Malam itu semuanya telah berkumpul di meja makan. Saking banyaknya orang, hingga kursi yang tersusun sedemikian banyakpun masih tak mampu menampung kapasitasnya. Alhasil beberapa dari mereka memilih untuk membawa makanannya ke kamar.
Namun tidak bagi Alvaro. Entah kebetulan atau apa ia berhasil meraih satu kursi kosong hingga ia pun tak perlu repot-repot membawa makanannya.
Malam yang menyenangkan dengan menu makan yang tidak bisa dikatakan sederhana. Daging panggang dengan olesan saos yang menggugah selera telah menanti setiap insan untuk memakannya.
Tak butuh waktu lama, semua hidangan di meja makan itupun ludes. Nikmat sekali rasanya. Bahkan sepertinya seumur hidup baru pernah makan makanan yang seenak itu.
***
Alvaro, Ihsan, Imam dan Reyhan. Keempat lelaki itu nampak sedang berkumpul di depan villa sembari salah satu dari mereka memainkan ukulelenya. Semuanya pun larut dalam nyanyian.
"Aseekk... memang pantes banget jadi pengamen jalanan," ucap Ihsan.
"Siapa?" tanya Imam.
"Tu... yang main ukulele," jawab Ihsan.
"Wah, dianya menghina. Untung saya orangnya sabar," ucap Reyhan.
"Wah, dianya penyabar. Untung saya orangnya suka menghina," balas Ihsan.
"Cih, ngelunjak nih orang," gumam Reyhan.
"Oi, Al. Kenapa sih diem terus?" tanya Ihsan mengganti topik pembicaraan.
"Saat Alvaro bersikap seperti itu, kayaknya ada sesuatu yang tidak bisa kita lihat di sekitar sini," ucap Reyhan.
Ketiga lelaki itu langsung bergidik ngeri membayangkan sebuah kejadian yang belum menjadi fakta. Namun bisa saja itu adalah suatu kebenaran mengingat seorang Alvaro Aditama yang biasanya ceria kini hanya menampakkan raut wajah datarnya.
"Oi, Al. Apa yang kamu lihat? Jangan nakutin kita dong!" ucap Ihsan sambil menggerak-gerakkan tangan kanannya di depan mata Alvaro
SHUTTT!!!
Lelaki itu langsung memberikan isyarat untuk diam. Matanya masih menatap rimbunnya pepohonan di depan sana. Seolah-olah ada sesuatu yang ia lihat, tapi tak bisa dilihat oleh orang lain.
"Ada apa, Al?" bisik Reyhan.
"Aku melihat sesuatu di sana," jawab Alvaro tanpa menunjuk.
"Sesuatu apa?" tanya Reyhan lagi.
"Sesuatu yang sangat berbahaya bagi kita. Bahkan bisa menyesatkan kita," jawab Alvaro. Seketika itu juga bulu kuduk mereka kembali merinding.
"A-apa itu, Al?" tanya Reyhan lagi dan lagi.
"Janda muda," jawab Alvaro sambil cengar-cengir.
Perasaan geram menyelimuti diri Reyhan, Ihsan dan Imam. Mereka merasa terbodohi oleh si tukang tidur itu.
"Kenapa teman-temanku semuanya pada gila, Tuhan?" ucap Reyhan.
"Entah nih, Alvaro. Udah tahu di tempat kayak gini, eh malah bercanda. Bawa-bawa janda pula. Ngomong-ngomong jandanya mana, Al?" tanya Ihsan dengan senyumannya.
"Ada di pikiranku," jawab Alvaro.
"Pasti jorok nih," tuding Imam.
"Ya nggak lah. Sebagai seseorang yang taat beribadah, tidak mungkin aku seperti itu," sangkal Alvaro.
"Ya udah, aku ke kamar dulu. Udah ngantuk," pamit Alvaro sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Eh bentar! Sebelumnya aku mau nanya. Dari pandanganmu, apa ada makhluk tak kasat mata di sekitar sini?" tanya Reyhan.
"Pastinya ada. Kita ini hidup berdampingan dengan mereka. Hanya saja menurutku di tempat ini mereka tak mengganggu. Mungkin cuma usil. Tapi kalau di sekitar sini... entahlah," jawab Alvaro.
"Nggak usah takut! Karena ketakutan kalian itulah yang justru menarik mereka untuk mendekat. Berserah dirilah pada yang maha kuasa," tambah Alvaro.
"Oh ya, satu lagi. Hilangin ketakutan! Jangan membayangkan yang tidak seharusnya kalian bayangkan dan jangan bercerita tentang mereka! Sekali lagi hal itu bisa menarik perhatian mereka. Contoh kecil saja tuh udah ada Tante Kun yang bergelantungan di atas pohon," lanjut Alvaro sambil menunjuk ke arah pohon besar yang beberapa meter jauhnya.
"Jangan nakut-nakutin gitu dong, Al!" pinta Ihsan.
"Aku cuma ngasih tahu, dan tenang aja! Tante Kun yang di sana gak ganggu kok. Ya Tan, ya?" ucap Alvaro seperti memberikan pertanyaan pada sosok yang tak bisa dilihat oleh teman-temannya.
Dari sudut pandang Alvaro, memang ia sedang melihat sesosok kuntilanak berwajah penuh darah dengan rambut gimbalnya sedang bergelantungan di pohon. Menurut Alvaro, aura kebencian makhluk itu sama sekali tidak ada. Karena itu ia dengan beraninya mengajaknya bercanda.
Namun dari pandangan ketiga temannya itu, pohon besar di depan sana hanyalah sebuah pohon biasa yang tak ada keanehan apa-apa. Hanya saja mereka bisa merasakan akan adanya makhluk tak kasat mata. Itulah yang membuat mereka yakin bahwa apa yang diucapkan Alvaro bukan hanya sebatas canda.
Suasana di luar sana semakin sunyi semenjak kepergian Alvaro. Tak ada satupun dari mereka yang berani berkata-kata. Hanya ada hembusan angin yang semakin lama semakin membuat bulu kuduk merinding.
"Kok jadi merinding, ya," ucap Ihsan.
"Nggak salah lagi. Pasti Alvaro nggak main-main dengan ucapannya tadi," sahut Reyhan.
"Masuk aja, yuk!" ajak Imam.
Tak ada satupun manusia yang berada di luar sana selain mereka bertiga. Tepat ketika mereka memutuskan untuk masuk, samar-samar di balik rimbunnya pepohonan yang berada jauh di depan sana, mata mereka menangkap sebuah bayangan sedang bergerak layaknya manusia. Namun apa ada manusia yang berani berjalan sendirian di tempat seperti itu?
Mereka terus menyaksikan bayangan yang semakin lama semakin menjauh itu. Ada rasa penasaran sekaligus takut dari dalam diri mereka. Bagi Reyhan, rasa penasarannya jauh lebih besar dari rasa penasaran kedua temannya itu. Ia pun memutuskan untuk melihat lebih dekat tentang wujud sosok bayangan itu yang sebenarnya.
"Rey, jangan gegabah!" teriak Ihsan khawatir akan apa yang dilakukan temannya itu.
"Kalian tunggu saja di sini! Aku yakin itu manusia dan aku yakin kalau dia ada niatan yang tidak baik," ucap Reyhan yang sudah berlari kecil menjauhi mereka berdua.
"Aduh, nyari masalah nih orang. Mam, panggil Alvaro! Aku akan nyusul si Reyhan," ucap Ihsan yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Imam.
***
"Apa?"
Setelah mendengarkan cerita dari Imam, raut wajah Alvaro seketika berubah menjadi penuh dengan kecemasan. Ia langsung berlari keluar dari kamarnya guna untuk menghentikan tindakan ceroboh si Reyhan.
"Ada apa, Mam?" tanya Arul. Memang si Arul, Tomi dan Aji sedari tadi tak mendengar apa yang dibicarakan oleh Alvaro dan Imam. Wajar saja karena Imam pun bercerita dengan nada bicara sangat pelan.
"Gak ada apa-apa," jawab Imam sambil berlari mengejar Alvaro.
Bukannya apa-apa. Ia cuma tidak mau membuat seisi villa heboh dengan tindakan Reyhan yang dengan beraninya masuk hutan di tengah kegelapan malam. Imam rasa kalau itu adalah urusan dia dan sahabat-sahabatnya tanpa harus melibatkan orang lain.
"Dia lari ke arah mana? Kita harus cepat-cepat menemukan dia. Hutan itu terlalu berbahaya. Apalagi bagi pendatang seperti kita," ucap Alvaro.
"Arah jam 2," jawab Imam.
Alvaro langsung berlari ke arah yang ditunjuk oleh si Imam. Begitupun dengan Imam, ia juga berlari di belakang Alvaro.
***
Reyhan mengintai bayangan itu dari balik pepohonan. Semakin lama semakin jelas bahwa sosok bayangan itu adalah manusia biasa. Hal itu terbukti dengan tidak menghilangnya dia setelah sekian lama ia mengawasinya. Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah apa yang dilakukannya di dalam gelapnya hutan itu?
DEG!
Reyhan merasakan ada yang menepuk bahu kanannya. Jantungnya benar-benar hampir copot dibuatnya. Ia dengan hati-hati memutar kepalanya untuk melihat siapa yang tengah menepuk bahunya itu dan....
"Shuuttt!"
Seseorang langsung membekap mulutnya. Pergerakannya kalah cepat dengan orang itu yang pada akhirnya langsung membuat dia diam tak berdaya.
"Ternyata kau benar, dia manusia. Tapi apa yang dilakukannya?"
"Rey, jawab dong! Jangan diam aja!"
Ternyata seseorang yang membungkam mulut si Reyhan dengan tangannya itu adalah Ihsan. Matanya terus memandangi sosok bayangan itu yang masih berada dalam jangkauan pengelihatannya.
"Rey, jangan diam aja!" ucap Ihsan pelan.
Suara pelan yang tak dipahami oleh Ihsan keluar dari mulut Reyhan. Ya, ia bukan diam tanpa alasan. Satu-satunya alasan kenapa ia terdiam adalah karena bungkaman dari Ihsan.
"Eh, maaf Rey, lupa. Hehehe," ucap Ihsan sambil menjauhkan tangannya dari Reyhan.
"Kalau punya otak dangkal setidaknya otakmu itu jangan dibawa ke tempat kayak gini!" Ejek Reyhan.
"Ya maaf," sahut Ihsan sambil garuk-garuk kepalanya.
Reyhan langsung mengamati sosok bayangan itu yang sudah agak menjauh, meski masih terlihat. Ia pun melakukan pergerakan lagi untuk mencari tahu apa yang sebenarnya si bayangan itu lakukan di tempat seram seperti itu. Lama-kelamaan ia menyadari sesuatu. Walau gelap, sosok bayangan itu nampak jelas perawakannya. Ia berawakan seperti tinggi besar dan dari perawakannya itu Reyhan yakin bahwa sosok itu adalah seorang lelaki.
Sementara itu Alvaro dan Imam berjalan berdampingan di tengah gelapnya hutan. Bagi Alvaro, sedari tadi ia cukup terusik dengan mereka yang berseliweran yang terkadang pula mengeluarkan tawa menggelikannya. Namun Alvaro mencoba tidak peduli dan pura-pura tidak bisa melihat mereka.
Rasanya sudah lama ia berjalan, tapi tak menemukan keberadaan Reyhan ataupun Ihsan. Sedangkan malam sudah semakin larut dan menjadi waktu para makhluk tak kasat mata untuk bebas berkeliaran ke manapun sesuka hati.
"Al, berhenti dulu!" pinta Imam.