"Maaammm... jangan!" teriak Ocha yang berusaha menahan Imam.
Namun terlambat sudah, Imam sudah berlari meninggalkan dia. Ocha pun langsung berlari mengejar Imam agar ia tak melakukan tindakan yang bodoh. Untungnya keberuntungan berpihak pada Ocha yang berhasil mengejar Imam dikarenakan Imam yang kesulitan untuk menyeberang jalan.
"Mam, jangan gegabah!" bentak Ocha.
"Cha. Mereka tu telah membunuh teman kita. Apa pantas kita ampuni?" tanya Imam.
"Iya Mam, aku juga tahu, tapi kamu yakin kalau kedua orang itu adalah pembunuh Lio? Sebaiknya kita tanyakan dulu pada Alvaro," ucap Ocha.
Imam terdiam sejenak. Ia masih mengamati gerak-gerik kedua orang yang sudah berbeda sisi jalan dengannya. Dengan kata lain kedua orang itu sudah menyeberang jalanan yang penuh dengan kendaraan itu, sedangkan Imam dan Ocha belum.
Melihat jalanan yang sudah mulai lenggang, akhirnya Imam pun bergerak dan disusul oleh Ocha. Merekapun juga sudah berhasil mencapai sisi jalan yang lain.
"Sekarang, misi kita cuma harus memfoto mereka, sebisa mungkin kita harus memfoto wajahnya. Kamu jangan bertindak di luar rencana!" ucap Ocha seraya memperingatkan Imam.
Imam dan Ocha pun mengendap-endap di balik pepohonan demi menjalankan misi penting itu. Si benda kotak sudah tergenggam erat di tangan mereka masing-masing. Mereka hanya berharap bahwa nantinya bisa mendapatkan foto yang bagus dan tidak membingungkan Alvaro.
Tak butuh waktu yang lama, Ocha berhasil memotret tepat di bagian wajah mereka. Tak lama kemudian, Imam pun sama. Keduanya berhasil memotret tepat di bagian wajah. Tak mau membuang-buang waktu, Imam pun langsung menyuruh Ocha untuk mengirimkan hasil potretannya ke Alvaro. Ia sadar bahwa hasil potretan Ocha lebih jelas dibandingkan hasil potretannya.
***
"Al, bangun Al!" ucap Delia sambil meneteskan air mata.
Delia memangku kepala Alvaro. Ia sangat cemas dengan keadaan lelaki itu. Terhitung sudah sekitar 10 menit lebih Alvaro tak sadarkan diri. Pertarungan panjang itu mungkin menyebabkan dia kehabisan seluruh tenaganya.
"Ma-maafkan aku. Semua ini gara-gara aku."
Pria berkacamata yang berdiri tak terlalu jauh dari Delia itupun akhirnya mengeluarkan suara. Lelaki yang nampak culun itu juga tak mampu berbuat apa-apa ketika Alvaro tak sadarkan diri. Ia hanya bisa meminta maaf, itu saja.
Delia tak memperdulikan ucapan lelaki berkacamata itu. Walau bagaimanapun juga, di hati Delia, ia juga agak sedikit menyalahkan lelaki itu. Ini seperti mengulang kejadian beberapa Minggu yang lalu, di saat tubuh Alvaro yang terbaring lemah di rumah sakit.
Delia menangis sejadi-jadinya. Ia takut kejadian itu akan terulang lagi. Namun ketakutannya perlahan hilang ketika dengan perlahan kedua mata Alvaro terbuka, hingga akhirnya terbuka sempurna.
"Alvarooo...!" teriak Delia sembari memeluk Alvaro yang baru sadar.
Delia semakin mengeratkan pelukannya ke Alvaro. Seolah-olah ia tak mau melepaskan pelukan itu. Delia sangat takut kalau harus kehilangan dia.
"Ke mana orang itu?" tanya Alvaro yang masih berada di pelukan gadis cantik itu.
"Dia sudah pergi, Al," jawab Delia. Air matanya masih terus menetes.
"Heh, sial! Andai aku gak selemah ini, pasti orang itu-"
"Kamu gak lemah, Al. Kamu sudah bisa mengalahkan orang itu. Itu tandanya kamu itu kuat," potong Delia.
Delia akhirnya mau melepaskan pelukannya ke Alvaro, sekaligus ia juga mengakhiri tangisan air matanya. Ia memandang Alvaro lekat dengan mata yang berkaca-kaca. Dari tatapannya, Alvaro mengerti tentang perasaan Delia. Sebuah perasaan takut kehilangan yang luar biasa.
Alvaro mengerti, karena itulah ia tidak boleh nampak lemah di hadapan Delia. Meski tubuhnya masih sangat berat untuk dibuat bangun, tapi ia tetap memaksanya untuk bangun. Akhirnya, ia pun bisa berdiri dengan tegak tanpa bantuan siapapun.
"Maafkan aku."
Kata maaf terdengar lagi untuk yang kedua kalinya. Alvaro menengok ke arah sumber suara yang ternyata keluar dari mulut si pria berkacamata itu. Alvaro menunjukkan senyuman manisnya kepada pria itu.
"Tidak apa-apa," jawab Alvaro.
"Alvaro Aditama." Alvaro memperkenalkan dirinya kepada pria itu sembari menyodorkan tangan kanannya ke depan si pria berkacamata itu.
"Aku Boby Kurniawan," ucap pria yang ternyata bernama Boby itu sembari menjabat tangan Alvaro.
"Aku Delia," ucap Delia yang ikut memperkenalkan dirinya juga.
"I-iya, salam kenal," sahut Boby.
TRINNING! TRINNING!
HP Alvaro berbunyi tanda ada pesan masuk. Ia pun membukanya dan ternyata isinya adalah foto 2 orang yang sedang berjalan berdampingan. Di bawah foto itu pula ada sebuah kalimat penjelasan dari foto tersebut yang berbunyi....
"Al, apa benar ini orangnya?"
Begitulah pesan yang dikirimkan oleh Ocha kepada Alvaro. Alvaro pun mulai mengamati foto tersebut. Ia mencoba mengingat-ingat wajah para pembunuh yang pernah tergambar di pengelihatannya itu. Untungnya Alvaro masih mengingat wajah mereka berdua meskipun tidak 100 persen. Ia pun langsung mengirim pesan balasan ke Ocha.
Setelah mengirim pesan balasan, Alvaro pun terfokus ke arah si lelaki berkacamata itu. Ia sangat ingin mengintrogasi tentang penyebab dirinya diperlakukan seperti itu oleh pria kekar yang tadi.
Boby mulai bercerita. Ia mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada masalah apapun antara dia dengan si pria kekar itu. Dari dulu ia memang sudah diperlakukan begitu. Mungkin semua itu karena keculunan dan kemiskinannya.
"Oke. Aku harap setelah ini dia ataupun yang lain tak akan mengganggu kamu lagi," ucap Alvaro.
"Mudah-mudahan begitu," ucap Boby.
"Yang paling penting, sesekali lawanlah jika kamu diperlakukan seperti itu. Terkadang seorang pendiam pun harus menjadi brutal agar diamnya tidak dianggap sebagai diam seorang pecundang," ucap Alvaro.
"Tapi aku takut. Aku ini lemah," kata Boby.
"Kalau kamu masih menganggap dirimu seperti itu, maka jangan juga anggap kalau kamu itu seorang lelaki!" ucap Alvaro tajam.
"Sekarang, kamu mau ke mana?" tanya Alvaro.
"Sebenarnya aku mau kuliah, tapi...." Pria itu menggantung ucapannya.
"Oke, pergilah! Setidaknya terlambat masuk kuliah itu lebih baik dibanding tidak masuk," sahut Alvaro sok menasihati.
Delia yang mendengar kata-kata Alvaro, tiba-tiba merasa kagum dengan lelaki yang satu itu. Begitupun dengan si Boby, ia merasa bahwa inilah pertama kalinya ia dihargai oleh orang lain.
"Baik, aku akan ke kampus," ucap Boby.
"Bagus. Cepatlah!" perintah Alvaro.
Boby langsung membalikkan tubuhnya dan bersiap untuk melangkah menuju ke kampusnya. Hari ini ia benar-benar sangat termotivasi oleh seseorang yang bernama Alvaro Aditama.
"Jangan biarkan seorangpun meremehkan mimpi-mimpi kamu!" ucap Alvaro lagi.
"Sekalipun orang-orang menganggap itu mustahil untuk bisa kamu gapai, tapi selama kamu yakin bahwa kamu benar-benar bisa menggapainya, maka tetaplah berjuang! Buktikan pada mereka bahwa keyakinanmu itu bukan hanya sekedar omong kosong!" lanjut Alvaro.
Boby terdiam. Jujur ia sangat tersentuh dengan kata-kata orang yang baru dikenalinya itu. Dari raut wajahnya yang membelakangi Alvaro, ia nampak seperti sedang menahan tangis. Alvaro Aditama, ia seperti sang pengubah takdir yang dikirimkan sang kuasa kepada seseorang yang bernama Boby Kurniawan.
"Terima kasih, Alvaro. Aku berjanji akan selalu mengingat kejadian ini, selamanya. Aku juga berjanji akan selalu mengingat kalian berdua sampai kapanpun juga. Dan aku juga berjanji akan menggunakan kata-katamu itu sebagai motivasiku, Alvaro." ucapnya dengan menahan tangisan harunya. Setelah itu ia pun berjalan meninggalkan Alvaro dan Delia.
"Hmmm... aku percaya bahwa kamu bisa, Boby," gumam Alvaro dengan menampakkan senyuman manisnya.
***
Reyhan dan Nanda berjalan berduaan di tepi jalanan yang cukup ramai kendaraan. Namun seperti ada yang aneh, bukannya anggota kelompok mereka terdiri dari 3 orang. Lalu kemanakah satu dari 3 orang tersebut?
Bahkan Reyhan dan Nanda pun baru menyadari bahwa mereka telah kehilangan salah satu anggota kelompoknya, siapa lagi kalau bukan si Ihsan. kemanakah si Ihsan pergi? Apa mungkin ini ada kaitannya dengan hal yang di luar nalar?
"Nda, si Ihsan mana?" tanya Reyhan.
"Lho, bukannya tadi ada di belakang kita," jawab Nanda.
"Aduuhh... jangan-jangan dia tersesat," tebak Reyhan.
"Ah, mana mungkin, dia pasti tahu jalan lah," ucap Nanda santai.
"Iya kalau itu kamu, Alvaro, Delia, Imam, ataupun Ocha. Lha ini Ihsan, Nda. Kamu kan tahu sendiri, terkadang otak tu orang bisa tiba-tiba jadi tidak berguna. Nanti kalau dia lupa jalan kembali ke pos ronda itu gimana?" tanya Reyhan sedikit panik.
"Ah biarin aja dia hilang," ucap Nanda kejam.
"Jangan gitu, Nda! Sekarang kita cari Ihsan dulu, ayo!" ajak Reyhan seraya menarik tangan Nanda.
Nanda hanya bisa pasrah ketika tangan pria tampan yang bisa dibilang ketampanannya menempati posisi kedua setelah Alvaro itu menariknya dengan kuat. Ia mau tidak mau harus mengikuti ke manapun arah kaki Reyhan melangkah. Si gadis cantik yang agak tomboy dan terkadang juga dingin itu sebenarnya malas, tapi mau bagaimana lagi.
Reyhan dan Nanda kembali menyusuri jalanan yang telah dilewati. Entah kenapa ada keyakinan bahwa Ihsan berada di tempat yang pernah mereka lewati, dan ternyata keyakinan itu tidak salah, tapi juga tidak benar. Dari jarak yang lumayan jauh, Reyhan melihat Ihsan yang sedang berhadapan dengan sesuatu yang berwarna putih. Letaknya adalah beberapa puluh meter dari tempat yang pernah dilalui oleh Reyhan dan juga Nanda alias tempat di mana sekarang ini mereka berdiri. Mata Reyhan terbelalak seakan-akan tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat sembari memasang wajah marah khasnya.
"Boleh nggak kalau aku ngomong kasar?" tanya Reyhan pada Nanda. Dalam keadaan seperti itupun ia masih sempat-sempatnya meminta izin.
"Silahkan!" jawab Nanda.
Reyhan menghembuskan napas pelan dengan kedua tangan yang masih mengepal dengan kuat. Tak lama kemudian, ia pun mempercepat langkahnya menuju ke arah di mana Ihsan berada.
"Woi, Babi!" teriak Reyhan.
Sontak, Reyhan langsung dihadapkan dengan mata-mata aneh yang dalam hitungan detik memandangnya dengan serentak. Ia pun agak kaget dengan situasi yang seperti itu.
"Maaf, bapak-bapak, ibu-ibu. Jangan salah paham! Tadi itu saya sedang memanggil orang ini," ucap Reyhan sembari menunjuk ke arah seseorang yang sedang asyik menyantap sesuatu yang berwarna putih itu.
Semua mata beralih pandang lagi. Kali ini ia agak sedikit lega karena tatapan-tatapan aneh itu sudah tidak mengarah kepadanya lagi.
Di sebuah bangunan yang dikenal dengan sebutan Warteg itulah seorang Ihsan Nur Alam berada. Ia dengan lahapnya memakan butiran putih itu tanpa memperdulikan kedatangan temannya. Rasa bersalah seolah-olah tak ada di dalam dirinya, padahal jelas-jelas ia sudah melakukan kesalahan.
"Enak ya, yang lain lagi berjuang, di sini kamu malah enak-enakan makan," oceh Reyhan.
"Aku lapar," jawab Ihsan tanpa menoleh ke arah Reyhan dan masih terus menyantap si putih dan juga kawan-kawannya.
Nanda berjalan mendekati mereka berdua. Wajah dinginnya kembali ia pasang dengan sempurna. Jujur ia pun kesal dengan kelakuan si anak bodoh yang satu itu. Namun mau bagaimana lagi, mungkin itu sudah bawaan dari lahir.
"Apa kubilang. Harusnya kita tinggalin aja nih anak. Sekarang kamu menyesal, kan?" ucap Nanda.
"Haaahhh." Reyhan meluapkan emosinya.
"Nda, telepon Alvaro dan yang lainnya, sekarang! Suruh ke sini!" perintah Reyhan.
"Mau apa nelpon mereka. Apa kalian berdua udah dapat petunjuk tentang 2 penjahat itu?" tanya Ihsan santai.
"Belum," jawab Reyhan kasar.
"Lalu untuk apa kamu mennyuruh mereka untuk ke sini?" tanya Ihsan lagi.
"Gak apa-apa. Cuma mau suruh bantu ngeroyok seseorang. Seseorang yang saat teman-temannya sedang berjuang, ia malah asyik memanjakan perutnya," jawab Reyhan.
"Wah, bagus itu. Orang kayak gitu gak boleh dibiarin. Nanti aku juga akan bantu," ucap Ihsan dengan mengacungkan jempolnya sembari memasang senyuman tak berdosanya.
Reyhan semakin geram dengan tingkah sahabatnya yang satu ini. Rasanya ia ingin sekali duel berkelahi dengan manusia bodoh itu. Namun sayangnya, tempatnya kali ini tak mendukung untuk dibuat berkelahi.
***
Setelah Nanda menelepon kelompok Alvaro dan juga kelompok Imam, akhirnya kedua kelompok itupun sampai ke sana. Kedatangan kedua kelompok itu hanya berbeda beberapa menit. Mula-mula Alvaro dan Delia lah yang terlebih dahulu sampai ke sana dan langsung menanyakan perihal tentang permintaan berkumpul itu.
"Ini nih lihat, bukannya bantu nyari malah enak-enakan makan di sini," ucap Reyhan.
"Kalau kamu juga lapar, silahkan pesan! Nanti aku yang bayarin," ucap Ihsan sembari melahap suapan terakhirnya.
"Tuh kan Al, emang ngeselin nih orang," ucap Reyhan.
"Hahaha, sudah, biarin aja!" kata Alvaro.
"Dengerin tu!" sahut Ihsan. Perkataannya itu semakin membuat Reyhan geram.
"Nanti kita gantung aja nih orang di pohon mawar," sambung Alvaro.
"Kejam. Bisa mati dong aku, nanti," kata Ihsan.
"Lho, kamu lihat sendiri kan? Otaknya entah ditinggal di mana nih orang. Bodohnya kebangetan," ejek Reyhan.
"Eh Rey. Katanya aku mau digantung. Kalau digantung kan otomatis aku bisa mati. Kamu gimana sih?" ucap Ihsan.
"Hah, iya, terserah," sahut Reyhan pasrah.
Di sisi lain, tepat ketika kedatangan Imam dan Ocha ke tempat tersebut, Alvaro tengah termenung sambil memandang ke sebuah arah. Bahkan ia tak sadar dengan kedatangan kedua sahabatnya itu meski Imam sudah menyapanya. Bola matanya terus fokus menatap ke arah kerumunan para manusia yang sedang menyantap butiran putih itu. Lalu apa yang membuatnya begitu tertarik untuk menyaksikan orang yang sedang makan?