Tragedi di Kantin

963 Words
Seminggu setelah kejadian itu, hubungan Adhista dan Arjuna tetap berjalan dengan baik. Adhista yang tetap perhatian dan tambah manja, dan Arjuna yang semakin menyayangi dan mengikuti semua kemauan Adhista. Seperti saat ini, Adhista sedang ingin kekantin bersama Arjuna, dan Arjuna menuruti itu karena rasa sayangnya kepada Adhista dan agar Adhista tidak ngambek. "Kamu mau beli apa?" tanya Arjuna kepada Adhista sambil menuruni tangga. "Eum, beli mie ayam aja yuk?!" jawab Adhista langsung mengambil tangan Arjuna untuk dirangkul karena banyak kakak kelas yang menatap Arjuna dengan tatapan kagum dan Adhista benci itu. "Yaudah, yuk." ajak Arjuna lalu mereka berdua berjalan menuju ke kantin. Selama diperjalanan, Adhista dan Arjuna mendapati tatapan iri dan juga benci. Ada yang iri karena mereka ingin berpacaran seperti Arjuna dan Adhista, dan ada juga yang benci, karena keduanya sama-sama most wanted di sekolahnya. "Kamu ya yang mesen, aku cari bangku buat kita duduk," jelas Adhista dan Arjuna hanya mengangguk setuju. Adhista berjalan menuju ke pojok kantin karena hanya disana kursi yang kosong. sedangkan Arjuna, dirinya masih mengantre mie ayam untuknya dan Adhista. Disaat mengantri, ada sekelompok perempuan, yang sepertinya seangkatan dengan Adhista mendekati Arjuna. "Aduh pusing," seru salah satu perempuan itu dirinya jatuh pingsan mengarah ke Arjuna dan jatuh tepat di kaki Arjuna.  Adhista yang mengetahui itu langsung naik darah dan berlari menuju ke Arjuna. 'cih Sheila sama temen-temennya, mau buat drama sama gue. gabakal bisa!'  ucap Adhista didalam hatinya, lalu berlari menuju ke arah Arjuna. Arjuna yang ingin membantu perempuan itu, langsung tertahankan karena Adhista sudah sampai duluan. "Kak, biar aku aja," perintah Adhista dengan muka kesal dan alis yang menyatu. Adhista langsung menyuruh Arjuna untuk mundur, kemudian Adhista meminta sambal ke Bang Rijal selaku penjual mie ayam karena Adhista tau, Sheila hanya pura-pura dan hanya mencari perhatian Arjuna saja. "Bang Rijal, bagi sambelnya ya" pinta Adhista dan langsung mengambil satu sendok sambal lalu jongkok disamping Sheila. "Shel, bangun Shel," ucap Adhista baik. Adhista memperhatikan ketiga teman Sheila, wajahnya ketar-ketir ketakutan. Lalu salah satu dari temannya berbisik kepada Sheila, entah apa. "Shel, lo mau bangun atau sambel ini luber di mulut lo?" tanya Adhista mulai sangar. Sheila masih diam saja. dia sebenarnya takut, tapi jika dia bangun, dia akan mempermalukan dirinya sendiri. Namun, di dalam hatinya juga dia takut, akan ada banyak sambal dimulutnya, apalagi sambal mie ayam Bang Rijal sangat pedas. "Oke lo ngga bangun, sambal siap meluncuuuuuuurrrrrr," seru Adhista lalu mengambil satu sendok makan full sambal dan siap untuk dimasukkan kedalam mulut Sheila. "Eh iya Dhis maaf-maaf, iya gue pura-pura." ucap Sheila tiba-tiba bangun dan langsung mendapatkan teriakan bahkan ejekan dari siswa-siswi yang menontonnya. "Berani lenjeh sama Arjuna, abis lo sama gue, Cabe!" seru Adhista lalu menarik Arjuna untuk kembali ke kelas. Diperjalanan Arjuna hanya diam tak percaya bahwa Adhista kekasihnya segalak itu. Arjuna hampir tak percaya, Adhista yang biasanya manja bisa menjadi Singa untuk cewek-cewek yang berani mendekati Arjuna. "Dhis, itu tadi kamu?" tanya Arjuna seperti orang bodoh, padahal tadi dia melihat Adhista yang melakukannya dengan mata kepalanya sendiri. "Ah gausah kek orang goblo deh Kak, udah jelas-jelas tadi kamu liat aku. paling depan lagi!" seru Adhista yang sedang emosi ditambah emosi dengan pertanyaan Arjuna. "Iya ih iya, maaf-maaf," jawab Arjuna lalu hanya diam sambil berjalan disamping Adhista. Selama diperjalanan menuju ke kelas, Banyak orang yang berbisik-bisik tak percaya bahwa Adhista se-berani itu. "Ih anjir, gue ngga percaya anjir Adhista galak begitu. mukanya si emang judes galak-galak gitu, tapi ya gue kira ngga bakal sampe segitunya," ucap siswi berbisik sambil berjalan lawan arah dengan Arjuna dan Adhista. "Iya ish sama gue juga ngga percaya," jawab Arjuna ikut berbisik-bisik, dan langsung mendapatkan tatapan sinis dari Adhista. "Iya-iya maaf, yaudah yuk ke kelas. padahal tadi Baim laper banget," ajak Arjuna sambil mengelus-elus perutnya. "Ya kalo laper mah jajan ish," ucap Adhista yang tak sadar akan perlakuan nya tadi kepada Arjuna. "ada yang ga sadar gais," jawab Arjuna lalu bersiul-siul. "Yaudah iya, aku mah salah mulu!" seru Adhista lalu berjalan mendahului Arjuna. "Eh, Baim jangan ditinggal!" teriak Arjuna lalu berlari mengejar Adhista yang entah beneran marah, atau hanya pura-pura. Arjuna berlari, namun lari santai. karena dia tau, Adhista jika marah atau ngambek cukup diajak jalan-jalan atau dibelikan es krim saja sudah lebih dari cukup. Arjuna bukannya berjalan ke arah kelasnya, dia malah berjalan kearah kelas Adhista. Sesampainya di depan kelas Adhista, Arjuna melihat Adhista sedang sendirian didepan kelasnya sambil duduk dan memainkan handphonenya. "Dor!" seru Arjuna berniat mengagetkan Adhista. "Apasi? aku ga kaget." jawab Adhista dengan suara kecil. "Yah kirain kaget, Aku duduk sini ya?" tanya Arjuna dan langsung duduk disamping Adhista. "Belom juga dijawab huft,"lirih Adhista sambil menghembuskan nafasnya berat. "Oh iya lupa, yaudah deh biarin. Btw tadi kok kamu tau kalo dia boongan?" tanya Arjuna lalu merubah posisi duduknya menjadi menghadap kepada Adhista. "Ya tau lah, udah dari SMP kaya gitu dia mah. Suka caper dan drama queen banget banget banget. Plis ya, aku tuh ngga suka banget sama dia, ya Allah sabarkan Adhis ya Allah," ucap Adhista sambil mengelus-elus dadanya dan mulutnya komat-kamit membaca astaghfirullah. "Ceritain." pinta Arjuna singkat padat dan jelas dengan ekspresi yang sangat serius. "Nih jadi tuh..." perkataan Adhista terputus karena ada pemberitahuan melalui speaker Sekolah. "Diberitahukan untuk seluruh siswa-siswi SMA Harapan Masa bahwa jam pelajaran hanya setengah hari. Karena bapak dan ibu guru ingin mengadakan rapat dadakan, dan kalian diizinkan untuk meninggalkan area sekolah setelah jam istirahat pertama selesai. Terimakasih." ucap Bu Wati selaku guru piket SMA Harapan Masa melalui speaker sekolah. Adhista yang mendengar itu tentu saja sangat senang, dengan pulang cepat dia bisa tidur siang dengan sangat nyaman dan tenang di kasur empuk rumahnya. Banyak murid-murid yang bersorak-sorai senang, lalu berhamburan keluar kelas dengan membawa tas dan perlengkapan sekolah mereka. Tentu saja, Arjuna dan Adhista langsung pergi ke kelasnya untuk mengambil tas mereka masing-masing. "Ditunggu di parkiran ya Dhis, terus nanti kamu harus cerita. aku mau main dulu dirumah kamu," ucap Arjuna lalu berjalan mengarah ke kelasnya. "KAK!" teriak Adhista dan Arjuna langsung saja berbalik ke arah Adhista. "Kenapa?" tanya Arjuna berjalan mendekati Adhista. "Nanti dirumah kakak aja ya plis?" pinta Adhista dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Arjuna lalu mereka berdua kembali berjalan menuju kelasnya masing-masing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD