Divandra dan Aneira sudah berada di mobil Aneira, mereka berdua menuju ke apartemen milik Aneira.
“Gue baru tahu lo tinggal di apartemen Ne?” tanya divandra disela sela percakapan mereka untuk memecah kesunyian di perjalanan
“Iya dulu gue tinggal di luar makanya keluarga gue masih ada di luar, Jadi gue sendiri disini”
“Beneran lu cuman sendirian di sini Ne, harusnya lo bilang ke gue”
Aneira yang tak mengerti mengapa dirinya harus melapor kepada Divandra bahwa dirinya tinggal sendiri, Divandra kembali melanjutkan kalimatnya agar Aneira bisa mengerti maksud dirinya “Pasti lo kangen dengan masakan ibu lo, kalau kangen lo bisa datang ke rumah gue”
“Nggak apa-apa Di, gue udah biasa ibu gue udah lama pergi ninggalin gue sejak gue masih kecil” jelas Aneira yang membuat Divandra merasa tak enak.
“Aneira Gue nggak tahu, maaf ya”
“Santai gue baik-baik aja kok, oh ya tapi harap dimaklumi ya kalau apartemen gue kecil dan sederhana”
***
Aneira memarkirkan mobilnya di tempat parkiran khusus penghuni apartment. Kemudian Aneira segera turun dari mobil diikuti divandra.
“Ayok Di” lalu mereka menaiki lift ke lantai 20, sejak tadi Divandra hanya diam mengikuti Aneira.
Hanya butuh beberapa menit akhirnya Aneira dan Divandra sampai di apartemen milik aneira.
“Silahkan masuk” Aneira membukakan pintu untuk Divandra
Divandra masuk ke dalam apartment milik Aneira, hal yang pertama kali ingin Divandra lakukan adalah berteriak kepada Aneira. Mengapa karena hanya dilihat dari ruang tamunya saja apartment ini bukanlah apartment kecil seperti yang dikatakan Aneira saat di mobil.
Divandra dengan cepat mendekati Aneira yang sedang meletakkan sepatunya di rak sepatu di dekat pintu
“Lo beneran Ne, Gimana bisa lo bilang apartemen sebesar dan semewah ini dengan apartemen kecil dan sederhana gue bener-bener nggak nyangka,lo bisa ngomong kek gitu apartemen lo kecil ini tuh udah gede banget” protes Divandra kepada Aneira
“Lah emang iya, apartment gue ini belum ada apa apanya dibanding rumah lo” jawab Aneira jujur
“Kalau lo bandingin apartemen dengan rumah udah jelas beda ngebandingin apartemen dengan apartemen baru itu perbandingan yang pas, ini apartemen ini lo bilang kecil ini mewah banget loh seharusnya gue nggak percaya dari awal kalau lo bilang ini kecil dan sederhana”
Aneira tak bisa menjawab apapun hanya bisa diam mendengar perkataan Divandra.
“Jadi gimana lo masih mau protes dengan gue atau kita lanjut kegiatan kita yang belum sedikitpun kita mulai”
“Hehehe” divandra tersadar bahwa dirinya sudah bercerita panjang lebar sehingga melupakan niat dan tujuannya ke sini.
“Gimana kalau kita makan dulu Ne, Gue laper”
“Ya udah, tunggu bentar ya gue ganti baju dulu, lo mau ganti baju atau enggak?” tanya Aneira kepada Divandra “Gue nggak bawa baju ganti Ne”
“Pakai baju gue aja Di, yok” Aneira segera berjalan menuju kamarnya diikuti oleh Divandra yang mengekorinya.
Divandra kembali dibuat terkejut dengan keadaan kamar milik Aneira, benar benar seperti hotel bintang lima.
“Gila lo Ne, berasa tidur di hotel terus lo” dengan cepat Divandra naik ke atas kasur Aneira ingin merasakan rasanya tiduran di kasur milik Aneira “Ne, gue numpang ngerasain ya”
Aneira yang sibuk mencari baju yang cocok untuk Divandra hanya bergumam mengiyakan, Aneira membiarkan Divandra melakukan apapun yang ia inginkan.
Niat awal divandra hanya ingin mencoba berbaring di atas kasur Aneira tapi hanya dalam beberapa menit Ia sudah tertidur lelap tidak heran bahwa julukan divandra adalah ratu tidur ia bisa tidur dimana saja dan kapan saja dalam waktu yang sangat cepat.
Aneira yang tak sadar bahwa divandra sudah menuju ke alam mimpinya “Di ini baju buat lo..” ucapan Aneira terhenti saat ia berbalik dan mengetahui bahwa divandra sudah tertidur lelap satu hal yang bisa dilakukan Aneira adalah menggelengkan kepalanya ia kemudian membiarkan divandra tertidur selagi dirinya berganti pakaian.
Selepas mengganti pakaian Aneira menuju dapur aneira membuka lemari makanan untuk mengecek Apakah asisten rumah tangganya menjalankan pesannya atau tidak saat membuka lemari makanan tersebut ia bisa melihat bahwa ada beberapa makanan yang telah dibuat oleh asistennya mulai dari makanan berat sampai makanan ringan itulah mengapa ia sangat mempercayai asistennya itu asistennya adalah salah satu orang yang sangat mengerti bagaimana aneira.
Selesai Aneira meletakkan makanan diatas meja makan agar bisa disantap oleh dirinya dan divandra. Aneira kemudian melihat jam yang berada di dinding apartmentnya, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 4 sore itu tandanya mereka harus segera melakukan kegiatan mereka.
Aneira kembali masuk ke dalam kamarnya untuk membangunkan divandra.
“Di” panggil Aneira pelan
“Bangun udah sore, kita makan dulu” Divandra menggeliat tanda ia merespon apa yang dikatakan oleh Aneira kemudian setelah matanya terbuka dengan cepat ia duduk seperti orang yang sedang terkejut
“Gue ketiduran di sini” tanyanya seperti tak percaya
“Iya”
“Kenapa lo nggak bangunin gue Ne”
“Gue kira lo capek banget”
“Udah berapa lama gue tidur?”
“Kira-kira udah hampir 40 menit”
“Ya ampun Aneira, ya udah kita makan dulu atau gimana nih?” tanya divandra
“Lo ganti baju dulu, ini bajunya” Sembari memberikan baju yang telah ia keluarkan dari lemari kepada Aneira
“Ya udah gue ganti baju dulu ya”
“Oke gue tunggu di meja makan”
“Siap Ane” lalu Divandra melesat menuju kamar mandi untuk berganti pakaian sedangkan Aneira berjalan menuju dapur.
***
Divandra dan Aneira sudah berada di meja makan, Divandra tak menyangka akan dihidangkan makanan sebanyak ini “Ini siapa yang buat Ne?” tanya Divandra antusias
“Asisten gue” jawab Aneira sambil menyendokkan nasi kepada Divandra “Segini cukup?”
Divandra mengangguk “Udah cukup itu”
Aneira mempersilahkan Divandra untuk mengambil apa yang ia inginkan “Ambil aja ya Di, nggak usah malu malu”
“Mana ada di kamus gue yang namanya malu Ne”
Kepolosan Divandra terkadang membuat Aneira geleng geleng kepala, tapi karena kepolosan divandra itulah yang membuat Aneira nyaman dengan tingkahnya, Divandra tak pernah menyembunyikan apapun yang ia rasakan dari Aneira.
***