Setelah Arjuna pergi meninggalkan lapangan, hati Adhista terasa sesak, tak tahu kenapa tapi rasanya Adhista hanya ingin menangis sekeras mungkin, memberitahu kepada orang-orang bahwa ia kecewa.
"Dhis?" Panggil Tata sambil memegang pundak Adhista agar dia menghadap kearahnya.
Adhista hanya diam sambil menahan air matanya agar tak terus mengalir, dia tak habis pikir bahwa Arjuna akan membentak nya hanya karena hal sepele seperti itu.
"Dhis, udah gapapa. Kak Juna lagi emosi itu" Ucap Bunga berusaha menenangkan Adhista.
Oca dan Hanin juga ikut menenangkan Adhista yang sedang sedih kala itu. Untung saja upacara sudah selesai, hanya tinggal Pemberitahuan saja.
"Balik ke kelas aja yuk, ga enak disini diliatin" Ucap Hanin menuntun Adhista menuju ke kelas X IPA 3, kelas mereka.
Sepanjang jalan Adhista hanya menangis, berjalan sambil menunduk, dan mengelap ingusnya dengan dasi karena tidak ada tisu.
Sesampainya mereka dikelas, Adhista langsung duduk di kursinya dan menangis lagi. Perasaan nya campur aduk, antara sedih, takut, panik semuanya bercampur aduk.
Dia baru pertama kali dibentak oleh seorang lelaki, apalagi lelaki yang disukainya.
"Gue ga nyangka ka Juna begitu. Padahal cuma handphone doang" Gumam Oca.
"Iya juga si, padahal mukanya ga ada galak galaknya anjir" Jawab Hanin membenarkan ucapan Oca.
"Ya mungkin karena kesal, apalagi cowok kan. Cowok biasanya suka main game, kalau handphonenya diambil dia main dimana?" Tanya Tata.
"Ya tapi kalo kesal mah ga usah bentak cewek juga kali, jadi ga yakin kalo Adhista sama Ka Juna" Ucap Bunga dan yang lain hanya mengangguk.
20 Menit kemudian....
Adhista sudah berhenti menangis, namun matanya masih bengkak, mungkin karena terlalu lama menangis(?).
Tiba tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kelas X IPA 3.
"Ada yang namanya Adhista ga?" Tanya seorang kakak kelas laki laki yang tak diketahui namanya.
"Dhis dipanggil tuh!" Teriak Putri sang bendahara kelas.
"Iya" Jawab Adhista malas lalu berjalan keluar menuju ke kakak kelas tadi.
"Kenapa kak?" Tanya Adhista lemas.
"Dicariin Arjuna, ayo ikut gue" Ajak Kakak kelas itu.
"Ohiya, panggil aja Rehan" Ucap kakak kelas yang diketahui namanya Rehan sambil menjulurkan tangannya kepada Adhista.
"Adhis kak" Jawab Adhista dan membalas jabatan tangan Rehan.
Mereka berdua berjalan menuju ke lantai 3 dimana kelas Arjuna berada.
"Lo jangan kaget kalo Arjuna tiba tiba marah kaya tadi" Seru Rehan tiba-tiba memecahkan keheningan.
"Sering begitu emang?" Tanya Adhista.
"Lumayan, tapi Arjuna aslinya baik kok. Ya cuma sedikit emosian aja" Jawab Rehan dan mereka sampai didepan kelas Arjuna.
Mereka berdua langsung menuju bagian belakang dimana Arjuna sedang duduk dengan keadaan yang begitu kacau.
Rambut yang sangat acak-acakan, baju yang sudah lecak dan keluar-keluaran tak terbentuk, Adhista menatap Arjuna dengan tatapan miris.
"Kak?" Panggil Adhista dan Arjuna dengan perlahan mengangkat kepalanya menatap Adhista.
"Gue kira lo ga bakal dateng. Sini duduk samping gue" Pinta Arjuna sambil menepuk-nepuk lantai disampingnya, yang menandakan Adhista harus duduk disana.
Lalu Adhista hanya mengikuti perintah Arjuna, dan dia sedikit tak enak hati karena dengan lancang berada dikelas dua belas.
Tiba tiba Arjuna langsung memeluk Adhista dari samping dengan erat dan menangis sesenggukan ditengkuk leher Adhista dengan bahu yang naik turun.
Adhista yang kaget langsung menapat mata Arjuna.
"Kak, kenapa?" Tanya Adhista dan tak ada jawaban dari Arjuna.
Adhista yang tak mengerti dengan perlakuan Arjuna hanya diam saja, dan membalas pelukan Arjuna sambil mengelus rambut halus Arjuna.
Teman teman perempuan kelas Arjuna menatap Adhista tak suka, Karena ya itu, Arjuna disukai oleh banyak wanita, tak terkecuali teman sekelasnya sendiri.
Adhista yang merasa pegal karena sudah lebih dari sepuluh menit seperti ini, akhirnya membangun kan Arjuna dan pundaknya.
"Kak? Kak Juna bangun kak" Ucap Adhista sambil mengusap pipi Arjuna agar Arjuna segera bangkit.
"Ngga, jangan! Jangan pergi dhis. Dhis kamu jangan pergi ya" Gumam Arjuna lirih dan Arjuna mengeluarkan air matanya lagi.
Adhista yang bingung dengan ucapan Arjuna barusan langsung saja memanggil Rehan, orang yang membawa Adhista ke kelas 12 IPS 3 ini.
"Kak Rehan, ini Kak Juna gimana?" Ucap Adhista pelan.
Rehan langsung saja menghampiri Adhista dan membantu Adhista untuk memindahkan Arjuna.
"Berani beraninya ya lo pisahin Adhista sama gue!" Teriak Arjuna tiba tiba kearah Rehan dengan mata terpejam.
"Udah sana lo pergi, Arjuna biar gue yang urus" Perintah Rehan tapi Adhista tak bisa meninggalkan Arjuna dengan keadaan seperti ini.
"Kak, bawa Kak Juna ke UKS aja. Biar aku yang jaga" Ucap Adhista dan hanya dijawab anggukan oleh Rehan lalu dia membawa Arjuna ke UKS.
***
Arjuna sudah terbaring disalah satu ranjang UKS. Dan Adhista hanya duduk disamping tempat tidur Arjuna, sambil memegang dan mengelus tangan Arjuna.
"Kak" Panggil Adhista lirih.
"Kakak kenapa? Ayo bangun, aku ga suka liat kakak begini" Ucap Adhista lagi.
"Aku ga suka liat kak Juna lemah, nanti kalo kakak lemah yang jagain aku siapa? Nanti kalo aku dijahatin, gimana? Ayo kak bangun" Ucap Adhista sambil menahan tangisnya.
Adhista tak tahu, apakah Arjuna pingsan atau tidur atau kelelahan. Yang jelas Adhista sangat khawatir dengan keadaan Arjuna sekarang.
"Hngggh" Arjuna bersuara dengan cepat Adhista langsung melihat ke arah Arjuna.
"Kak?" Panggil Adhista menatap Arjuna.
"Dhis? Gue dimana?" Tanya Arjuna melihat kesekitar sambil mengerjapkan matanya.
"Di UKS kak, tadi kakak pingsan" Ucap Adhista lalu pergi untuk mengambil minum.
"Padahal daritadi gue dikelas dan ga kenapa napa" Jawab Arjuna.
"Ya udah ini minum dulu" Pinta Adhista lalu membantu Arjuna untuk minum.
"Iya makasih, itu mata kamu kenapa? Abis nangis?" Tanya Arjuna menyentuh kedua mata Adhista dengan tangannya.
"Eh? Ngga kak, aku ngga nangis" Jawab Adhista berbohong.
"Jangan bohong, kamu nangis gara gara pas upacara kan?" Tanya Arjuna lalu menyuruh Adhista untuk duduk di ranjang kasurnya.
Arjuna lalu bangkit untuk duduk agar bisa menatap mata Adhista dengan jelas.
Adhista hanya menunduk tak berani menatap Arjuna, Adhista takut apabila dia mengingat kejadian tadi saat upacara dia akan meneteskan air matanya lagi.
"Dhis, tatap mata gue" Perintah Arjuna lalu mengangkat wajah Adhista dengan tangannya agar Adhista menatap matanya.
Tiba tiba saja Adhista meneteskan air matanya yang membuat Arjuna menyesal telah membentak nya tadi pagi.
Arjuna langsung mendekap erat tubuh Adhista, Arjuna merasa sangat bersalah telah membuat Adhista menangis seperti saat ini.
"Maafin aku ya? Dhis, serius tadi aku ngga maksud mau bentak kamu. Aku cuma lagi emosi aja, aku kalo emosi ngga bisa ditahan. Perlahan lahan kamu bakal tau sifat aku, gimana aku, baik buruknya aku, luar dalemnya aku, se-emosi apa aku ini, perlahan lahan kamu bakal tau semua itu. Tapi aku mohon, jangan tinggalin aku. Aku bakal berubah.." Jelas Arjuna sambil menarik nafas panjang.
"Aku bakal berubah, buat kamu Dhis" Ucap Arjuna sambil membuang nafas lega.
Adhista hanya melongo tak percaya mendengar perkataan Arjuna barusan. Dia tak habis pikir, bahwa Arjuna akan seperti ini. Padahal Adhista pun tak ada niatan untuk pergi meninggalkannya. Mungkin hanya sedikit kesal karena kejadian tadi pagi. Namun, kekesalannya sudah hilang karena perlakuan Arjuna barusan.
"Kak, serius demi apapun aku ga ada niatan buat ninggalin kamu" Ucap Adhista.
"Serius?" Goda Arjuna kepada Adhista.
"Serius ih!" Jawab Adhista sambil memukul lengan Arjuna karena kesal.
"Cengeng ah, ga suka" Ejek Arjuna.
"Lagian si bentak bentak" Jawab Adhista pura pura cuek.
"Ya lagian hp aku diambil" Ucap Arjuna mengikuti nada Adhista barusan.
"Ish!" Adhista yang sudah emosi jiwa menghadapi Arjuna.
"Dhis" Panggil Arjuna sambil mentap mata cokelat Adhista.
"Hmm" Jawab Adhista.
"Mulai sekarang kamu jadi pacar aku ya. titik ga ada penolakan, maksa." Ucap Arjuna tenang namun memaksa.
Adhista hanya menatap Arjuna tak percaya dan Arjuna hanya tersenyum bangga karena telah mengeluarkan isi hatinya kepada Adhista.
"Makasih Adhista Chalondra, i love u tiga rebu" Ucap Arjuna lalu mengelus rambut lurus Adhista.