19. USTAD ZAKI

532 Words
Matahari sudah pamit menuju keperaduan. Malampun datang menggantikan siang. Hari jumat adalah hari libur baik untuk sekolah formal ataupun untuk pelajaran ngaji di pondok. setelah pembacaan diba dan berzanji ustad Zaki meninggalkan masjid. Ustad ganteng bersuara emas itu malam ini tampil sedikit berbeda dari biasanya. Kalau biasanya mengenakan sarung, atasan baju koko atau hem kemudian memakai songkok milenial yang sedang ngetrend saat ini. Maka outfit yang dipakai malam ini tampak berbeda. Malam ini ustad Zaki memakai sarung bermotif wayang, atasan kaus putih dipadu dengan cardigan casual yang lengannya ditarik sampai sepertiga saja panjangnya, memakai jam tangan baru dan kopyah hitam. Alamakk... semua santri yang diewati sampai terpesona saat melihatnya. Ustad Zaki sengaja berjalan kaki saja menuju kerumah kiai Haidar. Ia menyadari banyak santri baik putra ataupun putri yang memperhatikannya sepanjang jalan. Dipesantren ini ustad Zaki memiliki kedudukan yang tinggi. Sehingga semua santri dan juga guru pendidik, ustad ustadzah semua menghormatinya. Meskipun ia dikenal sebagai ustad yang tegas dan galak, tetapi mata pelajaran ustad Zaki menjadi faforit santri - santri, baik di sekolah formal maupun non formal di pondok. kemerduan suaranya serta ketampanan dan aura mendominasinya yang kuat mampu menyihir semua orang. "Duhh... gantengnya ustad kita yang satu ini ya". Bisik beberapa santri putri kepada temannya saat melihat ustad muda itu lewat. "Iya... Ya Allah... begitu sempurna mahluk ciptaanMu". celetuk yang lain. "Sungguh beruntung wanita yang menjadi istrinya kelak". Timpal santriwati lainnya. Setelah berjalan melewati ratusan pasang mata yang memperhatikannya, kini ustad Zaki sudah sampai dihalaman rumah kiai Haidar yang asri dan indah. Begitu banyak bunga yang ditata rapi, juga aneka macam buah - buahan yang pohonnya mini tetapi semua sudah berbuah. "Hmm... luar biasa... " Batin ustad Zaki. "Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh". Ustad Zaki memberi salam "Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh ustad". Jawab Faiza kemudian mempersilahkan ustad Zaki untuk duduk di kursi teras rumah. "Maaf ning kalau kedatanganku menganggu istirahat malam ning Iza" . Ustad Zaki membuka percakapan begitu mereka sama - sama duduk. "Ah tidak apa - apa ustad. Maaf abah masih belum pulang, dan umi sedang istirahat jadi kita ngobrolnya diluar rumah". Jawab Faiza sungkan. "Iya ning. Kiai Haidar beberapa hari yang lalu sudah bercerita kalau dalam tiga hari ini keluar kota terus. Malam ini kalau tidak salah beliau berada di jakarta". "Benar ustad, abah ceramah ditempat rekan bisnisnya bang Kaif malam ini". "Oh... berarti ada gus Kaif juga ya?". "Iya, kata bang Kaif sih seperti itu. rekan bisnisnya mengadakan aqiqoh untuk cucunya kalau tidak salah". Jawab Faiza. Beberapa menit berlalu. Kedua insan yang duduk berhadapan dipisahkan oleh meja itu saling diam. "Maaf ustad, apa ada hal yang ingin ustad sampaikan kepada saya?". Tanya Faiza memecah kecanggungan. "E.. iya ning". "Hal apakah itu ustad? langsung sampaikan saja kalau memang ada yang perlu disampaikan". "Maaf ning. saya ingin meminta satu hal kepada ning Iza". " Hal apakah itu ustad?". Tanya Faiza penasaran. "Saya ingin ning Iza kembali seperti dulu". " Maksudnya?". "Saya ingin, hubungan kita kembali seperti dulu. Dekat dan hangat. Saya ingin selalu engkau cari - cari. Saya ingin selalu engkau andalkan".Ustad Zaki memandang Faiza dalam - dalam. Gadis itu terperangah. Disaat akal sehatnya belum mampu mencerna kalimat pemuda yang ada dihadapannya itu, tiba - tiba dengan spontan ustad Zaki meraih tangan Faiza.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD