23 - Fakta menyakitkan.

2025 Words
2 jam sudah berlalu sejak Ethan sudah sampai di mansion. Saat ini Ethan sedang duduk santai di sofa ruang keluarga. Di mansion tersebut Ethan tidak sendiri, karena sejak 2 bulan lalu, Ethan sudah memperkerjakan banyak sekali orang. Kurang lebih ada sekitar 20 orang yang saat ini bekerja di mansion Ethan, mungkin jumlahnya akan bertambah jika mansion tersebut sudah di Ethan huni. Ethan meraih ponselnya, lalu menghubungi Q. "Q," sapa Ethan begitu sambungan telepon mereka tersambung. "Iya, Tuan Ethan." "Apa kamu melakukan apa yang dulu saya perintahkan?" "Tentu saja, Tuan. Saya sudah merangkum aktivitas Nona Fiona selama 6 bulan belakangan ini." "Kirimkan pada saya sekarang juga!" Ethan ingin tahu apa saja yang Fiona lakukan selama 6 bulan belakangan ini. Seperti apa yang Livy katakan, selama 6 bulan belakangan ini, Ethan memang tidak pernah lagi ingin tahu apa yang Fiona lakukan, tapi Ethan meminta Q untuk mencatat apa saja kegiatan Fiona selama 6 bulan belakangan ini. "Baik, Tuan. Akan saya kirimkan sekarang juga." "Q, apa kamu juga sudah mencari tahu tentang pria yang saat ini pergi makan malam bersama Fiona?" Ethan enggan menyebut nama Calvin. "Sudah, Tuan." "Kirim juga semua informasi tentang dia pada saya sekarang juga!" "Baik, Tuan." "Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak, Q." "Sama-sama, Tuan." Tak lama kemudian, Ethan menerima laporan tentang kegiatan Fiona selam 6 bulan belakangan ini. Ethan juga menerima laporan tentang Calvin, tapi Ethan memutuskan untuk melihat laporan Fiona terlebih dulu. "Jadi Fiona pernah di rawat di rumah sakit dan sering mengunjungi rumah sakit?" gumam Ethan penasaran. Ethan ingin tahu, kenapa Fiona menjalani perawatan di rumah sakit? Dan kenapa Fiona sering mengunjungi rumah sakit? Sakit apa yang sebenarnya Fiona derita. Tubuh Ethan seketika lemas tak bertenaga begitu tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi pada Fiona. "Enggak, ini enggak mungkin," gumam Ethan sambil terus menggeleng, menolak percaya pada laporan yang baru saja ia baca. Dengan tangan bergetar hebat, Ethan menghubungi Q. "Apa semua ini benar, Q?" "Iya, Tuan. Itu semua benar." Q menyahut lirih. Q tahu, Ethan pasti terkejut, karena dirinya juga sangat terkejut begitu tahu apa yang Fiona lakukan di rumah sakit. Ethan tidak lagi bersuara. Ethan mengakhiri panggilannya Q, lalu kembali membaca laporan tentang kegiatan Fiona selama ia tidak ada di samping wanita itu. "Astaga, apa yang sudah gue lakukan?" gumam Ethan dengan tubuh yang kini sudah bergetar hebat. Ethan kembali meraih ponselnya, lalu memeriksa di mana posisi Fiona saat ini. Ethan bersyukur begitu tahu jika posisi Fiona saat ini masih berada di restoran, itu artinya Fiona masih makan malam bersama dengan Calvin. Ethan beranjak bangun dari duduknya, lalu pergi menghampiri Will yang sedang berbincang dengan para penjaga. "Will, mana kunci mobilnya?" Meskipun bingung, tapi Will menyerahkan kunci mobilnya pada Ethan. "Kamu istirahat saja, saya mau pergi sendiri." "Ta–" "Kamu tenang saja, Will, saya tidak akan pergi jauh-jauh." "Baiklah, Tuan." Will tidak mungkin memaksa ikut bersama Ethan. Setelah memastikan Ethan pergi, barulah Will menghubungi Q, memberi tahu Q kalau Ethan pergi sendiri, dan menolak untuk ia temani. Setelah menempuh perjalanan selama hampir 10 menit, Ethan akhirnya tiba di restoran tempat di mana Fiona makan malam bersama Calvin. Ethan tidak akan menghampiri Fiona. Fiona pasti akan memutuskan untuk pergi bersama Calvin begitu melihatnya datang. Ethan lantas menghubungi Q. "Ada apa, Tuan?" "Tolong hubungi Cindy dan Evelyn, minta mereka untuk pergi meninggalkan Fiona, karena Fiona akan pulang bersama saya." Saat ini Ethan melihat Cindy dan Evelyn duduk tak jauh dari posisi Fiona yang sedang makan malam bersama dengan Calvin. Ethan tidak bisa melihat wajah Calvin karena posisi Calvin saat ini membelakanginya. "Baik, Tuan. Saya akan segera menghubungi mereka berdua dan meminta mereka untuk pergi meninggalkan Nona Fiona." Ethan menyandarkan tubuhnya di kursi dengan fokus yang terus tertuju pada Fiona. Calvin dan Fiona sama-sama berdiri. Ethan melihat Calvin menjabat tangan Fiona, dan setelah itu pergi meningalkan restoran. "Ternyata makan malamnya sudah selesai," gumam Ethan dengan perasaan lega. Ethan lega karena Calvin dan Fiona hanya makan malam, tidak pergi jalan-jalan. Saat Calvin pergi meninggalkan Fiona, Ethan melihat Fiona menghampiri Cindy dan Evelyn, setelah itu Fiona pergi meninggalkan keduanya. Ethan tahu ke mana Fiona akan pergi. Pasti Fiona akan pergi ke toilet. Setelah memastikan jika Fiona memang benar-benar pergi ke toilet, atensi Ethan kembali tertuju pada Calvin. Begitu Calvin sudah berada di luar restoran, Ethan bisa melihat dengan jelas wajah Calvin meskipun dari jarak pandang yang cukup jauh. Saat melihat wajah Calvin, Ethan merasa jika ia pernah bertemu dengan Calvin. Tadi Ethan belum sempat membaca laporan dari Q tentang Calvin, mungkin nanti setelah membaca semua informasi tentang Calvin, Ethan akan tahu siapa sebenarnya Calvin, dan di mana dirinya pernah bertemu Calvin. Tak sampai 5 menit kemudian, Cindy dan Evelyn pergi meninggalkan restoran. Ethan lagi-lagi merasa lega karena saat keduanya keluar dari restoran, Fiona masih berada di toilet. Jadi Fiona tidak tahu tentang kepergian Cindy dan Evelyn. Besar kemungkinan jika Fiona akan memaksa ikut dengan Cindy dan Evelyn jika tahu dirinyalah yang akan membawa Fiona pulang. Cindy dan Evelyn pun bergegas pergi meninggalkan restoran. Fiona yang baru saja kembali dari toilet di buat bingung ketika melihat Cindy dan Evelyn tidak ada di dalam restoran. "Apa mereka berdua sudah di mobil?" Fiona bergegas keluar dari restoran, semakin bingung ketika tidak melihat mobilnya. "Mereka berdua pergi ke mana sih?" keluh Fiona yang sekarang mulai panik. Fiona takut jika Cindy dan Evelyn di culik, kemungkinannya memang kecil, tapi tetap saja, Fiona tidak bisa menghilangkan pikiran tersebut dari otaknya, terlebih ketika keduanya tidak mau mengangkat panggilan darinya. Ethan melajukan mobilnya, mendekati Fiona yang masih mencari-cari di mana Cindy dan Evelyn. Fiona mundur beberapa langkah ketika melihat mobil asing mendekatinya. Fiona akan kembali memasuki restoran, tapi begitu mendengar suara bariton dari pria yang sangat ingin ia hindari, langkahnya pun terhenti. Fiona menoleh, saat itulah Fiona melihat Ethan yang duduk di balik kursi kemudi. "Masuk!" Perintah tegas Ethan. Tanpa bantahan, Fiona memasuki mobil Ethan. Tapi Fiona tidak duduk di kursi samping Ethan, melainkan duduk di kursi belakang. Fiona menatap jendela mobil, tapi tak lama kemudian, Fiona menatap Ethan ketika mobil tak kunjung berjalan. "Saya bukan supir kamu, Fiona. Jadi kamu harus duduk di kursi depan, atau kita akan tetap di sini." Fiona mendengus, lalu keluar dari mobil. Ethan pikir, Fiona akan kembali memasuki mobil lalu duduk di sampingnya, tapi ternyata Ethan salah, karena sekarang Fiona pergi menjauh. Ethan mengumpat, bergegas keluar dari mobil, lalu berlari mengejar Fiona yang berlari menjauh darinya. Pada akhirnya, Ethan berhasil mengejar Fiona. "Lepasin!" Pinta Fiona sambil mencoba melepaskan tangan kanannya dari genggaman tangan Ethan yang begitu kuat. "Aku tidak mau melepaskan kamu, Fiona." "Apa yang kamu inginkan, Ethan?" Fiona malas berdebat dengan Ethan, jadi Fiona ingin tahu apa yang Ethan inginkan darinya. "Kita harus bicara, Fiona," ucap Ethan penuh penekanan. Fiona menghela nafas panjang, kemudian mengangguk, menyetujui permintaan Ethan. Fiona tahu, tidak ada gunanya terus menerus menghindari Ethan, karena jika ia tidak mau berbicara dengan Ethan sekarang, Ethan pasti akan terus menerus mendatanginya. "Baiklah, tapi tolong lepasin dulu tangan aku." Ethan tidak mengabulkan permintaan Fiona. "Aku tidak akan kabur, Ethan." Fiona tahu apa yang Ethan takutkan. Dengan ragu, Ethan melepaskan tangan Fiona dari cekalannya. Ketakutan Ethan tidak terjadi karena Fiona memang tidak kabur. Ethan menuntun Fiona kembali ke mobil, dan Fiona menurut. Ethan memutuskan untuk membawa Fiona pulang ke mansion. Ethan tidak akan membawa Fiona pulang ke apartemen Livy. Sepanjang perjalanan menuju mansion, Fiona diam, tidak mengatakan apapun. Begitu juga ketika tiba mansion, Fiona masih diam. Fiona tidak bertanya, mansion siapa yang saat ini ia dan Ethan datangi? Kenapa Ethan membawanya ke sini? Juga tidak bertanya kenapa Ethan tidak membawanya pulang ke apartemen? Ethan keluar dari mobil, begitu juga dengan Fiona. Diamnya Fiona membuat Ethan merasa sangat frustasi. Ethan lebih suka Fiona yang cerewet atau marah padanya, dari pada Fiona yang hanya diam saja. Ethan membawa Fiona ke lantai 3, tempat di mana kamar utama berada. Fiona tidak menolak ajakan Ethan. Fiona menuruti semua kemauan Ethan. "Masuklah." Ethan mempersilakan Fiona memasuki kamar yang baru saja ia buka. Lagi-lagi Fiona menurut. Fiona memasuki kamar, lalu melangkah menuju balkon. Fiona menatap lurus ke depan dengan kedua tangan bersedekap. Setelah menutup pintu kamar, Ethan menyusul Fiona. Sekarang Ethan berdiri di belakang Fiona. Ethan ingin sekali memeluk Fiona, tapi Ethan takut jika Fiona akan menolak pelukannya. Ketakutan Ethan atas penolakan dari Fiona membuat Ethan memutuskan untuk tetap menjaga jaraknya dengan Fiona. "Apa Livy tahu?" tanya Ethan tercekat. Saat ini, kedua mata Ethan sudah memerah, penuh oleh air mata yang siap jatuh membasahi wajah Ethan. Air mata yang menggenang di setiap pelupuk mata Ethan membuat pandangan Ethan memburam. Fiona tahu, apa maksud dari pertanyaan Ethan. "Tidak." Fiona menjawab singkat, padat, dan jelas pertanyaan Ethan. "Ah, pantas saja dia tidak marah, ternyata itu karena dia tidak tahu." Ethan seharusnya sudah bisa menebak kalau Livy tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Fiona, karena jika Livy tahu, pasti sejak beberapa bulan yang lalu, Livy sudah mengamuk, bahkan mungkin sangat membencinya. Tangan kanan Ethan terulur, ingin sekali menyentuh bahu Fiona, tapi Ethan mengurungkan niatnya tersebut. Ethan kembali menurunkan tangannya yang kini sudah kembali mengepal. "Ma-maaf, Fiona," ucap Ethan terbata. Ethan menggigit kuat bibir bawahnya, menahan agar isak tangisnya tidak lolos. Ethan hanya membiarkan air mata yang sejak tadi sudah menggenang di setiap pelupuk matanya jatuh membasahi wajahnya. "Kamu sama sekali tidak bersalah, Ethan. Jadi jangan meminta maaf dan jangan merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi." Dengan tenang, Fiona membalas ucapan Ethan. Setelah mendengar ucapan Fiona, Ethan akhirnya percaya pada ucapan Livy. Apa yang Livy katakan tentang Fiona memang benar. Fiona tidak menyalahkan orang lain atas rasa sakit yang dirasakannya, tapi Fiona menyalahkan dirinya sendiri. Ethan menahan diri untuk tidak menangis, tapi Ethan gagal. Ethan mulai menangis, sambil terus menggumamkan kata maaf, kata yang Ethan tahu tidak akan pernah cukup untuk menebus semua kesalahan yang sudah ia lakukan pada Fiona. "Semuanya sudah terjadi, Ethan. Apa yang sudah terjadi di antara kita tidak perlu kita sesali, cukup kita jadikan pelajaran supaya kita tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama di masa depan." Fiona masih tetap terlihat tenang meskipun sebenarnya saat ini Fiona tidak baik-baik saja. Ketika mendengar kata kesalahan yang Fiona ucapkan, Ethan merasa hatinya sakit, sangat sakit. Fiona menganggap apa yang sebelumnya sudah terjadi di antara mereka sebagai sebuah kesalahan, dan fakta tersebut sangat menyakitkan bagi Ethan. Tapi Ethan tahu, rasa sakit yang saat ini ia rasakan tidak sebanding dengan rasa sakit yang sudah ia berikan pada Fiona. Fiona berbalik menghadap Ethan yang masih menangis dengan posisi wajah tertunduk. Fiona mendekati Ethan, lalu memeluk Ethan. Fiona tidak mengatakan apapun selain memeluk Ethan. Pelukan yang Fiona berikan membuat isak tangis Ethan semakin menjadi. Ethan membalas erat pelukan Fiona, dan terus membisikan kata maaf. 1 jam telah berlalu sejak Ethan dan Fiona sampai di mansion. Saat ini keduanya sudah berbaring di tempat tidur dengan posisi Ethan yang memeluk Fiona dari belakang. Setelah memastikan jika Fiona tertidur, Ethan memberikan diri mengecup kening Fiona. Hal yang sejak tadi sudah ingin Ethan lakukan. Secara perlahan, Ethan menuruni tempat tidur, lalu pergi menuju balkon. Begitu sampai di balkon, Ethan kembali menangis, menyesali semua yang sudah terjadi. "Maaf, Fiona." Kata itulah yang terus Ethan ucapkan di sela isak tangisnnya. "Maafkan aku karena sudah menjadi pria paling b******k," lanjutnya sambil terus menangis dan memukuli dadanya yang terasa sakit juga sesak. Tanpa Ethan sadari, Fiona mendengar tangisan Ethan, karena sebenarnya Fiona hanya pura-pura tidur. Bagaimana mungkin Fiona bisa tidur setelah kembali mengingat salah satu kejadian paling menyakitkan yang pernah ia alami, yaitu keguguran, kehilangan calon bayinya dan Ethan. Ethan masih menangis, begitu juga dengan Fiona yang mulai menangis. Sejak tadi, Fiona menahan diri supaya tidak lagi menangis, tapi begitu mendengar Ethan menangis sambil terus meminta maaf, Fiona tidak bisa lagi menahan air matanya. Semakin lama, tangisan Ethan semakin besar, lain halnya dengan Fiona yang menahan supaya tangisannya tidak didengar oleh Ethan. Ethan sama sekali tidak menyalahkan Fiona, karena kini, Ethan mulai menyalahkan dirinya sendiri. Seandainya saja saat itu ia memutuskan untuk bersama dengan Fiona, pasti saat ini sang janin masih bersemayam dalam rahim Fiona. "Aku membunuhnya." Ethan terus bergumam, menyalahkan dirinya sendiri atas kehilangan besar yang ia dan Fiona alami. "Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan? Aku sudah membunuhnya." Ethan mendongak, menatap langit malam dengan mata memerah dan penuh air mata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD