Dua minggu kemudian ...
Mirai akhirnya memiliki kepercayaan diri untuk ikut dalam lomba musik yang waktu itu Aksa tunjukkan posternya kepadanya. Meski sempat ragu untuk tampil di depan banyak orang tetapi berkat Aksa yang terus memberikan keyakinan dan semangat kepadanya, Mirai akhirnya ingin mencoba untuk ikut dalam perlombaan tersebut.
Mirai juga tidak mungkin terus menerus berada di tempat yang sama, hanya berani ketika bermain biola di hadapan Aksa, Dewi dan teman-teman pengamen. Dirinya harus bisa berkembang sampai akhirnya bisa membuktikan kepada kedua orang tuanya bahwa ia mampu dalam dunia musik yang saat ini sedang di gelutinya.
Persiapan untuk perlombaan tersebut sudah Mirai lakukan, tidak hanya memikirkan apa yang akan di persembahkan dalam perlombaan, seperti lagunya, tetapi ia juga berulang kali berlatih agar tidak ada kesalahan nada dalam gesekan biola yang ia mainkan di depan orang-orang yang tentu saja di atas panggung.
Mirai tidak menyangka, ini kali pertama dirinya ikut dalam perlombaan musik. Tidak memikirkan juara, yang penting ia nanti memiliki pengalaman yang tentu akan terus ia ingat sepanjang perjalanan mendalami musik, terutama alat musik klasik ini.
“Aku bakalan nonton kamu, Rai. Nggak sabar banget deh lihat kamu tampil di depan umum nanti.”
Sudah tiga hari ini Dewi mengoceh perihal Mirai yang ikut dalam perlombaan musik. Gadis itu memang lebih semangat dari Mirai yang menjadi peserta, pasalnya sejak lama ia selalu membayangkan sahabatnya itu tampil di atas panggung, Dewi kan sudah lama tahu bahwa Mirai ingin sekali belajar bermain biola sampai akhirnya sekarang terwujud dan Dewi ikut senang perihal itu.
“Kamu antusias banget, Wi. Aku makin deg-degan, dua hari lagi.” Mirai kelihatan sekali kalau dirinya sedang grogi, kepikiran karena dua hari lagi ia akan tampil di atas panggung dan di saksikan orang banyak. “Aku nanti bisa nggak ya, Wi. Aku takut banget bikin kesalahan, kalau misal aku gesek senarnya salah gimana ya,” ucapnya kembali membuat Dewi terkekeh.
“Aduh, Mirai ... kamu itu ya! Nggak usah bilang begitu, aku yakin banget kamu bisa, kamu juga udah sering latihan kan, udah pasti hapal di luar kepala nada yang akan kamu persembahkan kepada para juri dan penonton, pokoknya aku bakalan paling depan dan kalau kamu grogi, kamu bisa lihat aku aja sih, begitu lebih baik mungkin.”
“Ide yang bagus, Wi.Aksa juga bilang sih sama aku, kalau aku nanti gugup karena banyak orang, aku cuma butuh mengalihkan perhatian, dari banyak pasang mata ke satu titik saja, entah kamu atau pun dia. Semoga nanti lancar pas tampil.”
“Aamiin ...”
**
Mirai tampak berpikir, alasan apa lagi yang ia berikan kepada orang tuanya agar bisa di ijinkan untuk pergi mengikuti perlombaan hari ini. Waktu begitu cepat berlalu, setelah ia berlatih dengan Aksa setiap satu minggu tiga kali, akhirnya hari ini tiba di mana untuk pertama kalinya ia akan tampil di depan orang-orang, bukan hanya di depan teman-temannya.
Kemarin ia sempat berbicara dengan kakaknya, perihal perlombaan ini mengingat dari anggota keluarganya, Ayu lah yang sudah tahu bahwa Mirai berlatih biola karena tidak sengaja melihat adiknya latihan di kamar, waktu itu orang tua mereka sedang keluar kota dan Ayu sempat ke rumah kembali saat ada barang yang tertinggal.
Mirai tentu saja terkejut saat ada seseorang yang membuka pintu kamarnya, ia pun lupa untuk mengunci pintu saat itu. Mengingat ia berhasil membawa biola ke rumahnya saat orang tuanya tidak ada di rumah, tetapi saat melihat kakaknya lah yang membuka pintu, Mirai sedikit lega dan akhirnya ia pun menceritakan semua kepada Ayu.
Ayu tentu saja terkejut apalagi selama ini ia tahu bahwa orang tuanya, terutama sang ibu tidak mengijinkan mereka untuk bermain musik, apa pun itu. Ayu tahu apa alasannya tetapi melihat adiknya begitu piawai dan semangat dalam dunia musik, tentu Ayu tidak tega mematahkan semangat adiknya, ia pun mendukung apa yang Mirai lakukan selagi itu membuat adiknya nyaman dan senang.
“Kemana, Dek?”
Mirai baru saja turun dari lantai atas dan mendapati sang ibu berada di ruang tengah bersama dengan Ayu. Beruntung tiga hari lalu ia sudah menyimpan biolanya di tempat anak-anak pengamen, mengingat hari ini ia akan keluar rumah dan ikut dalam perlombaan jadi tidak kelihatan kalau ia membawa barang.
“Ada acara sama teman, Ma.” Mirai menghampiri Ibu dan kakaknya lalu duduk di samping sang ibu.
“Acara apa?”
“Nonton sama makan, traktiran karena ulang tahun. Boleh kan, Ma?” Mirai kembali berbohong tetapi ia tidak memiliki alasan lain, keduanya matanya juga menoleh ke arah sang kakak yang duduk di hadapannya, seolah memberi bantuan agar bisa mendapatkan ijin keluar oleh ibunya.
“Wah ... asyik tuh, Dek! Kasih ijin aja, Ma. Lagian habis ujian pasti butuh refreshing.”
Mirai bernapas lega karena Ayu mengerti kodenya, memang satu minggu lalu dirinya sudah mengikuti ujian akhir semester yang membuat kepalanya panas karena harus belajar dengan begitu keras. Mengingat ia tidak boleh sampai mendapatkan nilai kurang, apalagi misinya adalah meyakinkan orang tuanya agar memberikan ijin untuk bermusik.
“Boleh, tapi nggak boleh pulang malam ya.”
Mirai tersenyum cerah, “Iya, Ma! Mirai janji nggak akan pulang malam, sore juga udahan kok.”
Bu Gita tampak mengangguk setelah itu Mirai segera pamitan kepada keduanya, sebelum ibunya bertanya kembali atau malah berubah pikiran.
**
Mirai dan Aksa sudah berada di tempat perlombaan. Kali ini bukan Aksa yang mengikuti perlombaan seperti yang sudah-sudah. Tetapi ia menemani Mirai yang akan tampil di atas panggunng hari ini, boleh kah Aksa merasa bangga karena ia bisa menjadi bagian dari Mirai dalam pencapaiannya sampai di titik sekarang perihal bermusik.
Mirai tampak gugup, sejak tadi berada di area perlombaan dan melihat banyak sekali yang menjadi peserta, pun dengan penonton yang sudah berdatangan di sekitar tempat acara. Memang perlombaan ini di saksikan secara gratis, berada di area dekat Alun-alun yang sudah pasti akan banyak yang datang, apalagi weekend seperti hari ini.
Tadi Mirai sudah melakukan pendaftaran ulang dan mendapatkan nomor peserta. Mirai mendapatkan nomor ke sepuluh dan itu membuatnya semakin gugup karena merasa begitu awal untuk dirinya tampil di depan umum. Tetapi semoga nomor tersebut menjadi keberuntungannya, semoga dia bisa melakukan yang baik dan tidak memberikan kesalahan. Yang paling penting semoga Mirai tidak merasa gugup saat melihat orang-orang yang memerhatikannya di atas panggung.
“Banyak banget,” gumamnya yang masih bisa di dengar oleh Aksa.
Lelaki itu menoleh dan menepuk bahu Mirai, “Rileks, Rai. Yakin kalau kamu bisa melakukan yang terbaik. Ada aku sama Dewi juga kan, kalau kamu nggak mau melihat orang-orang, cukup melihat kita berdua aja.”
“Betul! Aku setuju banget sama Aksa, kamu lihat kita aja, kita bakalan ada di barisan paling depan,” timpal Dewi. Tidak heran ia dan Aksa sudah begitu akrab, memang sudah di kenalkan oleh Mirai dan Dewi juga senang karena berkenalan dengan Aksa yang begitu menyambutnya dengan ramah.
“Dua peserta lagi, Rai. Kamu bisa!” ucap Aksa. Mirai mengangguk setelah beberapa peserta tampil dengan begitu memukau, dan sebentar lagi gilirannya.