Bab 17

2009 Words
Bukannya apa-apa. Alvaro cuma ingat bahwa memang manusia tak boleh takut dengan makhluk halus. Namun tak sepatutnya juga manusia terlalu sombong dan bahkan sampai menantang si makhluk halus. Itulah yang membuat Alvaro tiba-tiba bersikap seperti tadi. Kecemasan Alvaro bertambah ketika ia melihat si daster putih itu terus melayang mengikuti bis yang ia tumpangi dengan memberikan tatapan marahnya. Dalam hatinya ia mengumpat atas kebodohan temannya yang bernama Arga itu. Ia takut hantu itu nantinya akan mencelakai ia dan teman-temannya. Alvaro memejamkan matanya untuk mencoba kemampuan baru yang bahkan ia sendiri tak yakin bisa melakukannya. Ia berniat untuk berkomunikasi dengan makhluk itu. "Tolong pergilah! Dan jangan ganggu kami lagi!" ucap Alvaro lewat hati. "Hihihihi... kesombongan akan membawa kepada kehancuran," balas si tante Kun yang langsung diketahui Alvaro apa maksudnya. "Teman saya hanya bercanda," ucap Alvaro lagi. "Petaka untuk dia nanti juga akan kuanggap bercanda. Hihihihi," balasnya diakhiri dengan tawa yang menggelikan. "Kamu tidak akan pernah bisa mengubah takdir Tuhan," ucap Alvaro tak mau kalah. "Hihihihi... kata siapa? Hihihihi... lihat saja nanti!" ucap si daster putih. "Baiklah kalau kamu tidak bisa diajak nego. Terpaksa aku harus menggunakan kekerasan," ancam Alvaro. Alvaro mulai komat-kamit membaca sesuatu yang langsung membuat si Tante Kun merasakan panas yang luar biasa. Jeritan kesakitannya terdengar sangat keras di telinga Alvaro seorang yang kemudian menghilang dengan diiringi oleh datangnya asap. Tak ia sangka kalau ia bisa melakukannya. Namun nampaknya hal itu cukup menguras banyak energinya. Ia sampai harus mengeluarkan keringat deras yang telah membasahi kedua pipinya. Begitupun dengan napasnya yang tersengal-sengal. Tapi apapun itu yang penting ia telah berhasil menyelamatkan nyawa temannya. Reyhan memang sedari tadi memerhatikan tingkah Alvaro. Mulai dari kemarahan Alvaro pada si Arga sampai saat ini. Ia kenal betul siapa Alvaro dan ketika si lelaki tampan itu sudah bersikap demikian, maka ia yakin ada sesuatu yang menjadi penyebabnya. Maka dari itu ia memilih untuk diam. Ia tak ingin menambah beban pikiran Alvaro. Bisa melihat hal yang tidak bisa dilihat orang lain memang suatu hal yang sangat berat. *** "Aneh, seharusnya villanya sudah tak terlalu jauh lagi, ini kok gak sampai-sampai, ya?" ucap salah satu dosen yang berada selisih 2 bangku di depan Alvaro. "Pak, perasaan dari tadi kita kok cuma muter-muter di tempat ini, ya?" tanyanya pada Pak Sopir. "Entahlah, Pak. Saya juga bingung. Seharusnya kita sudah hampir sampai," jawab Pak Sopir yang sudah nampak mengeluarkan keringat yang luar biasa. Sontak suasana seluruh isi bus pun menjadi riuh penuh kecemasan. Kecemasan itu ditambah dengan bus rombongan lain yang tadinya berada di belakang, kini sudah hilang tak berbekas. Di kanan kiri jalanan hanyalah kawasan hutan lebat yang tak ada yang tahu ujungnya. Kekhawatiran benar-benar sudah melanda di bus itu. Bahkan para manusia yang tadi terlelap dalam tidurnya, kini sudah bangun dan menampakkan kepanikannya. Ada yang menangis, ada pula yang nampak berdoa kepada sang pencipta. "Al, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Delia yang nampak agak panik. Alvaro terdiam. Entah apa yang ia pikirkan. Seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan. Entah apa itu, sepertinya sesuatu yang tidak baik. "Sebaiknya kita berdoa saja memohon perlindungan dari sang kuasa!" ucap Alvaro dingin. "Memang ada apa, Al?" tanya Ocha yang masih bingung. "Entahlah. Aku juga tidak tahu. Sebaiknya kita berdoa saja!" jawab Alvaro. "Iya, tapi ada apa ini sebenarnya?" tanya Ocha lagi. "Berdoalah! Jangan banyak nanya!" bentak Alvaro. Baru kali ini. Baru kali ini seorang Alvaro Aditama berani membentak seorang wanita. Parahnya yang ia bentak bukanlah sembarang wanita, melainkan wanita yang juga merupakan sahabatnya sendiri. Nyali Ocha menciut seketika mendengar bentakan Alvaro. Ia langsung menuruti apa yang Alvaro katakan, begitupun dengan yang lain. Semua berdoa menurut kepercayaan mereka masing-masing. Tak lama kemudian, bus kembali melaju meskipun dengan kecepatan yang tak terlalu cepat. Rasa syukur terucap dari setiap insan yang berada di dalam bus itu di saat mereka melihat sebuah bangunan besar berwarna putih yang diyakini adalah vila tempat mereka tinggal nantinya. Ternyata benar. Bangunan itu adalah vila yang akan mereka tinggali untuk beberapa hari. Hal itu dibuktikan pula dengan sebuah bus yang terparkir di depannya. Nampaknya itu adalah bus rombongan kedua yang tadi berada di belakang bus yang ditumpangi Alvaro dan teman-temannya. "Hufff... akhirnya sampai juga," ucap seorang wanita yang juga merupakan teman Alvaro. "Iya, sebenarnya ada apa sih, tadi?" tanya yang lain. "Entahlah," jawab wanita itu. Berbagai percakapan tentang kejadian yang barusan terjadi terdengar saling bersahut-sahutan. Kebingungan masih melanda di hati dan pikiran mereka. Bagi yang tidak percaya tentang hal mistis, mereka menganggap itu hanyalah kesalahan sang sopir. Namun bagi yang percaya pada hal mistis, kejadian itu jelas disebabkan oleh makhluk tak kasat mata. Keanehan selanjutnya terjadi pada diri Alvaro. Entah kenapa sikapnya menjadi sangat dingin dan pendiam. Tak seperti seorang Alvaro Aditama yang biasanya, yang selalu semangat serta ceria. Bahkan ia seolah-olah tak berniat sedikitpun untuk minta maaf kepada Ocha soal bentakannya yang tadi. Di saat perwakilan dari salah satu dosen melakukan perbincangan pada si pemilik vila, di situlah para mahasiswanya berkesempatan untuk berjalan-jalan sejenak menikmati pemandangan alam yang begitu menakjubkan. Dari tempat itu, sejauh mata memandang memang yang terlihat hanyalah keindahan. Pancaran sinar yang mentari siang telah mengubah seramnya hutan belantara. Kini sang raja hari itu menciptakan sebuah keindahan dengan menghapus aura seram dari sang hutan walau cuma sedikit. Ada rasa yang tertinggal di dalam sana. Rasa itu bukanlah rindu, melainkan rasa penasaran dengan apa yang ada di dalam lebatnya hutan itu. "Aku tahu ada yang kamu sembunyiin." Alvaro yang sedang duduk sendirian sembari memandangi indahnya alam dari atas bukit mendengar sebuah rangkaian kata yang tentu saja ditujukan kepadanya. Ia tahu siapa itu. Bahkan tanpa menoleh saja ia mengenal persis suara itu. "Kau tidak akan pernah tahu, Del," jawab Alvaro. Si gadis cantik yang bernama Delia itupun berjalan mendekati Alvaro dan ikut duduk di sampingnya. Sejauh ini memang hanya Delia seorang, satu-satunya perempuan yang bisa sedekat itu dengan Alvaro. Bahkan Ocha dan Nanda yang juga merupakan sahabat Alvaro pun tak sampai seperti itu. "Alvaro yang kukenal bukan Alvaro yang seperti saat ini. Alvaro yang kukenal adalah lelaki ceria yang penuh canda. Bukan seorang yang emosian dan suka menyendiri," ucap Delia mengawali pembicaraan. "Tapi aku tahu di balik sikapmu yang seperti ini pasti ada alasannya. Ceritakanlah!" pinta Delia. Memang sulit menyembunyikan suatu perasaan pada seseorang. Apalagi pada seorang sahabat yang sudah bersama-sama sejak kecil. Ia selalu tahu perasaan sahabatnya meskipun sudah disembunyikan di dalam hati yang terdalam. "Kita tidak seharusnya berada di sini," ucap Alvaro dingin. "Maksud kamu?" tanya Delia. "Sarang iblis. Sarang para makhluk tak kasat mata seperti itu tidak seharusnya didatangi," jawab Alvaro. "Sarang iblis? Apa tempat ini...?" "Bukan, tapi tempat di sekitar tempat ini," sahut Alvaro. Wajah Delia mendadak penuh dengan ketegangan. Bulu kuduknya nampak berdiri. Ia tak bisa menyembunyikan ketakutannya lagi. "Del," panggil Alvaro pada Delia yang nampak ketakutan. "Iya," jawab Delia. "Apa mataku ini hanya membawa bencana?" tanya Alvaro. Delia menghembuskan napas pelan. Ia seperti tidak begitu suka dengan pertanyaan Alvaro barusan. "Jangan berpikiran bodoh hanya gara-gara sebuah hal yang kebetulan terjadi! Semua kejadian ini tak ada hubungannya dengan matamu ataupun kemampuan lain yang ada di dalam dirimu. Malahan, semua pengelihatan yang telah kamu lihat itu adalah suatu pertanda yang akan menjadi penyelamat untuk kita semua," ucap Delia panjang lebar. "Gitu, ya?" tanya Alvaro. "Mungkin," jawab Delia cepat. "Kok mungkin?" tanya Alvaro. "Hahaha, iya Al. Coba ingat-ingat aja kejadian-kejadian menyedihkan yang dulu pernah terjadi. Apa dulu kamu sudah mendapat kemampuan seperti sekarang sehingga semua kejadian itu seolah-olah ada hubungannya denganmu? Enggak, kan? Dulu kamu tak punya kemampuan seperti saat ini, tapi juga ada saja kejadian seperti sekarang ini. Cuma bedanya, kini kamu diberi peringatan dulu sebelum kejadiannya terjadi. Berbeda seperti dulu yang bahkan tanpa peringatan, kejadian itu tiba-tiba terjadi," jelas Delia. Kata-kata Delia berhasil sedikit membuat Alvaro kembali ke dirinya yang asli. Senyumnya merekah sempurna seolah-olah ia bermaksud untuk memamerkan ketampanannya pada semua orang. Sayangnya senyum itu cuma bertahan sebentar sebelum sang dosen memberikan aba-aba untuk berkumpul. "Mahasiswa dan Mahasiswi yang saya banggakan. Saya ingatkan sekali lagi bahwa ini bukanlah liburan semata. Ini adalah liburan sekaligus belajar mengenal alam. Saya harap semuanya bisa melaksanakan kegiatan ini dengan baik sampai akhir nanti. Selama kalian di sini, jaga sikap kalian! Jaga juga kata-kata kalian! Karena kita gak pernah tahu tentang sesuatu yang ada di tempat seperti ini," tutur salah satu dosen. Setelah pidato singkat dari sang dosen berakhir, mereka pun dipersilahkan untuk menempati kamar masing-masing yang sebelumnya memang sudah dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kamar berisi 5 orang. Alvaro dan Reyhan mendapatkan kamar yang sama bersama 3 orang lainnya yang masing-masing bernama Arul, Tomi dan Aji. Sedangkan si Ihsan dan Imam berada di kamar sebelah kamar Alvaro bersama ketiga orang lainnya. *** "Kalian nggak ada kerjaan lain selain tiduran?" tanya Alvaro pada keempat teman sekamarnya. "Gak ada," jawab mereka serentak. "Heh, dasar pemalas!" ejek Alvaro. "Hidup itu harus dinikmati, Al," ucap Tomi. "Hufff... okelah, aku mau jalan-jalan sebentar," pamit Alvaro sembari melangkah pergi. Suasana luar vila yang cukup sepi membuat Alvaro agak bergidik ngeri. Pasalnya di tempat seperti itu pasti akan banyak sosok tak kasat mata yang ia jumpai. Hanya saja ini masih siang menjelang sore. Mungkin mereka masih belum berani menampakkan diri. Alvaro berjalan di sekitar vila saja tanpa berani pergi lebih jauh. Suasana sunyi dan sepi menemaninya. Maklum saja, rasa lelah membuat teman-temannya memutuskan untuk beristirahat. Ketika si tampan itu melihat vila tempatnya tinggal, serta keadaan hutan lebat di sekitarnya, mendadak ia teringat kembali dengan mimpinya. Ia merasakan bahwa sedang ada bahaya yang mengintai. Namun ia tak tahu tentang apa bahaya yang sebenarnya. Mungkin hanya firasat, tapi kenapa terasa begitu kuat? Kalaupun benar akan ada bahaya, Alvaro telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan melindungi semuanya. Tidak peduli jikalau pun ia harus berkorban nyawa. Baginya, nyawa orang-orang yang ia sayangi jauh lebih penting dari nyawanya sendiri. Bingung. Lelaki tampan itu bingung bagaimana cara menceritakan sesuatu yang hanya dia yang bisa melihat sesuatu tersebut. Hatinya benar-benar sedang diuji. Andaikan semuanya tahu atau mengalami kejadian yang dialami Alvaro, pasti mereka akan cepat-cepat melarikan diri dari tempat itu. "Hai." Sorot mata elang lelaki itu langsung bergerak begitu cepatnya untuk mencari tahu siapa sosok di balik suara itu. Hingga pada akhirnya beberapa meter dari tempatnya berdiri, ia melihat sesosok wanita cantik dengan lengkuk tubuh yang sangat menggiurkan, khususnya bagi para lelaki hidung belang. Namun bagi Alvaro, mungkin lain lagi ceritanya. Alvaro hanya memandang wajah perempuan itu sekejap, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tak mau matanya ternodai gara-gara pakaian minim perempuan itu. "Aku Raisya, anak pemilik villa ini," ucap perempuan itu memperkenalkan diri. "Kamu?" tanyanya. Bukannya Alvaro munafik. Hanya saja tubuhnya terlalu kaku untuk melihat hal begituan meski sebenarnya hati dan pikiran sangat menginginkannya. Namun di kondisi kali ini, mau tidak mau ia diharuskan untuk melihatnya. Bagaimanapun juga ia bukan tipe orang sombong yang selalu berlagak cuek dengan setiap orang. "Alvaro," jawabnya singkat sambil menatap gadis itu sekejap. "Oh, Alvaro. Salam kenal ya, ganteng," ucap Raisya. DEG! Jantung Alvaro berdegup kencang di kala perkataan itu melesat begitu saja dari mulut sang gadis. Dalam pikirnya ia mengira bahwa gadis itu adalah gadis penggoda yang bisa saja membuatnya tergoda. Ia tak tahu harus berbuat apa selain hanya menunjukkan sifat dinginnya. Kemolekan dan kecantikan dari gadis itu sebenarnya sedikit membuatnya tertarik. Lelaki mana yang tidak tertarik dengan gadis secantik dan semolek itu? "Hei, ada apa?" tanya si gadis dengan senyum menggodanya. "Tak apa, aku ke kamar dulu," jawab Alvaro masih dengan sifat dinginnya. "Iya, silahkan," jawab Raisya. "Hmmm.... oke," ucap Alvaro sembari langsung melangkah pergi meninggalkan Raisya. "Sampai jumpa lagi, ya," ucap Raisya di saat Alvaro melangkah. Alvaro hanya melambaikan tangannya. Ia mengumpat dalam hati. Kenapa gadis secantik itu harus semurah itu? Maksudnya murah dalam arti cara berpakaiannya yang jelas seperti seorang p*****r. Kalau terlalu lama dekat dengan gadis itu, Alvaro takut dirinya akan terhipnotis dengan kecantikan dan kemolekannya sehingga nantinya ia bisa melakukan hal yang tidak-tidak. Karena itulah ia memutuskan untuk menjauh. Di saat lelaki tampan itu sudah pergi dari tempat semula dan berjalan menuju kamarnya, di depan villa sana masih nampak perempuan cantik itu masih dengan menampakkan senyuman manisnya. "Alvaro, ya? Hmmm.... sungguh laki-laki yang menarik," ucap gadis cantik itu di saat Alvaro sudah pergi dari hadapannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD