Papski dan Mamski sudah bertengger di luar gerbang menunggu anak emasnya yang paling langka pulang. Mereka berdua khawatir karena sedari sore hingga jam sembilan malam, Febri belum pulang-pulang. Mana handphone-nya susah dihubungi lagi.
Tak lama kemudian, dari tikungan tampak lampu motor. Rama memelankan laju motornya, lalu berhenti manis di depan orangtua Febri.
“Aduh, Mam, Pap. Maaf baru pulang, tadi—“
“Maaf, Om, Tante, saya tadi nggak sengaja ketemu Febri di toko buku. Jadi saya antar dia, sekalian saya ajak makan. Maaf terlambat, Om, Tante.” Cowok itu memotong perkataan Febri.
Raut Papski dan Mamski yang awalnya horor, menjadi sedikit lebih teduh mendengarkan penjelasan dari Rama.
“Yaudah, lain kali hape kamu jangan diheningkan, Feb,” kata Mamski merangkul anaknya.
Papski menyuruh cowok itu untuk segera pulang karena sudah mulai larut malam. “Segera pulang, Nak, nanti dicariin orangtua kamu. Om sama Tante makasih, ya.”
Cowok itu mencium tangan Papski dan Mamski. Kemudian matanya memandang Febri dengan senyuman kecil sembari memberi kode untuk pamit. Febri balas menganggukkan kepala dengan kaku.
“Assalamualaikum, Om, Tante,” dia menyalakan motornya, “… Feb.”
Kemudian, ia melajukan motornya menembus gelapnya malam.
Febri dan orangtuanya masuk ke dalam rumah dan langsung disambut dengan pertanyaan Mamski.
“Feb, itu tadi siapa?”
“Pacar kamu, ya?”
“Ih, sumpah ganteng banget!”
“Mana hidung mancung lagi, alis tebel, mata tajam, bibir tipis. Mamski mau punya menantu kayak dia!”
Febri menutup telinganya dan langsung berlari ke kamarnya. Sebelum ia menyentuh gagang pintu, Papski sempat menegurnya, “Don’t trust boys.”
“Iya, Pap.” Febri mengembuskan napas lalu membuka pintu dan menutupnya. Cewek itu bersandar di balik pintu. Senyum yang sudah lama ia tahan pun akhirnya tercetak di wajahnya. Semua kejadian barusan layaknya khayalan terpendam yang selama ini nggak mungkin jadi nyata.
Ya iyalah. Siapa pula Febri ini? Selebgram bukan, siswa terpintar bukan, dan cantik pun enggak. Dia hanya gadis biasa yang siap-siap kena serangan mental begitu keciduk publik bahwa dirinya jatuh cinta pada Rama.
Walau hanya menyadang status “anggota OSIS”, Rama memiliki popularitas yang menduduki urutan nomor satu di SMA Harmony Internasional. Cowok itu tinggi, rambut hitamnya cepak, kulitnya lebih putih dibanding cowok-cowok lainnya, hidung mancung, dan alisnya tebal.
Selain fisiknya yang memukau, Rama juga sering dijadikan bahan tantangan para cewek. Pasalnya, sejak memasuki SMA tak pernah ada kabar bahwa Rama memiliki pacar atau menyukai seseorang. Mana sikapnya dingin pada cewek-cewek. Pas banget kan buat bahan tantangan para cewek?
Febri menyentuh dadanya. Merasakan detak jantungnya. Walaupun dia hanya makan nasi bebek, itu nggak jadi masalah buat dia. Momennya itu loh yang buat jantungnya berdegub nggak keruan. Apalagi makannya bersama seseorang yang kini menjadi alasannya tersenyum sepanjang hari.
Belum lagi sikapnya di hadapan kedua orang tua Febri. Beda bangeeet sama yang biasanya. Terus senyumnya itu, astaga, nggak kuat!
Dan satu lagi. Dia tau nama gue!
Huh. Rasanya Febri mulai gila.
Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ini akan menjadi momen paling membahagiakan bagi Febri.
.
===
.
Cowok itu berjalan di dalam koridor sekolah dengan jaket yang tidak dipakai, melainkan hanya diselempangkan di atas bahu kirinya. Matanya melirik tajam kepada beberapa cewek yang sedang diam-diam memperhatikannya.
Tak mau kalah, Febri ikut-ikutan mengintip dari balik jendela saat cowok itu—cowok yang sempat membuatnya tersenyum sepanjang malam sejak kejadian di toko buku dan selanjutnya—melewati depan kelasnya.
Erina yang sedari tadi turut memperhatikannya pun tersenyum menggoda Febri yang matanya terus mengekor pada sosok itu. “Ternyata lo baper beneran ya?” ledek Erina membuat pipi Febri bersemu memerah.
“Apaan? Enggak! Gue cuma—“
“Jatuh cinta?”
“Ah, tau ah!” Febri membuang muka. Tepat saat itu, Bayu—si ketua kelas—langsung mempersiapkan semuanya sebelum pelajaran pertama dimulai.
Bu Cinta memasuki kelas dengan beberapa lembar kertas ujian di tangannya, membuat anak-anak langsung tegang di tempat. Jelas saja. Dari tahun ke tahun kalo ada yang nggak remedi ujian fisika tuh termasuk suatu peristiwa langka. Dan persentase siswa yang tidak remedi dibandingkan siswa yang remedi adalah nggak sampai lima persen. Kurang hebat apa coba?
“Ardan.”
Nama yang sempat dipanggil tersebut langsung berdiri dan berjalan menuju meja Bu Cinta untuk mengambil hasil ujian fisika. Saat kembali, raut Ardan seperti habis terciduk emaknya lantaran menghilangkan botol Tupperware. Gimana enggak? Dari lima soal tidak ada satu pun yang dijawabnya. Katanya, kalo emang nggak bisa ngerjain soal, mending ditulis ulang aja soalnya. Yang penting kan mengisi.
Ada-ada aja.
Nama demi nama terpanggil hingga urutan Febri. Cewek itu melangkah dengan degup jantung yang tidak keruan. Ia terus berdoa semoga saja nilainya di atas KKM. Membuat senang murid apa susahnya sih?
“Astaga!” jerit Febri saat melihat kertas ujiannya.
Bu Cinta pun tersenyum mengejek. “Itu akibatnya kalo kamu nggak belajar.”
“Loh, Bu, saya ini belajar. Bahkan saya rela nggak tidur sampe jam dua belas malam!” elak Febri.
“Kalo kamu emang belajar, nilai kamu pasti bagus.” Bu Cinta tetap saja tidak mau memberikan nilai tambahan pada Febri. Tanpa perlu menjawab perkataan Bu Cinta, Febri langsung kembali duduk di bangkunya.
“Lo dapet berapa?” tanya Erina saat melihat kawan sebangkunya memasang raut jengkel seperti ingin membakar sekolah dan seluruh isinya.
“Jelek.”
“Ya tau. Berapa?”
“Empat puluh,” jawab Febri malas lalu melemparkan kertas ujiannya ke dalam tas. “Lo berapa, Rin?”
Erina melihat lembar ujiannya. “Jelek.”
“Ya tau. Berapa?” balas Febri tak mau kalah.
“Enam puluh.”
“Hah?!” Spontan Febri mendelik begitu mendengar nilai Erina. “Kok bisa? Kan jawaban elo hampir sama kayak gue. Kan gue yang nyontekin lo? Kok lo bisa lebih bagus dari gue sih?”
Erina mengendikkan bahu lalu melipat lembar ujiannya. “Nggak tau.”
Febri menghela napas sebal. Setiap kali ia menyonteki teman-temannya, yang mendapat nilai bagus bukan dia, melainkan temannya yang diberikan jawaban. Kenapa selalu yang diberikan jawaban sama yang memberikan jawaban selalu bagusan yang diberikan jawaban? Hukum alam macam apa coba?
“Sekelas nggak ada, ya, yang tidak remedi. Saya sampai bingung sendiri harus mengajar kayak gimana lagi supaya kalian mengerti. Soal latihan aja nggak cukup bikin kalian mengerti.” Bu Cinta menggeleng-gelengkan kepala setelah selesai memberikan hasil ujian.
“Kenapa wanita selalu ingin dimengerti?” bisik Bayu yang langsung mendapatkan senggolan lengan dari Febri.
“Tugas tambahan untuk kalian adalah membuat rangkuman tentang alat optik. Nggak boleh browsing dan nggak boleh ngambil dari buku fisika yang kita pelajari. Harus dari sumber atau buku lain.” Bu Cinta melangkah keluar kelas membuat seluruh anak dapat menghela napas lega. Ada yang cukup frustrasi hingga merobek-robek kertas ujiannya.
“Feb, perpus yuk. Ngerjain di sana aja,” ajak Erina sudah bersiap dengan beberapa buku di tangannya.
Febri mengangguk dan langsung mengekor di belakang Erina.