Bunyi bel siang itu mengakhiri proses belajar mengajar di CAIS, tak ada satupun siswa yang tak senang dengan suara bel itu.
“Akhirnya, bisa pulang” uajr Diandra lemah.
Menurut Diandra jam jam pelajaran pada hari senin ini adalah jam jam yang sangat membosankan baginya, sudah sejak satu jam terakhir Diandra tak bisa menahan kantuk di matanya, begitu juga dengan Aneira ia juga merasakan hal yang sama dengan Diandra, tapi untunglah ia bisa menahannya sampai bel pulang berbunyi.
“Di, pulang sama apa?” tanya Aneira kepada Diandra, menurut Aneira ini kesempatan untuknya lebih cepat lebih baik.
“Rencananya sama abang gue, tapi abang gue lagi ngumpul geng abal abalnya itu, gue disuruh naik taksi online” jawab Diandra
Bagus kesempatan gue.
“Balik bareng gue aja Di, gue kebetulan kosong” ajak Aneira tak ingin membuang waktunya.
“Rumah gue jauh Ne, arah timur” Diandra merasa tak enak karena sudah merepotkan teman barunya itu apalagi ini hari pertama Aneira, teman macam apa yang memanfaatkan temanya pada hari pertama.
“Sama dong gue juga arah sana” balasan Aneira membuat Diandra terkejut temannya ini searah dengannya berarti dirinya tak merepotkan, sebab Diandra sangat malas naik taksi online terkadang ia menemukan driver yang kepo dengannya sebab bersekolah di CAIS.
“Apa nggak apa apa Ne?” tanya Diandra memastikan sekali lagi.
“Nggak apa apa dong Di, yuk!!” ajak Aneira lalu mereka berjalan bersama ke arah pintu keluar
Mereka berjalan beriringan di koridor yang juga ramai dipenuhi anak anak yang ingin pulang.
“Lah itu abang gue, tunggu bentar ya Ne” Aneira mau tak mau melihat arah pandangan Diandra dimana abangnya berada.
Jadi itu Kein.
***
“Bang” tepukan Diandra di punggung Kein membuat Kein terkejut dengan hal itu, bagaimana tidak tepukan itu cukup keras dan terasa sakit di punggung Kein.
Kein ingin marah sebenarnya tapi setelah ia melihat siapa yang telah berani melakukan itu, ia jadi tak berani melakukan apa apa. Itu Diandra adiknya, jika dia marah Diandra akan lebih marah kepadanya, dan ia tidak ingin itu terjadi apalagi sekarang sedang di sekolah.
“Apa?” ujar Kein malas
“Lu mau geng gengan lagi?” sebenarnya Diandra tahu jawabannya karena Kein pagi tadi sudah memberitahunya.
“Kan udah gue kasih tau tadi” ujar Kein kesal adiknya ini selalu banyak bicara jika mengenai gengnya itu.
“Ya loh kok sewot, gue cuman tanya gue kirain nggak jadi” Diandra menyadari bahwa abangnya ini sedang menahan kesal kepadanya.
“Gue nggak sewot Di, lu pulang naik taksi online ya”
“Nah, gue baru mau bilang gue pulang bareng temen gue ya” ucap Diandra sekalian minta izin kepada abangnya itu, walaupun abangnya ini sering merasa kesal kepada Diandra tapi abangnya itu adalah abang yang protektif kepada adiknya.
“Bareng siapa? Biasanya lu naik taksi, punya pacar ya lu?” tanya Kein tak hentinya menginterogasi adik perempuannya itu.
“Ya kali gue punya pacar dalam semalam, cinta satu malam dong” ujar Diandra mendapatkan sentilan di keningnya
“Kalau lu berani cinta satu malam gue habisin tuh cowok” ancam Kein dengan serius
“Gila lu serius banget, anak orang main lu bunuh bunuh aja”
“Kasih tau gue, lu pulang dengan siapa?” tanya Kein tak sabar
“Kalian berdua kenapa sih, dari jauh gue liatin berantem terus” siswa dengan perawakan tinggi dengan badan yang proposional dengan kulit putih dan tulang wajah yang tegas tak lupa mata yang indah yang mampu membuat semua perempuan tenggelam dalam tatapannya menghentikan percakapan kakak beradik itu.
“Heheh halo kak Fairel, apa kabar?” tiba tiba Diandra menjadi kalem tak seperti tadi sangat berbeda sekali membuat Kein mendengus kesal “Kayak nggak pernah lihat yang bening aja, abangnya sendiri juga bening” ucap Kein yang masih terdengar oleh Diandra dan juga Fairel.
Diandra menatap Kein tak terima, lalu dengan sengaja menginjak sepatu Kein yang membuat Kein mengaduh kesakitan.
“GILA LU ADIK DURHAKA”
Teriakan Kein malah membuat Diandra menatap Kein dengan marah bukannya merasa kasihan ataupun bersalah tapi malah bertindak seperti itu.
Fairel yang melihat itu hanya tertawa, memang ada ada saja tingkah laku kakak beradik ini.
“Halo Di, baik” Fairel akhirnya membalas ucapan Diandra membuat Diandra mengalihkan pandangannya dari Kein ke Fairel.
Sebuah dering ponsel membuat Diandra mengatupkan mulutnya kembali, seperti itu nada dering ponselnya maka dari itu Diandra dengan cepat melihat siapa yang menelfonnya.
Aneira Calling…
Diandra hampir lupa bahwa Aneira sedang menunggunya ini semua karena Kein yang membuang buang waktunya yang berharga.
Diandra mengangkat telfon dari Aneira
Hallo Di
Iya Ne, Maaf ya ini gue ke sana.
Oke, gue di tempat tadi.
Sambungan telfon terputus.
Diandra memastikan bahwa Aneira memang masih di tempat itu.
Kein yang curiga adiknya memang sedang menjalin hubungan melihat ke arah pandang adiknya, tapi dia hanya menemukan sosok perempuan yang sangat asing baginya, tak pernah ia meihat adiknya dengan perempuan itu.
“Teman gue udah nelfon gue balik ya” lalu dengan cepat Aneira berbalik tapi dengan cepat pula Kein menahannya.
“Pulang sama siapa lu?”
“Aneira, temen gue anak baru tuh anaknya” tunjuk Diandra kepada Kein.
“Oh anak baru” hanya itu kalimat yang terlontar dari mulut Kein.
Perhatian Fairel juga teralihkan kepada sosok yang ditunjuk oleh Diandra.
Entah kenapa dirinya juga penasaran akan sosok itu, tak biasanya ia penasaran seperti ini.
Dari jarak beberapa meter Fairel bisa melihat gadis dengan tinggi badan sekitar pundaknya sedang berdiri menghadap mereka. Tapi sayangnya Fairel belum bisa secara jelas melihat wajah anak baru itu dengan jelas masih samar samar.
“Yaudah gue pulang ya, jangan malam malam pulangnya” ujar Diandra sebelum beranjak pergi.
Lalu Diandra menatap Fairel “Kak Fairel, aku pulang dulu yah”
“Iya hati hati Di” balas Fairel yang mendapat cibiran dari Kein “Lembut banget nadanya, pake aku aku segala biasanya juga gue”
“Gue masih bisa dengar Kein” teriak Diandra yang sudah berlalu dari hadapan Fairel dan Kein.
Diandra sampai di hadapan Aneira "Maaf ya Ne, udah bikin nunggu lama"
"Iya nggak apa apa santai aja, yuk" ujar Aneira melepaskan pandangannya dari tempat Kein dan Fairel berada.
***