"Woi, bagi duit!"
Sungguh sebuah hal yang sangat mendebarkan terjadi, di kala di depan sana nampak 2 orang lelaki yang sedang menggertak seorang pedagang untuk mau memberikan uangnya. Parahnya, dari banyaknya orang di tempat itu, tak ada satupun yang berani membantu pedagang itu. Wajar sih, 2 lelaki itu sangat menyeramkan, terlebih lagi dengan pisau yang mereka pegang.
Alvaro mengamati kedua orang itu. Ia tak mau bertindak dulu, takutnya nanti malah berakhir fatal. Ia memerhatikan dengan seksama dari ujung kaki hingga ujung rambut. Sepertinya ia agak tidak asing dengan mereka. Ciri-cirinya, perawakannya. Ya, tidak salah lagi. Mereka itu adalah....
"Pembunuh Lio," ucap Alvaro pelan.
"Apa?" tanya Ihsan bingung.
"Mereka itu yang telah membunuh Lio. Cepat suruh yang lain ke sini!" ucap Alvaro.
Ternyata tak perlu susah-susah untuk mencari, mereka sudah datang dengan sendirinya. Alvaro yakin sekali bahwa mereka itu adalah orang yang telah membunuh Lio. Kini tugas dia hanya tinggal meringkus mereka. Namun tentu saja ia tidak bisa melakukannya sendiri. Apalagi dengan kondisi tubuhnya yang masih tak begitu baik. Orang-orang di sekitar juga sepertinya tak bisa diharapkan. Satu-satunya yang menjadi harapannya adalah teman-temannya. Mungkin kalau Alvaro, Ihsan, Imam dan Reyhan bersatu, pasti akan lebih mudah untuk mengalahkan 2 pembunuh itu.
Sembari menunggu bala bantuan datang, Alvaro terus mengamati kedua orang itu. Tindakannya sudah semakin semena-mena saja. Mereka mengobrak-abrik barang dagangan si penjual tanpa ada rasa belas kasihan sedikitpun. Sementara itu para penjual lain hanya berpura-pura tidak tahu soal kejadian itu.
Alvaro mengepalkan tangannya kuat-kuat. Suara gertakan giginya terdengar cukup kencang hingga membuat orang-orang yang berada di sekitarnya pun mendengarnya.
"Jangan cari masalah dengan mereka, Mas!" bisik sang penjual nasi goreng yang tadi kepada Alvaro. Ia sepertinya sadar akan rasa geram Alvaro kepada kedua orang itu.
Alvaro benar-benar merasa menjadi orang yang tidak berguna saat ini. Di depannya itu sedang ada orang yang butuh bantuan, tapi dia tak mampu untuk membantunya. Perasaannya sudah tak menentu. Ia ingin lari dan menghajar kedua orang itu saat ini juga. Namun kalau itu sampai ia lakukan maka taruhannya adalah nyawa. Bahkan jika Alvaro sedang dalam kondisi fisik yang baikpun belum tentu ia bisa mengalahkan mereka.
"Woi kalian!"
Tiba-tiba Alvaro mendengar sebuah suara teriakan. Ia pun langsung menoleh dan mendapati Imam dan Reyhan sedang berada di sana. Sementara itu, Delia, Ocha dan Nanda berlari pelan mendekati Alvaro, Ihsan dan tentu saja sang wanita penjual nasi goreng itu.
Alvaro tersenyum ketika para sahabatnya itu telah sampai untuk memberikan bantuan. Kali ini ia yakin kalau kedua orang itu akan kalah. Kenapa ia bisa seyakin itu? Karena dia percaya pada teman-temannya. Percaya bahwa nantinya di dalam pertarungan, mereka akan melindungi satu sama lain.
"Kalian lama sekali, kawan. Baiklah, sekarang, dengan kekuatan kerja sama kita, kita pasti akan menang," ucap Ihsan sok puitis.
Duo penjahat itu tiba-tiba memberikan lirikan tajamnya ke Ihsan. Benda tajam yang berada di tangannya itu terlihat cukup menyeramkan. Seolah-olah, ujungnya yang runcing itu telah siap menusuk apa saja, terutama tubuh Alvaro dan kawan-kawannya.
"Woi bocah! Mau apa lo semua?" tanya salah satu dari mereka.
"Masih ingatkah kalian pada seseorang yang kalian bunuh saat malam hari itu?" tanya Alvaro balik.
Wajah mereka tiba-tiba menjadi tegang. Ada ketakutan tersendiri yang mereka rasakan jika hal besar itu sampai terungkap. Jelas mereka itu tak akan pernah mau masuk ke jeruji besi. Namun apapun alasannya, mereka harus mempertanggung jawabkan perbuatan itu di depan hukum.
"Hahahaha, jadi lo mau nyusul tu orang?" tanya si penjahat lagi.
"Kami tak akan pernah menyusul orang yang kau bunuh itu, karena dia adalah teman kami. Kami tidak pernah merasa berpisah dengan dia. Selama ini dia selalu bersama kami. Lalu, kau suruh kami menyusul dia ke mana, sedangkan setiap detiknya dia itu selalu bersama kami?" ucap Alvaro. Ia teringat dengan saat-saat bersama Lio waktu Lio masih hidup. Ya meski sebenarnya tak banyak kenangan yang terjadi antara ia dan Lio.
Duo penjahat itu mulai berasa tak nyaman. Sebenarnya dari awal mereka juga sudah merasa gelisah. Bagaimana mungkin perbuatan kejam yang bahkan mereka pastikan tak ada yang mengetahuinya, kini malah diketahui oleh segerombolan anak remaja?
Tanpa banyak bicara lagi Reyhan dan Imam maju terlebih dahulu untuk melumpuhkan 2 orang itu. Tak peduli dengan benda tajam yang mereka pegang, Reyhan dan Imam dengan percaya dirinya langsung berdiri berhadapan dengan para penjahat itu. Satu lawan satu, hingga setelah itu akan menjadi 2 lawan satu alias 4 lawan 2 ketika Ihsan dan Alvaro ikut bergabung. Namun ketika Alvaro ingin ikut bergabung, 3 perempuan itu melarangnya. Meski Alvaro tetap bersikeras untuk ikut, tetap saja keinginannya itu tak dikabulkan oleh 3 teman perempuannya itu. Nampaknya mereka sudah menyadari tentang keadaan Alvaro.
"Jangan mencegahku!" ucap Alvaro dingin.
"Kamu jangan ikut! Percayakan semuanya pada teman-temanmu!" ucap Delia.
"Mana mungkin aku bisa berdiam diri di sini, sementara mataku melihat para sahabatku sedang dalam bahaya?" ucap Alvaro masih dengan sikap dinginnya.
"Kami tahu, Al. Tapi, melihat keadaanmu yang sekarang, kalau kamu ikut ke sana, kamu malah akan membebani mereka saja," kata Nanda.
"Percayalah bahwa mereka akan memenangkan pertarungan ini!" lanjut Ocha.
Alvaro terdiam. Bola matanya melihat sekeliling. Melihat para patung bernyawa yang tak memberikan bantuan sedikitpun kepada dia dan teman-temannya. Agak kesal memang, tapi mau bagaimana lagi?
Imam berhadapan satu lawan satu dengan si penjahat itu. Badan Imam yang besar dan kemampuan berkelahinya yang cukup mumpuni membuatnya bisa menandingi si penjahat itu meski umurnya yang berbeda jauh. Ditambah lagi si penjahat itu juga membawa senjata tajam, sedangkan Imam cuma memakai tangan kosong.
Di sisi lain, Ihsan dan Reyhan saling bekerja sama untuk mengurus penjahat yang satunya. Ternyata Ihsan yang biasanya terlihat tak bisa apa-apa, kini malah berubah menjadi seseorang yang sangat menakutkan. Berbagai pukulan dan tendangan ia lancarkan dan semuanya kena. Namun si penjahat itu benar-benar kuat. Serangan gabungan antara Ihsan dan Reyhan sedari tadi tak membuatnya terjatuh. Jangankan terjatuh, kesakitan saja nampaknya juga tidak.
Merasa bahwa dirinya sulit untuk mengalahkan orang yang satu itu, Reyhan mundur sejenak untuk mengatur strategi. Ihsan pun sama, ia mengikuti Reyhan yang terlebih dahulu mundur.
"Apa-apaan orang ini. Apa bisa aku mengalahkannya? Bahkan seranganku dan Ihsan pun tak mempan kepadanya. Huff... apa yang harus aku lakukan?" pikir Reyhan.
Reyhan terus berpikir. Meskipun begitu ia juga tak menghilangkan kewaspadaannya kepada si manusia bertulang besi di hadapannya itu.
"Tu orang makannya besi atau batu, ya? Mukul bukannya menyakiti malah tersakiti," batin Ihsan tentang orang yang sedang ia lawan saat ini.
Di sisi lain, Imam masih tak gencar-gencarnya melakukan jual beli serangan. Biarpun sendirian, tenaganya benar-benar luar biasa. Bahkan sampai sekarang pun ia masih bisa mengimbangi perlawanan si penjahat itu.
Seperti pertarungan manusia berbadan besar pada umumnya, pastilah gerakannya tak seberapa cepat. Namun mungkin hantamannya itulah yang sangat terasa. Satu lagi, mungkin sudah kodrat bagi manusia berbadan besar bahwa kalau bertarung, pasti lebih mengandalkan kekuatan tangannya dan jarang menggunakan kakinya.
Alvaro menggenggamkan kedua tangannya erat-erat. Giginya pun ia gertakan. Ia tak bisa menahan diri lagi. Rasanya tangannya sudah cukup gatal ingin memberikan sebuah kenangan ke wajah para penjahat itu. Keinginannya untuk turun tangan diperkuat ketika ia melihat Imam yang kehilangan keseimbangannya karena terkena tendangan dari sang musuh.
Melihat hal itu, Alvaro langsung berlari menerobos ketiga teman perempuannya yang tadi menghadangnya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan keselamatannya. Baginya, lebih sakit rasanya jika ia melihat sahabatnya terbunuh tepat di depan matanya sendiri daripada dirinya sendiri yang terbunuh.
"Alvaro!" teriak ketiga gadis itu bersamaan.
Alvaro tak memperdulikannya. Sekali lagi, dia bukanlah seorang pecundang yang selalu hidup dalam bayang-bayang orang lain. Ia juga bukanlah orang yang patut untuk dilindungi, karena sekarang ini harusnya dialah yang melindungi.
Sekali tendangan, Alvaro berhasil membuat sang musuh terpental. Alhasil, niat buruknya pun gagal dan nyawa Imam terselamatkan. Namun tak semudah itu. Belum sempat Alvaro menarik napas lega, tiba-tiba dengan cepat sang musuh kembali menyerang. Telat sedikit saja menghindar, maka akan berakibat fatal bagi Alvaro. Untungnya dengan sigap ia langsung menghindari serangan mematikan itu.
Beralih ke pertarungan antara Ihsan dan Reyhan melawan si penjahat yang satunya. Kedua lelaki itu sudah mulai merasa putus asa. Semua serangannya tak berarti apa-apa bagi si penjahat. Reyhan melihat sekeliling. Dari banyaknya manusia di tempat itu, tak ada satupun yang berinisiatif untuk membantu. Mungkin karena faktor usia, mengingat kebanyakan lelaki di tempat itu hanyalah seorang lelaki yang sudah lanjut usia. Namun tak bisakah mereka membantu? Setidaknya mencari bantuan ke warga terdekat.
Reyhan mengerutkan keningnya. Percuma berharap pada orang sekitar. Lagipula, ini juga merupakan tujuan utamanya datang ke kota itu. Mau tidak mau ia dan teman-temannya harus berjuang mati-matian meskipun tak ada bala bantuan.
"Tidak mungkin jika dia tidak punya kelemahan. Semua orang pasti punya kelemahan, bahkan untuk orang sekuat dia juga," batin Reyhan. Ia tetap memasang kuda-kuda bertahan.
"Sekarang, yang perlu kulakukan adalah mencari titik lemahnya saja," batin Reyhan lagi.
Reyhan menatap pria yang di depannya itu dengan tatapan tajam. Bola matanya bergerak liar untuk mencari di mana titik lemah si lelaki itu.
"Ihsan, dengarkan aku! Jangan menyerah dan mengaku kalah! Kau tahu, semua orang pasti punya kelemahan. Sekarang, yang kita perlukan hanyalah kekuatan tekad pantang menyerah. Tak peduli sekuat apapun dia, dia pasti akan kalah dengan kekuatan terbesar yang pernah ada di bumi itu," ucap Reyhan pelan kepada Ihsan yang berada di sampingnya.
Ihsan mengangguk paham. Entah dia paham beneran ataupun hanya untuk gaya-gayaan agar ia tidak dihina sebagai orang yang tidak pahaman. Namun entah kenapa pula raut wajah Ihsan yang sekarang ini jauh berbeda dari sebelumnya. Raut wajah yang menandakan akan keseriusannya, dan bahkan tak sedikitpun menampakkan raut wajah bodoh seperti biasanya.
***
Alvaro melancarkan serangan hebat ke penjahat itu. Sebuah tendangan ciri khasnya dengan memanfaatkan telapak kaki untuk membuat sang target terpental ke belakang. Benar saja, tak ada yang bisa menggambarkan seberapa kuat dan cepatnya tendangan dari seorang Alvaro Aditama itu. Sekali tendang saja, penjahat yang berukuran tubuh jauh lebih besar dari Alvaro itu benar-benar terpental ke belakang dan hampir jatuh. Melihat hal itu, Imam langsung melakukan serangan tambahan dengan melakukan serangan yang sama seperti apa yang Alvaro lakukan. Alhasil, si penjahat berbadan besar itupun jatuh tersungkur ke tanah.
Si patung-patung bernyawa itu cuma bisa bersorak heboh ketika Alvaro dan Imam berhasil menjatuhkan salah satu penjahat itu. Sangat menyebalkan, tapi setidaknya mereka masih memberikan semangat untuk Alvaro dan teman-temannya.
Si penjahat berbadan besar itu bangkit kembali dengan memegangi dadanya yang terasa sakit akibat dua serangan hebat secara beruntun itu. Alvaro dan Imam kembali bersiap. Mereka berdua yakin kalau serangan yang kali ini akan benar-benar membuat penjahat itu bisa dilumpuhkan. Mereka bersiap memasang kuda-kuda dan bersiap pula untuk menangkis ataupun menghindari serangan dari si penjahat itu.
Emosi tak akan pernah mengalahkan ketenangan. Setidaknya itulah yang Alvaro percayai. Setelah mendapat dua serangan beruntun itu, nampaknya emosi sang musuh benar-benar naik. Akibatnya ia tak bisa berpikir jernih dan hanya bisa asal serang saja. Terlalu mudah buat Alvaro dan Imam untuk menangkis dan menghindari serangannya. Hingga akhirnya, Alvaro menendang tangannya dan membuat benda tajam yang dipegangnya terlempar ke atas dan jatuh menusuk tanah. Melihat ada kesempatan emas, Imam langsung melancarkan serangan susulannya dengan menyapu kaki si penjahat hingga akhirnya jatuh lagi untuk yang kedua kalinya. Sungguh kerja sama yang hebat antara kedua anak manusia ini.
Alvaro mengambil pisau itu dan langsung menodongkannya kepada si penjahat. Tentu saja melihat hal itu, ia tak bisa berbuat apa-apa lagi dan akhirnya mengaku kalah. Para patung bernyawa itupun memberikan bantuan berupa tali yang digunakan untuk mengikat si penjahat itu. Satu sudah beres, dan kini tinggal satu sisanya lagi.
"Kali ini kupercayakan semuanya pada kalian," ucap Alvaro pelan. Napasnya benar-benar sangat memburu. Ia menjatuhkan lututnya ke tanah. Tentu saja hal itu membuat Imam yang berada di sampingnya merasa khawatir.
"Alvaro, kau tak apa-apa?" tanya Imam cemas ketika melihat keadaan Alvaro.
"Tenang saja. Sekarang lebih baik kamu membantu mereka saja!" ucap Alvaro.
"Aku capek, Al. Males juga," jawab Imam dengan santainya.
Beberapa meter di depan sana nampak Reyhan dan Ihsan masih melakukan pertarungan dengan si penjahat bertulang besi itu. Untuk melawan penjahat yang seperti itu, mereka sampai harus mengepungnya dari depan dan belakang.
Reyhan mulai melancarkan pukulannya, tapi dengan mudahnya ditangkis oleh si penjahat. Namun Reyhan bukan orang yang bodoh. Ia pun langsung memberikan isyarat kepada Ihsan yang memang bertugas menyerang dari belakang agar segera melakukan serangannya.
"ARRRRGGGGG"