"Mana yang sakit?" Hakim bertanya seraya meneliti tubuh gadis itu. Jemarinya mengusap lembut pinggiran bibir yang sedikit kebiruan. "Pake salep ya Hes?" "Nggak mau!" Gadis itu malah kembali menubruk dadanya dan menangis tersedu. "Hatiku lebih sakit Om, dituduh yang nggak-nggak." Hakim tak menyangka jika sikap mertuanya akan sebarbar itu, terlebih sudah berani bermain tangan, tindakan itu sudah melewati batas tolerir yang selama ini ia tetapkan. "Kalau nggak diobatin nanti makin biru Sayang," bisiknya lembut. "Biarin! Aku nggak suka salep. Baunya nggak enak." Menghela napas pelan, Hakim pun pasrah dan membiarkan dirinya memeluk erat gadis itu. Salah satu tangannya mengusap-usap pelan bahu mungil yang masih tersisa sedikit getaran. "Om denger kata-kata Jihan tadi? Dia mau aku pergi d

