"Jika mati cara terbaik untuk menebus semua dosaku padamu. Aku tidak keberatan jika harus mati. Daripada aku yang harus melihatmu mati." Misha membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Pupil mata Misha mengecil. Misha menggelengkan kepalanya pelan melihat adegan yang terjadi di depannya. Dadanya terasa ditikam ribuan kali belati. Rasanya sakit itu menjalar sampai ke seluruh tubuhnya. Lutut Misha terasa lemas, seluruh tubuhnya bergetar hebat. Air mata yang mewakili betapa tak bisa ia berucap sekedar menerima apa yang ia lihat. Peluru itu memang tidak menembus kepala Raia. Namun, peluru itu menembus d**a Alric. Alric memenuhi janjinya membawa Raia tanpa luka sedikit pun. Semua terasa terhenti di satu titik. Iris biru lautnya seakan tak bisa lepas menatap darah yang merembes, mengal

