Setelah sekian lama mencari, mereka bertujuh masih belum menemukan titik terangnya. Sebenarnya banyak orang yang mereka temui, tapi tak satupun ada yang berciri-ciri sama seperti para pembunuh itu.
"Apa kita harus berpencar?" tanya Imam.
"Jangan!" cegah Alvaro.
"Kenapa? Bukannya kalau berpencar kita akan lebih mudah dan cepat menemukan mereka," ucap Imam.
"Apapun yang terjadi, kita harus tetap bersama, kan?" kata Alvaro.
Kata-kata puitis tiba-tiba terucap dari mulut Alvaro. Ia memang tak mau terjadi sesuatu yang buruk menimpa teman-temannya nanti. Bahkan sebenarnya pun ia tak mau melibatkan mereka dalam urusan yang bisa saja mengancam nyawa seperti saat ini. Namun Alvaro hanyalah manusia biasa yang tentu saja membutuhkan bantuan orang lain.
Malam semakin larut. Para makhluk tak kasat mata semakin memenuhi bumi yang gelap. Suara cekikikan terdengar menggema hampir di setiap area yang terlihat angker. Parahnya, hanya Alvaro lah yang melihat dan mendengar hal itu.
Rasanya, ia sangat ingin mengeluarkan semua rasa takutnya. Namun ia ingat bahwa derajatnya sebagai manusia lebih tinggi dari makhluk apapun. Ia pun mencoba mengabaikan kehadiran sosok-sosok menyeramkan itu.
***
Pukul 21:30
Terhitung sedari tadi sudah berjam-jam mereka berjalan tanpa mendapatkan sesuatupun yang mereka inginkan. Rasa lelah menjalar di sekujur tubuh ketujuh remaja itu. Alhasil, rasa lelah itu berhasil membuat mereka semua menyerah dan harus memutuskan untuk beristirahat. Untungnya tak jauh dari tempat mereka, terdapat pos ronda. Mungkin tempat itu cocok untuk melepas penat setelah berjam-jam melakukan perjalanan yang sia-sia. Lagipula tempat itu sepertinya sudah tidak digunakan untuk ronda lagi.
"Teman-teman, kita istirahat dulu!" ucap Alvaro kepada teman-temannya.
Di dalam pos ronda yang tak terlalu besar itu akhirnya mereka berkumpul. Rasa penat bercampur dengan udara malam yang dingin. Bahkan ketika sudah berada di pos ronda itu, Alvaro masih saja melihat sosok menyeramkan, meskipun cuma satu ataupun dua dan cuma numpang lewat saja.
"Apa gak sebaiknya kita ngontrak rumah aja," usul Ihsan.
"Heh, kita ini sedang mencari target yang bisa berpindah tempat kapan saja, bukan mencari target yang akan selalu diam dan berada di situ selamanya," kata Reyhan.
"Iya, kalau kita ngontrak rumah dan target kita ternyata sudah tidak berada di sekitar sini lagi, terus mau diapakan tu kontrakan? Dimasukin tas, gitu?" lanjut Imam.
"Kita ini ibarat pengelana. Tidak tidur di tempat yang nyaman ya tidak masalah. Setidaknya dengan begini kita bisa berlatih hidup sederhana," ucap Reyhan.
Ihsan tiba-tiba menampakkan wajah sedihnya di depan 6 temannya itu.
"Aku kan cuma usul, tapi kenapa kalian begitu. Sakit hati ini, sakit," ucap Ihsan dramatis.
"Lebay," ucap mereka bersamaan kecuali Alvaro dan tentunya juga Ihsan sendiri.
"Woi berisik! bisa diem gak? Ganggu orang mau tidur aja," ucap Alvaro.
Alvaro melingkarkan kedua tangannya di kepala dengan maksud untuk menjadikannya bantal. Padahal beberapa jam yang lalu ia juga sudah tertidur meski dalam tidurnya ia mendapat gangguan sedikit.
"Heee... nih lagi, bisanya cuma tidur doang," ucap Reyhan.
"Bodoh amat. Huuaaahhh...," ucap Alvaro sambil menguap.
Malam itu akhirnya mereka bertujuh tidur di pos ronda yang tak terlalu besar itu. Dengan selimut dari angin malam yang menusuk tulang, satu persatu dari mereka pun mulai berkelana ke alam mimpi. Laki-laki dan perempuan tidur di satu tempat yang tak berbataskan apapun. Namun mereka adalah sahabat yang tak akan mungkin merusak masa depan satu sama lain.
Demikianlah alasan terhebat mereka. Sebuah rasa percaya yang begitu besar antara yang satu dengan yang lain. Ego seakan-akan telah terbuang jauh-jauh dari ikatan itu. Meski pernah ada sebuah perselisihan kecil di antara mereka di kala hal gaib sedang menyerang.
***
Sang surya telah bersinar, meninggalkan kegelapan malam yang mencekam dan menciptakan cahaya perdamaian. Perdamaian dalam arti perdamaian di hati. Kegelapan telah menciptakan ketakutan dan cahaya telah menciptakan perdamaian.
Alvaro bangkit untuk mengawali perjalanan, lalu diikuti oleh yang lain. Si tukang tidur itu terkadang juga bisa menjadi pemimpin yang hebat. Untungnya semalam ia tidak mendapatkan gangguan lagi dalam tidurnya.
Hari yang seharusnya mereka semua gunakan untuk menimba ilmu di kampus, kini mereka gunakan untuk menyusuri aspal jalanan. Reyhan sudah menyangka bahwa hal itu akan terjadi. Karena itulah ia sudah izin ke pihak kampus bahwa untuk hari ini sampai waktu yang belum bisa ditentukan, ia dan keenam temannya itu tidak bisa masuk kuliah dulu. Untungnya pihak kampus memberinya izin atas alasan yang ia berikan. Alasan apakah yang Reyhan berikan? Kalau dari pengakuan si Reyhan sih rahasia. Jadi, tak ada yang tahu tentang hal itu.
"Sebaiknya kita berpencar saja," usul Reyhan.
"Tapi Rey, kita harus selalu bersama," sahut Alvaro.
"Kalau nggak berpencar, kita akan sulit menemukan mereka," ucap Reyhan.
"Tapi Rey...," kata Alvaro.
"Kita akan selalu bersama, Al. Tapi bukan berarti bersama itu harus selalu berdekatan. Selama hati kita semua menyatu dan saling mengingat satu sama lain, maka hal itupun sama halnya kita sudah selalu bersama," ucap Reyhan.
Raut wajah Alvaro tiba-tiba berubah drastis. Dari ketegangan menjadi sebuah senyuman tulus. Ia berpikir bahwa seharusnya yang jauh lebih pantas menjadi pemimpin mereka saat ini adalah Reyhan, bukan dia.
"Baiklah Rey, aku setuju," ucap Alvaro menyetujui.
"Oke. Kalian gimana?" tanya Reyhan pada semuanya.
"Kita ngikut aja," jawab Imam sebagai perwakilan mereka.
"Baiklah, kalau begitu kita harus membuat 4 kelompok, dan nanti kalau ada yang melihat orang yang ciri-cirinya sama dengan apa yang digambarkan Alvaro, kalian langsung foto dia dan kirim ke Alvaro. Karena hanya Alvaro lah yang mengetahui wajah mereka. Jika orang yang kalian foto itu memang penjahat yang dimaksud, maka segera hubungi yang lain untuk menuju tempat tersebut. Tapi ingat! Jangan sampai kehilangan jejaknya!" ucap Reyhan panjang lebar.
"Oh ya, nanti kalau nggak ada yang berhasil nemuin para penjahat itu, kita berkumpul lagi di pos ronda ini," lanjut Reyhan.
"Oke, siap," ucap Ihsan dengan lantang.
Anggota kelompok akhirnya terbentuk. Alvaro berkelompok dengan Delia, Imam dengan Ocha, Ihsan dengan Reyhan dan Nanda. Mereka pun saling memencarkan diri satu sama lain, kecuali Alvaro dan Delia yang masih berada di tempat itu. Mereka berdua masih menatap kepergian kedua kelompok yang menuju ke arah berbeda, utara dan selatan. Alvaro dan Delia mendapatkan tugas untuk menyisir area barat untuk bisa menemukan sekaligus menangkap penjahat itu. Hanya timur, hanya arah timurlah yang tak dijelajahi oleh mereka.
"Kau benar-benar sosok pemimpin yang hebat, Rey. Aku percaya suatu hari nanti jiwa kepemimpinanmu itu akan bermanfaat bagi orang banyak," ucap Alvaro dalam hati.
"Ayo Del, kita berangkat!" ajak Alvaro.
Alvaro dan Delia mulai bergerak ke arah barat. Suara langkah kaki mereka saling bersatu padu melawan kebisingan jalanan. Tak ada tujuan yang jelas, kecuali hanya mengikuti ke arah kaki melangkah.
Sampailah mereka di area gang-gang sempit. Namanya juga perkotaan, pastilah identik dengan area seperti itu. Alvaro dan Delia tak melihat ada seorangpun di tempat yang sedang mereka lalui, tapi langkah keduanya tak pernah terhenti. Hingga di sebuah tempat, mereka melihat sesuatu yang cukup menarik perhatian.
"Heh, ngapain lo kuliah?" tanya seorang lelaki yang cukup gagah kepada seorang lelaki berkacamata.
"A-aku...." Lelaki berkacamata itu menggantung perkataannya.
"Aku cuma ingin mewujudkan mimpi-mimpiku," lanjutnya dengan suara lantang tanpa berani menghadap ke wajah lelaki gagah itu.
"Hahahahaha... mimpi lo ketinggian, bodoh! Orang miskin aja sok-sokan mau kuliah," ejeknya.
Alvaro yang melihat hal itu jadi kesal sendiri. Jiwa sosialnya tiba-tiba meronta-ronta, padahal ia tak mengenal mereka dan tak mengetahui apa permasalahan mereka. Namun Alvaro tetaplah Alvaro. Orang yang selalu benci dengan yang namanya penindasan.
"Gue beritahu ya, orang miskin kayak lo gak pantes untuk kuliah," ucap lelaki gagah itu.
"Memangnya kenapa kalau dia miskin? Apa cuma orang kaya yang boleh bermimpi, berangan-angan atau bercita-cita?" sahut Alvaro sembari melangkah mendekat. Delia sebenarnya sudah melarangnya, tapi ya begitulah.
Lelaki gagah itu berbalik memandang ke arah Alvaro dengan tatapan menyeramkannya. Delia yang melihat hal itu menjadi ketakutan dan langsung mundur beberapa langkah. Namun di hatinya, ia benar-benar sangat mencemaskan Alvaro.
"Siapa lo?" tanya orang itu.
"Aku... orang yang akan mengajarkan kamu tentang bagaimana caranya menghargai mimpi seseorang!" teriak Alvaro. Ia langsung melangkahkan kakinya dengan cepat dan berniat menyerang orang tersebut.
Serangan mulai dilancarkan. Alvaro tak peduli dengan seberapa besar tubuh musuhnya. Baginya, kemenangan dalam suatu pertarungan bukan dilihat dari ukuran tubuh, tapi lewat kekuatan tekad pantang menyerah.
Lucu juga sebenarnya, orang yang baru sembuh dari koma, kini malah menjalani sebuah pertarungan menegangkan yang bisa saja mengancam nyawa.
Alvaro terlibat adu pukul dengan lelaki bertubuh kekar itu. Beberapa kali ia kena pukul, beberapa kali pula ia berhasil memukul. Pertarungan berlangsung sekitar 3 menit, tapi belum ada yang memenangkannya. Seperti tak mempunyai rasa lelah, mereka berdua terus beradu pukul tanpa memperdulikan rasa sakit di tubuh mereka masing-masing.
Alvaro mundur untuk mengatur napasnya. Beberapa saat kemudian, ia pun langsung memasang kuda-kuda untuk memulai pertarungan lagi. Si lelaki gagah itu benar-benar sangat kuat. Bukan, lebih tepatnya keduanya sama-sama kuat. Karena itulah sejauh ini belum ada yang memenangkan pertarungan itu.
"Gawat! Sepertinya aku belum sembuh 100 persen. Apa yang harus aku lakukan? Menyerah berarti aku kalah dan akan dikenal sebagai pecundang. Ayolah Alvaro, berpikir!" ucap Alvaro dalam hati.
Alvaro masih memasang kuda-kuda bertahan. Napasnya sudah terasa mau putus. Wajar saja, kecelakaan itu telah membuatnya kehilangan banyak darah dan mungkin berpengaruh pada staminanya.
"Hei... sudah menyerah lo!" teriak lelaki gagah itu.
Alvaro terdiam dan mencoba untuk tenang. Ia menyadari bahwa musuhnya itu sudah tahu bahwa ia kehabisan tenaga. Di saat saat seperti itulah Alvaro harus menggunakan otaknya agar bisa menang dalam pertarungan.
"Aku gak boleh menghabiskan tenagaku, tapi apa yang harus aku lakukan?" batin Alvaro.
"Kalau aku menyerangnya bertubi-tubi, maka itu akan menghabiskan sisa tenagaku. Aku harus menghemat energiku. Satu pukulan, ya, satu pukulan. Dengan satu pukulan keras yang tepat mengenai bagian sensitifnya, maka aku akan menang. Baiklah, akan kuselesaikan ini dengan satu pukulan," batin Alvaro lagi.
Alvaro mulai bergerak ke arah lelaki itu, dan di saat itu pula Delia tak kuasa menyaksikan Alvaro yang akan memulai perkelahian itu lagi. Delia pun secara refleks langsung menutup matanya menggunakan kedua telapak tangannya.
Kini, posisi Alvaro dan si gagah itu sudah berhadap-hadapan, hanya tinggal berjarak sekitar 2 meter saja. Sesuai rencana, ia sebisa mungkin harus tetap bertahan demi mencari celah untuk satu pukulannya yang akan melumpuhkan musuh. Si lelaki gagah itu tanpa basa-basi lagi langsung menyerang. Alvaro yang mendapat serangan bertubi-tubi itu hanya bisa menghindar dan menangkis, itupun napasnya sudah mulai ngos-ngosan lagi. Ia mencoba untuk tenang, meski beberapa dari pukulan sang musuh telah mengenai kepala dan dadanya. Rasa sakit harus ia tahan, kemenangan harus ia dapatkan. Begitulah prinsip dari seorang pemenang.
Alvaro mengepalkan tangan kanannya dengan kuat. Ia telah melihat celah untuk menyerang bagian sensitif dari sang musuh, dan tepat setelah pukulan musuh mengenai kepalanya, ia langsung memberi serangan balasan dengan memukul ke arah rahang bawah sang musuh. Alhasil satu pukulan itupun langsung bisa membuat lelaki gagah itu kehilangan keseimbangannya dan akhirnya terjatuh.
Alvaro berniat ingin memberi serangan susulan, namun sang musuh sudah terlebih dahulu melarikan diri dari tempat itu. Sepeninggalan lawan bertarungnya itu, emosi Alvaro agak sedikit mereda. Namun napasnya sudah tak bisa diatur lagi, dan akhirnya ia pun harus kehilangan kesadarannya.
"Alvarooo...!" teriak Delia.
***
Di lain tempat, Imam dan Ocha sedang berjalan beriringan untuk mencari targetnya, atau paling tidak mendapatkan petunjuk tentang keberadaan sang target. Selama perjalanan, mereka belum menemui satupun orang yang mencurigakan. Hingga pada akhirnya, di suatu tempat yang lumayan ramai nampaklah dua sosok pria yang ciri-cirinya terlihat sama dengan apa yang dijelaskan oleh Alvaro.
"Cha, kayaknya itu deh orangnya," ucap Imam sembari menunjuk ke arah 2 pria itu.
"Hmmm... kamu yakin?" tanya Ocha.
"Yakin Cha, kamu tunggu di sini! aku akan menangkap mereka," ucap Imam.
"Eh, nanti dulu! Lebih baik kita foto dulu tu orang. Kamu masih ingat pesan Reyhan yang tadi kan? Cuma Alvaro yang tahu wajah para penjahat itu," ucap Ocha.
"Terus kamu mau foto wajahnya, gitu?" tanya Imam.
"Ya kalau nggak bisa wajahnya, paling tidak kita bisa memfoto kedua orang itu terserah dari sisi mana aja. Aku yakin Alvaro pasti juga bisa mengenali tubuh mereka," jawab Ocha.
Ocha berusaha mengambil handphonenya dari tas. Agak sulit memang, karena di dalam tasnya tidak hanya ada handphone, melainkan ada banyak barang lainnya. Saat itulah si Imam sudah tak bisa menahan emosinya lagi, alias ia telah kehilangan kesabarannya. Ia masih mengamati gerak-gerik kedua orang mencurigakan itu yang semakin lama semakin menjauh. Ingin sekali ia menggerakkan kakinya untuk mengejar kedua orang itu, tapi tentu saja Ocha pasti melarangnya.
"Ah kelamaan! Aku langsung saja kejar mereka," ucap Imam sembari berlari mengejar 2 lelaki itu.