Livia sama sekali tak bermaksud membuat kata-katanya seperti tantangan. Sungguh tidak! Alasan kenapa ia tadi menyiram lelaki itu, itu murni pembalasan. Raphael pernah melihat tubuh polos Livia. Dan ini sudah kedua kalinya. Jadi ia menuangkan air, sebagai pembalasan dendam. Dan harus diakui, rasanya menyenangkan! Livia menginginkannya lagi. Tapi Livia tahu ia terlambat meralat ucapannya karna detik berikutnya, wajah Raphael sepenuhnya terpana, terpaku menatapnya tak percaya sebelum matanya menggelap. "Kau yang meminta ini Livia. Ingat itu." ucap Raphael pelan dengan nada berbahaya. Uh-huh.. Livia melebarkan matanya saat Raphael menerjang ke arahnya. Lelaki itu tidak mengitari kasur, tapi malah melemparkan diri sejauh mungkin hingga Livia menjerit kaget saat tangan Raphael, hampir, m

