Bab 13

2017 Words
Walaupun sudah berada di gendongan Imam, Alvaro masih merasakan nyeri yang luar biasa di dadanya. Namun untungnya, perlahan nyeri itupun semakin menghilang dan akhirnya hilang. Mereka bertujuh akhirnya berhasil memasuki kawasan perumahan penduduk. Tiada lagi yang namanya gelap. Kini di depan mereka terpancar kemerlip cahaya lampu jalanan serta terangnya cahaya lampu-lampu rumah penduduk. Sekarang, yang harus mereka lakukan adalah mencari tempat istirahat, dan nampaknya mereka tak perlu khawatir lagi karena sudah ada tempat yang bisa mereka tempati untuk istirahat. "Kayak petugas keamanan aja kita nih, tidur di pos ronda mulu," ucap Ihsan kesal. "Syukuri aja, San. Hitung-hitung juga kita ikut menjaga keamanan di sini," ucap Reyhan. "Mam, gimana keadaan Alvaro?" tanya Reyhan. Imam pun langsung menoleh ke belakang. Aneh memang, dia yang menggendong, tapi seakan-akan tak memperdulikan yang digendongnya. Imam melihat kepala Alvaro tengah bersandar di bahu kanan Alvaro, dan entah apa yang terjadi, Imam seperti mendengar Alvaro mengeluarkan suara yang aneh, tapi matanya sedang tertutup rapat. "Lah, ngorok nih orang," ucap Imam. "Hah? Tahu gitu tadi ceburin ke got aja, Mam," sahut Ihsan. "Heran deh, cepet banget tu orang tidurnya," tambah Reyhan. "Hahaha, udah-udah, lebih baik kita istirahat dulu," ucap Ocha. "Iya sayang...," jawab Ihsan. Ocha langsung memukul kepala Ihsan agak keras, hingga membuat lelaki itu meringis kesakitan. Salah Ihsan sendiri sih, selalu memancing kemarahan seorang perempuan. "Kok dipukul sih, Cha?" protes Ihsan. "Habis tu?" tanya Ocha balik. "Dicium aja," jawab Ihsan. PLAKK! PLAKKK! Ihsan lagi-lagi meringis kesakitan setelah mendapatkan serangan dari seseorang. Kini bukan pukulan, melainkan tamparan yang mendarat di pipi bagian kanan dan kirinya, dan yang melakukan hal itu lagi-lagi adalah si Rosa Alviana alias Ocha. "Udah kan?" tanya Ocha. "Udah apanya? Sakit tahu," jawab Ihsan. "Katanya kamu mau dicium, lha itu udah dicium tanganku," kata Ocha. "Hahahaha, kalau mau, aku juga mau nyium kamu pakai telapak kakiku, boleh?" tanya Reyhan ikut-ikutan. "Haaaahhh... gak tahu, gak tahu, punya teman kok gila semua," ejek Ihsan kesal. "Aslinya tu cuma kamu yang gila, San. Kita cuma ikut-ikutan aja, biar ada rasa solidaritas," sangkal Reyhan. "Iya, iya terserah. Tidur lebih nyaman. Mam, gak dibanting aja tu orang?" tanya Ihsan beralih memandang Imam. Alvaro terlihat sangat nyaman dalam memanjakan tubuhnya. Ia tak bergeming sedikitpun meski sedari tadi sedang terjadi keributan di sekitarnya. Suara yang menggelikan telinga itu menjadi musik indah yang membuat Alvaro sangat nyaman dalam tidurnya. "Dia masih berguna, San. Entar aja kalau sudah gak berguna, baru kubanting," ucap Imam kejam yang disambut dengan tawa mereka. *** Malam masih belum begitu larut, bahkan masih jauh dari kata larut. Tak ada sedikitpun rasa kantuk dari diri mereka, kecuali si Alvaro yang masih nyaman dalam tidurnya. Bahkan Ihsan yang tadi memutuskan untuk tidur saja, kini tak sanggup menutup matanya. "Laper gak?" tanya Ihsan. "Pertanyaan macam apa itu? Harusnya kamu nanyanya tu, mau makan, gak? Gitu!" ucap Reyhan. "Ya kan cuma basa-basi aja, sambil berharap kalian gak laper. Jadi nantinya duitku bisa aman," kata Ihsan. "Orang kaya pelit amat," ucap Nanda. "Yang penting kaya," sahut Ihsan dengan senyum lebarnya. "Sudahlah, ribut mulu! Sana beli makan!" perintah Reyhan. "Oke, jadi makanannya 6 bungkus dan minumannya juga 6, ya?" kata Ihsan. "Kok enam, kita kan bertujuh?" tanya Ocha bingung. "Tu, yang ngorok tu gak usah dihitung," jawab Ihsan sambil menunjuk ke arah Alvaro. "Jangan gitu, San. Kita ini kan sahabat. Jadi kita tidak boleh membiarkan salah satu dari kita kelaparan, nantinya," ucap Delia. Ihsan mengangguk paham. Si malaikat pelindung Alvaro itu selalu saja memberikan perlindungannya ketika Alvaro sedang ataupun akan mengalami hal buruk. Entah atas dasar cinta ataupun atas dasar persahabatan, semuanya pun tidak tahu. "Mam, bangunin dulu tuh orang! Tanyain, mau makan, gak? Nanti kalau udah beli tapi dia gak mau kan, mubazir," ucap Ihsan. "Sekarang?" tanya Imam. "Nanti, setelah ada orang mati yang bisa bernapas," jawab Ihsan agak kesal. "Oh, baiklah, San," ucap Imam polos. "Hmmm... cobaan ini benar-benar berat buatku," gumam Ihsan. "Ya sekarang lah, Mam!" lanjutnya dengan suara yang agak tinggi. Imam tertawa pelan. Tadi itu ia hanya menjahili Ihsan saja. Mana mungkin si badan besar itu punya otak yang kecil, apalagi sampai lebih kecil dari otak si Ihsan. "Woi, Al, bangun!" ucap Imam sambil menggoyang-goyangkan tubuh Alvaro. Alvaro berdeham pelan. Ia sepertinya masih dalam keadaan setengah sadar. Namun ketika itu pula, Imam semakin kejam dalam menggoyangkan tubuh Alvaro agar segera bangun. Alhasil, si manusia tampan yang hobi tidur itupun membuka matanya. "Mau makan, gak?" tanya Imam. "Hah, makan? Ya tentu mau lah," jawab Alvaro dengan semangat membaranya. Sontak, saat itu juga Alvaro langsung secepatnya bangkit dari posisi awalnya. Kini ia sudah dalam keadaan duduk dan menanti sesuatu yang ditawarkan Imam barusan. "Mana?" tanya Alvaro. "Apanya?" tanya Imam balik. "Ya makanannya lah," jawab Alvaro. "Belum beli lah," ucap Imam. Alvaro mengganti wajah cerianya dengan tatapan murung. Ia pun langsung memposisikan dirinya di posisi awalnya tadi, apalagi kalau bukan berbaring dan menunggu sampai ia terjerumus ke alam mimpi. "Nanti kalau makanannya udah ada, bangunin aku!" ucap Alvaro seenaknya. Imam mendecak sebal, kesal dengan perilaku sahabatnya yang satu itu. Sementara itu, Reyhan langsung maju dan mendekati Alvaro. Tanpa banyak bicara lagi, ia menarik tubuh Alvaro sampai Alvaro pun kembali ke posisi duduknya. "Apaan sih?" tanya Alvaro. "Kamu kan dari tadi nggak ngapa-ngapain, mending sekarang kamu beli makanan sana sama si Ihsan!" perintah Reyhan. "Ah, nggak mau ah, Rey," ucap Ihsan menolak perintah Reyhan. "Kenapa?" tanya Reyhan dingin. "Kamu kan tahu sendiri mata laknatnya dia. Belum lagi kemampuan terkutuknya itu. Nanti kalau di jalan tiba-tiba dia lihat yang begituan, kan malah nakutin," jelas Ihsan. "Tuh kan, makanya jangan aku. Suruh yang lain aja!" ucap Alvaro. "Heh, dasar penakut! San, Ihsan," ejek Reyhan. "Enak aja. Mana mungkin aku takut sama makhluk jelek kayak gitu. Malahan makhluk-makhluk itu yang nantinya akan kabur karena minder melihat ketampananku," ucap Ihsan dengan kepercayaan diri tingkat tinggi. "Nah, kan. Jadi, kamu gak takut dengan makhluk halus, kan? Sekarang pergilah beli makanan sama Alvaro!" Perintah Reyhan. "Sial, jebakan batman," gumam Ihsan pelan yang disambut dengan tawa kecil teman-temannya. Ihsan tak tahu harus berbuat apa lagi. Nampaknya ia terpaksa harus menuruti perintah dari si Reyhan untuk kali ini. Malam yang cerah. Rembulan masih setia memancarkan cahayanya yang terang. Begitu juga dengan gemerlap puluhan bintang di langit sana. Bukan puluhan, mungkin ratusan, atau ribuan, atau bahkan sampai jutaan. Tak ada yang tahu secara pasti berapa jumlah bintang di atas sana. Kecil, tapi memberikan dampak yang luar biasa di kegelapan malam. Alvaro dan Ihsan berjalan beriringan tanpa ada sepatah katapun yang terucap dari mulut mereka. Maklum saja, Alvaro masih dalam keadaan mengantuk, sedangkan Ihsan dalam keadaan kesal. Lama mereka berjalan, akhirnya langkah mereka sampai di sebuah tempat yang sangat ramai. Bukan pasar, tapi seolah-olah seperti pasar. Banyak pedagang yang berjualan di kanan dan kiri jalan. Mata Alvaro langsung tertuju ke sebuah lapak pedagang yang menjual aneka jenis nasi. Ia pun dengan segera langsung menuju ke sana, pastinya juga diikuti oleh Ihsan. "Mbak, beli nasi gorengnya tujuh bungkus dan minumannya juga tujuh ya, Mbak," ucap Alvaro. "Pedes atau-" "Manis aja Mbak, biar sama kayak yang jual," sahut Ihsan. Memang sih, si penjualnya adalah seorang wanita muda yang kira-kira berumur 20-an tahun lebih. Pokoknya wanita itu bisa dipastikan lebih tua dari Alvaro dan juga Ihsan. Cantik sih, karena itu si Ihsan langsung mengeluarkan kata-kata gombalannya kepada sang wanita. Namun sepertinya wanita itu tak memperdulikan Ihsan. "Heh, cueknya," gumam Ihsan pelan. "Jangan terlalu pedas, Mbak, dan jangan dengerin ucapan orang ini. Dia itu agak konslet," ucap Alvaro. Kali ini berhasil membuat wanita itu tersenyum kecil. "Temen laknat!" gumam Ihsan. Alvaro dan Ihsan duduk di kursi yang sudah tersedia di sana. Rasanya suasana yang seperti ini sangatlah menyenangkan. Ramai dan jauh dari kata sepi ataupun sunyi. Berharap suasana seperti itu selalu ada di saat malam datang. "Mbak, ini lagi ada tontonan atau apakah?" tanya Alvaro. "Lah, kan emang tiap hari kayak gini, Mas. Ada atau tidak ada tontonan, tempat ini selalu ramai," jawab si penjual. "Ooo... gitu ya, Mbak," ucap Alvaro. "Masnya bukan orang sini, ya?" tanyanya. "Oh, bukan, Mbak. Saya dan teman saya nih cuma singgah di daerah sini," jawab Alvaro. "Oh, pantesan," kata si wanita itu. Alvaro terdiam sejenak. Ia mungkin sedang mencari topik pembicaraan lain. Wajar saja, yang diajaknya bicara bukanlah orang yang telah lama ia kenal. Jadi, bicarapun tak bisa ceplas-ceplos seperti saat ia berbicara dengan Ihsan ataupun yang lain. "Mbaknya udah punya pacar, belum?" Di dalam keheningan Alvaro yang masih dalam proses merangkai kata-kata, tiba-tiba Ihsan dengan lugunya menanyakan masalah pribadi ke wanita itu. Sungguh manusia yang satu ini sangat tidak mengerti etika. "Jangan dijawab, Mbak! Dia ini kelamaan jomblo, makanya jadi kayak gini," sahut Alvaro. Lagi-lagi hanya membuat wanita itu geleng-geleng kepala. "Apasih, Al. Ganggu aja," protes Ihsan. "Makanya nggak usah genit!" bisik Alvaro. Membuat tujuh bungkus nasi goreng memang membutuhkan waktu yang lumayan lama. Parahnya lagi, wanita itu hanya bekerja sendirian tanpa ada yang membantunya. Entah memang tiap harinya ia juga hanya sendirian ataupun ada yang membantunya, yang pasti saat ini ia hanya bekerja sendirian. Ihsan nampak kagum dengan pergerakan lihai wanita itu dalam mengolah nasi goreng. Bukan, nampaknya yang ia kagumi adalah kecantikannya. Hal itu sangatlah nampak dari tatapannya yang jelas mengarah ke wajah si wanita itu. "Awas Mbak, ada yang terus memperhatikan, Mbak," ucap Alvaro. Si wanita cantik penjual nasi itu langsung menoleh ke arah Alvaro. Detik berikutnya, pandangannya beralih ke arah manusia yang berada beberapa meter di samping Alvaro. Layaknya sebuah kebiasaan, lagi-lagi ia hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seraya kembali fokus ke pekerjaannya. Ihsan melirik Alvaro dengan sinis. Tak habis pikir dengan lelaki tampan itu. Kenapa lelaki itu selalu mengganggunya? Dan kenapa pula lelaki itu selalu ikut campur dalam setiap hal yang ia lakukan? *** Lama sudah kedua insan itu menunggu, akhirnya pesanan mereka pun sudah siap. Kini si wanita itu hanya tinggal memasukkan bungkusan-bungkusan itu ke dalam kantong kresek. Tak lupa pula dengan minumannya yang ia masukkan di kantong kresek yang berbeda. Sungguh ia sangat cekatan dalam bekerja. "Ini Mas," ucap wanita itu sambil menyodorkan sekantong kresek ke Alvaro. "Ini minumannya," lanjutnya. "Semuanya jadi berapa, Mbak?" tanya Alvaro. "Nasinya 10 ribuan minumannya 3 ribuan. Totalnya jadi 91 ribu," jawabnya. "Ooo... murah ya? San, tolong bayarin!" ucap Alvaro. "Heh, bilang murah kirain kamu yang mau bayarin. Eh nggak tahunya malah aku yang bayar," protes Ihsan. "Kan aku lagi bawa ini. Mana bisa aku ngambil duitnya," ucap Alvaro. "Ooo... jadi kalau itu aku bawain, kamu yang mau bayar semua ini?" tanya Ihsan. "Ya tetep kamu, lah," jawab Alvaro sambil cengar-cengir. Ihsan sebenarnya sudah menduga hal seperti itu akan terjadi. Memang dari semuanya, Ihsan lah yang paling kaya. Parahnya lagi, di perjalanan kali ini ia membawa duit yang entah berapa banyak, pokoknya sangat banyak. Ihsan membuka dompetnya. Benar saja, isinya terdiri dari banyak sekali lembaran uang berwarna jingga dan biru. Sebuah hal yang sangat mendamaikan mata. Apalagi mata para perempuan matre. "Ini Mbak, kembaliannya ambil aja. Hitung-hitung buat tabungan modal kita nikah nanti," ucap Ihsan sambil menyodorkan uang senilai 100 ribu ke arah wanita itu. Tak lupa ia pun juga mengucapkan kata-kata gombalannya. "Terima kasih, Mas," ucapnya dengan senyuman tipis. "Sama-sama sayang," balas Ihsan. Alvaro yang melihat sekaligus mendengar hal itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Bukannya langsung pergi dari tempat itu, Alvaro dan Ihsan malah berhenti sejenak di sana. Mumpung lagi gak ada pembeli juga sih. "Mbak dagangnya hanya sendirian aja. Gak ada yang bantuin, gitu?" tanya Alvaro mengalihkan pembicaraan. "Nggak sih, sebenarnya biasanya tu ada ibu saya yang bantuin. Cuma sekarang lagi sakit," jawabnya. "Oh... semoga cepat sembuh ya, Mbak, ibunya," kata Alvaro. "Iya, terima kasih, Mas," katanya. "Oh ya, Mbaknya namanya siapa?" tanya Ihsan. "Mulai deh, mulai," sindir Alvaro. "Bisa diam gak, sih? Nama itu penting. Kalau nanti aku mau nikahan sama Mbak ini, masa aku gak tahu namanya? Kan gak keren," ucap Ihsan dengan kepercayaan diri tingkat tinggi. "Iya, terserah," ucap Alvaro. ia nampak malas meladeni sahabatnya yang satu ini. "Jadi, nama Mbak siapa, ya?" tanya Ihsan lagi. "Nama saya...." BRAKKK! Tepat ketika si wanita itu akan menyebutkan nama, tiba-tiba terdengar bunyi yang sangat keras. Seperti bunyi benda yang saling berbenturan. Sebuah suara yang sangat memekikkan telinga. Saking kerasnya, suara itu sampai membuat semuanya kaget. Tak terkecuali Alvaro, Ihsan dan si wanita itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD