Bab 11

2004 Words
Di dalam keseruan tawanya, tiba-tiba tubuh Alvaro tertarik ke belakang, seolah-olah ada yang sedang menariknya. Jujur ia pun agak terkejut dengan hal itu. Siapakah yang sebenarnya menarik Alvaro? Tak lama kemudian Alvaro merasakan sesuatu yang hangat di lengan tangan kanannya. Matanya langsung tertuju ke lengannya itu dan di situlah ia akhirnya menyadari soal siapa yang telah menariknya barusan. Nampak sebuah tangan putih yang menggenggam erat lengannya itu. Ia pun menatap sang pemilik tangan itu dan akhirnya.... "Ada apa, Del?" tanya Alvaro pelan. Ternyata sang pemilik tangan itu adalah Delia. Memang posisi berjalannya sedari tadi berada di paling belakang. Padahal biasanya ia selalu berjalan di posisi paling depan bersama Alvaro. "Boleh aku berpendapat?" tanya Delia sambil terus melangkahkan kakinya. "Ya boleh lah, nggak usah izin juga, kali," jawab Alvaro. "Apa mungkin jika kamu dalam keadaan yang kurang baik, kemampuanmu itu tidak bisa digunakan? Ya, bisa dibilang kemampuanmu itu berbanding terbalik dengan orang biasa. Orang biasa kan terkadang bisa melihat makhluk halus ketika dalam keadaan lelah. Hmmm... itu juga pendapatku saja, ya. Entah benar ataupun salah, aku juga gak tahu," jelas Delia. "Hmmm... ada benarnya juga sih, soalnya tadi aku seolah-olah merasakan ada makhluk tak kasat mata, tapi aku nggak bisa melihatnya," ucap Alvaro. "Nah, kan? Berarti kamu harus cukup istirahat. Lagipula kamu itu baru sembuh dari koma. Jangan paksakan dirimu, ya!" pinta Delia. Ia menepuk pipi Alvaro dan mengusapnya dengan lembut. Entah kenapa, setiap sentuhan tangan lembut dari Delia, selalu menghadirkan sesuatu yang tak tahu harus disebut apa oleh Alvaro. Alvaro merasa salah tingkah setiap gadis cantik itu melakukan hal demikian kepadanya. Alvaro bingung dengan rasanya. Alvaro tak tahu apa isi hatinya. "Sahabat, kah? Tapi rasa ini beda. Apa cinta? Tapi tak mungkin aku mencintainya. Lalu apa? Harus disebut apa rasa ini?" batin Alvaro. Alvaro masih terpaku, tak mampu harus berbuat apa. Bahkan teman-temannya yang lainpun sudah berjarak beberapa meter di depannya. Ia merasakan jemari Delia masih menyentuh pipinya, padahal sedari tadi Delia sudah tidak menyentuh pipi Alvaro. "Alvaro! Hei, ayo jalan!" ajak Delia. Ajakan Delia itu langsung membuat lamunan Alvaro buyar. Tentang perasaan yang ia bingungkan itu, ia masih belum bisa menyebutnya. "Hah, i-iya," jawab Alvaro. *** Siang itu, awan tebal nan gelap mulai memenuhi langit. Rasa panas aspal jalanan juga mulai berkurang, begitupun dengan radiasi sang matahari yang sedari tadi menyengat kulit. Namun awan tebal itu mungkin akan mendatangkan rintangan yang baru. Sebuah tembakan air yang entah berapa jumlahnya. Mungkin sampai ribuan, atau bahkan jutaan, atau mungkin lebih dari itu. Entahlah, tak ada yang bisa menghitung tentang banyaknya air hujan. Benar saja, awan hitam itu telah melancarkan serangannya pada semesta. Peluru air mulai menghujani tanah dan aspal jalanan. Tak lupa sang petir juga menyerang dengan suara-suara menggelegarnya, ditambah lagi dengan angin kencang yang menerbangkan dedaunan. Alvaro dan teman-temannya bergegas mencari tempat perlindungan. Sialnya, mereka tengah berada di jalanan yang tak begitu banyak perumahan. Hanya satu tempat berlindung yang sudah nampak di depan mata, yaitu sebuah rumah yang nampak sudah tidak berpenghuni. "Bagaimana ini?" tanya Ocha cemas. "Tak ada tempat lain," jawab Reyhan cepat. Ia pun memimpin keenam orang lainnya untuk berjalan cepat menuju rumah tua itu. Di saat itu pula, peluru air itu semakin gencar dalam melakukan p*********n. Rasanya sang langit sudah benar-benar marah pada bumi. "Ini rumah kosong, kah?" tanya Nanda sambil memandang ke langit-langit teras rumah itu. Rumah tua itu memang tak begitu besar, hanya rumah sederhana dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu yang sudah agak rapuh. Dari luar saja sudah terlihat kesan angkernya, apalagi dalamnya. "Mungkin sih, Nda," jawab Reyhan merespon perkataan Nanda. "Serem ya?" ucap Ocha. "Iya," jawab Reyhan. Di tengah-tengah para temannya yang sedang asyik berbincang-bincang, Delia pun mendekati Alvaro yang sedang berdiri sendirian agak jauh dari teman-temannya yang lain. Alvaro terlihat melipat tangannya di depan dadanya, mungkin ia kedinginan ataupun ada perasaan ngeri dengan rumah itu. Bola matanya bergerak liar ke sana ke mari memandangi seluruh area teras rumah itu. Mungkin indra pengelihatannya telah menangkap sesuatu yang membuatnya tak mampu berkata-kata lagi. "Alvaro!" panggil Delia. Alvaro hanya menengok saja ke arah Delia, ia tak berniat merespon sapaan dari gadis cantik itu. "Kamu gak apa-apa?" tanya Delia. "Enggak, emang kenapa?" tanya Alvaro balik. "Enggak kok. Cuma, kamu kelihatan agak aneh saja," jawab Delia. "Aneh gimana?" tanya Alvaro lagi. "Ya, gitu deh. Udah, nggak usah dibahas!" ucap Delia. Alvaro bersander di tiang penyangga rumah itu. Sebuah tiang yang terbuat pula dari bambu. Ia mengalihkan pandangannya dari Delia menuju ke arah luar, tempat di mana peluru air itu tengah gencar-gencarnya menyerang tanah. "Kamu ingat nggak, kita dulu sering banget main hujan-hujanan," ucap Delia yang kini posisinya berada di samping Alvaro. "Heh, tentu saja Del, nggak nyangka ya, waktu berjalan begitu cepatnya?" ucap Alvaro. "Kamu ingat juga nggak, apa yang sering kita lakukan ketika hujan angin dan petir kayak gini?" tanya Delia. "Berteriak dengan maksud mengusir angin dan petir itu, tapi tetap ingin hujan itu turun," jawab Alvaro dengan yakin. Delia tersenyum hangat mendengar jawaban Alvaro. Memang, sahabat terdekat dan sahabat yang telah melalui banyak waktu bersama Alvaro adalah Delia. Ia dan Delia punya banyak kenangan di masa lalu, salah satunya adalah ketika bermain hujan-hujanan. Kedekatan itu pula yang mungkin membuat Alvaro bingung dengan perasaannya. "Hujaaannn... usir petir dan angin itu!" teriak Alvaro dan Delia bersamaan. Tanpa adanya aba-aba, tiba-tiba kedua anak manusia itu berteriak meneriaki sang hujan. Kata-kata yang diucapkan pun sama, begitupun waktunya. Kenangan masa lalu memang sangat hebat. Bahkan setelah bertahun-tahun pun seseorang masih bisa mengingatnya dengan sempurna. Alvaro tertawa ketika ia menyadari bahwa Delia juga mengatakan kata yang sama dengannya, dengan waktu yang sama pula. Melihat Alvaro tertawa, Delia juga ikut tertawa. Hal itu menyebabkan pertanyaan dari kelima sahabatnya yang sedari tadi memperhatikan dua anak manusia itu. "Woi, sudah gila kamu berdua?" tanya Ihsan kesal. "Hahaha... iya nih, gara-gara virus yang kamu tularkan," jawab Alvaro. Di sela-sela pembicaraannya, tiba-tiba Alvaro melihat sesuatu di dalam rumah tua itu dari celah-celah dinding bambu itu. Ia melihat seperti ada sesuatu yang bergerak, dan ia tak tahu apa itu. "Ah, mungkin perasaanku saja," batin Alvaro. Dinding itu memang punya celah-celah yang agak besar. Dengan begitu, jika sedang berada di dalam, maka yang di luar pun akan terlihat, begitupun sebaliknya. Maklumlah, namanya juga rumah tua yang sudah tidak terawat. Alvaro bisa bernapas lega setelah beberapa saat mengamati bagian dalam rumah tua itu, dan tidak ada tanda-tanda akan kehadiran sosok yang dilihatnya tadi. Dalam hati ia bisa menyimpulkan bahwa itu hanyalah kesalahan pengelihatannya saja. Alvaro kembali memandang sang hujan bersama teman-temannya yang lain. Bukannya bertambah reda, hujan malah bertambah semakin deras dengan petir dan angin sebagai pendampingnya. Mau bagaimana lagi, ia juga tak akan bisa menghentikan hujan. Dengan begitu ia dan yang lain hanya bisa menunggunya sampai reda. KRIEETT! KRIEETT! Terdengar suara yang langsung membuat semua mata terfokus ke arah pintu, dan benar saja, perlahan-lahan pintu rumah tua itu terbuka dengan sendirinya. Angin? Sepertinya tidak mungkin. Karena sedari tadi angin juga sudah berhembus kencang, tapi kenapa baru sekarang pintu itu terbuka? Alvaro memicingkan matanya sambil menunggu sosok apa yang akan ia lihat setelah pintu itu terbuka dengan sempurna. Jantungnya mulai berdebar tak karuan. Ia mempunyai firasat yang buruk tentang itu. Ditambah lagi, dari keenam temannya, dialah satu-satunya orang yang mempunyai kemampuan untuk melihat makhluk tak kasat mata. Alvaro terus memandang ke arah pintu. Ia berharap tidak melihat apapun, tapi harapannya ternyata harus musnah di kala sedikit demi sedikit mulai terlihat sesuatu yang muncul dari balik pintu. Ia masih belum mengetahui sosok apa itu, yang pasti ia berharap bahwa sosok itu tak menyeramkan. "Siapa kalian?" Sosok itu mengeluarkan suara bersamaan dengan menampakkan wujudnya yang sangat membuat Alvaro terkejut. Ya, sangat terkejut malahan. Ia melihat wujud sebenarnya dari sosok yang sedari tadi dinanti-nantinya itu. Ternyata, ia berwujud seorang nenek-nenek berkaki tiga. "Ne-nenek gayung!" teriak Ihsan. Nenek gayung? Apa iya? Kalaupun nenek gayung kenapa sosok itu tak membawa gayung? Alvaro berpikir kritis tanpa berani menjawab pertanyaan nenek tua itu. Sesosok nenek berkaki tiga dengan 2 kaki asli dan satu kaki kayunya. Teman-teman Alvaro juga tak ada yang berani menjawab dan hanya memandang nenek itu dengan tatapan lekat. Menatap nenek itu? Mana mungkin mereka bisa melihat hantu, sedangkan di antara mereka hanya Alvaro yang mempunyai kemampuan melihat mereka. Dari situlah Alvaro tersadar akan sesuatu. Alvaro berjalan mendekat ke arah nenek tua itu diikuti oleh tatapan bingung dari teman-temannya. Tanpa diduga-duga, tiba-tiba Alvaro menyalami sang nenek sembari mencium punggung tangannya. "Sebelumnya kami mohon maaf, Nek, kalau sudah tidak sopan. Kami pikir rumah ini sudah kosong, jadi kami numpang berteduh di sini tanpa seizin pemiliknya. Maafkan kami, Nek, kalau sudah tidak sopan," ucap Alvaro. "Oh ya, Nek. Saya Alvaro, dan mereka semua ini teman-teman saya," ucap Alvaro memperkenalkan diri. Nenek tua itu tersenyum. Ia seolah-olah menyambut dengan hangat kedatangan para remaja itu. Teman-teman Alvaro yang baru sadar bahwa nenek itu bukanlah hantu pun langsung melakukan hal yang sama seperti yang Alvaro lakukan tadi. Tak lama kemudian, si nenek pun mempersilahkan semuanya untuk masuk ke rumah tua yang terlihat tak layak huni itu. Sebuah hal yang menakjubkan datang, di saat mereka mulai melangkah untuk masuk. Ternyata bagian dalam rumah itu tak seburuk yang mereka kira. Bahkan bisa dibilang rumah itu cukup terawat dan kebersihannya sangat terjaga. Alvaro dan teman-temannya duduk di kursi kayu panjang yang cukup antik. Sembari menunggu sang hujan reda, merekapun bercakap-cakap tentang semua hal yang bisa diperbincangkan. "Nenek tinggal sendirian, di sini?" tanya Delia. "Iya Cu, suami nenek sudah meninggal beberapa tahun yang lalu," jawab sang nenek dengan nada suara khasnya. "Anak-anak nenek, ke mana?" tanya Ocha. Nenek tua itu menghembuskan napas pelan. Ia seolah-olah sedang meratapi suatu hal yang membuatnya bersedih. "Nenek tidak punya anak, Cu," jawab sang nenek. "M-maafkan saya, Nek," pinta Ocha. Ia merasa bersalah karena telah membuat nenek itu teringat dengan nasib buruknya. "Tidak apa-apa, cah ayu," jawabnya. Pandangan sang nenek beralih dari Ocha menuju ke arah Alvaro. Alvaro agak bingung dengan hal itu, lalu ia pun menundukkan kepalanya untuk menghindari bertatapan langsung dengan sang nenek. Ya, begitulah Alvaro. Ia merasa malu sendiri jika diperhatikan oleh orang lain seperti itu, sekalipun yang memperhatikannya itu adalah seorang nenek-nenek. Namun beberapa saat kemudian, nenek itu mengalihkan pandangannya lagi dari Alvaro. "Nek, kalau nenek tinggal sendirian, lalu siapa yang mengurus nenek?" tanya Delia. "Nenek masih bisa menjaga diri sendiri, Cah ayu," jawabnya. "Saya sungguh kasihan sama nenek, kalau nenek berkenan, nenek bisa tinggal sama saya," tawar Delia. "Kamu memang anak yang baik, tapi biarlah nenek di sini saja," tolak sang nenek. Delia mengangguk pasrah. Ia tak berhasil membujuk nenek itu untuk pergi meninggalkan rumah tak layak huni yang ditempati. Seperti itulah jiwa Delia, sebuah jiwa yang penuh dengan belas kasih. Ia sangat tidak tega pada si nenek, tapi mau bagaimana lagi? Sang nenek tak mau menerima tawaran Delia, dan Delia pun tentu saja tak bisa memaksa keputusan itu. Perbincangan pun terus berlanjut, hingga rintikan air di luar sana sudah mulai mereda. Nampaknya sang langit sudah kehabisan peluru airnya. Itu tandanya, Alvaro dan kawan-kawan bisa melanjutkan perjalanan lagi. "Terima kasih, Nek, karena telah memberi tempat untuk kami berteduh," ucap Delia. "Sama-sama, Cah ayu," jawab sang nenek. Ketujuh anak remaja itupun satu persatu mulai bersalaman dan mencium punggung tangan si nenek. Terasa keriput nan dingin, itulah yang mereka rasakan dari tangan si nenek berkaki tiga itu. "Kami pamit ya, Nek. Nenek jaga diri baik-baik, ya!" ucap Delia. Nenek itu menampakkan senyumnya tanpa berniat untuk menjawab ucapan Delia. Mungkin senyuman itulah jawaban atas ucapan Delia barusan, hanya saja ia mengungkapkannya bukan dalam bentuk kata. Ketika Alvaro dan yang lain sudah mulai membelakangi sang nenek, dan berniat untuk segera meninggalkan rumah tua tak layak huni itu, tiba-tiba nenek itu bersuara. "Kemampuan itu adalah anugerah dari Tuhan, jadi tolong dijaga baik-baik!" Pikiran Alvaro langsung tertuju ke kemampuannya dalam melihat hal-hal aneh itu. Ia bingung sekaligus penasaran tentang bagaimana si nenek bisa tahu hal itu. Apa mungkin ia bisa melihat atau merasakan aura dari seseorang? Pertanyaan demi pertanyaan muncul begitu saja di benak Alvaro. Jujur itu adalah suatu keanehan yang ia rasakan dari nenek itu. "Iya Nek," jawab Alvaro singkat, seolah-olah ia bersifat bodoh amat dengan ucapan nenek tua itu barusan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD