Aksara dan keluarganya

1058 Words
“Ngapain sih, senyum-senyum sendiri kaya orang gilla.” Aksara, lelaki itu menoleh mendapati adik perempuannya yang masih mengenakan seragam putih-abu sudah berdiri di sampingnya. Ia mendengkus, adiknya ini selalu tiba-tiba muncul, lihat saja perasaan sejak tadi ia masih menikmati pemandangan kolam renang di hadapannya ini tanpa ada gangguan, suara berisik dari mulut adiknya. “Ganggu mulu, ganti baju sana! Malah nyamperin ke sini, masih bocah juga.” Zahra, gadis itu mencebikkan bibirnya. Kakak lelakinya ini selalu memanggil ia dengan sebutan bocah. Helow ... dia sudah berumur tujuh belas tahun dan bukan lagi bocah! “Pede banget minta di samperin, aku Cuma ngerasa ada sosok-sosok yang menjurus ketidakwarasan di arah kolam renang, jadi aku penasaran dan lihat deh,” balasnya. “Sosok-sosok, kamu kira kakak kamu ini sejenis demit!” “Memang.” Zahra melenggang pergi meninggalkan Aksa yang geram dibuatnya, memang adiknya ini selalu saja membuat ia gemas sendiri. “Azahra Dwi Annaila! Awas ya kamu!” seru Aksa setelah Zahra tidak terlihat batang hidungnya, “Punya adik satu begitu amat,” gumamnya. Aksa kembali dengan apa yang tadi ia lihat, handphonenya menampilkan kontak gadis yang beberapa waktu lalu ia temui di taman kota. Saat itu ia memang tidak sengaja melihat gadis tersebut terus memerhatikannya yang sedang tampil dengan anak-anak pengamen, Aksa bisa melihat bahwa gadis itu begitu menyukai tentang musik sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk berkenalan dengan gadis tersebut. Namanya Mirai, Aksa jadi ingat dalam bahasa jepang Mirai itu artinya masa depan, jangan salah kenapa ia bisa tahu bahasa tersebut. Kedua orang tuanya bahkan merupakan alumni mahasiswa bahasa jepang, tetapi jangan salah juga, bukan berarti ia berada di jurusan yang sama dengan orang tuanya, Aksa lebih suka menjadi anak musik, di banding anak bahasa. Kembali ke gadis bernama Mirai, Aksa senang sekali melihat kedua mata gadis itu berbinar melihat alat musik, terutama pada biola dan sudah bisa Aksa tebak dengan begitu tepat bahwa Mirai memang tertarik pada alat musik tersebut. Sampai ia sengaja meminta Mirai untuk mencoba memaintakn biola di hari itu. Gini-gini, meski ia masih mahasiswa tetapi ia bisa tahu bakat yang di miliki oleh Mirai, gadis itu bisa memainkan biola dengan begitu piawai nantinya, Aksa seperti cenayang ya. Tetapi memang itu yang ia lihat, bagaiamana Mirai memegang biola, memang kaku tetapi begitu menawan. Cocok sekali gadis itu dengan biola miliknya. “Chat nggak ya,” gumamnya. Entah kenapa ia ingin bertemu kembali dengan gadis itu, sayang sekali mereka hanya bisa bertemu di taman kota. Itu pun kalau memang Mirai datang ke sana. Kalau Aksa sih jangan di tanya, setiap hari minggu selalu bersama dengan pengamen jalanan, teman-teman yang memang sudah lama sekali ia kenal. Dulu waktu pertama kalinya ia bertemu dengan Toni di taman kota, Aksa penasaran saja dengan anak seumurannya itu. Saat ia begitu menikmati masa remaja dengan teman-teman di sekolah dan segala macam hal yang terjadi di sekolah, Toni malah sibuk dengan dunia jalanan, mengamen untuk makan sehari-hari. Sampai akhirnya Aksa berteman dengan Toni yang ternyata merupakan anak yatim piatu, mereka berteman sampai sekarang. Toni sudah bekerja di kafe, menjadi pemain musik di sana, itu berkat Aksa tetapi mereka memang selalu menyempatkan untuk berkumpul dengan pengamen lain dan konser di taman kota. Iya konser yang kerap kali ia sebut dengan yang lainnya kalau sedang mengamen sama-sama. Aksa urung mengirim pesan kepada Mirai, biar lah nanti saja. Ia takut mengganggu waktu gadis itu, siapa tahu sedang sibuk. Kemudian ia pun beranjak, sudah terlalu lama berada di belakang, dekat kolam renang. Memilih untuk masuk dan merasakan perutnya sudah lapar, memang hari ini ia tidak ada jadwal ke kampus jadi memilih untuk diam di rumah saja. ** “Bun, tahu nggak. Masa ya tadi Kak Aksa senyum-senyum sendiri di dekat kolam renang, ngeri kan ya.” Suara Zahra terdengar membuat langkah kaki Aksa terhenti hendak menghampiri Bunda dan adiknya yang berada di ruang tengah, kelihatannya sedang menonton anime yang memang begitu disukai oleh Zahra. Aksa mendengkus, adiknya ini memang penggosip paling handal sekali. Ada saja yang adiknya ceritakan soal dirinya kepada orang tua mereka, apalagi kepada Bunda. Aksa masih mendengarkan kedua perempuan yang ia sayangi itu. “Kok ngeri? Mungkin lagi nonton lewat ponsel, nonton komedi gitu,” sahut Jihan –Bunda mereka. “Nggak, Bun. Orang ponselnya aja cuma di pegang gitu, nggak nyala. Zahra lihat kok, pake mata langsung. Atau Kak Aksa kesurupan ya?” Aksa gemas sekali dengan perkataan adiknya. Tadi mengatakan kalau dia seperti orang gilla senyum sendiri, sekarang malah mengatakan kalau dia sedang kesurupan. Memang mulutnya tidak di saring, berdosa sekali pada kakaknya sendiri. “Hus! Kamu ini, sama kakak sendiri kok begitu, mungkin lagi mikirin hal yang lucu.” Zahra tampak cekikikan, “Atau Kak Aksa lagi jatuh cinta, Bun. Kan katanya orang kalau lagi jatuh cinta itu, selalu senyum-senyum sendiri. Nah persis banget kaya Kak Aksa tadi.” Aksa sudah berada di dekat mereka, menjitak kepala adiknya membuat Zahra mengaduh dan menoleh, “Sakit tahu,” keluhnya. “Habisnya kalau ngomong seenak jidat.” Aksa duduk di sisi kanan, membuat Zahra berada di antara dirinya dan sang bunda. “Nggak usah di dengar lah, Bun. Zahra itu kalau ngomong suka banget ngelantur, pake cinta-cinta segala. Masih bocah nggak usah bahas cinta-cintaan mending cita-cita,” lanjutnya. “Idih, emang faktanya begitu.  Kak Aksa tadi senyum-senyum sendiri waktu aku pulang sekolah, aku lihat kan duduk di dekat kolam, hih ... ngeri banget, hati-hati ah, Kak.” Zahra bergidik, takut kakaknya memang kesurupan. Horor sekali nanti. “Nggak ada! Siapa yang kesurupan,” ucap Aksa. Memang tidak ada yang kesurupan kan, adiknya memang ngomong ngelantur sekali. “Berarti Kak Aksa lagi jatuh cinta,” balas Zahra. “Apa lagi itu, nggak ada!” “Masa? Bunda tahu nggak,  Kak Aksa diam-diam punya cewek tahu, terus ya—“ Perkataannya terpotong karena mulut yang di bekap oleh tangan sang kakak, Zahra kesusahan menjauhkan tangan Aksa yang menutup mulutnya. “Sudah ah, kalian ini ribut mulu. Sana siap-siap, Ayah ngajakin kita makan malam di luar,” ucap Jihan kepada kedua anaknya. Aksa pun melepaskan adiknya, setelah perutnya di sikut oleh Zahra. “Ke mana, Bun?” tanya Zahra. “Ngga tahu, Ayah nggak bilang, cuma tadi telepon malam ini makan di luar.” “Asyik jajan es!” pekik Zahra. “Es mulu, sakit gigi baru tahu rasa,” ucap Aksa mengingat adiknya suka sekali makan es. “Iri bilang Bos!” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD