Dibalik kebahagiaan

1454 Words
Tepuk tangan yang begitu meriah menutup penampilan Mirai yang berada di atas panggung, Aksa dan Dewi yang berada di barisan paling depan ikut berseru dan bertepuk tangan begitu kencang. Mirai tersenyum lebar, perasaan gugup yang sejak tadi ia rasakan perlahan mulai hilang seiring dengan penampilannya di atas panggung dengan membawakan lagu milik Nadin Amizah yang berjudul bertaut. Benar-benar membuat semua orang terpaku dan bertepuk tangan memberikan apresiasi pada penampilannya. Mirai tidak menyangka sama sekali bahwa ia akan menerima tepukan yang begitu meriah dari penonton yang datang di acara ini. Tidak pernah menyangka bahwa ia bisa tampil di depan orang banyak seperti ini. Untuk pertama kalinya ia merasakan perasaan yang luar biasa, bahkan rasa yang begitu membuncah di dalam hatinya. Turun dari atas panggung, Mirai menghampiri Dewi dan Aksa yang berada di barisan penonton paling depan, memeluk Dewi dengan begitu erat, mencurahkan perasaannya yang benar-benar tidak tahu bagaimana ia bisa menjelaskannya, terlampau bahagia sampai tidak tahu harus mengatakan apa. Aksa yang melihat penampilan Mirai tadi begitu senang luar biasa,meski gadis itu sebelum naik ke atas panggung terlihat begitu tegang karena penampilan pertamanya di depan orang banyak, tetapi Mirai bisa melakukan semuanya dengan sangat baik bahkan penampilannya tadi begitu memukau. Bukan hanya dirinya tetapi semua orang yang hadir di sini memberikan acungan jempol pada penampilan Mirai. Sejak awal Aksa tahu bahwa Mirai mampu melakukan semuanya, karena Mirai memiliki bakat terpendam dalam hal musik dan Aksa selalu percaya di masa nanti Mirai akan menjadi musisi yang luar biasa, menjadi pemain biola yang begitu memukau setiap kali tampil di atas panggung. Mirai hanya butuh berlatih dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia mampu masuk dalam dunia musik. “Kamu hebat, Rai.” Aksa mengucapkannya dengan penuh ketulusan, tidak bohong sama sekali tentang bagaimana hebatnya Mirai di atas panggung. Jika menganggap bahwa Aksa berlebihan, tentu tidak, karena memang begitu adanya. “Makasih, Sa. Berkat kamu, aku bisa belajar dan memainkan biola dengan sangat baik,” balas Mirai. Karena Aksa lah yang menjadi jalan untuk ia bisa sampai di titik sekarang, di mana memainkan alat musik yang selama ini hanya ia lihat dari internet. “Aku senang banget, merinding juga lihat penampilan kamu tadi, benar-berna memukau, Rai,” ucap Dewi kali ini dengan wajah yang begitu berbinar. “Makasih, Wi. Kamu juga udah dukung aku banget buat ikutan event ini.” “Pasti dong! Dari dulu aku udah yakin kalau kamu mampu dan berbakat banget dalam dunia musik dan ternyata benar kan kamu memang bisa!” seru Dewi begitu bersemangat. ** “Aku kira pengumumannya bakalan cepat,” ucap Dewi. Saat ini mereka sedang mencari makan lebih dulu, karena pengumuman pemenang di lakukan agak sore dan memang di berikan waktu untuk istirahat lebih dulu. Mereka pun akhirnya memilih untuk keluar dari area perlombaan, mencari tempat makan yang memang tidak begitu jauh dari sana. “Mungkin karena banyak peserta dan waktu buat nentuin juara kan agak lama jadi agak sorean,” timpak Aksa, lelaki itu menyuapkan bakso yang di pesannya tadi, pun dengan Mirai yang Dewi memesan memakan bakso mereka. Tidak jauh dari tempat perlombaan ada penjual bakso dan mereka pun memilihnya dengan begitu kompak. Dari pada mencari dan akan membutuhkan waktu lebih baik yang dekat saja, karena bakso pun bisa mengganjal perut, malah memang akan kenyang sekali kalau memakannya dengan porsi lengkap. “Udah ikutan aja aku senang, nggak berharap jadi juara. Semua ini aku jadikan pengalaman, kapan lagi kan aku bisa tampil kaya tadi sampe gugup banget karena banyak orang yang lihat,” ucap Mirai. Tidak begitu berharap akan menjadi pemenang atau tidak, yang terpenting ia bisa mengikuti perlombaan dengan begitu baik dan untuk kali pertama memberikan pengalaman yang luar biasa kepadanya. “Tapi ya, Rai. Aku sih mikir bakalan menang, lima besar lah, atau sepuluh besar dari tiga puluh peserta yang ada.” “Betul apa kata Dewi. Percaya diri aja lah, syukur-syukur kalau menang, kalau nggak ya alhamdulilah juga karena ini jadi pengalaman buat kamu, Rai.” “Nah iya! Aku juga setuju sama Aksa.” “Kalian emang kompakan banget pokoknya,” ucap Mirai. ** “Baik lah, untuk posisi lima besar, posisi terakhir di dapatkan oleh peserta nomor ... ayo nomor berapa ya kira-kira,” ucap pembawa acara membuat para peserta semakin berdebar dan penasaran. Sudah di tentukan juara satu sampai tiga dan memang penampilan ketiga peserta yang menjadi juara itu begitu luar biasa, Mirai akui itu bahkan ia pun tadi begitu terpesona dengan penampilan peserta yang saat ini menjadi juara. Tidak hanya berbakat sekali bermain alat musik tetapi juga memiliki suara yang begitu merdu. “Kenapa aku yang deg-degan ya,” ucap Dewi menunggu pengumuman pemenang ke lima yang masih belum di sebutkan namanya. “Dan untuk posisi ke lima adalah peserta dengan nomor sepuluh, Mirai ...” Tepuk tangan dari para penonton membuat suasana kembali meriah, sementara orang yang di sebutkan menjadi pemenang ke lima tengah terpaku, tidak menyangka sama sekali bahwa ia menduduki posisi ke lima. Mirai masih diam di tempatnya, ia takut salah dengar sampai akhirnya tepukan tangan Aksa di bahunya membuat ia tersadar lantas menoleh ke arah Aksa. “Aku bilang kamu memang luar biasa, Rai,” ucap Aksa tersenyum lebar. “Mirai! Kamu juara ke lima!” seru Dewi. Kedua mata Mirai berkaca-kaca, ia tidak menduduki posisi pertama tetapi berada di posisi ke lima saja membuat dirinya begitu senang luar biasa, bahkan Mirai tidak pernah mengharapkan akan berada menjadi salah satu pemenangnya, dengan bisa mengikuti lomba saja sudah menjadi pencapaiannya yang luar biasa. Mirai naik ke atas panggung di susul dengan tepuk tangan yang kembali memeriahkan acara sore ini, Mirai tersenyum ke arah Dewi dan Aksa yang berada di barisan penonton paling depan dengan keduanya yang ikut tersenyum lebar. Mereka tidak menyangka akan di berikan kejutan yang luar biasa hari ini, kemenangan Mirai di posisi ke lima adalah hal yang luar biasa, pun dengan Aksa yang semakin yakin bahwa Mirai akan menemukan apa yang selama ini di inginkannya, dunia musik adalah yang selama ini menjadi bakat terpendam yang di miliki oleh Mirai. ** “Aku duluan ya, Rai. Sorry nggak bisa bareng soalnya masih harus susul Kakak ni, katanya minta di temani milih sepatu atau apa lah aku juga lupa, barusan telepon.” Dewi pamit lebih dulu kepada Mirai dan Aksa. Perlombaan selesai, semuanya bubar dengan begitu tertiba. Pun dengan mereka yang juga segera pulang setelah mendapatkan hasil yang luar biasa. Mirai mengangguk, “Iya, kamu duluan aja, Wi. Kasihan kakak kamu pasti nungguin,” balasnya menyuruh Dewi untuk segera menemui kakaknya. “Kamu bareng Aksa kan? Aku titip Mirai ya, Sa. Antar sampai depan rumah lho, nggak boleh di turunin pinggir jalan,” ucap Dewi diiringi dengan tawanya. “Nggak lah! Pasti aku antar sampai depan pintu rumahnya kalau perlu,” balas Aksa. “Nah itu lebih bagus lagi!” Dewi mengacungkan jempolnya, “Kalau gitu aku duluan ya, kalian hati-hati.” Dewi pun akhirnya pergi meninggalkan keduanya, gadis itu berlari ke arah taksi yang tadi di pesannya. “Aku antar kamu pulang, Rai.” Mirai menoleh ke arah Aksa yang berada di sampingnya, kemudian mengangguk dan mereka pun segera ke area parkir karena tadi Aksa membawa sepeda motor.  ** Aksa mengendarai motornya dengan kecepatan normal, ia tidak ingin terlalu menaikan laju sepeda motornya apalagi sedang membonceng Mirai di belakangnya. Sejak tadi Mirai tidak pernah lepas dari senyumnya, tidak menyangka saja ia mendapatkan posisi kelima di perlombaan hari ini, semakin membuat Mirai berani untuk mengatakan semua kepada orang tuanya. Tadi ia juga sudah memberitahu Ayu perihal hasil perlombaan hari ini dan respon kakaknya itu tentu saja ikut senang mendengarnya, bahkan Ayu mengatakan akan ikut meminta ijin kepada orang tua mereka perihal Mirai yang ingin bermusik, meski masih dengan kesibukan kuliah bahasanya, Mirai akan membagi waktu dengan sebaik mungkin. “Aku bakalan kasih tahu orang tuaku secepatnya, Sa,” ucap Mirai dengan tubuh yang lebih dekat ke arah Aksa agar lelaki itu mendengarnya. “Bagus! Aku senang kalau kamu secepatnya kasih tahu orang tua kamu, Rai.” Mirai mengangguk meski Aksa tentu tidak melihatnya, ia jadi tidak sabar sampai di ruamh dan menceritakan semuanya kepada kedua orang tuanya. Memberitahu bahwa sekarang ia memiliki tujuan yang ingin di capainya, tidak segalau dulu yang tidak memiliki keinginan, kali ini Mirai benar-benar memiliki tujuan untuk terus bermain musik. Brak! Tubuh mereka berdua terjatuh dari atas sepeda motor milik Aksa. Kejadiannya begitu cepat, bahkan keduanya tidak menyadari, keduanya sama-sama terkejut dengan apa yang terjadi, kecelakaan menimpa keduanya di saat hari yang begitu membahagiakan untuk Mirai, dan Mirai tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Kedua matanya tertutup setelah melihat Aksa yang berlumuran darah tidak jauh darinya, yang terakhir Mirai lihat adalah Aksa tersenyum dan mengucapkan, kamu nggak apa-apa, Rai, dengan gerakan bibir yang masih bisa Mirai baca. Sebelum akhirnya Mirai menutup kedua matanya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD