk tengkuknya. "Sa-sama ojek."
"Udah pesen?"
"Be-belum sih." Febri mengusap lengannya canggung. Matanya kembali melepaskan pandangannya dari Rama dan menatap plastik belanjaannya.
Duh, jantung keparatku benar-benar bikin malu. Degupnya keras banget, kedengaran dia gak ya? rutuk Febri dalam hati.
"Ehem."
Febri tersadar dari lamunannya dan melihat Rama memberi kode untuk duduk di belakangnya. Febri membulatkan matanya.
"Cepet keburu malem." Pertegasnya saat melihat cewek itu hanya bengong untuk waktu yang lama.
Dalam hati sih mana mungkin nolak tawaran emas itu. Gila kali kalo nolak, mana yang nawarin tuh si gebetan. Ya nggak? Tapi biar nggak keliatan gampangan banget, Febri mengolor-olor waktu dengan pura-pura berpikir.
Akhirnya, Febri dengan gerakan canggung mendekati motor Rama. Cowok itu menyerahkan helm cadangan pada Febri. Setelah mengenakannya, Febri duduk di belakang Rama dengan gerakan yang super kaku. Mana sempet kepeleset lagi, bikin motor oleng untuk sesaat.
Duh Gusti, malu banget!
Sepanjang perjalanan hanya deru mesin yang terdengar. Tak ada interaksi di antara keduanya. Febri menaruh tangannya di atas paha agar tidak bersentuhan dengan badan di depannya. Rasanya sulit sih, apalagi saat motor ngerem mendadak. Tubuhnya auto terdorong menabrak punggung kekar Rama. Walau tak ada respons dari cowok itu, Febri tetap merasa sungkan dan malu. Belum lagi darahnya berdesir cepat, membuat dadanya sesak. Senyumnya memaksa untuk keluar, tetapi Febri menahannya setengah mati. Dia tak ingin disangka gila oleh Rama karena ketahuan senyum-senyum sendiri dari spion.
Matanya kemudian menyipit ketika jalanan yang dilewati bukanlah jalan menuju perumahannya. Pikirannya mulai bertanya-tanya. Apakah Rama salah memahami alamat Febri?
“Gue makan dulu.”
Febri yang merasa seperti ada yang berbicara pun mendekatkan telinganya kepada cowok itu. “A-apa, Kak?”
Terdengar embusan napas darinya, lalu dengan suara yang sedikit keras ia mengulang perkataannya. “Gue makan dulu.”
“O-oh iya iya silakan, Kak.” Febri mengangguk paham.
Diparkirnya motor hitam tersebut di pinggiran jalan. Kini mereka berdua tengah berada di kawasan Tanjung Perak. Untuk masuk ke pelabuhan Tanjung Peraknya sendiri diperkenakan biaya dan tidak ada makanan yang boleh dijual di sana.
Tanpa ada pembicaraan, Febri langsung mengekor di belakangnya dan masuk ke warung pinggir jalan. Warung Aneka Sari Laut dan Bebek Goreng.
“Malam, Mas, Mbak. Mau pesan apa?”
Rama memberikan menunya kepada Febri. Gadis itu tampak bingung. Dia merasa sungkan apalagi uang yang dibawanya pas-pasan buat beli buku. Rasa lapar yang belum terpenuhi semenjak pulang sekolah harus ia tunda dulu.
“Sa-saya enggak deh, Kak,” tolak Febri.
“Bebek gorengnya dua sama es tehnya dua ya, Mbak.” Cowok itu mengembalikan menunya kepada pemiliknya.
“Siap, Mas, Mbak.” Pemilik warung itu berlalu.
“Loh Kak, saya nggak usah.” Sekali lagi Febri menolak.
“Gue dari tadi denger perut lo demo,” jawabnya santai sambil memandang arah kiri yang tampak sebuah patung khas menandakan tepian laut Tanjung Perak. Bentuknya hampir sama dengan patung Liberty. Jikala malam hari tiba, suasana Tanjung Perak dari tempat mereka berdua makan sungguh indah sekali.
“T-tapi, Kak....“
“Gue yang bayar, lo bisa ganti waktu di sekolah,” sahutnya seolah-olah membaca pikiran Febri.
“Ma-makasih Kak...," ucap Febri dengan rasa sungkan yang telah sampai puncaknya. "Tapi, memang Kakak kenal saya? Kok tau saya satu sekolah dengan Kakak?”
Mata Rama tetap tidak memandang Febri. “Kepo.”
Akhirnya Febri dibuat diam olehnya.