Setelah kepergian Kein dan Divandra, tinggalah Aneira dan Fairel.
Fairel izin pamit terlebih dahulu “Gue duluan” berjalan menuju mobilnya bewarna hitam dari mobilnya saja tampak bahwa Fairel adalah orang yang serba berkecukupan.
Melihat Fairel sudah masuk ke dalamnya Aneira berjalan menuju mobilnya yang terletak tidak jauh dari mobil Fairel.
“Itu mobil gue” Aneira secepatnya masuk ke dalam mobil, agar tidak tertinggal oleh mobil Fairel yang sudah menuju gerbang sekolah.
“Gue harus cepat” segera Aneira menekan gasnya menjaga jarak aman dengan Fairel agar tak ketahuan, kali ini ia harus mengikuti Fairel.
Mobil Fairel berbelok ke kiri disusul dengan Aneira yang ikut berbelok ke kiri.
“Gue yakin kali ini gue dapat informasi penting”
Aneira menekan gasnya dalam melihat bahwa jaraknya dengan mobil Fairel sudah terlalu jauh karena mobil yang ada di depannya ini.
Aneira dengan cepat menyalip mobil yang ada di depannya, agar tak kehilangan jejak mobil Fairel.
Fairel ternyata cukup cepat melajukan mobilnya, membuat Aneira sedikit kesulitan. Tapi tentu saja Aneira sudah terlatih dengan keadaan seperti ini jadi ia tak sedikitpun merasa panik.
Fairel tiba tiba menambah kecepatan mobilnya membuat Aneira juga menambah kecepatannya.
Setelah hampir 20 menit Aneira mengikuti Fairel, kemudian Fairel berbelok ke kanan.
Aneira sangat tahu kemana Fairel, bukankah ini tempat yang kemarin ia datangi.
Berarti benar, mobil yang ia lihat sangat familiar adalah mobilnya Fairel.
Aneira memperlambat laju mobilnya agar tak ketahuan dengan Fairel, ia berhenti untuk menjaga jarak ketika Fairel memarkirkan mobilnya di tempat persis seperti kemarin.
Aneira bisa melihat bahwa Fairel turun dari mobil sambil memperhatikan keadaan sekitar.
“Apakah dia sadar sedang diikuti?” tanya Aneira kepada dirinya sendiri.
Tapi Aneira seperti merasa aneh kenapa Fairel tampaknya tergesa gesa seperti ada situasi darurat.
***
Fairel yang biasanya tak melajukan mobilnya dengan kecepatan sekencang ini, hal ini Fairel lakukan bukan tanpa alasan sejak tadi entah kenapa ia merasa ada yang mengikutinya. Berulang kali ia mengecek kaca spion tapi tak ada yang aneh rasanya.
Bunyi dering ponselnya memecahkan lamunan Fairel.
Halo Rel
Halo
Lo dimana?
Ini lagi otw
Gawat Rel.
Apaan yang gawat?
si Ridho pingsan.
Oke gue kesitu.
Fairel turun tergesa gesa dari mobilnya tapi sebelum itu ia memastikan bahwa memang tak ada yang mengikutinya, barulah setelah ia yakin Fairel masuk ke dalam gedung yang ada di depannya.
Hal yang pertama kali Fairel temui adalah wajah panic dari teman temannya yang mengetahui kondisi Ridho.
Kondisi Ridho benar benar memperhatinkan, wajah penuh dengan luka pukulan. Fairel yang tidak tahu apa yang terjadi segera menyuruh teman temannya untuk membawa Ridho ke rumah sakit.
“Ridhom harus dibawa ke rumah sakit, ayo angkat dia ke mobil gue” Fairel memerintahkan teman temannya untuk mengangkat tubuh Ridho yang tak berdaya ke dalam mobilnya, dengan cepat mereka menuruti perintah Fairel.
Fairel mengacak rambutnya gusar, berkali kali kejadian terjadi tapi tetap saja mereka tetap tak bisa menghadapi perasaan takut dan khawatir.
Fairel membukakan pintu mobilnya agar teman temannya bisa membaringkn Ridho di kursi belakang.
“Lo sama fajar ikut gue” Lalu Fairel langsung masuk ke dalam kursi kemudinya dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Aneira yang terkejut melihat itu bertanya tanya apa yang sedang terjadi. Baru saja Fairel masuk ke dalam gedung itu tapi dengan cepat pula ia pergi membawa seseorang yang tampaknya tak berdaya.
Aneira tak membuang waktu dengan segera ia menjalankan mobilnya kembali mengikuti mobil Fairel.
“Sebenarnya apa yang lo lakuin Fairel”
***
Aneira terkejut saat Fairel ternyata menuju rumah sakit dari kejauhan Aneira bisa melihat bahwa teman Fairel tadi dibawa oleh ranjang rumah sakit untuk segera mendapat pertolongan.
Aneira dengan cepat turun ke mobil tapi sebelum ia turun tak lupa ia mengambil jaket dan topi hitam miliknya yang selalu dibawanya kemana mana.
Aneira memakai jaket untuk menutupi seragamnya agar tak ketahuan oleh Fairel, lalu topi hitam yang menutupi wajahnya.
Kemudian Aneira melangkah menuju UGD tempat Fairel menurunkan temannya, tapi tiba tiba langkahnya terhenti saat Fairel terlihat setengah berlari menuju UGD sehabis memarkirkan mobilnya.
“Hampir saja ketahuan” batin Aneira dalam hati
Setelah ia pastikan semuanya aman Aneira langsung melanjutkan langkahnya agar tak kehilangan Fairel. Aneira sudah memasuki ruangan UGD tapi ia tak menemukan keberadaan Fairel dan teman temannya.
“Sial, gue kehilangan mereka” umpat Aneira tapi Aneira tak patah semangat ia terus berusaha mencari Fairel dan teman temannya itu, Aneira berjalan ke setiap lorong memperhatikan setiap anak laki laki yang berbaju seragam sekolah tapi tak juga ia temukan setelah beberapa menit ternyata usahanya membuahkan hasil ia bisa melihat bahwa Fairel dan teman temannya sedang duduk dikursi tunggu menunggu temannya di periksa oleh dokter.
Aneira segera bersembunyi di balik tiang yang tak jauh dari mereka, untung saja tiangnya cukup besar dan badannya kecil sehingga dengan mudah ia bersembunyi di balik tiang itu.
Aneira merapatkan tubuhnya ke tiang agar mempersempit jaraknya dengan ketiga orang itu sehingga dengan mudah mendengar percakapan mereka.
Dari jarak cukup dekat Aneira masih bisa mendengar percakapan antara ketiga orang itu. Aneira yang sangat penasaran dengan apa yang mereka bicarakan memasang telinganya lebar lebar.
Tapi sial, belum sempat mereka berbicara dokter yang menangani temannya itu sudah kembali melaporkan bahwa kondisi temannya baik baik saja, bekas pukulan tidak berdampak kepada apa apa hanya lebam dan luka saja.
“Dampak pukulan?” ulang Aneira kepada dirinya sendiri
Pukulan, berarti benar apa yang selama ini dikatakan oleh Mr.X bahwa Fairel memang berhubungan dengan geng itu bahkan berperan besar melihat betapa berkuasanya Fairel.
***
Fairel merasa lega mendengar ucapan dari dokter yang menangani Ridho untung saja ia dan temannya cepat membawanya kesini sehingga Ridho bisa dalam keadaan baik baik saja.
"Ya sudah saya pamit dulu" pamit dokter dan berlalu dari hadapan Fairel dan teman temannya.
Segera Fairel dan teman temannya menghampiri Ridho yang sedang terbaring menggunakan infus tapi sudah dalam keadaan sadar.
"Lo bikin gue khawatir aja" ujar fajar setelah melihat keadaan Ridho yang kata dokter baik baik saja.
"Maafin gue, gue nggak bisa jaga diri" Ridho meminta maaf akan kesalahan yang telah ia lakukan sehingga membuat teman temannya khawatir.
"Tugas kita memang penuh bahaya, tapi lo udah mau bertahan sejauh ini itu lebih dari cukup" ujar Fairel tersenyum sambil menepuk nepuk pundak Ridho.
***