“Kalau kita bisa mengulang waktu yang udah berlalu, kira-kira kamu mau ngelakuin hal apa, Rai?”
Pertanyaan itu sontak membuat Mirai yang sejak tadi asyik dengan camilan di tangannya menoleh ke samping di mana Dewi sedang duduk dengan mulut yang tengah menikmati cokelat. Mereka sedang berada di taman kampus, duduk di kursi yang letaknya tidak begitu mencolok, sehabis jam kedua selesai dan masih begitu pagi untuk makan di kantin, keduanya memutuskan untuk berada di taman setelah jajan lebih dulu.
“Kenapa tiba-tiba kamu tanya kaya gitu? Kalau kita bisa mengulang waktu yang udah lama, buat balik lagi ke masa kini. Kamu kayanya udah tahu deh jawaban aku apa,” jawab Mirai dengan pandangan yang sudah kembali ke depan.
Dewi mengangguk, “Iya, aku tiba-tiba kepikiran aja gitu dan aku tahu tapi biar lebih jelas lagi gitu, Rai. Aku mau dengar dari mulut kamu langsung. Kalau aku nih ya, aku pengin banget jadi anak bungsu kaya kamu,” ucapnya.
“Nggak ada yang spesial dari posisi menjadi anak bungsu, Wi. Lagian semua anak sama aja menurutku.”
“Ya beda dong, kalau bungsu kan nggak ada adik.”
“Kan namanya juga anak bungsu, Dewi!” seru Mirai sebal sekali mendengar perkataan Dewi. Kalau anak bungsu kan berarti anak terakhir, jadi tidak memiliki adik kan.
Dewi tergelak, “Bercanda, Mirai.” Hal itu membuat Mirai mendengkus, kelakuan sahabatnya ini memang selalu membuat ia geram tetapi anehnya lagi justru tidak pernah membuat mereka jadi berantem. Malah bisa di bilang persahabatan mereka ini adem saja, tidak ada tuh namanya cek-cok.
“Ya pokoknya senang aja kan kalau jadi anak bungsu.”
“Biasa aja. Malah jadi di banding-bandingkan sama Kakak sendiri.”
Dewi menatap Mirai prihatin, dia tahu semua hal tentang sahabatnya termasuk dengan Mirai yang tahu tentang dirinya. Mereka memang tidak pernah lupa untuk membagikan semua keluh kesah, membagikan semua cerita bahagia atau pun sedih. Semuanya bukan sebuah rahasia lagi untuk Mirai dan Dewi. Termasuk dengan Mirai yang menurut Dewi bak robot yang hanya di atur oleh sang pemilik.
“Masih sama ya?” tanya Dewi yang langsung diangguki oleh Mirai.
“Semuanya nggak akan pernah berubah, Wi. Aku kayanya selalu sama aja di mata kedua orang tuaku dan Kak Ayu selalu menjadi yang paling luar biasa di mata mereka, jangan kaya aku, Wi. Percaya deh, nggak enak rasanya dibandingkan sama kakak sendiri.”
“Aku kira setelah apa yang selama ini selalu kamu iyakan, selalu kamu turuti, semuanya selesai dan berubah seiring berjalannya waktu. Menurutku sampai sejauh ini kamu hebat, Rai. Bertahan dalam segala macam tekanan yang nggak di sadari oleh keluarga kamu kalau apa yang dilakukan menjadi sebuah tekanan buat kamu. Aku kalau di posisi kamu kayanya nyerah aja deh, nggak bisa banget kalau dapat tekanan. Stress bawaanya.”
Mirai tersenyum tipis. Tidak asing, ditekan atau tidak, semua itu bagi Mirai adalah hal yang biasa, selama ini segala macam hal yang menurut Dewi menjadi sebuah tekanan sudah ia rasakan. Termasuk bagaimana orang tuanya yang tanpa sadar membuat Mirai harus menjadi seperti Ayu. Yang pintar, membanggakan, selalu nurut, semuanya seolah harus Mirai kuasai tanpa tahu apa yang diinginkan olehnya.
“Lagian aku udah biasa, kamu tahu sendiri dari dulu oragn tua aku gimana.”
Dewi diam. Ia sangat tahu, bahkan ia melihat sendiri bagaimana orang tua Mirai yang kerap kali membanggakan Ayu dan tanpa sadar membandingkannya dengan Mirai. Semuanya keterlaluan menurut Dewi, tidak seharusnya kan sebagai orang tua membandingkan anak satu dengan yang lainnya. Ternyata meski hidup sederhana, ia lebih beruntung dari Mirai, karena di dalam keluarganya tidak ada yang namanya membandingkan satu dengan yang lain, terutama orang tuanya.
“Tapi aku yakin suatu saat nanti kamu bisa menjadi Mirai yang paling hebat, yang selalu bersinar terang.”
“Kaya bintang.”
“Iya, kamu harus menjadi bintang, Rai. Dalam gelap pun bintang masih menunjukkan cahayanya, indah dalam sebuah kegelapan.”
**
Mengulang waktu yang sudah berlalu?
Mirai kembali ingat dengan pertanyaan Dewi siang tadi. Ia belum menjawabnya, karena Dewi juga sudah tahu selama ini apa yang ia mau. Mirai selalu bercerita kepada Dewi bagaiaman ia ingin sekali bisa bermain alat musik, terutama memainkan biola. Tetapi apa yang ingin ia lakukan tidak bisa dilakukan dengan bebas, bahkan meminta ijin kepada orang tuanya saja Mirai tidak berani. Ingin masuk ke salah satu tempat kursus musik yang sejak sekolah informasinya selalu ia cari di internet.
Bukan Mirai tidak mau mencoba untuk meminta ijin tetapi sebelum mengatakan apa yang ia inginkan, ibunya pernah bilang bahwa tidak suka anaknya terjun dalam dunia musik. Apa pun itu, mendengarkan saja, tidak perlu menjadi bagian dalam dunia tersebut.
Lantas, Mirai bisa apa kalau sudah begitu?
Jika ia bisa kembali memutar waktu yang sudah berlalu, mungkin Mirai ingin menjadi orang yang lebih pemberani, lebih bisa mengungkapkan apa yang ia mau tanpa memikirkan apa yang nanti terjadi ke depannya, lebih baik mencoba dulu kan dari pada tidak sama sekali, tetapi sekarang Mirai sudah menjadi orang yang hanya melakukan apa yang menjadi arahan orang tua tanpa memiliki tujuannya sendiri.
Benar kata Dewi, Mirai ini seperti robot saja.
“Habis ini ada kelas dokkai, haduh habis gelap terbit lah gelap sih ini.”
Fani yang berjalan di samping Mirai tampak menggerutu, sepertinya anak itu selalu menggerutu soal mata kuliah. Mirai jadi berpikir, apa Fani juga termasuk seperti dirinya yang kuliah di jurusan pilihan orang tua. Pasalnya Fani selalu kedapatan tidak bersemangat kalau sudah mata kuliah Jepang, kecuali kebudayaan Jepang apalagi dosennya masih muda, Fani paling semangat.
“Kepala kamu masih baik, Fan?” canda Mirai.
Fani mengerucutkan bibirnya, “ Kamu udah tahu jawabannya, nggak baik kalau udah ketemu sama pola kalimat pusing banget tahu.”
Mirai terkekeh, “Apa sih yang nggak bikin kepala kamu pusing? Paling kebudayaan doang,” ucapnya.
“Pintar! Gama Sensei cakep ya, jomlo pula. Kan jadi mau memiliki,” celetuknya.
“Ada-ada aja kamu, Fan.” Mirai lebih dulu masuk ke dalam kelas, mendengar cerocosan Fani tidak terasa mereka sudah sampai di kelas berikutnya.
“Lah seriusan ini!”
Fani duduk di samping Mirai, mereka duduk di deratan ketiga dari depan, tempat yang paling oke menurut Fani dan Mirai selalu tahu posisi yang ia sukai. Tidak begitu mencolok di depan tetapi juga tidak terlalu memojok di belakang, posisi yang pas.
“Tadi serius tahu, lagian umurnya nggak beda jauh kan, beda enam tahu doang.”
“Tapi dia nggak suka cewek, Fan,” bisik Mirai.
Fani melotot ke arah Mirai, “Seriusan?!” serunya, beruntung masih belum ada dosen dan yang lain pun sibuk dengan urusan masing-masing, jadi seruan Fani tidak membuat heboh seisi kelas. Meski ada sih yang melirik mereka tadi.
Mirai mengangguk, “Kamu nggak dengar gosip yang beredar? Anak-anak udah pada tahu, tapi silent aja. Kan nggak sopan juga dia dosen kita, lagian mana bisa kita larang.”
“Ya bisa lah! Kan itu nggak wajar, Rai. Astaga ... itu mata kelilipan kali ya, kalau kaya gini caranya aku makin semangat buat meruntuhkan pertahanan hati Gama Sensei. Lihat aja nanti, bucin deh dia.” Fani tampak begitu menggebu dan Mirai tahu kalau gadis itu serius dengan apa yang di katakannya.
“Aku dukung kamu deh.”
“Harus!”
Mirai menggeleng, memang selama ini Fani begitu terang-terangan menyukai dosen mereka, tetapi Mirai pikir hanya candaan saja. Sekarang melihat Fani begitu bersemangat dan serius seperti ini, Mirai jadi yakin kalau memang selama ini Fani tidak bercanda dengan apa yang ia katakan. Teman-teman di kelas saja tahu kalau Fani selalu usil pada dosen muda itu, namanya Gamaliel.
“Btw Rai, yang di taman waktu itu pacar kamu ya?”
“Hah?!”