36

1336 Words

Livia melipat tangan di depan dadanya seiring langkah kakinya yang semakin cepat menuju rumah. Ia mendengar teriakan Raphael tapi ia mengabaikannya. "Bagaimana bisa dia pulang begitu saja dan tak mengatakan apapun selama sebulan ini?" gerutunya. Livia menendang kerikil demi melampiaskan amarahnya dan ia kembali menggerutu, tanpa menyadari Raphael yang kini menyusulnya dengan menunggangi Brutus. "Lihat saja! Aku tak akan mau bicara dengannya meski neraka membeku." "Benarkah?" tanya Raphael saat memotong jalur Livia. Lelaki itu memegang tali kekang Brutus dengan indah dan matanya berkilat sombong. Oh! Livia sangat ingin menghapus senyum milik Raphael! Bersikap selayaknya seorang Duchess, Livia menegakkan punggungnya, menarik nafas dalam. "Kau memotong jalurku, Sir," ucap Livia senga

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD