Alvaro mengalihkan pandangannya ke arah lain, tapi lagi-lagi ia melihat sesuatu di jalanan yang agak jauh dari toko tersebut. Sosok hitam tinggi yang memakutkan. Untungnya posisi makhluk itu sedang membelakanginya dan juga jaraknya agak jauh dari dia. Mungkin benar, waktu-waktu segini adalah waktu keluarnya para makhluk tak kasat mata.
Alvaro tak tahan dengan semua yang ia lihat. Ia pun langsung menutupkan matanya agar ia tak melihat yang aneh-aneh lagi. Hal itu tentu saja mengundang pertanyaan dari teman-teman yang melihatnya.
"Kenapa Al?" tanya Delia.
"Hah? Gak apa-apa Del," jawab Alvaro berbohong.
Delia agak mendekat ke arah Alvaro. Ia tahu ada sesuatu yang terjadi pada Alvaro.
"Ada sesuatu, ya?" bisik Delia.
Alvaro tak menjawab. Ia hanya menampakkan tatapan nanarnya. Setelah itu ia memberikan senyumannya ke arah Delia. Delia peka dengan arti dari senyuman itu. Tentu saja itu adalah senyuman tanda semuanya akan baik-baik saja.
"Woi, apa yang kalian bisik-bisikkan?" tanya Ihsan penasaran.
"Oh, ini... Delia ngajak kencan," jawab Alvaro ngawur.
"Hah, kencan? Delia, teganya dikau mengkhianati cintaku," ucap Ihsan dramatis.
"Halah, lebay!" ejek Alvaro.
"Kau ini, si Ocha kau sukai, Delia juga. Sebenarnya siapa sih yang kamu sukai?" tanya Nanda.
"Hehehe, kalau boleh ya keduanya juga aku mau," jawab Ihsan tak tahu malu.
PLAKKK! PLAKKK!
Sebuah pukulan ganda mengarah ke kepala Ihsan. Ihsan pun langsung meringis kesakitan sembari memegangi kedua sisi kepalanya yang baru saja mendapatkan pukulan itu.
"Jangan mimpi!" ucap Ocha dengan nada agak tinggi.
***
Menit demi menit berlalu, akhirnya yang diharapkan pun tiba. Reyhan dan Imam berjalan santai sembari membawa bungkusan plastik yang bisa dipastikan itu adalah makanan. Tanpa basa-basi lagi, bungkusan makanan itupun langsung disantap dan dihabiskan oleh mereka.
"Aku mau tidur," ucap Alvaro setelah selesai menghabiskan makanannya.
"Bagus ya, udah kenyang ya tidur," sahut Ihsan.
"Jangan bangunkan aku kalau aku sudah bangun!" ucap Alvaro lagi.
"Bodoh amat," ucap Ihsan dengan kesal.
Alvaro memanjakan tubuhnya terlebih dahulu meninggalkan keenam temannya yang masih bercanda ria bersama. Ada alasan tersendiri kenapa ia memutuskan untuk tidur. Selain untuk mengistirahatkan tubuhnya dan mengumpulkan tenaga, ada satu alasan lagi darinya. Alasan itu adalah karena ia tak mau melihat para makhluk tak kasat mata itu lagi.
Alvaro merasa tertidur sudah cukup lama. Ia pun membuka matanya setelah merasa cukup tidur. Namun lagi-lagi ada kejanggalan yang terjadi di saat ia baru saja membuka mata. Gelap, itulah yang ia lihat di sekelilingnya. Tak ada teman-teman di sekitarnya. Jangankan teman, bahkan bangunan toko itupun sudah tak ada di sekitarnya. Bahkan tak ada satupun pohon ataupun yang lainnya yang terlihat dari indra pengelihatannya. Hanya hitam, tak nampak seberkas cahaya pun di tempatnya kini.
"Di mana lagi ini?" tanya Alvaro kebingungan.
"Mimpi lagi?" lanjutnya.
Semakin lama berada di sana, semakin pula ia merasakan kengerian. Gelap selalu identik dengan sesuatu yang di luar nalar. Sesuatu di dalam kegelapan yang entah itu apa. Ia merasa harus cepat-cepat melakukan pergerakan. Setidaknya dengan bergerak ia bisa sedikit menghilangkan rasa takutnya.
Sepi, sunyi, hening, tak ada suara apapun di tempatnya kini. Hanya suara langkah kakinya sajalah yang terdengar oleh indra pendengarannya. Bahkan sang angin pun enggan berhembus dan enggan pula menciptakan suara yang minimal bisa meramaikan suasana.
Alvaro berjalan di dalam kegelapan tanpa tahu arah dan tujuan. Bahkan jikalau seandainya di depannya itu adalah jurang, ia tidak akan mengetahuinya dan pastinya ia akan terjatuh ke jurang itu.
Sebuah kebodohan yang selalu muncul dari sebagian besar manusia ketika berada di tempat gelap seperti itu, di mana pikirannya mengarah kepada hal-hal yang buruk. Benar sekali, saat ini Alvaro sedang terbayang-bayang wajah menyeramkan, terutama wajah makhluk halus yang paling ia takuti, apa lagi kalau bukan pocong.
Alvaro mencoba menghilangkan pikiran-pikiran negatifnya. Mungkin saat ini ketenangan adalah kunci keluarnya ia dari situasi yang seperti ini.
SSREEETT!
Tubuh Alvaro tiba-tiba tertarik oleh sesuatu yang entah itu apa. Sebuah refleks yang cukup bagus ia tampakkan di mana tanpa ragu ia memukul ke arah sesuatu yang menarik tubuhnya itu. Namun aneh, pukulannya tak mengenai apapun kecuali hanyalah pukulan kosong.
"Apa-apaan itu?" tanyanya dengan napas yang terengah-engah.
Ia melihat ke sekeliling, siapa tahu sosok itu sedang bersembunyi di dalam kegelapan. Alvaro sudah bertekad, apapun bentuk sosok itu, ia tidak akan pernah takut dan akan melawannya jika seandainya sosok itu menyerangnya.
Bola matanya bergerak dengan cepat untuk melihat sekeliling, tapi hasilnya nihil, ia tak mendapati sesuatupun di sekitarnya. Ia pun melangkahkan kakinya lagi sembari membuang jauh-jauh keanehan yang baru saja terjadi. Baru saja beberapa langkah ia berjalan, dari kejauhan ia melihat setitik cahaya yang nampak seperti api. Perasaan ragu tiba-tiba menjalar di hatinya. Antara mau mendekat ke arah cahaya itu ataupun harus menjauhinya. Ia takut jika cahaya itu adalah sosok hantu api yang nantinya bisa mengancam nyawanya, tapi di sisi lain ia berpikir bahwa itulah kunci ia bisa keluar dari tempat menyeramkan itu.
"Apa yang harus aku lakukan? Kalau itu memang hantu, bisa-bisa aku mati di tempat seperti ini," ucap Alvaro pelan.
"Ah bodoh. Kalau aku tidak mendekat, aku nggak akan tahu ada apa sebenarnya di sana. Kalaupun itu hantu, aku akan melawannya. Jangan jadi pengecut, Alvaro!" lanjut Alvaro sembari menyemangati dirinya sendiri.
Alvaro memutuskan untuk mendekat ke arah cahaya seperti kobaran api itu. Ia tak peduli dengan resiko yang akan terjadi pada dirinya nanti, sekalipun itu adalah kematian. Tekadnya sudah bulat untuk memeriksanya. Hanya satu yang ia yakini dan sekaligus yang menjadi harapannya, bahwa cahaya itu adalah jalan keluar dari tempat menyeramkan itu.
Jarak antara ia dan cahaya itu semakin lama semakin dekat. Semakin dekatnya ia dengan cahaya itu, ia akhirnya menyadari tentang apa yang sebenarnya terjadi di sana. Perasaannya bisa sedikit lega ketika ia melihat dengan jelas cahaya itu ternyata tak sesuai dengan ekspektasinya. Bukanlah hantu api yang ia kira akan melenyapkan nyawanya, ataupun sosok menyeramkan lainnya, tapi cahaya itu adalah sebuah api unggun yang berkobar dan di samping api unggun itu terdapat seseorang yang sedang terduduk.
Rasa penasaran melanda jiwa Alvaro, hingga menggerakkan raganya untuk mendekati dan menyapa sosok yang sedang memanaskan dirinya di samping api unggun itu. Ia berjalan dengan keberanian yang cukup tinggi untuk mendekati sosok itu, dan tepat beberapa meter di depan sosok itu, akhirnya Alvaro mengetahuinya.
"L-Lio," panggilnya.
"Akhirnya kamu sampai juga di sini," ucap Lio dengan nada datar tanpa memandang ke arah Alvaro.
Alvaro memberanikan diri untuk mendekati Lio. Lagipula penampakan Lio kini bukan berwujud pocong ataupun sosok seram lainnya. Kini ia berwujud normal layaknya saat ia masih hidup.
Alvaro duduk di dekat api unggun. Jarak antara dia dan sosok Lio itu hanya berbataskan api unggun tersebut. Pandangannya masih terfokus ke sosok di depannya itu sebagai jaga-jaga jika saja seandainya sosok itu berubah ke wujud yang sangat tidak ia inginkan.
"L-Lio," ucap Alvaro.
"Terima kasih telah mau membantu aku sampai sejauh ini," kata Lio masih dengan nada datar. Mungkin itulah ciri-ciri dari kata yang keluar dari mulut makhluk halus.
"A-aku... maafkan aku, aku belum bisa menangkap para pembunuhmu," ucap Alvaro.
"Kalian sudah berada cukup dekat dengan mereka," kata Lio.
"Mereka?"
"Iya, pembunuhku," sahut Lio.
"Lalu kalau kamu tahu, kenapa tidak membalaskan dendam kamu langsung ke pembunuh itu?" ucap Alvaro dengan nada agak tinggi. Ia mungkin lupa tentang siapa sebenarnya sosok di depannya itu.
"Aku ini hanya arwah, Alvaro. Bagaimana mau balas dendam langsung, bahkan menyentuh saja nggak bisa. Semuanya tembus. Karena itulah aku minta tolong kepadamu," ucap Lio.
Alvaro sedikit heran dengan kejadian yang saat ini ia alami. Baru kali ini ia mendengar bahwa hantu bisa berbicara panjang lebar. Biasanya juga bisanya hanya ketawa dan menangis nggak jelas.
"Hufff... baiklah, tapi aku mau bertanya. Kenapa waktu itu kamu muncul sebagai sosok yang menyeramkan?" tanya Alvaro. Ia sepertinya sudah mulai berani.
"Ada saatnya kamu akan mengetahui hal itu. Sekarang aku harus kembali ke alamku." Tubuh Lio perlahan demi perlahan mulai hilang.
Alvaro sedikit panik dengan situasi itu. Saat ini yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya ia keluar dari tempat itu, dan satu-satunya yang bisa membantunya hanyalah si Lio. Namun sosok Lio kini sudah mulai menghilang diikuti dengan kepulan asap tebal yang membuat Alvaro merasa sesak napas serta secara perlahan mulai kehilangan kesadarannya.
***
"Hah hah hah hah." Suara napas Alvaro yang tersengal-sengal.
Keringat dingin mengucur deras dari kedua pelipisnya. Jantungnya berdetak 2 kali lebih cepat dari biasanya. Rasanya aliran darahnya juga mengalir dengan sangat cepat.
"Ada apa, Al?" tanya Ocha.
Alvaro tak menjawab. Ia sibuk mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan. Padahal seingatnya, saat terakhir kalinya ia bertemu Lio tadi, ia masih dalam keadaan tenang, tapi kenapa setelah ia sadar ia seperti orang yang sedang dalam keadaan takut yang luar biasa?
"Al, kenapa?" tanya Delia juga.
"Aku habis mimpi," jawab Alvaro masih berusaha mengatur napasnya.
"Mimpi apa?" tanya Reyhan.
"Lio... Lio datang ke mimpiku," ucap Alvaro.
"Cieee...," ucap mereka serentak.
Alvaro mengernyitkan keningnya, menatap para sahabat bodohnya yang sedang dalam keadaan salah paham dengannya.
"Masih waras nggak, kalian?" tanya Alvaro kesal.
"Oh waras banget dong," jawab Ihsan.
"Heh, kalian tahu nggak, kalau Lio sekarang ada di sini?" tanya Alvaro.
Sontak mereka semua pun merapat ke arah Alvaro dengan secepat kilat. Ketakutan melanda hati mereka masing-masing. Bahkan seseorang yang tak percaya dengan hal begituan pun sekarang mulai percaya dan ikut merapat ke arah Alvaro, siapa lagi kalau bukan si Nanda. Mungkin kejadian-kejadian yang ia lihat dari diri Alvaro telah membuka mata hatinya bahwa ia mau tidak mau harus percaya dengan hal yang begituan.
"Ngapain kalian begitu?" tanya Alvaro.
"L-Lionya di mana?" tanya Ihsan balik.
"Lio? Memangnya Lio di sini?" ucap Alvaro.
Ketakutan mereka tiba-tiba mereda. Mereka menyadari bahwa Alvaro telah mempermainkan mereka semua. Akhirnya, satu persatu dari keenam manusia itupun menjauh dari Alvaro dengan hati yang kembali tenang.
"San," panggil Alvaro.
"Apa?" sahut Ihsan.
"Aku mau bilang sesuatu, tapi kamu jangan takut, ya!" ucap Alvaro.
"Ya, ya. Ada apa?" tanya Ihsan.
"Ada sesuatu di belakang kamu," jawab Alvaro.
Lagi-lagi, ketakutan kembali melanda hati mereka, terlebih lagi bagi Ihsan. Tak ada pikiran kalau Alvaro sedang berbohong lagi. Memang sebenarnya Alvaro tidak berbohong. Dari indra pengelihatannya, beberapa meter di belakang Ihsan, ia melihat sosok berwajah penuh darah sedang berdiri menghadap ke arahnya.
***
Tak berselang lama kemudian, akhirnya sosok menyeramkan itupun menghilang. Aura mistis di tempat itupun sedikit berkurang meskipun sang malam semakin lama semakin membuat semesta menjadi gelap.
"Sudah pergi," ucap Alvaro.
"Beneran?" tanya Ocha.
"Iya," jawab Alvaro.
"Kamu gak sedang bohong lagi, kan?" tanya Delia.
"Enggak," jawab Alvaro singkat.
Dari raut wajah Alvaro, mereka tahu bahwa raut wajah itu menandakan keseriusan. Tak mungkin seorang Alvaro Aditama memasang wajah seperi itu di saat ia sedang dalam mode bercanda.
"Jadi... gimana ceritanya si Lio bisa datang ke mimpi kamu?" tanya Nanda.
Alvaro menghembuskan napas pelan. Ia pun menceritakan tentang semua kejadian yang ia alami beberapa saat yang lalu. Agak sedikit aneh memang ketika tidak ada satupun yang menyangkal ceritanya. Bahkan seorang Nanda pun kini cukup antusias mendengarkannya.
"Kalau begitu kita harus cepat-cepat menangkap mereka," ucap Reyhan.
"Kita harus menangkap mereka malam ini juga," ucap Imam.
"Ya, malam ini juga," lanjut Ihsan.
"Oh ya, dekat dengan sini tu tepatnya di mana?" tanya Delia.
"Lha itu masalahnya, aku gak nanya sama si Lio. Hehehe," jawab Alvaro sembari tertawa kecil.
"Hadehhh." Mereka menepuk jidat mereka masing-masing.
***
Perjalanan malam yang mencekam kembali dijalani oleh ketujuh remaja itu. Satu-satunya petunjuk yang mereka dapatkan hanyalah pembunuh itu sedang berada tidak jauh dari tempat mereka berada.
Sepanjang jalan, bukannya si pembunuh itu yang nampak di mata Alvaro, melainkan sosok-sosok makhluk yang menyeramkan. Bukan cuma satu ataupun dua, tapi sedari tadi terhitung sudah puluhan makhluk dengan bermacam wujud yang telah terlihat oleh indra pengelihatannya.
Alvaro meyakinkan dirinya sendiri bahwa sosok-sosok seram itu tak akan pernah bisa menghentikan langkahnya. Apapun yang terjadi, separah apapun rasa takutnya, ia pasti bisa melewati itu semua.
"Al, tetap fokus ke depan aja!" bisik Delia pada Alvaro. Nampaknya ia tahu kalau di tempat itu banyak makhluk-makhluk tak kasat mata.
Alvaro memang berjalan berdampingan bersama Delia di posisi yang paling depan. Di belakangnya ada Ihsan dan Ocha, dan di posisi paling belakang ada Imam, Reyhan dan Nanda.
"Kamu tahu?" tanya Alvaro dengan berbisik pula.
"Tidak, aku cuma merasakannya saja. Mungkin yang lain juga begitu," jawab Delia.
Alvaro mengangguk-angguk mengerti dengan penjelasan singkat, jelas dan padat dari Delia.