Hesa menggenggam erat tangan maskulin yang menjadi satu-satunya kekuatan saat ini. Menarik napas panjang dan membuangnya pelan-pelan. Di ruang bersalin yang berpenyejuk keringat bercucuran membanjiri pelipis, wajah dan seluruh badannya. Semakin bertambah pembukaan maka kontraksinya semakin sering. Hesa merintih, menjerit, menggigit bibirnya. "Sakit, Mas!" Yang sedari tadi di samping Hesa pun tak kalah kalut. Pengalaman pertama menyaksikan sendiri secara langsung proses persalinan, betapa Hakim sangat paham gadis ini tersiksa, berat perjuangannya dan besar rasa sakitnya. Dulu saat Prisa melahirkan, kekhawatiran itu tak begitu berarti jika dibandingkan sekarang, karena ditempuh dengan jalan operasi. Ya Allah! Jika saja rasa sakit ini bisa digantikan, dengan senang hati Hakim akan melakukan

