Misha bersandar lelah memejamkan matanya di kursi yang tersedia di unit gawat darurat. Lengannya masih setia mengusap sesekali menepuk pelan punggung mungil Raia yang terlelap dalam pelukannya. Sudah satu jam lebih Alric masuk ruang operasi, tapi belum ada tanda-tanda operasi selesai. Misha mengela napas panjang. Dia benar-benar lelah, emosinya terkuras begitu pun dengan tenaganya. Suara derap langkah ramai terdengar. Namun Misha masih setia memejamkan matanya. "Misha." Suara derap langkah itu berhenti disusul suara yang Misha kenali. Misha membuka matanya. Dia melihat Janira berdiri di sana menatap cemas padanya. Misha tersenyum lesu pada Janira. Matanya melirik pada Raia yang terlelap nyenyak. "Misha. Apa yang terjadi?" Kakak sepupunya menyusul di samping calon istrinya. Pan

