Bab 12

2005 Words
Alvaro tak mau memikirkan tentang apa yang dikatakan nenek itu tadi kepadanya. Hanya satu yang ia yakini, bahwa nenek itu punya semacam kemampuan untuk melihat jati diri seseorang biarpun orang tersebut tak menampakkannya. "Al, apa sebaiknya kita istirahat dulu. Biasanya kan kalau kamu tidur, kamu sering didatangi Lio. Mana tahu kalau kamu tidur lagi Lio datang dan memberikan petunjuk lagi," usul Reyhan. "Heh, enak banget kalau ngomong, kamu pikir peristiwa seperti itu nggak serem? Tapi gak ada salahnya sih, dicoba," ucap Alvaro. "Ya silahkan!" sahut Ihsan. "Cari tempat yang nyaman dulu dong, pinter," ucap Alvaro dengan geram. "Aku tahu tempat yang nyaman buat kamu istirahat," ucap Ihsan. "Di mana?" tanya Alvaro. "Di bawah batu nisan," jawab Ihsan sambil cengar-cengir. "Ngajak berantem!" tantang Alvaro kesal. "Eh, maksudnya di bawah batu nisan itu kamu taruh tuh batu nisan di atasmu, terus kamu tidur. Makanya jangan negatif terus pikiranmu!" ucap Ihsan. "Oh." Alvaro terlihat malas meladeni si manusia yang bernama Ihsan itu. *** Singkat cerita, akhirnya merekapun bisa mendapatkan tempat untuk beristirahat. Letaknya lagi-lagi di sebuah pos ronda yang tak begitu jauh dari rumah nenek yang tadi. "Aku tidur dulu, bangunkan aku jika aku sudah menyuruh kalian untuk membangunkan aku!" ucap Alvaro. "Iya, tapi jika kamu belum menyuruh kami untuk membangunkan kamu, maka kami juga tidak akan bangunin kamu, biarpun seandainya ada sesuatu yang membahayakan dirimu nanti," balas Reyhan, Alvaro hanya menguap kencang. Begitulah kelakuan Alvaro kepada sahabatnya ketika ia mau tidur. Seolah-olah hal itu sudah menjadi ritual baginya. Tak butuh waktu lama bagi Alvaro untuk terlelap. Sementara itu, keenam sahabatnya masih terus berbincang-bincang sembari menunggu Alvaro bangun sekaligus menunggu informasi yang Alvaro dapat dari mimpinya. Lama Alvaro terlelap, membuat para sahabatnya mulai merasa bosan. Jika membangunkan Alvaro saat ini, bisa saja mereka memutus mimpi Alvaro, tapi jika tidak, entah sampai kapan mereka akan terus menunggu tanpa melakukan apapun. Hingga akhirnya, setelah 2 jam lebih menunggu, Alvaro pun bangun dari tidurnya. Para sahabatnya pun menyambutnya dengan senyuman penuh harap, berharap Alvaro mendapat petunjuk yang lebih jelas lagi dari Lio lewat mimpinya itu. "Al, bagaimana, Al?" tanya Ocha penasaran. "Iya Al. Apa kamu mendapatkan petunjuk lagi?" tanya Delia. "Al, jawab Al!" tambah Reyhan. Alvaro mengucek-ucek matanya. Ia tak langsung menjawab pertanyaan dari teman-temannya itu. Namun sepertinya keadaan Alvaro saat ini cukup tenang. Biasanya setelah bermimpi tentang Lio, ia selalu bangun dengan napas memburu dan ketakutan yang teramat sangat. Mungkinkah kali ini ia memang tidak bermimpi apapun? "Al, jawab dong!" perintah Imam. "Jawab apa?" tanya Alvaro sambil mengucek-ucek matanya lagi. "Kamu dapat petunjuk atau tidak dari mimpi kamu soal Lio?" tanya Ocha. "Hah?" Alvaro tiba-tiba tersentak kaget. "Kenapa, Al?" tanya Reyhan yang ikut kaget. "Tidak ada apa-apa," jawab Alvaro santai. Kekagetan mereka pun mendadak hilang dan digantikan dengan rasa kesal kepada manusia yang bernama Alvaro Aditama itu. "Hufffttt... sialan! Oh ya, gimana? Apa kamu dapat petunjuk lagi dari mimpimu?" tanya Reyhan. "Hmm... sepertinya sih, enggak," jawab Alvaro. "Kok bisa enggak sih, kenapa gak iya aja," protes Ihsan. "Ya mana saya tahu, kalau aku bisa mengatur mimpi, mungkin hasilnya akan beda lah," ucap Alvaro. "Akan dapat mimpi tentang petunjuk si pembunuh Lio?" tanya Reyhan. "Akan kuatur supaya aku bisa mimpi ketemu wanita cantik," jawab Alvaro sambil cengar-cengir. "Heeee... dasar otak m***m!" ejek Reyhan. Kemampuan yang dimiliki Alvaro memanglah rumit, bahkan Alvaro sendiri pun tak tahu dengan jelas apa saja kemampuan yang ia miliki. Wajar saja, dia masih tergolong pengguna baru. Ibaratnya, dia masih dalam masa pengenalan. Kalau saja kemampuan itu sudah ia miliki semenjak ia lahir di dunia ini, pastilah ia sudah tahu semua tentang kemampuannya itu. *** Malam pun tiba, sebuah hal yang cukup menyeramkan bagi mereka yang masih berada di dunia luar. Kegelapan sang malam mendatangkan ketakutan tersendiri bagi sebagian orang, dan yang paling menakutkan lagi adalah sesuatu yang berada di kegelapan tersebut. Sinar rembulan berhasil menjadi lentera untuk malam ini. Kini ketujuh remaja itu masih berjalan tak tentu arah. Layaknya sang pengembara yang tak ingin menyerah untuk sampai di tempat tujuan. Layaknya juga gelandangan yang tidak mempunyai rumah, mereka terus berjalan mengikuti ke manapun arah kaki melangkah. "Aduhhh... kebelet kencing pula, mana di tempat kayak gini," ucap Ihsan agak kesal. Di sanalah kini mereka berada. Di sebuah jalanan yang hanya dikelilingi oleh pepohonan dan semak belukar, tanpa ada rumah satupun. Sialnya juga mereka tak tahu soal berapa jauh jarak pemukiman dari tempat di mana kini mereka berada. Kalau harus kembali, jaraknya juga cukup jauh. "Kencing aja sana, di balik pohon itu!" ucap Alvaro sambil menunjuk ke arah sebuah pohon besar yang berada di sebelah kanan jalan. Letaknya memang lumayan jauh dari tempat kini mereka berdiri. "Gak ada yang mau nemenin, nih?" tanya Ihsan sambil terus menahan agar air seni itu tak keluar dulu. "Heh, sudah gede masih aja jadi penakut," ejek Imam. "Sudah, sendiri aja. Lagipula mereka nggak ada. Kalau di samping kiri kita nih banyak," ucap Alvaro. "Beneran?" tanya Ihsan. "Iya," jawab Alvaro. "Awas aja kalau nanti ada yang-" "Cepat kalau mau kencing! Banyak bicara!" bentak Nanda kesal. "Iya, iya Nda. Orang kok marah-marah terus," protes Ihsan. Ihsan pun beranjak dari tempat ia berdiri dan mulai berjalan menuju ke arah pohon yang dimaksud Alvaro tadi. Padahal masih jam 18:23, tapi kengerian dari sebuah kegelapan sudah begitu terasa di tempat tersebut. Ihsan bergegas mengeluarkan air seninya. Kesepian selama membuang hajatnya itu, ia tepis dengan cara bersiul. Ia juga memandang ke segala arah untuk jaga-jaga jikalau ada sesuatu yang nantinya bisa membahayakannya. Sementara itu di tempat Alvaro dan yang lain, mereka masih setia menunggu Ihsan selesai membuang hajat. Namun rasanya ada yang aneh. Perasaan Ihsan sudah sedari tadi perginya, tapi kenapa belum balik juga? Pikiran mereka sudah agak kacau, terutama Alvaro yang bahkan ia sudah melihat hampir semua jenis makhluk tak kasat mata yang ada di tempat tersebut. "Kita susul Ihsan!" ajak Alvaro. "Ada apa, Al?" tanya Delia. "Nggak ada apa-apa, takutnya entar Ihsan nyasar. Hahahaha," jawab Alvaro. Meski pada akhirnya mereka menuruti ajakan Alvaro tanpa banyak pertanyaan lagi, tapi bagi Delia, ia yakin ada sesuatu yang terjadi di tempat Ihsan. Apa yang sebenarnya terjadi? Delia memandang lekat ke arah Alvaro. Ia merasa ada yang aneh dengan sikap Alvaro saat ini. Gerak-geriknya, raut wajahnya dan semuanya menandakan bahwa si pria tampan itu sedang merasakan kecemasan dan ketakutan yang luar biasa. Akhirnya, sampai juga mereka berenam di tempat Ihsan. Rupanya dugaan Alvaro salah, ternyata Ihsan sedang dalam keadaan baik-baik saja dan kini tengah berbincang-bincang dengan seorang perempuan yang entah siapa itu. Perempuan itu terlihat sangat cantik. Dari penampilannya saja, mustahil jika dia itu hantu. Mungkin dia adalah orang yang akan pergi ke suatu tempat dan kebetulan memang harus lewat jalanan itu. Tapi anehnya, kenapa ia tak melalui jalanan dan malah melalui pinggiran yang jelas-jelas lebih menyeramkan daripada jalanan? "Oi, San. Dicariin malah pacaran di sini," ucap Reyhan. "Siapa tu, San?" tanya Imam. "Oh, ini Della. Del, kenalin, itu teman-temanku," ucap Ihsan. Si gadis yang dipanggil Della itu hanya menampakkan senyum manisnya. Namun seperti ada yang aneh pada gadis itu. Entah kenapa pandangannya tertuju pada sosok Alvaro yang berdiri di belakang Reyhan dan Imam. Apa mungkin, si Della yang kira-kira umurnya tak jauh beda dari Alvaro dan yang lain langsung menaruh hati kepada Alvaro di pandangan pertamanya? Tatapan Della yang sangat tajam kepada Alvaro membuat lelaki itu terpaku. Saking gugupnya, tiba-tiba dari pelipisnya mengeluarkan keringat yang mengucur deras. Alvaro benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Alvaro mencoba mengatur detak jantungnya. Memang sedari tadi Alvaro merasa jantungnya akan copot. Ketika hal itu berhasil dilakukan, ia pun melangkah beberapa langkah dan berdiri di depan Imam dan Reyhan. "San, sini!" panggil Alvaro. "Ada apa?" tanya Ihsan. "Sini!" panggil Alvaro lagi. Ihsan dengan langkah malas akhirnya mau menuruti perintah Alvaro. Si manusia konyol itu sebenarnya tak rela meninggalkan gadis cantik yang baru saja ia temui itu, tapi apa boleh buat. "Ada apa sih?" tanya Ihsan kesal. "Kamu ketemu dia di mana?" tanya Alvaro balik. "Ya di sini lah," jawab Ihsan. "Hufffttt... kau tahu siapa dia? Dia itu... kuntilanak," bisik Alvaro. "Kuntilanak! Jangan ngada-ngada deh," ucap Ihsan dengan nada yang cukup tinggi. Alvaro menepuk keningnya pelan. Padahal dia sudah berusaha untuk berbicara sepelan mungkin, tapi pada akhirnya menjadi sia-sia saja. "Hihihihihihihi." Tiba-tiba terdengar suara tawa yang cukup untuk membuat bulu kuduk merinding. Dari pandangan mereka, kecuali Alvaro, wanita yang mengaku bernama Della itu berubah wujud menjadi sosok yang sangat menyeramkan. Alvaro tak begitu kaget karena sejak awal ia melihat Della, ia juga melihat wajah Della yang seperti saat ini. Mungkin itulah alasan kenapa ia terpaku ketika Della menatapnya tadi. "Ku-ku-ku-kuntilanak!" teriak Ihsan. Kuntilanak itu kemudian terbang tinggi sambil tertawa nyaring. Namun yang menjadi masalah bukanlah itu. Layaknya burung elang, kuntilanak itu tiba-tiba meluncur ke bawah dan berniat untuk menyerang Alvaro dan teman-temannya. Hanya satu yang bisa mereka lakukan, yaitu menggunakan jurus kaki seribu. "Cepat woi!" teriak Ihsan. Dia berada di posisi yang paling depan. Mereka terus berlari diiringi dengan suara cekikikan dari si mbak kunti yang masih setia mengejar mereka dengan cara terbang. DEG DEG DEG Nasib sial tiba-tiba menimpa Alvaro. Ia merasakan jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Tak hanya itu, ia juga merasa bahwa tubuhnya tak kuat lagi untuk digunakan berlari. "Sial! Tubuhku," ucap Alvaro. Ia mendaratkan lututnya ke jalanan sambil memegang dadanya yang terasa nyeri. Kuntilanak itu terbang semakin dekat dengan Alvaro. "Alvaro, awas!" teriak teman-teman Alvaro yang sudah berada cukup jauh dari posisi Alvaro. Sontak, Alvaro pun langsung menoleh ke belakangnya, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat kuntilanak itu terbang melesat cepat ke arahnya. Ia hanya bisa pasrah dan berharap sang kuasa masih memberikan pertolongan untuknya. Meskipun dalam hatinya ia sudah berpikir bahwa ini adalah akhir hidupnya. Andai tubuhnya tak selemah itu, mungkin Alvaro masih bisa melarikan diri dari si mbak kunti yang semakin lama semakin mendekat. Alvaro pun memberanikan diri untuk melawan. Setidaknya jika ia matipun, ia sudah melakukan hal yang keren, daripada hanya berdiam diri sambil menunggu kematian. Si putih melayang dengan rambut gimbalnya itupun kini sudah berada beberapa meter dari Alvaro. Alvaro juga sudah siap siaga menerima serangan hantu tersebut. Tatapan matanya ia buat setajam mungkin. Ia hanya perlu menunggu sampai hantu itu sampai ke tempatnya, dan di saat itu pula ia akan memukulnya habis-habisan, itupun kalau tidak tembus. Namun yang dipikirkan Alvaro ternyata salah. Entah kenapa tiba-tiba kuntilanak itu berhenti bergerak dan perlahan demi perlahan mulai menghilang. Alvaro pun bisa bernapas lega, bersyukur bahwa sang kuasa masih memberikan keselamatan kepadanya. "Alvaro!" teriak teman-temannya. Mereka menghampiri Alvaro dengan sedikit berlari karena jaraknya pun lumayan jauh. Mereka agak cemas dengan keadaan Alvaro yang napasnya tersengal-sengal. Terlebih lagi Delia, ia adalah yang paling cemas di antara yang lain. Bagaimana tidak, cuma dialah yang tahu bahwa Alvaro sebenarnya belum sembuh sepenuhnya akibat koma yang dialaminya tempo hari. Pastilah saat ini Alvaro merasakan sakit yang teramat sangat. "Al, kamu gak apa-apa?" tanya Reyhan cemas. Si lelaki tampan itu tak menjawab pertanyaan Reyhan. Ia masih sibuk mengatur jantungnya yang berdetak tidak beraturan. Keringat dingin juga terlihat membasahi wajah tampannya. Sungguh sesuatu yang sangat mendebarkan baginya. "Tidak apa-apa," jawab Alvaro. "Jangan sok kuat dulu, tubuhmu masih terlihat lemah," ucap Imam sambil jongkok dan membelakangi Alvaro. "Ayo naik!" perintah Imam. "Apa-apaan ini, gak usah!" tolak Alvaro. "Halah, dikasih tumpangan kok nolak," ucap Reyhan. Reyhan dan Ihsan pun akhirnya langsung mendorong tubuh Alvaro yang akhirnya jatuh ke gendongan si manusia besar itu. Imam dengan segera menarik kedua tangan Alvaro untuk mengunci pergerakannya agar ia tak menolak lagi tawaran itu. "Hei, hei. Apa-apaan ini? Turunin aku, Mam! Aku ini kuat, aku bisa jalan sendiri," ucap Alvaro sambil meronta-ronta untuk melepaskan diri dari gendongan Imam. "Berisik!" ucap Imam. "Haaahhh ayolah, Mam!" rengek Alvaro. "Diamlah! Atau nanti kubanting tubuhmu," ancam Alvaro. Memang benar sih, dengan tubuh sebesar dan segempal itu, pastinya Imam akan dengan mudah membanting Alvaro. Tapi tak mungkin juga ia akan melakukan hal itu, karena Alvaro adalah sahabatnya. "Oh ya, ini kan jalan kembali ke tempat yang tadi siang itu. Kenapa kita mengarah ke sana lagi?" tanya Ihsan. "Ya mana kami tahu, kan kamu yang lari duluan, tadi," sahut Nanda. "Hmm... tapi ini mungkin jauh lebih baik daripada kita harus melanjutkan perjalanan melewati jalanan yang tadi, deh," ucap Reyhan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD