35

1536 Words

Livia mendorong Raphael keluar dari kamarnya dan mengunci pintunya sementara Raphael terbahak keras di luar. Kulitnya sakit saat menyentuh kain di celananya tapi rasanya berkurang lantaran sikap Livia yang seketika berubah menjadi pemalu. Ternyata, Raphael hanya perlu memberikan Livia sedikit paksaan agar wanita itu bisa lebih sering menunjukkan sisi dominannya. Raphael menyandarkan punggung di tempok yang bersebrangan dengan pintu saat melipat tangannya. "Kalau kau benar-benar marah padaku Livia, harusnya kau mendorongku saja tadi di kasur." "Aku memang mendorongmu!" Lalu saat Livia mendengar tawa Raphael yang semakin jeras, ia tahu apa maksud lelaki itu. Sial! s**l!! Livia sedikit mengeraskan suaranya. "Aku tidak mendorongmu dalam arti harfiah. Maksudku aku harusnya melemparmu saj

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD