37

1607 Words

Saat Raphael mengatakan kata 'tidak' respon pertama Livia adalah tubuhnya membatu. Pikirannya masih berkelana jauh sebelum wajahnya tampak seperti menelan makanan paling pahit. Bisakah manusia mati karna malu? Karna jujur, Livia merasakannya saat ini. Ia menawarkan dirinya sendiri pada Raphael, di siang bolong, disaksikan alam dan Brutus, kalau boleh dihitung, dan lelaki itu menolaknya. Livia tersiksa antara mau menangis karna marah, atau malah mati karna menahan malu, mungkin keduanya kalau di posisinya. Seluruh wajahnya memerah dan ia tak menahan diri lebih lama untuk pergi dari sana. Raphael buru-buru menjajari langkahnya saat lelaki itu berjalan di sampingnya. "Kau mau kemana?" Apakah Raphael sebodoh itu atau dia sangat t***l? "Aku mau mandi," jawabnya bohong. "Tidak. Kau tak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD