Kakek

801 Words
Masih dihari yang sama seperti di part sebelumnya... Kebetulan saja Arjuna hari ini membawa mobil dan Adhista sangat senang karena bisa tidur di perjalanan walau tidak terlalu lama. "Pake dulu itu seat belt nya, baru tidur," perintah Arjuna menyadari bahwa Adhista sudah bersiap-siap untuk tidur. "Iya-iya," jawab Adhista dan langsung memakai seat belt nya. "Sleep well my Queen, nanti kalo udah sampe aku bangunin." ucap Arjuna dan hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Adhista. Perjalanan dari sekolah ke rumah Arjuna sekitar tiga puluh menit kalau tidak macet, dan kalau macet bisa empat puluh lima menit atau satu jam paling lama. Ya pasti kalian tau, bagaimana macetnya ibukota, apalagi ini masih jam setengah sepuluh yang masih terbilang jam sibuk. Selama diperjalanan Adhista tidur dengan sangat nyenyak, padahal Arjuna mendengarkan musik rock yang lumayan kencang. "Kebo pisan euy pacar abdi, untung sayang," gumam Arjuna sambil mengelus-elus rambut Adhista dari kursi kemudinya. Arjuna yang terlalu fokus menyetir sampai tidak menyadari bahwa dirinya dan Adhista sudah ingin sampai di dekat rumahnya. "Cepet ya, udah sampe aja," ucap Arjuna sambil melepaskan seat belt nya lalu beralih membukakan seat belt Adhista. Arjuna tak ada niatan untuk membangunkan Adhista, karena sepertinya Adhista kelelahan jadi Arjuna berniat membawa Adhista ke kamarnya dan menunggu sampai Adhista bangun dengan sendirinya. Sembari menunggu Adhista bangun, Arjuna bermain game dulu di ruang tamunya, sambil mendengarkan lagu jaman sembilan puluh-an, seperti Can't Help You Falling by Elvis Presley, dan lagu-lagu lainnya dari The Beatles, Oasis, The Rolling Stones, dan lain-lain. Seperti remaja laki-laki lainnya, Arjuna juga ketika bermain games dia akan teriak-teriak entah karena kesal atau saking semangatnya bermain. Sampai lima belas menit kemudian Arjuna masih seperti itu, teriak-teriak tak jelas karena game dan Adhista seperti nya terganggu karenanya jadi dia terbangun dari tidur nyenyaknya selama kurang lebih satu jam tiga puluh menit. "Kak, Kak Juna," seru Adhista dengan nada sedikit tinggi mencari keberadaan Arjuna. Arjuna yang tak mendengar itu masih saja bermain game. "Arjuna," seru Adhista sekali lagi sambil keluar dari kamar untuk mencari Arjuna. Arjuna yang tak sengaja melihat Adhista berjalan di lantai dua rumahnya pun langsung pergi menuju Adhista. "Dhis, udah bangun?" tanya Arjuna saat menaiki tangga. "Eh kak, dari mana aja, aku nyariin dari tadi," ucap Adhista dengan muka yang ingin menangis. "Ih yaudah jangan mewek gitu apa haha, aku cuma main game dibawah," jelas Arjuna lalu berjalan menuju Adhista kemudian merangkul Adhista dan mereka berdua berjalan ke bawah, menuju ruang tamu. "Aku takut tau, tadi pas aku tidur ada yang teriak-teriak ngga jelas banget," gumam Adhista dengan suara serak karena bangun tidur, Arjuna yang mendengar itu menahan tawanya. ' Ya Allah, ngga kuat punya pacar kaya Adhista'  gumam Arjuna didalam hatinya. "Dhis ya Allah, sekali aja jangan bikin emosi," pinta Arjuna sambil mengelus dadanya. "Yeu, eh Kak, btw kok tadi di kamar kamu banyak banget rokok ya, terus serius ya Allah itu bau banget rokok kamar kamu. kamu ngerokok?" ucap Adhista lalu duduk menghadap ke arah Arjuna dan pembicaraan mulai serius. Arjuna hanya diam dan tak berkutik. "Jawab." "Iya aku ngerokok, kenapa?" Adhista membuang nafasnya kasar dan perasaannya mulai gusar. "Aku kira kamu ngga ngerokok lho, tapi ternyata.. udah aku ngga tau lagi lah, aku udah kehilangan Kakek aku karena kanker paru-paru karena dia perokok akut, dan aku ga mau kamu juga begitu, aku ga mau kehilangan orang yang aku sayang untuk kedua kalinya, untuk saat ini." lirih Adhista menahan air matanya untuk turun, dadanya naik turun pertanda emosi sudah ingin meluap. Arjuna juga hanya diam saja, perkataan Adhista seakan menusuk hatinya. Arjuna juga sudah berusaha berhenti merokok, tapi ia tidak bisa. Beban pikirannya sangat banyak, dia stress dan Arjuna menghilangkan semua itu dengan cara merokok, dan ya, mungkin Arjuna sudah candu akan rokok. "Kak, dulu Kakek aku sebelum meninggal dia suka sesak nafas, batuk dan batuknya itu parah banget, sampe kadang di dahaknya ada bintik merahnya, badannya makin hari makin kurus, padahal dulu sebelum sakit Kakek aku gemuk tapi semenjak sakit jadi kurus banget, terus kakek aku juga sering ngeluh punggung nya sakit, d**a dan tulang rusuk nya juga sama, aku udah trauma banget sama kejadian itu. tolong Kak, berhenti merokok ya? demi aku, plis aku mohon," pinta Adhista panjang lebar dengan air mata yang mengalir di wajahnya sambil duduk menghadap ke arah Arjuna. Arjuna dengan cepat langsung memeluk tubuh Adhista, Arjuna menangis dan Adhista lah yang membuatnya seperti itu. Arjuna sayang Adhista, sangat sayang, tapi dia tak bisa berjanji untuk bisa berhenti merokok. Arjuna stress, banyak pikiran, tentang Ayahnya yang pergi meninggalkan dia dan bunya, tentang sekolah, tentang pertemanan, tentang Ibunya yang selalu menangis di malam hari. Dan hanya rokok lah yang bisa menghilangkan semua pikiran itu, walau hanya sebentar pikir Arjuna. "Dhis, tapi aku ga bisa janji. maaf." jawab Arjuna lirih lalu ia menundukkan kepalanya. Adhista yang mendengar itupun hanya bisa pasrah, dirinya tak mengerti hal apa saja yang membuat Arjuna suka merokok seperti ini. Tapi Adhista akan selalu ada di samping Arjuna saat kekasihnya itu membutuhkan bantuannya. "Jangan khawatirin aku, yang terpenting adalah kamu bisa selalu bahagia karena aku Dhis. udah jangan pikirin aku." Arjuna Sanatana
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD