Setiap proses memiliki rintangan dan tantangan

1176 Words
Mirai pikir ibunya akan lupa tentang program magang di kampusnya yang di khususkan untuk mahasiswa jurusan bahasa Jepang, tetapi hari ini setelah ia pulang dari kampus, sang ibu memberondongnya dengan banyak pertanyaan, apakah sudah ada informasi tentang magang, syarat apa yang harus di miliki untuk magang dan hal yang lain yang berkaitan dengan program tersebut. Mirai yang tengah pusing karena tugas mulai menumpuk, semakin pusing mendengar pertanyaan dari sang ibu perihal magang. Ia hanya membalas dengan singkat, belum ada informasih, Ma, dan  kemudian masuk ke dalam kamar, mengurung diri. Di kamar, Mirai tidak diam, ia memilih untuk mengerjakan satu per satu tugasnya yang kian menumpuk, mengalihkan perhatian dari apa yang di bahas oleh sang ibu. Demi Tuhan, tidak bermaksud untuk menjadi anak yang durhaka, tetapi bisa kah sang ibu memahaminya sedikit saja kalau ia tidak tahan jika di tekan seperti ini. Mirai tidak bisa kalau ibunya terus menerus membahas perihal program magang, selama menjalani kuliah, ia hanya ingin menjalankannya dengan baik, meski nilai yang ia dapatkan harus dengan cara belajar begitu keras apalagi di awal ia harus mengejar ketertinggalan dari teman-temannya, tetapi selama ini ia berusaha dengan baik. Lulus dengan waktu yang sudah di tetapkan, cukup semua itu saja.   Dan bisa kah orang tuanya tidak terus menekan? Itu saja yang Mirai mau. Kalau saja Mirai memiliki sedikit keberanian untuk memberitahu apa yang ia mau, detik ini ia akan mengatakan bahwa yang ia inginkan adalah bermain musik. Tetapi kenapa dirinya tidak juga memiliki semua itu, ia terlalu takut dengan respon yang nantinya akan di berikan oleh orang tuanya. Meski kakaknya memberikan dukungan kepadanya untuk melakukan apa yang disukai, tetapi Mirai kembali harus membuktikan lebih dulu kepada orang tuanya dalam dunia musik yang akhirnya menjadi tujuan masa depannya.  Tidak ada yang namanya terlambat kan, Mirai ingin memulainya sekarang. Ting. Notifikasi pesan membuat Mirai yang tengah berkutat dengan kamus bahasa Jepang, menghentikan kegiatannya. Mengambil handphone yang berada tak jauh darinya, membaca nama sang pengirim pesan tersebut dan langsung membaca pesannya.   Aksa : Ada di dekat Alun-alun, kalau emang mau beli di sana nanti aku antar. Tadi, Mirai memang sempat mengirim pesan kepada Aksa. Bertanya perihal toko alat musik yang mungkin menjual biola dengan harga yang cukup di kantongnya. Memang sih harganya pasti tetap saja mahal, apalagi yang Mirai tahu harga biola itu tergantung dari besar kecilnya. Ukuran biola sendiri begitu beragam, Mirai memang mencaritahu semuanya lewat internet, satu per enam belas adalah ukuran yang paling kecil, biasanya di gunakan oleh anak-anak yang memiliki panjang lengan antara empat belas sampai dengan lima belas inci. Kalau Mirai sendiri tentu saja menggunakan ukuran empar per empat atau bisa juga di sebut dengan full size yang memang di gunakan untuk orang dewasa. Mirai : Ok. Nanti aku hubungin kamu lagi kalau mau beli atau lihat-lihat dulu boleh nggak ya? Mirai mengirimkan balasan pesannya kepada Aksa yang langsung di baca oleh lelaki itu. Aksa : Boleh, aku juga kenal sama pemiliknya. Jadi nggak apa-apa kalau kamu mau lihat dulu, sekalian tanya harga. Mirai : Ok. Sebelumnya, makasih banyak, Sa. Aksa : Siap sama-sama.   Mirai menyimpan kembali handphonenya setelah membaca balasan dari Aksa. Sungguh, Mirai tidak menyangka di pertemukan dengan Aksa yang begitu mengerti tentang musik, jadinya sekarang ia punya teman untuk belajar, apalagi tentang biola. ** Mirai baru saja turun dari kamarnya, setelah cukup lama berkutat dengan tugas yang syukurnya sebagian sudah selesai ia kerjakan. Tadi perutnya lapar, ingat kalau ia belum makan siang karena tadi setelah pulang dari kampus dan di berondongi dengan pertanyaan oleh ibunya, Mirai memilih berada di kamar. Masuk ke dalam dapur, ia melihat Ayu tengah berkutat dengan peralatan memasak. Memang tidak sampai restoran tutup kakaknya berada di sana, siang atau paling telat sore sudah berada di rumah seperti sekarang. “Masak apa, Kak?” tanya Mirai duduk di kursi dan memerhatikan kakaknya. Ayu yang mendengar suara sang adik menoleh, “Bikin pisang goreng, hujan gini kan enak banget makan gorengan panas. Kebetulan tadi ada pisang, jadi Kakak bikin deh.” Mirai mengangguk, memang kalau ada bahan-bahan makanan selalu ada saja yang di buat oleh kakaknya. Mirai jadi ingin belajar memasak dari kakaknya, kalau nanti ia jauh dari orang tua karena bekerja, kan jadi bisa memasak sendiri. Ayu membawa pisang goreng yang ia masak, menaruhnya di atas meja membuat Mirai senang karena ia memang suka makan. Kalau Ayu suka memasak, maka akan ada Mirai yang siap untuk mencicipinya. “Makasih ya, Kak.” Mirai mengatakannya dengan begitu tulus, bukan tentang pisang gorengnya tetapi perihal perkataan Ayu waktu itu, yang mendukungnya untuk melakukan apa yang ia sukai. “Iya, makan pisangnya yang banyak,” balas Ayu yang berpikir bahwa Mirai berterima kasih untuk pisang goreng yang dibuatnya. “Tentang Kakak yang dukung aku, omongan Kakak waktu itu bikin aku lega karena ada yang kasih semangat secara nggak langsung.” Ayu yang mulai paham dengan apa yang Mirai bicarakan mengangguk dan tersenyum menatap adiknya. Mirai adalah adik perempuan satu-satunya, mereka hanya dua bersaudara dan sudah pasti Ayu begitu menyayangi Mirai, pun dengan Mirai. Jadi tidak ada salahnya kalau ia memberikan dukungan dan semangat kepada sang adik tentang apa yang ingin di lakukan oleh Mirai. “Selama ini bukannya Kakak nggak tahu kalau kamu suka banget sama musik, tahu banget malah. Cuma Kakak nggak bisa bantuin kamu buat masuk ke jurusan itu, susah, kecuali kamu sendiri yang bisa nunjukin semuanya sama Papa Mama. Maaf ya, Dek.” “Nggak apa-apa, Kak. Lagian emang waktu itu aku nggak tahu mau kuliah di jurusan apa, belum ada tujuan juga jadi ya mending nurut aja sama Mama. Bukan salah, Kak Ayu kok. Mirai emang baru sekarang ada yang pengin di capai, bukan tentang dunia bahasa.” Ayu menepuk pundak adiknya, “Kamu harus tunjukin kalau kamu memang mampu di dunia musik, kamu udah memutuskan sendiri apa yang selama ini kamu mau. Kalau Papa sama Mama sudah melihat kesungguhan dan pencapaian kamu, pasti mereka akan mendukung kamu, nggak ada orang tua yang nggak mendukung anaknya selagi di jalan yang benar.” “Memangnya selama ini apa yang Kakak lakuin nggak di tentang sama Mama, waktu kamu masih SMP, Kakak benar-benar kerja keras buat meyakinkan Mama dan Papa kalau Kakak bisa berhasil di dunia kuliner sampai akhirnya lulus sekolah dan melanjutkan ke Universitas, akhirnya Mama sama Papa dukung.” “Aku kira Kakak melewati semuanya mudah, apalagi selama ini aku tahu Papa sama Mama bangga banget sama Kakak, prestasi dan pencapaian Kakak kan luar biasa.” “Kamu berlebihan, setiap orang pasti memiliki rintangan untuk sampai di titik terbaik, di tempat yang pada akhirnya berhasil di capai. Semuanya melewati proses dan setiap proses pasti memiliki rintangan dan tantangan, tergantung apa kita bisa melewatinya atau menyerah begitu aja.” Mirai mendengarkan apa yang di katakan oleh Ayu. Setiap orang yang berproses memiliki rintangan dan tantangannya sendiri. Mirai tahu sekarang ini lah prosenya, bahkan belum di mulai, ibaratnya ia baru satu langkah dan masih ada jalan yang begitu panjang untuk sampai di tempat tujuannya. Mirai harus terus berjuang, sungguh-sungguh melakukan apa yang ingin ia capai. Dunia musik, kali ini adalah tujuan yang meski harus ia lewati bersamaan dengan kuliah bahasanya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD