"Bawa sih. Rumah tanggaku sama Delia," jawab Ihsan yang disambut dengan ucapan "cieee" oleh teman-temannya.
"Wah, minta dihajar nih, Al. Berani-beraninya dia rebut Delia dari kamu," sahut Reyhan. Alvaro langsung memberikan lirikan tajam ke Reyhan, sedangkan Delia hanya tersenyum tipis mendengarnya.
"Eh, kalau gak boleh sama Delia gak apa-apa kok, Al. Aku sama Ocha aja," kata Ihsan lagi.
"Eh, gini ya Ihsan sang pemilik tingkat kepercayaan diri tingkat tinggi. Kamu mau sama aku, tapi kalau aku gak mau sama kamu gimana?" tanya Ocha.
"Ya tidak apa-apa. Aku gak akan maksa," jawab Ihsan.
"Cieee... lelaki sejati," sahut salah satu lelaki yang juga merupakan teman Ihsan.
"Baru nyadar?" tanya Ihsan dengan gaya tengilnya yang bikin kesel.
***
Di dalam bus sudah berjejer para mahasiswa yang akan melakukan study tour. Alvaro duduk di samping Imam dan Reyhan. Sedangkan Ihsan duduk bersama 2 teman laki-lakinya yang berada tepat di depan kursi Alvaro. Delia tetap bersama 2 sahabat baiknya, yaitu Ocha dan Nanda.
Sepanjang perjalanan hanya terdengar nyanyian dan sorakan tanda kegembiraan di wajah mereka semua. Mungkin itulah wujud dari pelampiasan rasa lelahnya selama ini. Namun apakah tidak berlebihan?
Entahlah, yang pasti hal itu membuat seorang perempuan yang dikenal dengan Nanda itu geleng-geleng kepala sembari mengalihkan pandangannya keluar jendela. Gadis yang satu ini memang mempunyai sifat yang lebih dewasa dari teman-temannya. Sifat dingin, jutek dan seakan tidak peduli dengan sekitarnya itulah buktinya. Namun di keadaan tertentu ia juga bisa menjadi seseorang yang mengasyikkan.
"Al, gak bawa camilan?" tanya Reyhan sambil memeriksa tasnya sendiri.
Namun apa yang didapat? Ia tak mendapat jawaban sedikitpun dari Alvaro. Ia pun menoleh ke arah Alvaro yang duduk paling dekat dengan jendela dan melihat lelaki itu sedang terkulai lemah sembari mengeluarkan suara pelan yang menyebalkan.
"Buset, nih orang cepet banget tidurnya," ucap Reyhan.
"Kayak gak tahu tuh orang aja, Rey," sahut Imam.
"Iya. Si raja tidur, ya?" tanya Reyhan yang disambut dengan tawa Imam.
***
Seorang lelaki tampan sedang berada sendirian di tengah hutan yang lebat, gelap dan menyeramkan. Lelaki itu nampak bingung dengan keadaan sekitar. Bola matanya bergerak liar memandangi setiap area yang berada di sekitarnya.
"Di mana aku?" tanyanya pada diri sendiri.
"Jangan-jangan... oh kumohon jangan begitu lagi!" lanjutnya.
Ia kemudian memutuskan untuk berjalan lagi. Entah harus ke mana ia pun tak tahu. Lelaki itu hanya mengikuti ke manapun arah kakinya melangkah. Deretan pepohonan yang nampak sama serta lebatnya semak belukar membuatnya begidik ngeri. Untungnya ini masih pagi. Kegelapan masih belum menyelimuti tempat itu.
"Apa mungkin akan terjadi sesuatu lagi?" tebaknya.
"Tidak. Ayolah Alvaro. Jangan berpikiran macam-macam!" ucapnya pada diri sendiri.
Lelaki tampan yang ternyata adalah Alvaro itu terus berjalan tak tentu arah. Di pikirannya cuma satu, akan ada hal buruk yang nantinya akan menimpa dia dan teman-temannya.
Lama ia berjalan, indra pengelihatannya menangkap sesuatu di depan sana. Sebuah rumah tua nan sederhana yang sangat menakutkan. Jaraknya dengan rumah itu tak terlalu jauh, tapi ia tak mau gegabah. Ia memperhatikan rumah itu dari balik pepohonan yang cukup untuk menutupi tubuhnya.
"Aneh. Di tengah hutan kayak gini kok ada rumah?" tanyanya pada diri sendiri.
Sejauh mata memandang hanya ada kengerian. Deretan pepohonan dan semak belukar saja sudah cukup membuat Alvaro bergidik ngeri. Ini malah ditambah dengan rumah tua yang entah siapa penghuninya. Ia terus mengintai di balik pohon, berharap ada sesuatu yang bisa ia lihat.
"Sepertinya aku harus mengecek tempat itu," ucapnya sambil terus memandangi rumah tua itu.
Namun baru saja ia selangkah untuk mendekati rumah itu, tiba-tiba ia merasakan ada yang menepuk pelan bahu kanannya. Tubuhnya pun mendadak kaku, hampir tak bisa digerakkan. Ia yakin ada sesuatu di belakangnya. Keyakinannya ditambah dengan keadaan bahunya yang merasakan ada sebuah tangan yang menempel.
Dalam keadaannya yang tak bisa bergerak sama sekali, ia pun teringat dengan sang penciptanya dan mulai berdoa dalam hati. Ia mengatur napasnya dan mencoba untuk tenang. Alhasil, tubuhnya kembali bisa digerakkan dan dengan refleks yang cepat, ia langsung menengok ke belakang.
Lalu apa yang terjadi?
Nampak sesosok kakek-kakek yang menurut pandangan Alvaro sudah berumur lebih dari 80 tahun. Tatapan datar si kakek itu membuat Alvaro ngeri. Ia teringat dengan sosok nenek tanpa kepala yang ia temui dulu. Apakah sosok kakek yang ini juga hantu?
Alvaro mencoba tenang meski jantungnya deg-degan. Ia memandang kakek itu dengan raut wajah datarnya. Keringatnya perlahan mulai membasahi wajahnya. Ia kembali merasa kalau tubuhnya kaku. Ingin rasanya berteriak, tapi berteriak di saat seperti itu sama saja dengan membunuhnya. Jalan satu-satunya untuk selamat adalah lari.
"Balik'o ning omahmu, Le! Iki dudu panggonmu," ucapnya dalam Bahasa Jawa yang tak dimengerti oleh Alvaro.
Bersamaan dengan ucapan sang kakek, tiba-tiba terdengar bunyi seperti ledakan dari rumah tua yang sedari tadi dipantau oleh Alvaro. Betapa terkejutnya ia ketika melihat 4 sosok bayangan besar dengan mata merah menyalanya serta gigi taringnya yang tajam sudah berada di depan rumah tua itu.
Sialnya sepertinya mereka tahu keberadaan Alvaro. Melihat hal yang demikian, tanpa pikir panjang ia pun langsung berlari menjauhi keempat sosok menyeramkan itu. Ia berlari tak tentu arah sembari sesekali melihat ke belakang. Nampak mereka masih mengejarnya dengan kecepatan yang tinggi. Tapi yang lebih aneh lagi, ia sudah tak melihat sosok kakek-kakek yang tadi ia temui.
"Jika ini cuma mimpi, kembalilah ke ragaku!" perintah Alvaro pada diri sendiri.
Ia melihat 4 sosok itu semakin dekat dengan dia yang sedari tadi mengejarnya dengan cara terbang. Dalam kebingungannya, Alvaro melihat secercah harapan ketika di depan sana terlihat jalanan beraspal. Ia pun menambah kecepatannya dalam berlari agar dirinya tak bisa dijangkau oleh mereka. Dalam larinya, ia juga melihat di kejauhan sana nampak sebuah bangunan megah berwarna putih yang nampaknya itu adalah vila. Namun ia tak memperdulikan hal itu. Ia masih harus terfokus ke jalanan berharap mendapat bantuan di sana. Jika di jalanan itu ia masih tak mendapat bantuan, baru ia akan berlari ke vila itu dengan harapan pula ia mendapat bantuan di sana.
Suara kematian terngiang di kepalanya di saat ia sudah sampai di jalanan beraspal itu, sebuah mobil melaju dengan cepat ke arahnya. Dalam pikirnya, ia merasa kejadian itu akan terulang kembali. Ia sudah tak bisa apa-apa, menghindarpun percuma. Dan akhirnya....
"Aaaaa!" jerit Alvaro.
BRAK!
Terdengar sebuah bunyi benturan yang sangat keras selang beberapa saat setelah jeritan memilukan dari Alvaro. Namun anehnya tak ada cipratan darah di sekitar. Adanya hanya suara rintihan kesakitan yang sepertinya berasal dari mulut seseorang.
"Aduhhh! Woi, kalau tidur lihat-lihat dong!"
Pria tampan itu langsung menyadari apa yang telah terjadi. Nampaknya di mimpi yang terasa nyata tadi, ketika dirinya hampir tertabrak oleh mobil, tak sengaja kakinya melakukan gerakan refleks menendang hingga menyebabkan 2 orang yang berada di sampingnya terjatuh dari tempat duduknya. Aneh juga sebenarnya. Refleksnya seakan-akan tak sesuai dengan kejadian yang akan menimpanya walaupun cuma di mimpi.
"Eh, maaf Rey. Maaf juga Mam," pinta Alvaro meminta maaf pada 2 orang yang tak sengaja ia tendang.
"Hahaha.... makanya gue gak mau duduk di samping Alvaro lagi," sahut Ihsan.
Sontak mereka bertiga telah menjadi tontonan bagi hampir seluruh orang di dalam bus. Ada yang menertawai, ada juga yang hanya geleng-geleng kepala. Semua itu tergantung sifat masing-masing. Bahkan ada juga yang hanya memandang dengan raut wajah dinginnya. Seolah-olah tak peduli dengan kelakuan ketiga orang tersebut.
Alvaro membantu Reyhan dan juga Imam untuk duduk kembali di kursi masing-masing. Beruntung tendangan yang ia lancarkan tadi tidak dengan kekuatan penuh. Hanya tendangan dorongan yang bahkan sudah bisa merobohkan 2 orang sekaligus.
"Maaf ya, nggak sengaja," pinta Alvaro lagi.
"Makanya kalau lagi merem tuh lihat-lihat, dong!" ucap Ihsan ikut-ikutan masih dengan posisi kepalanya yang menengok ke belakang. Sementara kedua teman sebangkunya sudah terlelap dalam tidurnya.
"Ini lagi. Sok-sokan ngikut tapi gak nyambung," gumam Alvaro.
"Memangnya ada apa sih sampai kamu nendang-nendang gitu?" tanya Reyhan penasaran.
Deg!!!
Jantung Alvaro langsung berdetak kencang setelah mendengar pertanyaan dari Reyhan. Ia kembali teringat dengan mimpi aneh nan menyeramkannya. Bahkan mungkin setiap kejadian di dalam mimpi itupun ia masih mengingatnya, termasuk apa yang si kakek tua itu katakan padanya.
Alvaro menoleh ke belakang kursinya untuk mengecek keadaan ketiga sahabat perempuannya. Hanya kesunyian yang ia dapatkan. Ia juga hanya melihat ketiga perempuan itu seolah-olah sudah tak bisa bergerak sama sekali. Mata mereka tertutup sempurna dan hanya menyisakan suara napas serta tetesan keringat yang telah membasahi pipi mereka.
"Hufff... aku punya firasat buruk tentang kegiatan ini," ucap Alvaro sedikit berbisik.
"Maksudnya?" tanya ketiga lelaki itu bersamaan. Bahkan si Ihsan pun sampai mendekatkan kepalanya ke depan wajah Alvaro.
Alvaro langsung memberi isyarat dengan menaruh telunjuknya di bibirnya berharap mereka tak mengeluarkan nada bicara keras agar tak menarik perhatian teman-temannya yang lain.
"Maksudnya?" ulang Reyhan dengan berbisik.
"Kita tak seharusnya melanjutkan kegiatan ini!" ucap Alvaro lagi yang membuat mereka semakin bingung.
"Kau bicara apa sih?" tanya Reyhan semakin penasaran.
"Entahlah. Aku tak tahu secara pasti apa firasatku ini benar atau salah. Tapi yang pasti ini benar-benar buruk. Sebaiknya kita batalkan study tour kita!" jawab Alvaro.
"Coba ceritakan mimpimu!" pinta Imam.
Alvaro pun langsung menceritakan mimpinya sedetail mungkin. Tentang hutan, rumah tua di tengah hutan, 4 hantu hitam bermata merah bertaring tajam, dan bahkan tentang ucapan si kakek yang seolah-olah memberi peringatan untuk dia dalam bahasa yang tak ia mengerti.
"Balik'o ning omahmu, Le! Iki dudu panggonmu," ucap Alvaro menirukan ucapan si kakek dengan nada bicara yang dibuat-buat.
"Kira-kira begitulah ucapan si kakek itu. Apa kalian mengerti artinya?" tanya Alvaro.
"Pulanglah ke rumahmu, Nak! Ini bukan tempatmu. Itulah artinya," jawab Reyhan cepat.
"Lalu apa hubungannya dengan study tour kita?" tanya Ihsan.
"Kita nanti akan tinggal di vila, kan? Masalahnya saat aku dikejar oleh para hantu itu, aku seperti melihat vila berwarna putih yang jaraknya tak begitu jauh dari tempatku waktu itu," jelas Alvaro.
Nampak wajah mereka bertiga langsung menegang dan takut jikalau akan ada hal buruk yang menimpa mereka.
"Kalau memang beneran akan terjadi hal yang tidak kita inginkan, sebaiknya kita batalkan perjalanan ini!" usul Reyhan.
"Masalahnya mereka tak akan percaya dengan mudah, Rey," jawab Alvaro.
"Sebaiknya kita berdoa saja supaya tak terjadi hal-hal yang tak kita inginkan!" ucap Imam dengan suara dinginnya.
Bus terus melaju mengikuti ujung jalanan beraspal itu. Hingga tak terasa, kendaraan besar berbentuk persegi panjang dengan 4 rodanya itu mulai memasuki kawasan yang jauh dari pemukiman. Kanan kiri jalan hanyalah hutan belantara yang entah di mana ujungnya. Untungnya keadaan masih siang hari. Andai ini malam, mungkin Alvaro sudah merasakan ketidak nyamanan dengan kehadiran sosok-sosok menyeramkan yang menghuni tempat itu.
Alvaro melihat sekeliling. Pepohonan yang nampak rindang dengan semak-semak yang hijaunya sangat nyaman untuk dipandang telah memanjakan matanya. Namun di balik keindahan itu ternyata ada nuansa menyeramkannya. Tentu saja iya. Ini kawasan hutan. Sebuah tempat yang sangat jarang dilalui oleh para manusia. Walaupun deretan hijaunya pepohonan serta tiupan angin yang terasa begitu mesra telah menghipnotis para manusia yang berada di situ, tetap saja unsur kengeriannya masih tak bisa dihilangkan.
"Aku kayak pernah ke tempat ini," gumam Alvaro sambil terus melihat jalanan di sampingnya. Ia sesekali juga melihat depan belakang. Namun yang didapatnya lagi-lagi hanya pepohonan, langit dan tentu saja jalanan.
Ia merasakan seperti dejavu. Entah kenapa tempatnya berada kini seolah-olah pernah ia datangi sebelumnya. Padahal bisa dibilang inilah pertama kalinya ia datang ke tempat itu.
"Sepi sekali tempat ini."
"Iya. Bahkan sedikit banget kendaraan yang lewat sini."
"Benar tuh. Serem banget, ya?"
"Kalau nanti tiba-tiba ada hantu, gimana?"
"Tenang aja Del. Jika ada hantu, aku pasti akan ngelindungin kamu. Hantu ma kecil buatku. Aku gak pernah takut sama yang namanya hantu."
Berbagai ocehan dari teman-teman Alvaro terdengar saling bersahut-sahutan. Namun tiba-tiba Alvaro dibuat terkejut dengan kehadiran sesosok perempuan berdaster putih dengan wajah penuh darah sedang menatap marah ke arahnya. Bukan, lebih tepatnya ke bus yang ditumpanginya.
"Arga! Jangan berbicara yang tidak-tidak di tempat seperti ini walaupun itu hanya sebuah candaan!" tegur Alvaro pada lelaki yang ia panggil Arga.
"Memang kenapa? Lagipula aku ini beneran gak takut sama yang namanya hantu," balas si Arga.
"Terserah. Yang penting aku sudah memperingatkan kamu," ucap Alvaro yang mendadak dingin.
Alvaro kembali memandang ke luar jendela, sedangkan Arga seperti kurang suka dengan sikap Alvaro kepadanya. Hal itu dibuktikan dengan lirikan matanya yang sangat sinis kepada Alvaro. Padahal sebenarnya niat Alvaro berbuat demikian pun baik. Ia tak mau terjadi apa-apa pada teman-temannya.
"Semoga tidak terjadi apa-apa," batin Alvaro.