“Sa, kamu lagi dekat sama cewek ya?”
Aksa yang tengah menyantap bakso yang di pesannya tadi pada Mas Bambang, penjual bakso di kantin Fakultasnya tampak menoleh mendengar pertanyaan dari temannya, Kelvin. Mereka memang sedang menikmati jam istirahat setelah tadi ada kelas dari jam delapan pagi sampai jam sebelas siang.
“Cewek mana? Perasaan nggak ada tuh.” Aksa tampak kembali menyantap baksonya, tidak memerdulikan Kelvin yang sudah penasaran. Pasalnya lelaki itu melihat story dari media sosial milik Aksa, memang tidak begitu jelas sih karena posisi perempuannya menghadap ke belakang, tetapi Kelvin yang begitu teliti melihat tanda hati yang menjadi caption tersembuyi.
“Yang di story Ig kamu, pake love segala.”
Uhuk!
Aksa tersedak dan menatap Kelvin yang sudah terkekeh di hadapannya. Kenapa lelaki itu jeli sekali kalau masalah begini. Ketahun sekali kalau memang Aksa menambahkan lambang hati pada postingan di story media sosialnya.
Aksa beberapa waktu lalu memang mengunggah story, tepatnya diam-diam memotret Mirai yang tengah asyik dengan biolanya, dan siallnya entah kenapa Aksa menambahkan love pada storynya itu, lebih siallnya lagi temannya ini begitu jeli melihatnya.
“Ketahuan kan. Nggak bisa ngelak lagi, kamu, Sa!”
“Jadi siapa cewek itu? Demi apa! Seorang Aksara yang terkenal anti sekali dekat sama cewek selain keluarganya, sekarang posting foto cewek pake love-love uwu banget, anjiir lah! Gue ketinggalan apa dong, ayo cerita, Sa.” Kelvin ini sejenis lelaki yang mulutnya heboh, terlihat sekali penasaran pada Aksa.
“Berisik banget, Vin! Diam aja, lagian masih tahap pendekatan dan dia nggak tahu sama apa yang aku rasain.”
“Hah? Seriuan? Kenapa? Atau kamu di tolak sama dia sebelum berjuang? Wah ... berita paling viral ini!” seru Kelvin penuh semangat. Hal itu malah membuat Aksa berdecak, temannya ini memang paling heboh, untung hanya satu jenis Kelvin saja, coba kalau ada dua, bisa sakit kepala Aksa dibuatnya.
“Omongan kamu itu nggak usah kaya gitu deh, pake doain segala kena tolak. Bukannya kasih semangat atau solusi gimana caranya biar bisa nyatain cinta sama dia.”
“Eh ini seriusan? Sejak kapan kamu kenal sama dia?”
“Udah sebulan, nggak sengaja ketemu dan ya tertarik aja sama dia, sampai akhrinya ngerasa ada yang salah sama perasaan ini, nggak biasa gitu debarannya jantung kalau lagi dekat sama dia.”
“Luar biasa! Nggak nyangka banget seorang Aksara Eka Satya lagi jatuh cinta kaya gini!” seru Kelvin lagi-lagi membuat Aksa berdecak, antusias sekali temannya ini. “Jadi siapa nama itu cewek?” tanya Kelvin.
“Mirai,” balas Aksa dengan perasaan yang membuncah setiap kali mengingat gadis itu.
Apa yang di katakannya kepada Kelvin memang benar. Meski selama ini Aksa mengelak apa yang ia rasakan setiap kali bersama dengan Mirai, tetapi pada akhirnya Aksa semakin merasakan kejelasan dari apa yang di rasakannya. Setiap bertemu dengan Mirai, Aksa begitu bersemangat, setiap melihat senyum di wajah Mirai, Aksa begitu berdebar. Dan apa yang berhubungan dengan Mirai membuat Aksa tersenyum.
Apa memang ia jatuh cinta pada gadis yang satu bulan ini menjadi temannya, pada gadis yang sedang belajar musik kepadanya?
Tidak kah ini terlalu cepat?
Tetapi semakin lama, Aksa merasa begitu menyukai Mirai, Aksa yakin ia telah jatuh cinta untuk kali pertama dan itu kepada Mirai.
**
Aksa tersenyum menatap poster yang ia dapatkan dari mading kampus. Lomba musik yang di adakan dua minggu lagi dan akan ia berikan kepada Mirai. Aksa akan mendukung Mirai untuk mengikuti event ini, meski Mirai sudah begitu piawai memainkan biolanya tetapi gadis itu juga harus bisa tampil di depan banyak orang. Bukan hanya di depan dirinya dan teman-teman lain saat mereka tengah latihan bersama.
Masuk ke dalam rumah, lelaki itu tampak berseri membuat sang adik yang sejak tadi memerhatikannya dari ruang tengah tampak semakin penasaran. Akhir-akhir ini Kakak lelakinya memang tampak lebih berseri, pulang selalu dengan wajah yang ceria, meski sebelumnya memang seperti itu tetapi Zahra melihat ada yang berbeda dari kakaknya.
Zahra sempat menduga, apa memang kakaknya sedang mengalami virus merah jambu, sedang jatuh cinta pada seseorang. Ia jadi penasaran siapa gadis yang membuat kakaknya merasakan cinta, karena selama ini Aksa memang tidak terlihat dekat dengan perempuan apalagi memiliki kekasih.
“Dan kau hadir membuat segalanya menjadi lebih indah ...”
Suara nyanyian Zahra membuat Aksa yang hendak menaiki undakan tangga ke kamarnya menghentikan langkah dan menoleh, astaga ... ia tidak menyadari bahwa adiknya ada di ruang tengah dan sejak kapan? Apa memang Aksa saja yang terlalu bersemangat untuk segera memberitahu Mirai perihal poster tersebut sampai tidak menyadari keberadaan adiknya. Dan apa tadi? Kenapa adiknya bernyanyi lagu itu?
Aksa menghampiri Zahra yang sedang duduk di sofa dengan tangan yang memegang bungkusan yang Aksa yakini berisi keripik singkong kesukaan adiknya. Lalu ia pun duduk di samping Zahra yang lagi-lagi melanjutkan nyanyiannya.
“Kamu lagi jatuh cinta?” tanya Aksa membuat Zahra berhenti bernyanyi.
“Nggak lah! Sok tahu banget,” balas Zahra.
“Lah itu, pake nyanyi lebih indah segala, apaan tuh liriknya, dan kau hadir membuat segalanya lebih indah,” ucap Aksa sembari menyanyikan sepenggal lirik yang memang ia tahu lagunya.
“Itu buat Kak Aksa tahu. Lagian dari tadi senyum sendiri, udah kaya orang yang lagi kasmaran lagi, oh ... lagu yang pas ini, pun aku merasakan getaranmu ...”
“Udah-udah, nggak usah lanjut nyanyinya, kesenangan kamu kalau itu.” Aksa memotong nyanyian adiknya. Apalagi mendengar lagu Kasmaran, liriknya saja membuat Aksa jadi berdebar dan kenapa jadi ingat dengan Mirai.
“Ya emang aku senang nyanyi, suara aku bagus kan, Kak?” Zahra begitu percaya diri.
“Biasa aja.”
Perkataan Aksa membuat Zahra mencebikan bibirnya. Lelaki itu terkekeh melihat wajah adiknya yang di tekuk. Aksa akui suara adiknya memang bagus, enak sekali di dengar kalau sedang bernyanyi tetapi tentu saja Aksa mengatakan seperti itu agar adiknya tidak kesenangan, bisa-bisa melayang karena dapat pujian darinya. Karena kalau sudah begitu, yang ada Zahra akan bersikap semakin menyebalkan.
“Ngaku aja deh, Kak. Kasmaran kan?” Zahra kembali membahasnya. Tidak mau tahu, dia ingin tahu tentang seseorang yang sudah membuat kakaknya kasmaran, benar-benar keajaiban sekali kalau memang kakaknya sedang kasmaran. Sungguh!
“Nggak usah kepo!” seru Aksa. “Lagian kamu itu bocil, ngapain juga mau tahu urusan orang dewasa, belajar aja sana,” lanjutnya membuat Zahra memukul lengan Aksa cukup kencang.
“Aku bukan bocil lagi tahu!” Zahra tidak suka kalau sudah di katakan bocil, dia kan sudah berumur tujuh belas, bukan bocah lagi.
Aksa beranjak, memilih untuk ke kamarnya, tujuan awal saat dia baru sampai di rumah. Dari pada kembali membahas kasmaran dengan adiknya yang kepo sekali, karena Zahra akan terus bertanya sebelum ia puas dengan apa yang ingin dia ketahui dan Aksa sebal sekali kalau adiknya sudah begitu, apalagi menyangkut hal seperti ini. Tidak boleh Zahra sampai tahu duluan kalau dia memang sedang kasmaran.
“Udah ah, Kakak mau mandi. Kamu nggak usah kepo jadi bocil!” Aksa segera berlalu meninggalkan Zahra yang sudah ingin menyumpah serapahi kakak lelakinya itu. Memang menyebalkan sekali, untung Zahra sayang pada kakaknya.
“Pantesan tadi aku mencium bau nggak sedap, ternyata bau kakak sendiri,” gumam Zahra melihat Aksa yang sudah naik ke lantai atas di mana kamar mereka berada.
“Tapi kalau lagi kasmaran ya nggak apa-apa sih, lagian susah banget jujur sama adik sendiri,” ucapnya kembali.
**
“Tapi aku malu banget, Sa. Kamu kan udah biasa tampil depan orang banyak.”
Aksa sudah menduga jawabannya. Tetapi ia tidak akan menyerah untuk meyakinkan Mirai agar gadis itu bisa berkembang, tidak terus berada di tempat yang sama apalagi Aksa melihat Mirai memang begitu berbakat dalam musik. Karena selama satu bulan ini Aksa melihat kesungguhan Mirai dalam belajar memainkan biola dan Mirai juga begitu cepat belajar sampai akhirnya gadis itu sudah terbiasa memainkan biolanya.
“Aku yakin kamu bisa, Rai. Nggak perlu mikir juara yang penting kamu mencoba tampil di depan orang-orang, masa kamu mau terus tampil hanya di depan aku sama teman-teman pengamen.”
“Dua minggu lagi, aku malah deg-degan dari sekarang.”
Aksa terkekeh, wajar kalau Mirai merasakan perasaan berdebar seperti itu, ia juga dulu begitu saat pertama kali tampil memainkan alat musiknya di depan orang banyak dan karena semakin sering membuat Aksa menjadi terbiasa tampil di depan banyak orang. Bahkan sampai ikut mengamen.
“Pokoknya aku dukung kamu dan bakalan jadi orang paling depan buat semangatin kamu waktu tampil. Aku yakin kamu bisa, Rai.” Aksa benar-benar memberikan keyakinan kepada Mirai bahwa gadis itu pasti bisa melakukannya.
“Kamu seyakin itu, aku malah nggak yakin.”
“Jangan gitu dong, Rai. Selama ini aku lihat kamu udah berkembang dengan baik, udah nggak sekaku pas awal pegang biola, malah kayanya udah lebih jago dari aku deh.”
“Kamu berlebihan, Sa.”
Aksa tampak tersenyum tipis mendengar perkataan Mirai yang terlontar dari seberang telepon. Tidak, ia tidak berlebihan tetapi memang ini adalah fakta bahwa Mirai telah melakukan yang terbaik dan bisa lebih cepat membuktikan bahwa Mirai mampu dalam dunia musik yang selama ini diam-diam di inginkannya.
“Nggak, wajar banget dan aku senang karena kamu bisa menikmati apa yang selama ini kamu inginkan, meski orang tua kamu belum tahu. Dan ini kesempatan kamu buat meyakinkan orang tua kamu, buat membuktikan kalau musik adalah dunia yang kamu inginkan, aku benar-benar mendukung kamu, Mirai.”