Tiga Puluh Satu

780 Words

Pagi menjelang, Misha masih setia menunggui Alric. Dia memastikan kondisi Alric dengan melihat dari kaca pembatas. Suara detak jantung dari mesin terdengar jelas. Aroma khas rumah sakit menguar memenuhi indera penciuman Misha. Sudah lima hari empat malam, Misha tak menyambangi tidurnya sedetik pun. Empat hari ia gunakan mencari dan memikirkan Raia. Dan malam ini, dia menunggui Ayah kandung Raia. Tak sekalipun rasa kantuk hinggap seolah tahu jika sang tubuh sedang tidak membutuhkan itu. Leo pun sudah pamit untuk membereskan semua kekacauan yang terjadi.   Misha terduduk di kursi tunggu memeluk dirinya sendiri. Dingin menyergap, membuatnya menggigil kedinginan. Misha mengeratkan pelukannya. Dia menahan semua rasa dingin itu. Misha memejamkan matanya sejenak. Sekelebat bayangan Alric m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD