Misha dengan terpaksa mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian Alric yang kebesaran. Ia terduduk merenung di sudut apartemen Alric. Jemari lentik Misha tengah memegang cangkir yang berisi teh hangat. Misha menunggu Alric membawa kabar baik padanya. Dia tidak mau sampai terjadi sesuatu pada putrinya. Mengingat putri kecilnya, air mata Misha kembali mengalir. "Kamu sudah makan?" Suara Alric menyusul di sampingnya membuat Misha menoleh menatap Alric. Tatapan mereka bertemu. Rasanya lebih dari sekedar melihat potretnya saja. Debaran di d**a Alric lebih cepat semakin menggila saat beradu tatap seperti saat ini. Misha segera membuang pandangannya kembali ke asal. Dia tidak ingin berlama-lama di dekat Alric. Dia ingin segera pergi, tapi dia ingin pergi bersama putrinya. Dengan

