Ustad Zaki menghela nafas dalam - dalam. Pemuda itu diam untuk beberapa waktu, mencoba menenangkan diri sendiri yang diakuinya tadi sempat lepas kontrol. Ia berharap, semoga tadi tidak ada orang yang melihatnya menggenggam tangan Faiza. Seandainya saja sampai ada yang melihat, kemudian menjadi perbincangan di pesantren, tentu saja citranya akan buruk dimata ustad ustadzah juga para santri - santri. Yang lebih parah lagi, tentunya nama Faiza dan juga kiai Haidar akan tercoreng. "Ning". Kata ustad Zaki kemudian. " Kakak tidak pernah merasa gagal mengapai cita - cita karenamu. Kakak tidak pernah merasa menyesal karena dua kali gagal berangkat ke Al Azhar. Namun... apabila engkau merasa bersalah atas semua itu, maka kakak meminta beberapa hal kepadamu untuk menebusnya". "Iya". Faiza mengan

