Dukungan dari beberapa pihak

1194 Words
Klek. Pintu kamar Mirai terbuka membuat sang empu yang sejak tadi tengah asyik memandangi langit-langit kamarnya menoleh dan mendapati Kakak perempuannya masuk ke dalam kamar dan kembali menutup pintunya. Setelah makan malam tadi dengan suasana yang membuat mood Mirai menurun, ia memilih untuk langsung masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur tanpa tahu harus melakukan apa. Akhirnya hanya sibuk dengan pikirannya sendiri sambil menatap langit-langit kamar yang di penuhi dengan tempelan bintang, yang jika lampu kamarnya di matikan maka bintang-bintang tersebut akan bersinar, persis seperti ribuan bintang yang berada di langit saat malam menyambut. Ayu yang sejak tadi tidak mendapati adiknya di bawah memutuskan untuk pergi ke kamar Mirai dan menemui adiknya di sini. Siapa tahu Mirai membutuhkan tempat untuk bercerita, mengingat pembicaraan di meja makan tadi membuat wajah Mirai tampak sendu dan Ayu menyadari perubahan tersebut. “Kirain kamu udah tidur.” Ayu duduk di tepi tempat tidur, dengan Mirai yang sudah mengubah posisinya menjadi duduk bersandar sambil memeluk boneka beruangnya. Boneka yang merupakan hadiah ulang tahun dari kakaknya saat ia berumur lima belas tahun. “Belum, Kak. Lagi rebahan aja, soalnya nggak ada tugas terus nggak tahu mau ngapain karena belum ngantuk.” Ayu mengangguk, kemudian menatap adiknya. “Soal perkataan Mama tadi, nggak usah kamu pikirin. Kamu fokus aja sama kuliah dan apa yang kamu sukai, nggak perlu memaksa kalau emang nggak mau ikut program magang di kampus. Nggak wajib juga kan buat ikutan program itu.” Mirai mendengarkan perkataan kakaknya dalam diam,  ia pikir kakaknya tidak pernah peka dengan apa yang sedang ia rasakan. Tetapi ia salah, justru Ayu cepat sekali membaca situasi yang sedang ia alami sekarang. Tersenyum dan berusaha untuk bersikap biasa meski tidak bisa ia pungikiri kalau perkataan ibunya cukup membuat dirinya terus berpikir perihal apa yang di bahas saat makan malam tadi, namun Mirai tidak mau kakaknya tahu dan menjadi khawatir. Mirai tampak mengangguk. “Iya, Kak. Lagian aku udah lupain, udah tahu juga emang selama ini Mama kaya gitu kan,” ucapnya. Tanpa sengaja Ayu melihat dinding kamar adiknya tepatnya di dekat meja belajar. Ada gambar alat musik biola di sana, lalu partitur dan segala hal yang berkaitan dengan musik. Ayu kembali menatap Mirai dengan tatapan sendu, selama ini bukan tidak tahu bahwa adiknya sangat menyukai soal musik. Ayu sangat mengetahuinya sejak dulu sang adik masih bersekolah, diam-diam Ayu memang memerhatikan adiknya yang memang lebih tertarik dengan musik. Tetapi ia pun tidak bisa membantu adiknya untuk  bisa melanjutkan pendidikan di jurusan musik, tidak akan pernah bisa. Kecuali Mirai sendiri yang berusaha terutama untuk membujuk Ibu mereka. “Nggak salah kalau kamu mau memertahankan apa yang kamu sukai, Rai. Berjuang dan katakan dengan jujur, jangan diam tanpa mengatakan apa pun.” Mirai menoleh tidak mengerti dengan apa yang baru saja Ayu ucapkan, perkataan yang menurut Mirai begitu tiba-tiba dan tidak tahu maksudnya ke arah mana. Ayu beranjak sebelum keluar dari kamar adiknya, usapan di kepala Mirai membuatnya mendongak menatap Kakak perempuannya yang tengah tersenyum. “Bakat kamu luar biasa, Rai. Kakak harap suatu saat nanti bisa melihat kamu tampil memukau dengan biolamu,” ucapnya. Mirai masih terpaku mendengar perkataan kakaknya bahkan tidak menyadari bahwa Ayu sudah keluar dari kamarnya. Namun setelah itu senyumnya terbit, Mirai tahu Kakak perempuannya memberikan dukungan jika ia ingin mendalami musik, memainkan biola dengan tangannya sendiri. Satu hal yang sekarang membuat perasaan Mirai menghangat dan begitu lega, salah satu dari anggota keluarga memberikan dukungan kepada dirinya. ** Mirai dan Dewi sedang berada di perpustakaan. Keduanya kompak mencari buku yang mereka perlukan untuk tugas masing-masing. Sulit memang mencari waktu berdua di saat keduanya yang berbeda Fakultas dan berbeda jam kuliah, kali ini sungguh beruntung karena keduanya memiliki jeda yang sama sebelum kelas selanjutnya kembali di mulai, lebih beruntung lagi Fakultas mereka tidak begitu jauh satu dengan yang lainnya. Dewi yang tadi mengajak Mirai untuk ke perpusatakaan yang letaknya cukup jauh dari Fakultas keduanya. Perpustakaan besar yang berada di kampus mereka dengan buku yang cukup lengkap di dalamnya. Hanya ada satu perpuskaan dan memang menjadi incaran mahasiswa lainnya, apalagi untuk sekedar menghilangkan penat, karena di pojok perpustakaan adalah tempat yang paling pas untuk istirahat.  “Kayanya tingkat tiga udah di depan mata ya, Rai. Nanti pasti nggak berasa banget tahu-tahu udah akhir aja.” Dewi tampak sedang menulis, mengerjakan tugasnya yang harus di kumpulkan besok, sembari melihat buku yang tadi ia dapatkan. Mirai yang duduk di hadapan Dewi mengangguk, sambil mengisi soal kanji yang berada di bukunya, tidak lupa tadi membawa kamus kanji di bagian rak buku khusus Bahasa Jepang. “Benar, sekarang aja nggak berasa. Perasaan baru kemarin kita ikutan ospek di kampus, eh udah tingkat dua aja.” “Udah nggak begitu kesusahan kan, Rai. Kamu dan jurusanmu ini?” tanya  Dewi, ia sangat tahu bahwa Mirai harus belajar dua kali lipat untuk mengejar ketertinggalan, karena Mirai bercerita kepadanya bahwa teman-temannya sudah hapal huruf Jepang sementara dirinya masih nol besar. “Lumayan, nggak nyangka juga sih kalau di jalani ya semuanya jadi biasa aja. Awal doang aku takut nggak bisa ngikutin jurusan yang di pilih sama orang tuaku sendiri, sekarang jalani aja deh.” “Syukur kalau begitu, aku senang karena kamu bisa terbiasa sama semuanya dan salut banget sama kamu, Rai. Kalau aku udah nangis duluan deh tapi kamu, pokoknya aku kasih dua jempol buat kamu.” Mirai terkekeh, “Berlebihan banget. Pokoknya kita harus lulus sama-sama, wisuda barengan nanti.” “Pasti dong. Aku bakalan senang banget kalau kita lulus barengan dan pakai toga sama-sama. Udah di bayangin aja, padahal masih ada beberapa semester lagi ke depannya.” “Nggak apa-apa deh, biar kita semangat, Wi.” Dewi mengangguk setuju. Karena terbiasa bersama, mereka pun berharap akan lulus bersama di Universitas, seperti tahun-tahun lalu saat mereka sekolah, kelulusan selalu bersama bak saudara. “Oh iya, Rai. Katanya rencana beli biola? Kapan?” tanya Dewi. “Maunya sih secepatnya, Wi. Biar belajarnya enak gitu kalau ada alatnya kan, namanya belajar alat musik, ya pasti harus ada alatnya. Tapi masalahnya uangku belum cukup buat beli biola, dikit lagi sih ngumpulinya.” “Mau aku bantuin?” “Apa sih. Nggak perlu, aku benar-benar mau beli dari hasil aku nyisihin uang jajanku sendiri. Mending kamu bantu aku yang lain aja,” ucap Mirai. “Apa?” “Nanti kalau aku udah beli biolanya, aku simpan di rumah kamu ya. Nggak mungkin aku bawa ke rumah, apalagi kalau sampai Mama tahu, bisa gawat.” “Masih sembunyi-sembunyi?” Mirai mengangu. “Gimana lagi, aku belum berani bilang, apalagi sama Mama. Kamu tahu sendiri kalau mamaku sensi banget tiap bahas alat musik, aku juga masih bingung kenapa bisa kaya gitu.” “Mama kamu pernah gagal kali belajar alat musik, jadi sebal gitu bawaannya sekarang.” “Nggak tahu deh kalau itu, tapi masa iya sampai sebal lama banget.” “Nanti coba kamu pelan-pelan bilang, nggak mungkin selamanya belajar musik di belakang orang tua kamu kan, Rai.” “Iya, nanti aku coba bilang. Aku masih ngumpulin niat dan keberanian dulu.” “Dari tadi perasaan ngumpulin ini itu.” “Lah emang iya kok.” “Semangat pokoknya, aku selalu dukung kamu, Rai.” “Makasih ya, Wi.” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD