
FAIZA
Faiza nurzahira, adalah seorang gadis yang merupakan putri bungsu dari kiai Haidar ali, seorang pimpinan sebuah pondok pesantren yang mahsyur disebuah daerah di jawa timur.
Ibunya berdarah jawa tulen. Sementara kiai Haidar merupakan keturunan dari timur tengah.
Karena itu, tidak mengherankan kalau Faiza memiliki ciri-ciri fisik seperti orang timur tengah.
Semua yang ada ditubuh Faiza seolah-olah adalah sebuah maha karya yang sangat sempurna.
Matanya besar nan indah. Bola mata coklat dibingkai dengan bulu mata nan tebal meliuk. Membuat siapa saja yang menatapnya seolah akan tenggelam didalamnya.
Alisnya hitam dan tebal, kulitnya putih bersih tanpa perlu perawatan disalon sekalipun.
Rambutnya tebal bergelombang. bentuk tubuhnya seperti jam pasir. perawakannya tinggi semampai.
Sungguh benar-benar mempesona.
Faiza adalah bungsu dari tiga bersaudara. ia merupakan anak perempuan satu-satunya, ini membuat hidup Faiza berlimpah kasih sayang dan perhatian sejak kecil.
Kakak laki-lakinya yang sulung sudah menikah dan tinggal di semarang.
Sementara kakaknya yang kedua masih menempuh pendidikan di Al azhar Mesir.
Menjadi putri dari seorang ulama yang terkenal, tentu saja juga membuat Faiza dihormati dan disegani semua orang.
Akan tetapi, dengan semua fasilitas hidup dan kemudahan yang didapatnya , tidak membuat Faiza menjadi sombong atau tinggi hati.
Gadis cantik itu sangat baik dan ramah kepada siapapun. Suka menolong dan tidak suka merepotkan orang lain. Selagi ia bisa melakukan sendiri dia tidak akan mengandalkan bantuan orang lain.
Faiza memang berbeda.
Di bidang pendidikanpun berbanding terbalik dengan kedua kakaknya. Jika kedua kakaknya semua menempuh pendidikan dipesantren kemudian kuliah di Al azhar, Faiza lebih memilih jalur pendidikan umum.
Setelah lulus Aliyah atau sekolah menengah tingkat atas, Faiza lebih memilih masuk fakultas pertanian.
Bagi Faiza asalkan tidak berbuat neko-neko, tidak melanggar larangan Allah dan menjalankan kewajiban ibadah sebagai seorang muslim sudah cukup.
Gadis itu bahkan suka berpetualang di alam bahkan sudah beberapa kali bergabung dengan pecinta alam untuk mendaki gunung.
Siang ini matahari sangat terik. Serombongan petani milenial baru saja meninggalkan kebun hortikultura milik Faiza dan teman-temannya.
Faiza duduk dibawah pohon belimbing. kelihatan sangat lelah dan capek.
drrt.... ddrrtt....
Faiza menyeka keringat yang membasahi dahinya,kemudian mengeluarkan handphon dari tas kecil.
"Astaghfirullah hal adzim..." pekik Faiza kaget setelah memeriksa ada 6 panggilan dari abahnya yang tidak dia sadari.
"Hei kenapa? ada apa?" Tanya hafiz ikut panik melihat ekspresi kaget gadis yang ada didepannya.
Faiza tidak menjawab pertanyaan Hafiz tetapi dia mengacungkan jari telunjuk didepan bibirnya, menandakan permohonan maaf supaya pemuda itu diam.
Rupanya Faiza sedang berusaha menelephon balik abahnya.
setelah beberapa saat ahirnya telephon tersambung.
"Hallo Assalamualaikum abah" Segera Faiza menyapa kiai Haidar setelah panggilannya terangkat.
"Waalaikum salam warohmah" jawab kiai haidar
"Maaf bah tadi Iza tidak tahu kalau abah telephon"
" Ya sudah nduk tidak apa-apa. yang penting sekarang segeralah pulang. abah sama umi sampai capek menghubungimu sejak tadi"
"Maafkan Iza bah, apakah bisa pulangnya menunggu 2 atau 3 jam lagi bah?". faiza menggaruk hidungnya yang tiba-tiba terasa gatal. " ini Iza lagi dikebun, sedang menunggu tamu. Akan ada rombongan ibu- ibu PKK dari desa sebelah yang akan mengunjungi kebun percontohan bah"
" Memangnya tidak ada orang lain yang bisa menggantikan tugasmu?" Suara kiai haidar terdengar bergetar
" Sangat penting ya bah?"
"dibilang penting ya penting. dibilang gak penting ya penting juga" jawab kiai Haidar.
"Ada apa bah?" tiba- tiba Faiza merasa cemas.
"ini, dirumah ada ustad Haikal mencari kamu!".
"A... aapa?? ustad Haikal mencari Iza?" Faiza kaget setengah mati
" What??... ustad Haikal? Haikal yang mana? apa yang lagi firal itu?" Hafiz bertanya- tanya sendiri dalam hati.
Faiza mengernyitkan alis. Kemudian berdiri " Ustad Haikal yang mana bah? perasaan dipesantren tidak ada yang bernama ustad Haikal.
Iza juga tidak punya teman bernama Haikal bah?"
" Hmm... ning... ning... kamu ini ya makanya, sekali-kali diam dirumah. ikut kajian dipesantren atau ikut abah kalau sedang ada undangan dirumah kiai- kiai dan ulama, supaya kamu bisa kenal dengan mereka".
" Maaf bah, Iza tidak tertarik"
" Abah tidak mau berdebat masalah ini di telephon denganmu nduk" seru kiai Haidar dengan nada agak tinggi. " intinya sekarang kamu harus pulang. dirumah ada ustad Haikal, Haikal amirullah putra kiai Amin, yang punya pesantren Assofa, dia sudah menunggumu satu jam lebih".
" Tapi bah a..." Faiza tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, kiai Haidar sudah memotong dengan tidak sabar.
" sekarang juga kamu pulang, kasihan ustad haikal. Abah tidak enak membuatnya lama menunggu".

