Bab 15

2999 Words
Teriakan keras terdengar begitu memilukan. Sebuah teriakan yang menandakan kesakitan hebat yang dialami oleh seseorang, dan orang yang mengalaminya tidak lain dan tidak bukan adalah si penjahat itu. Ternyata serangan dari Ihsan itulah yang menyebabkan dia berteriak hebat. Beberapa detik yang lalu Ihsan memang melakukan serangan berupa tendangan yang mengarah ke bagian vital sekaligus bagian yang sangat sensitif bagi para lelaki. Alhasil sedangannya itu berdampak besar untuk kemenangan dia dan Reyhan dalam pertarungan panjang itu. Bahkan akibat serangan sederhana seperti itu, bisa membuat si tulang besi itu tak bisa berdiri lagi. Ia duduk jongkok sembari mencoba menghilangkan rasa sakitnya. Namun tak semudah itu untuk menghilangkan serangan dengan dampak derita 1000 tahun itu. Tak peduli dengan sang musuh yang mulai tak berdaya, Reyhan tanpa ampun langsung menghantam kepala penjahat itu dengan tinjunya. Alhasil, si penjahat itupun terpelanting ke belakang dan meringis kesakitan. Melihat kesempatan emas itupun Reyhan bergegas untuk mengunci pergerakan sang musuh. Setelah itu ia lakukan, hal terakhir yang harus dilakukan hanyalah mengikat tubuh si musuh dengan tali. "Benar kan, mereka menang," ucap Imam santai tanpa ada rasa khawatir sedikitpun. Imam dan Alvaro sedari tadi memang hanya menonton pertarungan mereka. Bagi Alvaro sih wajar saja, secara napasnya sudah tak kuat lagi untuk digunakan berkelahi. Namun bagi Imam, padahal ia masih punya tenaga yang cukup banyak untuk membantu Ihsan dan Reyhan, tapi dengan tanpa berdosanya ia malah hanya duduk santai menikmati pertarungan mereka. Sementara itu, Delia, Nanda dan Ocha terlihat sangat cemas dan takut, sampai-sampai sedari tadi tak ada pergerakan sedikitpun dari mereka. Mereka hanya berdiri mematung seperti halnya para manusia yang lainnya di tempat itu. Namun ketika Ihsan dan Reyhan sudah berhasil melumpuhkan sang penjahat, mereka pun akhirnya terbebas dari rasa-rasa itu. "Alvaro, Imam, Reyhan, Ihsan! Kalian gak apa-apa?" teriak Nanda. "Menurutmu?" tanya Reyhan balik dengan gaya sombongnya. Bersamaan dengan datangnya ketiga wanita itu ke tempat di mana Alvaro, Imam, Ihsan dan Reyhan berada, para manusia yang berada di situpun melakukan sorakan-sorakan yang sangat b*******h. Mereka menganggap Alvaro dan teman-temannya adalah para pahlawan yang telah menyelamatkan hidup mereka. Agak canggung memang, berada di situasi di mana menjadi sorotan banyak pasang mata. Alvaro dan yang lainnya hanya bisa menghela napas pelan, muak dengan teriakan-teriakan para manusia itu. Apalagi saat mendengar mereka mencaci maki si penjahat yang sudah tak berdaya. Kenapa baru sekarang mereka berani melakukan hal demikian? Ke mana mereka sedari tadi? Setelah semuanya berakhir, mereka baru bisa mengeluarkan keberanian mereka masing-masing. Entah bagaimana bentuk otak mereka hingga bisa-bisanya melakukan hal demikian. *** "Terima kasih atas bantuan kalian, adik-adik. Oh ya, sidik jari yang berada di gagang pisau itu memang benar sidik jari salah satu pelaku. Kami akan menghukum mereka dengan hukuman yang seberat-beratnya," ucap si Polisi. "Baik Pak, terima kasih. Saya harap si pelaku bisa dihukum mati atau paling tidak penjara seumur hidup. Nyawa harus dibayar nyawa," ucap Alvaro. "Kalau begitu, kami pamit, Pak," ucap Reyhan. Alvaro memang sengaja membawa pisau yang ia temukan di tempat kejadian terbunuhnya Lio. Ternyata pisau itu bisa menjadi barang bukti utama di samping bukti dari para saksi yang melihat dengan langsung kebrutalan dua orang itu. Di sisi lain, apa yang dirasakan Alvaro saat ini hanyalah berupa kekesalan, padahal seharusnya dia senang karena si penjahat telah tertangkap. Namun entah kenapa setiap kali melihat wajah kedua penjahat itu, ia seperti mempunyai dendam tersendiri pada mereka. "Kerja yang bagus, teman-teman," ucap Alvaro. Ia dan teman-temannya kini masih berjalan menyusuri jalanan. Rencananya besok mereka baru akan pulang ke kampung halaman. "Jangan memaksakan diri kamu seperti tadi lagi, Al!" sahut Delia. "Iya nih. Kenapa sih, Al. Kamu itu keras kepala banget?" tanya Nanda. "Mana kutahu. Setiap kali mataku melihat kalian dalam bahaya, maka tubuhku akan bergerak dengan sendirinya untuk bisa menolong kalian. Aku juga tak tahu mengapa itu bisa terjadi. Aku bahkan tak bisa menghentikan tubuhku sendiri setiap kali hal semacam itu terjadi," jawab Alvaro. "Aku tahu alasannya," sahut Reyhan. "Karena kita adalah...." Reyhan menggantung ucapannya yang membuat bingung teman-temannya. "Kita adalah sahabat!" ucap Reyhan dengan nada yang agak keras. Sontak berbagai bentuk senyuman pun nampak di wajah mereka. Mungkin ada satu julukan lagi yang cocok untuk Reyhan, yaitu Reyhan sang pengabdi persahabatan. Di tengah-tengah perjalanannya, Alvaro mulai merasakan hawa yang tidak enak. Hawa yang tidak enak itu tentu saja adalah sebuah tanda dari kehadiran sesuatu yang tak kasat mata. Bola mata Alvaro bergerak liar mencari sesuatu tersebut. Ternyata mempunyai kemampuan untuk bisa melihat mereka memanglah hal yang sangat menakutkan. Bagaimana tidak? Baru saja Alvaro menengok ke arah kanannya, ia sudah disuguhkan oleh penampakkan tante kunti yang dengan santainya duduk di atas pohon besar. Walau bagaimanapun juga, Alvaro tetap saja merasakan takut dan pastinya terkejut ketika melihat penampakkan itu. Ia percaya bahwa bukan cuma si tante kunti saja yang berada di tempat tersebut. Pasti masih banyak makhluk-makhluk lain yang entah kenapa tak bisa ia lihat. Memang sih Alvaro bisa melihat mereka, tapi dalam keadaan tertentu, pengelihatannya hanyalah seperti pengelihatan manusia pada umumnya. Alvaro mengalihkan pandangannya ke arah kiri. Ia tahu jika hantu terus-terusan ditatap, itu sama saja dengan mengusiknya. Namun lagi-lagi, ia harus melihat sosok tak kasat mata lagi. Kali ini bukanlah jenis sosok menyeramkan lagi, melainkan arwah manusia yang telah mati. Sosok yang Alvaro lihat saat ini tak lain adalah sosok si Lio. Ia terlihat tersenyum ke arah Alvaro. Alvaro tahu bahwa arti senyum itu adalah senyuman tanda terima kasih. Alvaro pun membalas senyuman sosok Lio itu. Aneh memang, baru kali inilah Alvaro melihat ada sosok tak kasat mata yang bisa tersenyum. "Semoga tenang di alam sana, kawan," ucap Alvaro dalam hati. *** Sang penjahat telah tertangkap. Tidak ada alasan lagi bagi Alvaro dan teman-temannya untuk tetap berada di kota itu. Pagi ini mereka akan kembali ke kampung halaman. Namun sebelum kembali, entah kenapa hati mereka tergerak untuk mendatangi si nenek yang pernah memberikan tempat berteduh di kala hujan kemarin. Tak lupa juga mereka membawa bingkisan makanan sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan nenek itu. Kejahatan mungkin memang lebih pantas dibalas dengan kebaikan, meskipun dalam beberapa hal juga harus dibalas dengan kejahatan pula, tapi kebaikan tentu saja juga harus dibalas dengan kebaikan. Kini tubuh mereka bertujuh berhenti di depan sebuah rumah yang amat sangat menyeramkan. Ya, itulah rumah si nenek tua yang pernah memberikan tempat bersinggah untuk mereka. Cuma bermaksud untuk memberikan sesuatu sebagai ungkapan rasa terima kasih, itulah tujuan utama ketujuh remaja itu datang ke tempat itu lagi. Meski di samping karena itu juga karena hati mereka mengatakan bahwa mereka harus kembali menemui si nenek. Alvaro mengucapkan kata sebagai tanda akan kedatangannya kepada si tuan rumah. Berkali-kali ia berucap, tapi si tuan rumah tak kunjung ke luar juga. Ada perasaan cemas di hati Alvaro. Bukan Alvaro saja, tapi juga semuanya. Apa mungkin terjadi sesuatu pada si nenek itu? "Apa kita langsung masuk aja," usul Imam. "Jangan! Kita tak boleh seenaknya masuk rumah orang lain tanpa seizin pemiliknya," sahut Reyhan. Mereka pun sibuk dengan pikirannya masing-masing, bingung mau berbuat apa. Mau asal masuk, tapi takut nggak sopan. Akan tetapi kalau tidak masuk, takutnya terjadi apa-apa pada si nenek. Sialnya dalam keadaan yang seperti itu kemampuan aneh Alvaro tak kunjung ke luar. Lama mereka terdiam, akhirnya Alvaro mulai melangkah maju dan berniat untuk masuk ke rumah itu. Ia tak peduli lagi dengan adab bertamu. Ia akan menyesal jika seandainya terjadi apa-apa pada si nenek itu dan ia tak bisa menolongnya sama sekali. Sekarang di hati dan pikirannya hanya ada perasaan cemas. Cemas dengan keadaan si nenek tua itu. Walau bagaimanapun juga ia sangat yakin kalau sang nenek sedang berada di rumah. Namun ia tak tahu tentang keadaannya. "Kalian ngapain di sini?" Tepat ketika Alvaro mendorong pintu depan rumah itu, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang berhasil membuatnya kaget. Ia dan yang lainnya langsung menghadap ke arah sumber suara. Mata Alvaro menyorot tajam kepada sosok lelaki paruh baya yang sedang berdiri beberapa meter di depannya. Ia menatap Alvaro dan yang lainnya dengan tatapan penuh kecurigaan. "Kami ingin bertemu nenek-nenek pemilik rumah ini, Paman. Apa paman mengenalnya?" tanya Reyhan. "Nenek-nenek...?" Lelaki paruh baya itu tiba-tiba mengernyitkan keningnya. Seolah-olah ada sesuatu yang ia ketahui, tapi cukup berat untuk ia ucapkan. Alvaro yang sedari tadi memerhatikan lelaki itupun merasakan ada kejanggalan. Namun ia sendiri tak tahu apa kejanggalan yang ia rasakan itu. "Jangan bilang kalian pernah bertemu nenek-nenek itu!" ucap lelaki itu. "Kami memang pernah bertemu beliau, Paman. Kemarin beliau memberikan tempat berteduh untuk kami saat hujan deras," sahut Delia. Lelaki itu menghembuskan napas pelan. Wajahnya tiba-tiba berubah pucat, seolah-olah ada suatu ketakutan tersendiri dari dalam dirinya. "Ke marilah!" ucap si lelaki itu. Alvaro dan yang lainnya langsung menuruti perintahnya. Mereka menjauhi rumah tua itu dan mendekati si pria yang belum diketahui identitasnya itu. "Jauhi rumah itu, atau kalian akan mengalami hal-hal yang tidak kalian inginkan!" ucapnya memulai pembicaraan. "M-maksudnya?" tanya Reyhan agak gugup. "Rumah itu sebenarnya adalah rumah kosong yang tidak berpenghuni. Penghuninya sudah lama meninggal dunia karena insiden pembunuhan. Ia terbunuh dengan cara yang sangat mengenaskan. Kepalanya terputus akibat sabetan pedang dari si pembunuh, dan nenek-nenek yang kemarin kalian temui itulah si penghuni rumah ini dulunya," jawab lelaki itu. "Jadi maksudnya, nenek itu hantu?" tanya Alvaro. "Ya, kalian beruntung karena kalian punya perangai yang baik. Seandainya kemarin kalian berbuat keburukan di sini, maka sudah bisa dipastikan kalau kalian tak akan pernah bisa melihat dunia ini lagi," jawab lelaki itu. Wajah Alvaro dan yang lainnya langsung menampakkan ketakutan yang luar biasa. Padahal cerita si lelaki yang bahkan tak mereka kenal itu belum tentu kebenarannya. Namun dari raut wajah dan nada bicaranya benar-benar menunjukkan keseriusan. "A-apa benar?" tanya Alvaro. "Huft... soal percaya tidak percaya, itu terserah kalian. Tapi sudah banyak orang yang mengalami hal yang sama seperti kalian. Ada yang bisa lolos, ada juga yang tewas secara mengenaskan," ucap lelaki itu. "Maka dari itu saya minta kalian untuk menjauhi rumah itu. Bukannya apa-apa. Saya tidak mau ada korban jiwa lagi. Kalian memang punya sifat yang baik, tapi bisa saja sifat kalian nanti berubah dan malah akan menimbulkan petaka untuk kalian," lanjutnya. Hanya satu ekspresi yang kini mereka rasakan, yaitu ketakutan. Bahkan seorang Nanda sekalipun, yang dulunya tak pernah percaya dengan adanya hantu, kini ia benar-benar menggigil ketakutan. Berbeda dengan Alvaro. Di saat ke enam temannya tak berani memandang rumah itu, ia malah menggerakkan bola matanya secara liar untuk mengamati setiap penjuru rumah itu. Bukan berarti ia tidak takut. Ia juga merasakan apa yang teman-temannya rasakan, tapi rasa penasaran itulah yang membuatnya memberanikan diri untuk melakukan hal itu. Sekarang, si lelaki paruh baya itu sudah pergi dari tempat itu dengan meninggalkan sebuah larangan keras agar Alvaro dan teman-temannya tak mendekati rumah tua itu. Namun entah kebodohan dari mana, sepeninggalan lelaki itu, mereka malah masih berdiri di dekat rumah itu. Parahnya lagi adalah si Alvaro. Ia benar-benar sangat penasaran dengan kebenaran cerita itu. Sedari tadi ia terus memandangi rumah tua itu demi mendapatkan sesuatu untuk dijadikan bukti akan kebenaran cerita dari si lelaki yang ia temui tadi. Namun hasilnya sia-sia saja. "Tak ada apa-apa di rumah itu, mungkin paman yang tadi hanya berkhayal. Ayolah jangan takut!" ucap Reyhan tiba-tiba. Padahal tadi ia juga ketakutan. "Sekarang ayo kita masuk!" ajaknya. "Lebih baik kita jauhi rumah ini. Soal kebenaran cerita orang tadi, mau tidak mau kita harus mempercayainya. Lagipula kita hanya pendatang di sini. Tak baik jika sebagai pendatang kita mengusik sesuatu yang tak menjadi urusan kita," ucap Alvaro. Reyhan mengepalkan tangannya dengan kuat. Jujur ia sangat tidak puas dengan kata-kata Alvaro. "Apa kau benar-benar kurang tidur, sehingga otakmu tak bisa kamu gunakan berpikir jernih untuk urusan yang satu ini? Kita tak kenal orang tadi. Bisa saja dia telah mencelakai nenek itu dan mengarang cerita bohong agar kita mengurungkan niat untuk masuk ke rumah ini," ucap Reyhan. "Alvaro, dan juga yang lain. Apa mungkin ada hantu yang berperilaku sebaik itu? Kalian ingat alasan yang diberitahukan orang tadi kenapa kita tak mengalami hal buruk di rumah ini? Padahal kemarin kita teriak-teriak, tapi nenek itu malah menyambut kita dengan baik," lanjut Reyhan. Alvaro dan yang lain hanya terdiam, terlebih lagi Alvaro. Sepertinya ada yang Alvaro sembunyikan dari teman-temannya, entah apa itu. "Mari Cu, silahkan masuk." Suara serak tiba-tiba terdengar menghiasi indra pendengaran mereka. Seketika itu juga mereka menengok, dan langsung melarikan diri. Apa yang sebenarnya terjadi? Hari-hari kelam selama peristiwa pencarian panjang yang dilakukan Alvaro dan kawan-kawannya untuk mencari para pembunuh Lio telah usai. Nenek penghuni rumah tua itupun sudah tidak ada kabarnya lagi setelah kejadian itu. Kejadian di mana saat Alvaro dan teman-temannya berada persis di depan rumah tersebut. Karena tak mengindahkan peringatan seorang pria yang mereka temui kala itu, mereka hampir mengalami malapetaka. Kenapa saat itu mereka lari terbirit-b***t dari rumah itu? Jawabnya adalah karena waktu itu mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana sang nenek yang pernah ia temui nampak dalam wujud yang sangat menakutkan. Sebuah wujud manusia tanpa kepala yang tangannya menggenggam erat kepalanya sendiri yang telah putus. Lebih menakutkannya lagi, kepala yang telah putus itu melotot ke arah mereka sambil mengucapkan kata. Hal itu benar-benar tak pernah mereka sangka. Nenek yang hari sebelumnya mereka temui masih dalam wujud manusia yang mempunyai perangai sangat baik, di hari berikutnya tiba-tiba wujudnya berubah drastis. Untungnya ketika melihat penampakan itu tak ada satupun dari mereka yang pingsan. Kalau seandainya ada pingsan, mungkin saja ia akan dibawa oleh sang nenek dan dijadikan teman, alias tidak akan pernah kembali lagi ke dunia manusia. Sudahlah! Sudah saatnya bagi mereka untuk melupakan hal itu. Biarlah hal itu menjadi kenangan yang terlupakan dan termakan oleh sang waktu. Rasanya untuk ke depannya mereka akan menghadapi segala macam rintangan maupun tantangan yang jauh lebih berat dari waktu itu. Berkat keberanian dan ketangkasannya dalam mengungkap kasus pembunuhan yang menimpa salah satu teman mereka, mereka pun mendapatkan penghargaan dari pihak kampus. Tak hanya itu, ketujuh anak manusia itu juga mendadak tenar di kalangan anak-anak kampus. Niat awal hanya mau menolong tapi pada akhirnya mereka mendapatkan balasan untuk ketulusan mereka. Memang benar bahwa semua kebaikan pasti akan berakhir dengan kebahagiaan. Kalau belum bahagia, berarti belum berakhir. "Nggak nyangka ya, akan jadi kayak gini," ucap Nanda dengan menampakkan senyum manisnya. "Iya. Padahal niat awal cuma mau nolong," sahut Alvaro. "Itulah kebaikan. Setiap hal yang kita lakukan demi kebaikan, pasti akan berakhir pula dengan hal yang baik," jelas Reyhan. "Heh, aturan dari mana tu? Aku berbuat baik terus ujung-ujungnya hasilnya buruk buatku," sahut Ihsan. "Kamu berbuat baik terus? Hahaha. Teman-teman, apakah nih orang pernah berbuat baik pada kalian?" tanya Reyhan. "Enggak," jawab mereka serentak. "Cih," decak Ihsan. Ada saatnya di mana mereka harus serius dan ada saatnya pula bagi mereka untuk bercanda, dan mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk bercanda. Si manusia bernama Lio itu sudah tenang di alam barunya. Urusannya dengan dunia sudah selesai. Para pembunuh itu telah tertangkap. Tak ada alasan lagi bagi Lio untuk terus menetap di dunia. Meskipun hantu Lio sudah tak akan ada lagi, bukan berarti Alvaro sudah tidak dihantui lagi. Kemampuannya yang entah harus disebut indra ke enam ataupun indigo itu benar-benar membuat hidupnya tidak tenang. Ia harus selalu menghindari tempat-tempat yang terbilang angker agar ia tak harus melihat wajah-wajah seram mereka. Namun seberapa kerasnya ia berusaha untuk menghindar, tetap saja dirinya masih melihat makhluk-makhluk seram semacam itu. Satu-satunya hal yang harus dan wajib ia lakukan adalah melawan rasa takut itu. Memang manusia hidup berdampingan dengan mereka. Karena itu sebagai manusia yang bisa melihat mereka, seperti Alvaro, itu adalah hal yang sangat berat. Bahkan bisa dibilang makhluk seperti pocong ataupun kuntilanak tingkat menyeramkannya masih berada di tingkat yang rendah. Kalau 2 makhluk seseram itu saja tingkat menyeramkannya masih berada di tingkat bawah, lalu bagaimana wujud makhluk yang lebih seram dari mereka? Namun lagi-lagi perlu diingat. Manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Manusia adalah makhluk yang lebih istimewa dibanding makhluk lainnya. Tidak sepatutnya manusia takut dengan hantu. Karena yang seharusnya ditakuti hanyalah Tuhan. *** Kini sudah 5 bulan lebih setelah kematian Lio. Lebih tepatnya beberapa hari setelah kelulusan semester. Alvaro dan sekelasnya berencana akan melakukan study tour ke puncak. Di sana mereka akan tinggal di sebuah vila besar yang tentunya sangat nyaman. Alvaro dan yang lain berteriak kegirangan ketika mendengar informasi tersebut. Ia sudah membayangkan betapa indahnya semesta kalau dilihat dari ketinggian. Pastinya langit di atas sana akan terlihat sangat dekat dan keindahannya bertambah berkali-kali lipat. Belum lagi suasana alam asri yang dipenuhi dengan pepohonan rindang di sekitarnya. Ah, rasanya sungguh mengasyikkan. "San, jangan lupa besok bawa koper!" ucap Alvaro. "Justru seharusnya kaulah yang pantas diperingatin, Al! Kalau si Ihsan gak perlu. Lha waktu nyari si pembunuh Lio aja dia bawa koper kayak orang mau pindahan," sahut Reyhan yang disambut dengan tawa mereka semua. "Itu juga gara-gara kamu. Coba aja kalau kamu bilang dari awal bahwa tujuan kita cuma mau nyari pembunuhnya si Lio, ya aku gak akan bawa koper," kata Ihsan. "Terus bawa apa, San?" tanya Imam. "Rumah," jawab Ihsan cepat. "Pinter. Teruskan bakatmu, Nak!" sahut Alvaro. *** Hari yang dinantikan pun tiba. Para mahasiswa sudah berkumpul di depan kampus. Dalam arti hanya mahasiswa jurusan sastra Indonesia. Entah kenapa pula Alvaro dan keenam sahabatnya itu punya minat yang sama pada jurusan tersebut. Jadi dengan begitu mereka bisa selalu bersama. 2 Bus besar telah terparkir di halaman kampus. Para dosen yang akan ikut serta dalam kegiatan study tour itu juga nampak sudah berada di sana. Bahkan salah satu dosen berambut botak yang biasa dipanggil Pak Togar kini sedang melakukan percakapan dengan sang sopir bus. "Oi, tunggu aku!" Dari kejauhan sana nampak seorang lelaki yang baru turun dari mobil mewah tengah berlari ke arah Alvaro dan yang lain. Ia berteriak heboh seperti orang kurang waras. Hal itu membuat beberapa orang yang berada di situ menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa sih, San, teriak-teriak gak jelas?" tanya Ocha. "Oh. Gak jelas, ya? Ya udah kalau gitu aku ulangi lagi biar jelas," kata Ihsan yang membuat teman-temannya tepuk jidat. "Gak perlu," ketus Nanda. Ihsan langsung melirik ke arah Nanda. Gadis yang merupakan sahabatnya itu dari dulu memang tak pernah berubah. Selalu saja jutek. Namun meski begitu, sebenarnya gadis yang bernama lengkap Dea Nanda Pramugita itu adalah gadis yang sangat peduli dengan teman-temannya. Hanya saja sifat juteknya itulah yang terkadang membuat teman-temannya kesal. "Gak bawa rumah?" tanya Alvaro tiba-tiba.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD