Aneira yang sudah tiba duluan dibanding Divandra heran melihat Divandra yang tiba tiba datang dengan senyuman yang sumringah tak seperti biasanya.
Aneira yang heran dengan tingkahnya mau tak mau memberanikan diri bertanya tapi belum sempat Aneira bertanya Divandra sudah terlanjur mengatakan alasan kenapa dia bisa sesenang itu di pagi hari.
“Ulang tahun gue mau dirayain Ne” dapat Aneira lihat mata Divandra benar benar menyiratkan bahwa ia sangat bahagia.
“Wah beneran? kapan-kapan?” tanya aneira tak kalah antusias seperti dugaan divandra respon aneira akan sangat bahagia sama seperti dirinya maka tidak heran bahwa divandra sangat menyukai Aneira karena dapat Divandra litay bahwa takada sedikitpun rasa iri dari aneira
“4 hari lagi tapi belum ada persiapan apapun lo mau kan bantuin gue nyiapin party sweet seventeen gue?”
“tanpa lo suruh pun gue bakalan mau”
“Makasih udah mau ngertiin gue Ne” Divandra memeluk aneira sebagai ucapan terima kasihnya yang dibalas oleh Aneira
“Sama-sama lu nggak perlu terima kasih kan gue belum ngapa-ngapain, jadi nanti sore kita ke mana?” “Gue mau cari konsep party Planner, mau searching searching dulu”
“Gimana kalau di rumah gue eh maksud gue di apartemen gue?” aneira menawarkan apartemennya untuk tempat dia dan Divandra berkumpul sesekali ia ingin merasakan apartemennya hidup tak sepi seperti biasanya
“Wah nggak apa apa?”
“Ya nggak apa apa dong nanti sehabis pulang sekolah lo pergi bareng gue nanti gue yang ngantar lo balik”
“Kalau masalah balik mah gampang gue juga bisa nyuruh Kein jemput gue”
“Jadi nanti sepulang sekolah kita ke ke apartemen gue?” tanya Aneira memastikan agar ia bisa menyuruh asisten rumah tangganya untuk menyiapkan beberapa makanan ringan untuk mereka.
“Okey” teriak divandra bersemangat baru pertama kali ia bertemu dengan teman satu Frekuensi seperti aneira
“Oh ya kalau sweet seventeen itu harus ada pasangannya ya kan?” tanya Divandra yang membuat Aneira tampak berpikir untuk menjawab pertanyaan dari divandra sebab Ia tak pernah merayakan sweet seventeen
“Gue rasa biasanya sih harus ada ya tapi lo mau cari di mana?”
Dengan cepat Divandra menjawab “Kak Fairel kan ada”
“Jangan macam-macam Di, gue nggak mau lo malu maluin diri lo sendiri di acara ulang tahun lo” ujar Aneira memperingatkan
“Iya juga ya, Lu tau sendiri kan Kak Fairel orangnya gimana pastii dia langsung nolak ajakan gue ya udah deh gue sendiri aja kan ada lo sahabat gue”
Aneira merasa takjub bagaimana Aneira bisa mengerti secepat itu, biasanya jika menyangkut Fairel ia pasti menjadi bebal dan sulit dinasehati.
Sejak beberapa menit yang lalu mungkin sudah hampir satu jam Fairel terus mendengar suara nafas dari kein yang membuatnya meras heran kenapa Kein terlihat begitu frustasi.
Fairel mencoba bertanya kepada kein “Lo kenapa?”
“Berat bro masalah gue berat” Fairel yang tak mengerti “Apa yang berat?” Fairel pikir kein tak memiliki masalah apapun sebab hidupnya selalu penuh dengan suka cita tapi lihatlah sekarang Ia seperti orang yang sedang terkena masalah yang begitu berat
“Lo cerita sama gue lo kenapa?”
“divandra mau ngerayain ulang tahun” Kein mengatakan dengan lemah
“Terus? Fairel benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran kein bukankah itu adalah hal biasa
“Lalu apa masalahnya?”
“Lo nggak tahu Rel, lo nggak tahu bakalan seribet apa seorang divandra pasti hidup gue nggak akan lama lagi” Kein mengatakan seperti orang yang akan mati besok lemah dan tak bersemangat
“Lo jangan bercanda kayak gitu, emangnya ada apa?”
“Lu nggak tahu Rel”
Fairel yang kesal mendengar jawaban dari Kein benar benar tak bisa menahannya lagi “Karena gue nggak tahu mangkanya lo kasih tau biar gue tahu g****k”
Kein yang mendengar itu hanya menyengir tak karuan “Dia bisa nyuruh gue apa aja demi kepentingan dia. makan nggak dibolehin bahkan untuk istirahat bareng sebentar gue nggak bisa, nggak kebayang gimana gue nantinya” Kein mengatakan seolah-olah itu akan terjadi padahal Ia harusnya berpositif thinking belum tentu divandra memperlakukannya seperti itu
“Lo jangan kayak gitu dengan adik Lo, harusnya lo ikut senang gue yakin adik lo nggak bakal kayak gitu kalau butuh apa-apa panggil aja gue”
“Beneran lu mau bantuin gue nanti kalau gue lagi ribet”
“Iya”
“Makasih Lo emang bestfriend gue makasih bro makasih” ucapan Kein benar benar membuat Fairel akhirnya mengerti mengapa sejak tadi ia hanya menhela nafas berat sebenarnya Fairel sangat tahu maksud dari ucapan Kein bahwasanya dirinya ingin dibantu oleh Fairel tapi ia mengatakannya dengan penuh drama agar Fairel ikut merasa kasihan.
***
Setelah percakapan itu Kein mendapat sebuah pesan dari Divandra ia membaca pesan itu dengan Sedikit keras sehingga membuat Fairel ikut mendengar isi dari pesan tersebut
Kak gue hari ini mau ke apartemen aneira Lo balik aja duluan nanti pas gue udah mau pulang baru gue telepon loh, Oke Kak.
Kein yang membaca pesan itu langsung mengumpat kesel
“Lihatlah bahkan Divandra dengan seenaknya saja menyuruhnya” ujar Kein kesal kepada Fairel.
Fairel yang benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Kein langsung memukul kepala Kein dengan sebauh buku yang cukup tebal “Apa salahnya seorang adik minta jemput sama kakakny,a Lu aja yang ribet”
“Iya sih tapi gue males aja disuruh-suruh gitu” ujar Kein masih membela diri
“Itu bukan disuruh g****k” Fairel benar-benar berada di batas kesabarannya sekarang, entah sudah berapa kali ia harus menahan emosinya ketika menghadapi Kein, usia Kein benar-benar tak sejalan dengan cara berpikirnya, atau jangan jangan Kein adalah anak kecil yang sedang berkamuflase menjadi orang dewasa.
Ntahlah itu hanya imajinasi Fairel yang benar benar tak masuk akal.
Fairel segera menarik ponsel Kein dan membalas pesan Divandra
Oke Di.
Lalu memberikan ponsel Kein dengan kasar “Kalau lo nggak mau jemput dia biar gue yang jemput kan dia adik gue juga”
Seharusnya jika orang normal akan merasa tersindir tapi lihatlah apa yang dilakukan Kein selanjutnya “Beneran? Lo mau bantu jemput divandra, makasih banget bro” senyuman Kein benar benar sangat menjijikkan dimata Fairel, mungkin benar imajinasinya tadi bahwa Kein benar benar sedang berkamuflase.
***