Bab 2

3210 Words
Happy reading *** Jakarta Radio, What's up guys,? Hopefully it will grow better right! This night for the next hour, along with me Anjas who broadcasts with Jakarta Radio on 89.7 Fm who will accompany all of your activities to be more passionate and knowledgeable, of course in the Up To Date News segment, to share information that invites you to see what phenomena are happening. today. like a young adult romance. all of which will be summarized here. on Jakarta Radio's Up to Date News And don't forget, those of you who have time to join me can provide input on the information that I will provide. Can be via WA at number 081273000212 or via Jakarta Radio Fanpage. And to start our togetherness, I will give a song that will make us even more excited tonight. Coldplay. Don't go anywhere because Anjas and Comtec Radio will be back soon and check out this song… .. Song Playing ... Fatin mendengarkan radio sambil mendengarkan lagu kesayangannya. Jujur ia masih senang mendengarkan Radio Jakarta, sambil menyesap secangkir kopi sachet sambil memandang ke arah jendela menatap gedung pencakar langit, sungguh nikmat tiada tara. Inginnya ke Loewy atau ke Hollwings menikmati bir bintang sambil mendengarkan music DJ atau live music. Namun Jimmy sibuk dengan kekasihnya jadi malam ini ia stay di kost saja. Semakin dewasa pertemanannya semakin sedikit. Jujur ia memang tidak banyak memiliki teman. Temannya di kantor hanyalah Jimmy. Hanya Jimmy yang ingin berteman dengannya. Mungkin karena ia adalah seketarisnya Pak Evan jadi ada yang segan dan tidak sedikit yang julid kepadanya. Ia berada Jakarta bukan untuk berteman melainkan kerja. Jadi ia menikmati pekerjaanya. Ponselnya bergetar "Anya Calling" Anya adalah salah satu temannya yang ia kenal di Hollwings. Anua adalah selebgram terkenal. Ia tidak percaya bahwa mereka memiliki frekuensi yang sama, salah satunya fashion, tergila-gila dengan Gigi Hadid. Dan menyukai apapun yang berwarna nude. Fatin menggeser tombol hijau pada layar dan lalu mengecilkan volume radio. "Iya Anya" "Lagi apa beb?" Tanya Anya dari speaker ponselnya. "Gue lagi kost aja beb" "Enggak sibuk kan Lo" "Enggak lah" "I have a problem, and it's complicated. Gue mau ke Hollwings, Lo samper gue dong" "Lo emangnya di mana?" "Gue lagi di jalan beb, macet banget di Thamrin, katanya sih ada kecelakaan gitu" "Tapi Lo nggak apa-apa kan" "Enggak" Fatin melirik jam dinding di kamarnya menunjukan pukul 21.15 menit, "Yaudah lo siap-siap gitu" ucap Anya. "Iya, Lo tenang aja, pasti gue samper" "Oke, beb" Fatin kembali menghidupkan kembali volume radio. Okay guys, back with Anjas and Jakarta Radio 89.7 fm. Still excited, right? Obviously because I'm here very excited for all of you Jakarta Radio. And the latest information that will provide me with the love phenomenon that occurred in October. What is that? Yes, related to those of you who are in love Woww ..... What is falling in love? Be patient, guys .... Before that, I would like to remind all of you who want to join here to respond, via SMS on 081273000212 or through the Jakarta Radio fanpage. Okay ... let's talk about falling in love, First, Realize the importance of loving yourself first. Don't admit to loving your partner if you can't prove your love for yourself. Second Always find something to admire and convey that admiration, no matter how small it may be. Maybe not everyone can do this, but at least you can show respect Well, I'm starting to understand guys ... okay, once again I remind you to join 081273000212 and Jakarta Fanpage Radio, give your feedback regarding the information earlier. While waiting for your response, I will provide more songs to make you even more excited. Agnez Mo l, Damn I Love You .. Since you are not alone ... there is Radio Anjas and Jakarta Radio here. Will come back soon and check out this song ... .. Fatin melangkah menuju kamar mandi, ia mencuci muka. Kejenuhannya hilang sudah ketika Anya mengajaknya keluar. Setelah itu ia membuka lemari, memilih dress. Fatin mengenakan bodycon dress berwarna hitam dengan belahan d**a rendah. Ia tidak ingin kalah saing dengan Anya. Suara ponsel Fatin bergetar, "Big Boss Calling" ia tidak percaya bahwa pak Evan menelfonya malam-malam seperti ini. Perasaanya tidak enak menyelimuti hati dan ini merupakan hal yang tidak biasa. Ini sejarah dirinya di Telfon oleh pak Evan. Fatin menarik nafas dan lalu duduk di sisi tempat tidur. Fatin menggeser tombol hijau pada layar. "Iya halo" ucap Fatin. "Kamu di mana" ucap Evan dibalik speakernya "Di kost pak. Ada apa pak" Fatin meletakan piring di wastafel. "Saya terluka, tolong obati saya" "Hah" Fatin masih bingung dengan ucapan Evan. "Di mana pak" "Di kost kamu saja" Evan lalu mematikan ponselnya tanpa mendengar jawaban Fatin. Evan melangkah menuju parkiran. Pikirannya tidak menentu, ia benar-benar sulit berpikir jernih. Nama Raja dan Mili masih terngiang di kepalanya. Masih teringat jelas bagaimana Raja memandang Mili setiap pertemuan. Dan ia pernah curiga, Raja lebih bisa mengenal kepribadian Mili dibanding dirinya. Ia dan Mili memang bertunangan, namun kesibukannya bekerja hingga mereka sulit melewati waktu bersama, walau bercengkrama. Evan melajukan mobil menuju ke kostan Fatin. Ia tidak tahu akan kemana, ia tuju hanya seketarisnya saja, itu yang terlintas dipikirannya. Ada sedikit perih di sudut bibir, ia perlu pengobatan segera. Sementara di sisi lain, Fatin hampir shock bahwa Boss akan kesini. Entah ia merasa senang atau sedih. Karena sang pujaan hati tiba-tiba datang kepadanya. Fatin memandang penampilannya sekali lagi, ia tidak memungkinkan mengenakan pakaian seperti ini dihadapan pak Evan. Pakaian yang ia kenakan sudah mirip seperti w*************a. Fatin membuka lemari lagi, mengambil rok dan baju kaosnya. Ia tidak ingin image dirinya menjadi seketaris kalem, patuh perintah atasan menjadi terlihat binal seperti ini. Beberapa menit kemudian notifikasi masuk lagi. Ternyata dari pak Evan, "Saya sudah di depan kost kamu" Big Boss. Fatin menarik nafas ia menata rambutnya kembali. Ia lalu membalas pesan singkat itu. "Naik aja pak, kamar saya di lantai 2 nomor 203 pas di ujung dekat balkon" Fatin. Fatin dengan cepat membereskan kamarnya. Saprai yang berantakan lalu ia tata kembali. Baju yang di gantung ia masukan ke dalam tempat cucian kotor. Tidak butuh waktu lama, suara ketukan terdengar. Fatin yakin yang mengetuk itu adalah pak Evan. Ia hampir gila karena belum siap. Fatin mendekati pintu kamar lalu membuka hendel pintu. Ia memandang Evan, jantungnya seketika berdesir menatap mata elang itu. Ini merupakan pertama kalinya pak Evan ke kostannya. Fatin memperhatikan struktur wajah Evan, sudut bibir wajah itu terluka. "Masuk pak" ucap Fatin ia memperlebar daun pintu. Evan memperhatikan penampilan Fatin. Wanita itu mengenakan kaos putih dan rok berwarna biru Dongker, rambut terurai. Evan lalu melangkah masuk ke dalam kamar itu. Ia mengedarkan pandangan kesegala penjuru ruangan di d******i warna putih. Karpet bulu berwarna putih menambah kesan manis dan ada dua bantal di bawah. Tidak ada kursi maupun sofa. Ruangan kamar kost ini memang sempit, namun View cantik di jendela menjadi pemandangan yang bagus. Meja estetik kecil terdapat lampu tidur. Untuk ukuran kamar kost, kost ini sudah layak untuk Fatin. Evan melirik Fatin menutup pintu kamar lalu menguncinya. Evan memilih duduk di lantai beralas bantal itu. Karena disitulah hanya tempat yang bisa duduki dan emang terlihat seperti ruang untuk nyantai. Ia membujurkan kakinya melirik Fatin mengambil kotak obat. Tidak lupa wanita itu menyeduh secangkir teh hangat untuknya. Evan menyandarkan punggungnya di dinding. Fatin melangkah mendekat, ia bersyukur bahwa kamarnya rapi setidaknya nyaman untuk beristirahat. Fatin meletakan cangkir teh di meja. Lalu ia mendekati pak Evan melihat wajah itu. Fatin duduk di samping Evan, ia dapat mencium aroma parfume mahal dari tubuh Evan. Dan sedangkan dirinya hanya mampu membeli parfume di body shop. Fatin mengambil kasa dan alkohol. Saling berpandangan satu sama lain, Evan memperhatikan wajah Fatin tidak ada yang spesial pada wajah itu kecuali hidungnya yang kecil dan mancung. "Saya obatin ya pak" Evan mengangguk lalu memejamkan matanya. Sungguh ia sangat lelah dengan semuanya. Ia membiarkan Fatin membersihkan lukanya. Jujur jantung Fatin maraton ketika ia dapat menyentuh wajah tampan itu. Ia dapat merasakan hembusan nafas Evan. Saling terdiam satu sama lain hanya sentuhan itu yang dapat ia rasakan. Fatin membersihkan secara perlahan sudut bibir Evan. "Maaf ya pak, mungkin agak sedikit perih" ucap Fatin mencairkan suasana. "Tidak apa-apa" ucap Evan, ia membuka matanya, lalu melihat iris mata bening Fatin. "Bapak dari mana? Kenapa bisa terluka seperti ini?" Tanya Fatin penasaran. "Saya habis tawuran dengan pria yang merebut tunangan saya" "I see" gumam Fatin lalu tidak bertanya lagi, karena itu diluar topik pembicaraanya. "Bagaimana tanggapan kamu?" Tanya Evan, ia merasakan tangan hangat Fatin di permukaan wajahnya. Sentuhan yang menenangkan. "Pria yang merebut tunangan bapak apakah terluka juga?" "Iya" "Sama-sama jagoan ternyata" Fatin selesai membersihkan luka di wajah Evan. "Terus, tunangan bapak bagaimana?" Tanya Fatin penasaran, sebenarnya ia tidak terlalu suka mengusik kehidupan pribadi orang lain. Tapi ia sudah terlanjur bertanya. "Ada, sepertinya dia memilih pria itu di banding saya" OMG, demi apa sorang pak Evan, bos tampan idaman banyak wanita, bisa dipatahkan hatinya oleh seorang wanita bernama Mili. Ia tidak habis pikir, kenapa ada seorang wanita yang menyia-nyiakannya. Ia penasaran seperti apa pria yang menjadi rivalnya pak Evan. Apakah dia lebih hebat? Lebih kaya? Atau sebaliknya. "Jadi ..." "Break up" gumam Evan, lalu tersenyum culas. "Pasti sakit" "Sedikit" "I hope you find another women, understand more about you, the important thing is to love each other. Right?" "Semoga saja" "Setelah ini apa yang kamu lakukan?" Tanya Fatin, ia meletakan perlengkapan obat di meja. "Kerja" "Itu lebih baik, fokus kerja. Besarkan perusahaan kamu" "Ya tentu saja" Evan lalu mengambil bantal ia simpan di bawah kepalanya. Ia ingin berbaring sejenak, lalu menatap langit-langit kamar. Ia akan mencoba ikhlas namun entahlah hati masih perih. Ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk merelakannya. Evan melirik Fatin yang hanya diam menatapnya. "Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Evan seketika. Fatin mengedikkan bahu, "Tidak ada pak" "Apa saya terlihat seperti pria patah hati" "Sedikit" "Jika kamu diposisi menjadi tunangan saya, apa yang membuat kamu meninggalkan saya" "Saya tidak akan pernah meninggalkan kamu !" Teriak Fatin dalam hati. Fatin menghela nafas, lalu tersenyum, "Tidak ada alasan saya untuk meninggalkan bapak. Kalau saya meninggalkan bapak berarti saya kurang bersyukur" Fatin lalu terkekeh. "Really?" "Yes of course, no reason. Pada dasarnya saya memang tipe wanita yang setia" "Kamu memiliki kekasih?" "Jika saya memiliki kekasih, saya tidak akan membiarkan bapak masuk ke kamar saya" "Owh ya?" "Iya" "Saya pikir kekasih kamu Jimmy anak Marketing itu" Fatin tertawa ia baru tahu ternyata pak Evan berpikiran bahwa ia berpacaran dengan Jimmy, "He's gay, saya tidak mungkin menjadi kekasihnya. Dia juga tinggal di apartemen dengan kekasih pria nya. Come on, kita hanya berteman" Fatin lalu tertawa. "I see" Lgbt masih menjadi penyakit sosial dan agama. Namun banyak sekali di Jakarta orang seperti itu. Fatin merasakan getaran ponselnya, ia menatap notifikasi masuk dari Anya. "Gue udah di Hollwings, Lo di mana?" Anya Fatin lalu mengetik cepat, "Bentar lagi ya, Boss gue samperin gue. Kalau dia pulang gue langsung cap cus" Fatin Fatin melirik Evan yang tak kunjung pulang, ini sudah setengah jam yang lalu dia berada di sini. "Ngapain Boss Lo ke kostan Lo? Nggak ada kerjaan apa?" Anya "Ember" Fatin Evan lalu berdiri, ia memperhatikan kamar Fatin ia memandang ke arah jendela. "Sebulan kost di sini berapa?" Tanya Evan. "3 juta pak" Evan menatap wajahnya sudut bibirnya bersih namun ada sedikit perih. Evan melirik jam menggantung di dinding menunjukan pukul 10.20 menit. Ia memasukan tangan di saku celana. Ia tahu bahwa wanita itu besok akan kerja jadi perlu istirahat. "Terima kasih, atas bantuannya saya akan pulang" ucap Evan. "Iya pak hati-hati di jalan" Evan melangkah menuju pintu, ia sekali lagi menatap Fatin tidak ada yang spesial pada gadis itu. Ia lalu meneruskan langkahnya menuju keluar. Sementar Fatin lalu bergegas membuka kaos dan rok dikenakannya. Beberapa menit kemudian Fatin berjalan menuju Hollwings. Ia melangkah masuk ke area lobby, memandang Anya. Wanita itu mengenakan celana pendek dipadukan tanktop dan jas berwarna hitam menutupi celananya pendeknya. Matanya sembab terlihat jelas wanita itu habis menangis. Anya menyadari kehadirannya, lalu melangkah dan memeluknya. "Hey, Lo kenapa?" Tanya Fatin, mengelus rambut panjang itu. Fatin mencoba menenangkan Anya, ia yakin wanita itu tidak sedang baik-baik aja. "Cerita sama gue, Lo kenapa? Siapa yang buat Lo gini?" Tanya Fatin, memandang wajah cantik itu. Air mata Anya jatuh dengan sendirinya, untuk berbicara saja sulit sekali. Fatin membawa Anya ketempat yang tenang, ia membawa Anya keluar dari Hollwings karena terlalu berisik menurutnya. Fatin membawa Anya duduk di Selasar dekat jalan, kebetulan di sana sepi. "Lo kenapa? Cerita ke gue?" Ucap Fatin. Anya menatap Fatin, air matanya tidak bisa dibendung lagi, "I broke up" Fatin mengerutkan dahi, ia tidak percaya bahwa Anya dan Teguh putus begitu saha. Oh Tuhan, kenapa ia di pertemukan oleh orang-orang patah hati secara bersamaan seperti ini. Beberapa menit yang lalu pak Evan sekarang Anya sahabatnya, "Serius?" "Why? Bukannya Lo sama dia sama-sama cinta" "Iya kita emang saling cinta, hanya kita udah nggak bisa lagi. Adiknya teguh Mika akan nikah sama Abang gue" Isak Anya. "Abang Lo yang mana? Ares atau Raja?" Tanya Fatin. "Ares, mereka Minggu ini nikah" "OMG, Jadi kalian bakalan jadi keluarga?" Anya lalu mengangguk, "Gue masih belum siap sebenernya, gue shock kemarin, Abang gue Ares ngasih tau bahwa mereka akan nikah secepatnya karena Mika hamil" "Lo tau? Teguh mutusin gue, karena kita udah nggak bisa lagi sama-sama Fat. Katanya dia akan jaga hati perasaan orang tuanya. Karena Ares ngehamilin adiknya dan orang tuanya masih nggak terima itu semua" "Mika yang dijaga mati-matian oleh orang tuanya, bahkan akan menjadikan Mika salah satu finalis Putri Indonesia yang cantik, cerdas dan berpendidikan. Namun Ares menghancurkan semua. Teguh mengatakan bahwa orang tuanya tiap malam masih nangis meratapi Mika. Umurnya masih 18 tahun tapi Ares dengan brengseknya ngehamilin Mika. Ares itu g****k atau gimana, bisa-bisanya pacaran sama anak di bawah umur, gue seumur gitu masih ngemall Fat, gue masih jajan cilok di kampus" ucap Anya menyeka air matanya. "Gue awalnya nolak, nggak terima putus gitu aja dari Teguh. Lo tau kan gue dapatin Teguh itu butuh perjuangan Fat. Di mana lagi gue dapat cowok sesabar Teguh. Teguh itu cowok paling cool yang pernah gue kenal. Dia dewasa bisa ngadepin gue yang pecicilan gini" "Dia bisa ngimbangin gue Fat. Lo tau kan gue butuh banyak drama buat dekatin Teguh. Akhirnya Teguh nembak gue, gue belum dua bulan jadian sama Teguh, dan putus gitu aja" "Fat gue cinta banget sama Teguh" Isak Anya tak tertahankan, nangis sejadi-jadinya. "Gue cinta banget Fat sama Teguh," "Di mana lagi gue dapat Teguh. Dia cerdas, dokter spesialis penyakit jantung dan punya coffee shop. Gue masih nggak terima Fat" "Gue udah bilang sama Teguh, gue sama dia bisa jalani ini semua. Bagaimanapun caranya, nggak perlu putus" "Teguh bilang nggak bisa Fat. Dia masih jaga hati orang tuanya. Butuh waktu untuk meredam itu semua, ia tidak ingin melukai hati orang tua untuk kedua kalinya" "Sudah cukup adiknya saja yang seperti itu. Dia bilang orang tuanya sudah tua, siapa lagi yang akan ia jaga. Mika juga tidak bisa di andalkan untuk menjadi penerus klinik yang mereka bangun mati-matian" "Masih banyak lagi alasan kenapa Teguh mutusin hubungan gue" Fatin juga ikut menangis mendengar cerita Anya. Jika ia di posisi Anya juga belum siap menerima kenyataan. Ia pernah bertemu Teguh ketika Anya mengenalkan kepadanya. Teguh yang ia lihat, dia pria paling sabar yang pernah ia temui, pembawaanya dewasa, dan wawasannya sangat luas. Ia tahu perjuangan Anya mendapatkan Teguh itu seperti apa, berawal dari endorsmen coffee shop Teguh yang di lakukan Anya. Lalu mereka berkenalan, awal dari situlah mereka bersama. "Oh God, Lo yang sabar ya Nya" "Gue harus gimana Fat" Fatin menarik nafas ia menyentuh wajah Anya, menghapus air mata itu, "Lo tenang dulu ya, gue tau Lo belum siap menerima kenyataan. Tapi gue yakin Teguh masih cinta sama Lo" "Lo nggak boleh patah semangat Nya. Lo bisa lewatin ini semua" "I know, you will get even better" "I Know, thank you so much" *** "b******k !" Umpat Evan, ia kesal luar biasa apa yang telah terjadi padanya. "Sial" karena baru ini ia benar-benar gagal dalam seumur hidupnya. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Raja dan Mili bersama. Evan melipat tangannya di d**a, ia menelfon WO dan desaigner untuk membatalkan pernikahannya. Ia tidak habis pikir karena Raja pernikahannya hancur begitu saja. Ia tidak butuh penjelasan apa-apa karena ia melihat Mili memeluk Raja, dan itu membuktikan bahwa wanita itu mencintai Raja. "Pak ini berkas-berkas yang perlu di tanda tangan" ucap Fatin meletakan berkas di hadapan Evan. Evan menahan amarah, pikirannya tidak terkendali. Ia memandang wajah cantik Fatin bersama baju kakunya. Entahlah ia tidak terlalu suka dengan wanita yang selalu mengenakan pakaian kaku seperti itu. Oleh sebab itu ia selalu tidak suka berhubungan dengan wanita karir, karena obrolannya sangat membosankan sama seperti pakaiannya. Evan lalu berpikir. Bisakah Fatin memiliki gaya fashion seperti Mili ke kantor? "Kenapa pak?" Tanya Fatin memandang boss nya yang sedari tadi memperhatikannya. Ia tahu bahwa Boss nya sedang tidak baik-baik saja. Semalam ia mengobati luka, dan Boss nya itu mengatakan bahwa dia berkelahi dengan salah satu pesaingnya. "I don't like your clothes" "Hah? Apa pak? Bapak nggak suka pakaian saya?" Tanya Fatin bingung luar biasa. Apa hubungannya berkas dengan pakaiannya. Fatin mengenakan pakaian ini setiap hari bahkan sudah dua tahun lama dan Boss nya ini tidak pernah komplain. "I've been wearing this outfit for two years. Has the same color two dozen. Boss, never complained about wearing these clothes" ucap Fatin tidak terima. "Karena saya baru menyadari bahwa kamu, norak sekali" Evan to the point, ia tidak bisa berbasa-basi lagi. Semalam ia ke kostan Fatin, wanita itu mengenakan rok dan kaos. Mengingatkan dia pada gadis desa. Ah ya, ia baru ingat, benar memang bahwa Fatin dari Wonosobo yang ia rekrut langsung menjadi seketarisnya. Wanita itu sudah cukup lama di Jakarta? Kenapa masih tidak mengerti fashion yang cocok dengannya. "Hemm !" Fatin tidak tahu membantah, bisa-bisanya Evan mengatakannya norak. "Belajarlah mengenakan pakaian menarik" "Menarik seperti apa pak?" "Bukankah ini di kantor? Pakaian seperti inilah yang dikenakan? Saya ke kantor untuk bekerja, bukan menggoda bapak" ucap Fatin protes, ia tidak mungkin mengenakan pakaian pakaian terbuka ke kantor. Siapa bilang ia norak? ia sering clubing dan baju terbukanya satu lemari penuh yang ia beli di H&M, Zara, hang out bersama Jimmy dan Anya. "Kamu masih mau menjadi sekretaris saya?" "Ok, Boss !" Fatin lalu berpikir, menatap Evan, ia tidak terima dikatakan norak oleh Pak Evan, "Tapi saya perlu uang untuk membeli pakaian, apakah bapak mau memberikan uang untuk saya? Saya janji, besok saya akan berpenampilan berbeda dan tidak membuat bapak malu" ucap Fatin secara diplomatis. "Berapa yang kamu mau?" "Lima juta" Fatin harap-harap cemas mengatakan seperti itu. Karena takut di pecat, mencari pekerjaan sekarang sulit sekali. Bisa-bisanya ia meminta uang kepada boss nya begitu saja. Baru kali ini ia speak up secara bar-bar meminta uang. "Oke, kirim nomor rekening kamu" "Bener pak ?" "Iya" Fatin mengambil ponselnya di saku jas dengan cepat, karena ia tidak ingin Boss nya membatalkan niatnya memberinya uang untuk pakaian. Fatin mencari nomor rekeningnya dan lalu mengirim nomor ini melalui pesan singkat dan lalu dikirim. Semenit kemudian notifikasi masuk dan ia melihat pesan, bahwa uang telah diterima sebesar 5.000.000. Ia menyesal hanya mengatakan 5 juta, seharusnya ia sebut 20 juta, karena ia yakin bahwa uang 5 juta hanyalah serpihan debu dari nominal digit di ATM Boss nya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD