Bab 10

1991 Words
Bukan tertarik dengan orangnya, tapi tertarik dengan sosok menyeramkan yang sedang berada di sekitar setiap orang yang sedang makan di tempat tersebut. Sosok yang sangat ia takuti, apa lagi kalau bukan si pocong. Namun anehnya, kenapa si Ihsan ketika makan tadi ia tidak didampingi oleh sosok tersebut? Mungkin pocong-pocong itu tidak ada yang berani mendekati Ihsan karena takut ketularan kebegoannya. Bukan, ternyata para pocong itu tidak hanya mendampingi saja. Namun mereka juga melakukan sesuatu yang membuat Alvaro mual, seolah-olah ia ingin memuntahkan seluruh isi perutnya. Bagaimana tidak, makanan yang sedang dimakan oleh orang-orang itu ternyata sudah diberi penyedap rasa oleh para pocong tersebut. Sosok berbalut kain kafan itu menggunakan air liur dan ludahnya untuk memberi penyedap rasa pada makanan-makanan tersebut. Tidak hanya itu, Alvaro memainkan bola matanya untuk mencari sesuatu yang janggal lagi. Akhirnya ia pun menemukannya. Ia melihat ke arah tempat cuci piring. Betapa terkejutnya ia yang lagi-lagi melihat sosok-sosok berbalut kain kafan itu sedang menjilati piring kotor bekas makanan yang dihidangkan kepada para pengunjung. Mual? Pasti. Andai semua tahu betapa menjijikkannya hal itu, pastilah tidak akan pernah ada yang mau makan di situ. Jangankan makan, datang ke tempat itu saja rasanya cukup mustahil. "Ayo pergi!" ajak Alvaro tiba-tiba. "Gak mau makan dulu?" tanya Ocha. "Enggak. Ayo pergi saja!" ajak Alvaro lagi. "Al," panggil Delia yang hanya dibalas dengan tatapan oleh Alvaro. "Baik, ayo semua, kita lanjutkan perjalanan kita!" ajak Delia juga. Sepertinya dialah yang paling peka dengan apa yang sedang terjadi dengan Alvaro. *** Alvaro benar-benar tak menyangka bahwa tempat seperti itupun terdapat banyak hantu. Alvaro tahu bahwa hantu-hantu itu bukanlah hantu seperti biasanya, melainkan mereka semua adalah sebagai penglaris. Pantas saja banyak sekali pengunjung di tempat tersebut. Alvaro merasakan mata kanannya berkedut-kedut. Rasanya tak begitu sakit, namun cukup mengganggu. Ia menekan mata kanannya itu menggunakan tangannya. Tak lama kemudian, kedutan itupun hilang dan ia pun bisa melihat dengan normal lagi. "Rupanya kemampuan mataku ini juga punya kelemahan. Ya, aku mulai memahaminya. Yang penting, aku harus cukup mengistirahatkan mataku agar nantinya tidak berdampak buruk," ucap Alvaro dalam hati. Alvaro dan yang lain berjalan pelan menyusuri jalanan ke arah timur, sebuah arah yang memang belum mereka jelajahi. Semenjak dari Warteg tadi, belum ada yang berbicara sepatah katapun. Mereka semua sibuk dengan pikirannya masing-masing. "Al, kenapa tadi kamu ngajak kita cepat-cepat pergi dari tempat itu?" tanya Reyhan yang akhirnya membuka pembicaraan. "Aku lihat ada hal yang janggal tadi," jawab Alvaro. "Janggal? Apa itu?" tanya Ocha. "Kamu gak tahu janggal? Hadeehh, parah. Janggal itu ya, aneh," jawab Alvaro. "Heh, bukan arti dari janggal, tapi yang janggal itu apa di tempat itu?" ucap Ocha. "Ooo... bilang dong!" kata Alvaro. Tepat ketika Alvaro menghentikan pembicaraannya, tiba-tiba angin berhembus kencang hingga menggugurkan daun-daun pohon di sekitarnya. Mungkin benar kata orang-orang. Ketika ada yang membicarakan para makhluk tak kasat mata itu, maka tanpa disadari makhluk itu juga sedang berada di tempat di mana ada orang yang sedang membicarakannya itu. Namun kali ini Alvaro tak melihat satu sosokpun makhluk yang menyeramkan, malahan yang menyeramkan adalah kondisi rambut si Ihsan yang acak-acakan. Bukan berarti tak ada, mungkin energi makhluk di sekitar Alvaro dan yang lain terlalu kuat sehingga kekuatan mata Alvaro pun tak mampu untuk menangkap sosok-sosok tersebut. Namun meski begitu, ia bisa merasakan kehadirannya. "Hei Alvaro, jawab dong, apa yang janggal?" tanya Ocha sedikit memaksa. Alvaro tersentak ketika mendengar pertanyaan dari si gadis cantik berambut pirang yang bernama Rosa Alviana atau yang akrab dipanggil Ocha itu. Ia bingung antara harus menjawabnya atau tidak. Di satu sisi ia sadar bahwa ada makhluk tak kasat mata yang berada di sekitarnya, tapi di sisi lain ia juga ingin menceritakan hal tadi. Alvaro terdiam sejenak, menunggu hati dan pikirannya untuk memutuskan perkara yang lumayan sulit itu. Namun apa salahnya ia bercerita, lagipula sosok itu juga tidak terlihat oleh matanya, hanya saja dia dapat merasakan kehadirannya. "Lah, malah diem," ucap Ocha. Nampaknya gadis itu sudah tak sabar menunggu jawaban Alvaro. "Oke, akan kuceritakan sesuatu yang kukatakan janggal tadi. Tapi sebelum itu aku minta kalian jangan takut dengan ceritaku ini. Cerita ini sangat seram, bahkan lebih seram dari cerita-cerita apapun. Sebuah cerita yang diambil dari kejadian nyata yang kualami beberapa menit yang lalu. Ini diawali ketika-" "Ah, kelamaan. Mending aku nyelam dulu ke samudera atlantik buat cari kapal titanic untuk menunggu kamu selesai ngomong," ucap Ocha ngawur. "Hahaha, baiklah. Tadi, saat kita menunggu si Ihsan makan, aku tu melihat hal yang sangat janggal," ucap Alvaro. "Apa yang janggal?" tanya Delia. "Hah, apa cuma aku yang lihat. Apa kalian nggak ada yang lihat?" tanya Alvaro. "Nggak, emang yang kamu lihat apa?" tanya Nanda. "Aku tadi melihat sesuatu yang sangat menyeramkan. Bayangkan, jarum jam bisa bergerak sendiri. Padahal nggak ada yang nggerakin," ucap Alvaro dengan nada suara seram. Mendengar pernyataan tidak berfaedah itu, mereka semua pun langsung memasang wajah malasnya. Ya, begitulah Alvaro, dibalik sifatnya yang berjiwa pemimpin, dibalik sifatnya yang pemberani, ia juga mempunyai sifat yang teramat sangat menyebalkan. Seolah-olah, hampir semua sifat, telah ada di dalam dirinya. "Perlukah aku membelah kepalamu dan mengganti otakmu terlebih dahulu?" tanya Reyhan kesal. "Wah, dasar psikopat!" ucap Alvaro. Kini Alvaro merasakan hawa di tempat itu sudah berubah. Sepertinya para makhluk tak kasat mata itu sudah pergi meninggalkan tempat itu, seolah-olah mereka pun ikut kecewa dengan cerita yang disampaikan oleh Alvaro. Lagi-lagi, kekuatan Alvaro mungkin masih belum bisa melihat keberadaan mereka yang berenergi kuat, tapi ia masih bisa mengetahui keberadaan para makhluk itu lewat perasaannya. "Alvaro," panggil Delia. "Iya Del," jawab Alvaro. Delia menatap Alvaro lekat, seakan-akan ia memberi pesan isyarat kepada Alvaro. Hanya dengan melihat saja, nampaknya Alvaro sudah mengerti arti dari tatapan dari Delia kepadanya. Alvaro juga merasakan keanehan pada tatapan Delia kepadanya. Entah kenapa setiap gadis cantik itu menatapnya, ia seperti terhipnotis dengan kecantikan gadis itu. Namun walau bagaimanapun juga, Alvaro sadar bahwa hal itu cuma kekaguman belaka. Kekaguman dari seorang sahabat yang telah lama menjalani segala bentuk kebahagiaan dan penderitaan bersama-sama. "Hah... Iya, iya. Kali ini aku serius. Aku akan menceritakan tentang hal yang sebenarnya," ucap Alvaro. Mereka memasang indra pendengaran masing-masing. Di saat itu pula datang kembali angin yang seperti tadi. Angin yang menandakan akan kehadiran sang makhluk tak kasat mata. Hanya Alvaro lah yang menyadari hal itu. Sekarang, makhluk itu seolah-olah sedang mengintip di suatu tempat sembari menunggu waktu untuk Alvaro bercerita. Alvaro mendecak sebal. Ia sangat kesal dengan makhluk itu. Kali ini ia tidak akan peduli lagi dengan kehadirannya. Ia akan tetap menceritakan kejadian tadi meski ada yang mengintip dan mendengarnya di balik pepohonan yang menjulang tinggi di sekitar Alvaro. "Kalian tahu, nggak, kalau di tempat makan tadi ada kejanggalan yang luar biasa?" tanya Alvaro. "Apa? Jarum jam bergerak sendiri lagi? Atau kipas angin yang muter sendiri?" sahut Nanda. "Cih, bukan. Demgerin dulu dong!" kata Alvaro. "Hah... iya, iya," ucap Nanda. "Jadi gini. Tempat itu seharusnya nggak seharusnya kita datangi. Meski hal aneh yang berada di sana sudah cukup familiar sih untuk sebuah tempat makan seperti itu, tapi...." Alvaro menggantung ucapannya seolah-olah tak sanggup untuk melanjutkan ceritanya lagi. Memang, sosok makhluk halus yang paling ia takuti adalah si pocong, karena itu ia selalu ragu kalau harus membicarakannya. "Tapi apa?" tanya Imam. "Tempat itu menggunakan penglaris, dan kalian tahu apa yang menyebabkannya laris?" tanya Alvaro. "Memangnya apa?" tanya Delia. "Ada banyak sekali sosok pocong di tempat itu. Sosok-sosok itulah yang menarik orang-orang untuk makan di sana. Tidak hanya itu, sosok-sosok itu pula yang memberikan penyedap rasa sehingga makanannya bisa terasa nikmat," jelas Alvaro. "Penyedap rasa?" tanya Ihsan. "Iya. Para pocong itu meludahi makanan yang dimakan para pengunjung dan juga menjilati piring-piring kotor bekas makanan para pengunjung," ucap Alvaro. "Be-berarti makananku tadi...." "Ya iya. Malahan, saat kulihat tadi bukan cuma diludahin saja, tapi ingus dan darah dari wajahnya juga menetes ke makanan kamu. Bukan hanya itu, makhluk itu sebenarnya juga ingin b***k ke makanan kamu, tapi untungnya aku bisa mencegahnya, tadi," jelas Alvaro. Ihsan tak kuat mendengarkan pernyataan Alvaro. Rasanya ia ingin memuntahkan seluruh isi perutnya. Ia benar-benar mual, membayangkan betapa menjijikkannya makanan yang telah masuk ke perutnya. Pada akhirnya, Ihsan pun benar-benar sudah tak bisa menahannya dan alhasil ia pun memuntahkan segala yang telah masuk ke perutnya. Suara muntahan Ihsan terdengar begitu menjijikkan di indra pendengaran mereka semua. Bahkan para perempuan pun sampai menutup mata dan telinga agar tidak melihat dan juga mendengar hal yang menjijikkan itu. "Woi Ihsan, aku lupa. Pocong itu juga menaruh upilnya di lauk kamu, tadi!" teriak Alvaro. Seolah-olah ia ingin menambah penderitaan Ihsan. Suara muntahan kembali terdengar. Terhitung sudah kelima kalinya si Ihsan mengeluarkan apapun dari dalam perutnya. "Hadeehhh... kamu ini, nggak kasihan sama si Ihsan? Bukannya mengurangi mualnya, malah kamu buat makin parah," ucap Reyhan. "Aku bahagia melihat dia menderita, hahahaha," ucap Alvaro dengan tawa khas seorang penjahat. "Parah, sumpah parah banget," ucap Reyhan. Tak lama kemudian, Ihsan menghentikan aktivitas muntahnya. Mualnya sudah agak menghilang, tapi hal itu berakibat pada tubuhnya yang mendadak lemas. Kalau dipikir-pikir, Alvaro itu benar-benar keterlaluan. Padahal sebenarnya tadi tak ada sesosok pocongpun yang mendekati Ihsan. Mendekati saja tidak ada apalagi meludahi dan sebagainya. Itu semua hanyalah keisengan dari seorang Alvaro Aditama. "Hah... hah... hah. Sumpah, aku gak akan pernah mau makan di tempat itu lagi," ucap Ihsan. "Yakin?" tanya Alvaro. "Iya lah," jawab Ihsan. "Ya udah, kalau begitu kami mau makan dulu di sana. Kamu gak usah ikut, ya!" kata Alvaro. Ihsan terdiam sejenak. Ia memandangi benda menjijikkan yang beberapa saat yang lalu ia keluarkan dari dalam perutnya. "Hei Alvaro. Kau tau arti muntahan itu? Muntahan itu mempunyai arti yang sangat mendalam. Bahkan saking mendalamnya, tadi yang perutku sudah kenyang, sekarang kembali lapar lagi!" ucap Ihsan kesal. "Hahahaha." Alvaro tertawa agak keras. "Kamu keterlaluan! Kamu juga tega memberikan harapan palsu pada cacing-cacing di perutku ini," ucap Ihsan. "Ihsan, Ihsan. Kamu tahu arti sahabat?" tanya Alvaro, Ihsan hanya diam. "Banyak hal yang bisa menjadi arti dari kata yang bernama sahabat. Tapi, sahabat adalah orang yang akan merasakan kebahagiaan ketika kamu bahagia. Ia juga orang yang akan merasakan penderitaan ketika kamu menderita," ucap Alvaro dengan penuh penghayatan. Ihsan terdiam, meratapi dirinya yang telah melakukan kesalahan. Ya, dia memang salah. Dia tak seharusnya berbuat seperti tadi, seolah-olah cuma dia saja yang merasakan lapar. "Jadi, aku salah, ya?" tanya Ihsan. "Bukan salah lagi," sahut Reyhan. "Ya maaf," ucap Ihsan. "Gak apa-apa, tapi sebagai gantinya, kamu harus traktir kita makan!" ucap Alvaro. "Cih, sok ceramah tapi ada maunya, ternyata," bisik Nanda pada Ocha. "Ya, itulah Alvaro," bisik Ocha balik. Ihsan mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sesuatu itu tidak lain adalah sebuah dompet yang sangat tebal. Ia pun membuka dompet tersebut dan alhasil, nampaklah lembaran-lembaran kertas jingga, biru dan yang lainnya. Bahkan hampir semua pecahan uang telah ada di dalam dompetnya. Maklum lah, anak orang kaya. "Oke, aku traktir," ucap Ihsan. "Minta berapa?" tanya Ihsan. "Wih, mentang-mentang banyak duit, gayanya juga dibanyakin," kata Reyhan. "Sudahlah Rey, mesin ATM kita tuh," sahut Alvaro. "Woi, cepatlah! Aku udah lapar nih," ucap Imam tiba-tiba. "Yahhh... si gorila kelaparan, nih," ejek Alvaro yang dilanjut dengan tawa mereka, kecuali Imam. *** Setelah makan, yang pasti bukan makan di tempat yang banyak pocongnya tadi, mereka pun melanjutkan perjalanan untuk mencari sang pembunuh. Kali ini tidak berpencar, melainkan langsung bergerak bersama menuju ke arah timur, tempat yang belum terjelajahi oleh kaki-kaki mereka sebelumnya. "Al, Lio nggak ngasih petunjuk lagi?" tanya Ocha di dalam keputus asaannya. "Entahlah, terkadang aku juga bingung dengan dia. Kenapa juga dia hanya memberi petunjuk setengah-setengah, kenapa gak langsung diberitahukan tempatnya saja?" ucap Alvaro. "Mungkin dia sariawan, makanya males ngomong," ucap Ihsan ngawur. "Pinter, si Lio sariawan guys!" teriak Alvaro. "Mungkin bukan cuma sariawan, tapi juga panas dalam!" sambung Reyhan. "Atau mungkin suaranya habis karena dibuat nyanyi," lanjut Ocha. Suara tawa terdengar menggelegar di area tersebut. Begitulah keseruan ketika bersama para sahabat. Di dalam situasi yang sulit pun, asalkan bersama sahabat pasti bisa merasakan apa yang namanya tawa. Dari situlah bisa didapatkan tentang pentingnya kehadiran sahabat. Bahkan satu orang saja pun sudah bisa meramaikan hidup, apalagi lebih dari satu, pastilah hal itu akan membuat kehidupan seolah-olah selalu berada di pasar yang ramai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD