Perlahan demi perlahan, mereka terus berusaha untuk keluar dari kabut menyebalkan itu. Namun apa yang terjadi? Kabut itu laksana telah dicampur dengan semacam racun yang membuat Alvaro dan Reyhan tak dapat lagi menahan kesadarannya lebih lama lagi. Reyhan ambruk dan pingsan, kemudian disusul oleh Alvaro.
Di sisi lain, nampaklah dua manusia berjubah yang salah satunya sedang menenteng tubuh Arga dengan begitu mudahnya, seakan tak punya beban. Mereka berdua berjalan beriringan di tengah-tengah hutan itu.
"Heh, kenapa kau tak membunuh mereka berdua saja?" tanya salah satu dari mereka. Suaranya adalah suara perempuan.
"Tidak apa-apa. Aku masih ingin bermain-main dulu bersama mereka," jawab sang lelaki.
"Cih, kita tidak boleh meremehkan mereka. Mereka bisa jadi bencana buat kita," ucap si perempuan.
"Aku tahu. Karena itu aku mengutus anak buahku supaya memberi peringatan untuk mereka agar tidak lagi ikut campur," ucap sang lelaki.
"Heh, mereka tidak akan menyerah dengan mudah. Lihat saja nanti," ucap si perempuan.
"Tak apa. Anak itu akan menjadi korban terakhirnya. Kita masih punya senjata yang sangat ampuh untuk bisa menaklukannya," kata si lelaki.
"Okelah, aku turuti saja apa maumu," ucap si perempuan.
"Ngomong-ngomong, apa dia sudah mati?" tanya si perempuan. Dia yang dimaksud adalah Arga.
"Belum," jawab si lelaki.
"Baguslah, tidak sia-sia kita membawanya," ucap si perempuan.
Tak lama kemudian, langkah mereka akhirnya terhenti di depan sebuah rumah tua yang tadi baru saja didatangi oleh Alvaro dan Reyhan. Aneh memang, dan yang menjadi pertanyaannya adalah tentang siapakah yang sudah memberitahukan kepada mereka bahwa Alvaro dan Reyhan sudah berencana untuk pergi ke rumah tua itu?
Mereka masuk ke rumah itu dan sesegera mungkin mengikat tubuh Arga dengan tali tambang yang mereka bawa. Arga lemas tak berdaya, bahkan kesadarannya pun tak kunjung kembali. Ia masih pingsan gara-gara serangan dari si lelaki berjubah itu.
"Sebentar lagi, kau akan mati, anak muda. Hahahaha," ucap lelaki berjubah itu dengan tawanya yang menggelikan telinga.
Kembali ke sisi Alvaro dan Reyhan. Kini, Reyhan sudah tersadar dari pingsannya. Namun, ia seperti berada di tempat lain. Masih hutan, tapi ia rasa, itu bukanlah hutan yang ia datangi sebelumnya. Parahnya, ia hanya sendirian, tidak tahu ke mana perginya Alvaro.
"Di mana ini?" Demikianlah satu pertanyaan yang keluar dari mulutnya di kala pertama kalinya ia membuka mata dan melihat tempat itu.
"Alvaro," ucapnya sambil melihat sekeliling.
Ia menjadi panik setelah sadar bahwa sahabatnya itu tidak berada di sampingnya. Ia berdiri, dan berteriak sekencang mungkin memanggil nama Alvaro, berharap Alvaro akan menyahut panggilannya atau langsung datang kepadanya.
"Alvaro! Di mana kau?" tanyanya dengan berteriak.
"Alvaro!" teriaknya lagi.
Namun nihil. Tak ada tanda-tanda Alvaro di sekitar. Ia sendirian di tengah hutan yang tak ia kenali. Bahkan rasanya, hutan tempatnya berada kini jauh lebih menakutkan daripada hutan yang tadi. Dia terus berjalan tak tentu arah. Hingga tibalah dia di suatu tempat, dan di tempat itu pula ia melihat sebuah kejadian yang membuat jantungnya hampir copot.
"Alvaro!" teriaknya.
Tepat saat ia berteriak memanggil nama Alvaro, sebuah kapak terayun dan mengarah tepat ke leher Alvaro hingga akhirnya kepala Alvaro terpisah dari badannya. Alvaro tewas seketika dengan tubuh yang masih terikat di pohon. Kepalanya menggelinding ke bawah.
Reyhan melihat sahabatnya itu tewas di depan matanya. Lalu, fokusnya teralih ke si berjubah yang telah membunuh sahabatnya itu menggunakan kapak. Ia menatap si berjubah itu dengan tatapan penuh amarah. Entahlah, entah bagaimana cara untuk menggambarkan perasaan Reyhan. Ia marah, dan juga sedih sekaligus syok. Bahkan air matanya tak bisa ia bendung, tapi keadaan hatinya benar-benar panas ketika melihat si pembunuh itu.
"Sialan kau!" umpatnya sambil berlari ke arah si berjubah itu.
Ketika ia ingin menyerang, entah kenapa si berjubah itu malah melarikan diri. Padahal posisinya sebenarnya sangat menguntungkan. Ia membawa kapak yang bisa dengan mudah menebas leher Reyhan hingga bernasib sama dengan Alvaro. Namun entah kenapa ia malah lebih memilih untuk melarikan diri.
Reyhan yang sudah gelap mata tak ingin menghentikan larinya. Ia terus mengejar si berjubah itu ke manapun di berjubah itu berlari. Mungkin jika sampai ke kutub utara, atau ke luar angkasa sekalipun, ia masih akan tetap mengejarnya, dengan catatan tak kehilangan jejaknya.
Dia melihat ada jurang di depan sana. Namun dengan bodohnya, di berjubah itu malah melompat ke jurang itu. Reyhan tercengang. Tentu ia masih bisa berpikir dengan baik. Dia ingat bahwa manusia berjubah itu kebal dengan segala macam serangan. Mungkin jikalaupun dia menjatuhkan diri ke jurang, ia juga tak akan mati.
Beruntungnya, dia yang tadinya sudah gelap mata akhirnya bisa mendapatkan pikiran jernihnya kembali. Kalau sampai dia ikut loncat ke jurang, pastilah dia yang akan mati. Namun tubuhnya seketika lemas. Lututnya menyentuh tanah dengan kedua tangan yang langsung menutupi wajahnya. Ia menangis, menangis tersedu-sedu sambil berteriak keras penuh emosi. Sahabatnya, Alvaro, kini telah tiada, dan parahnya, Alvaro mati tepat di hadapannya dengan cara yang sangat mengenaskan. Ia melihat kepala sahabatnya itu terpisah dari tubuhnya. Sungguh, itu sangat menakutkan.
"b*****h! Aku bersumpah akan membunuh kalian semua," teriaknya.
Rasa emosi, sedih, dan juga takut menyelimuti tubuh Reyhan. Ia tak tahu harus berbuat apa. Tubuhnya masih terasa tak mampu dibuat bergerak. Ia mencoba menenangkan diri, hingga setelah itu, ia berjalan kembali ke tempat di mana Alvaro tewas dengan kepala yang terpisah dari badannya.
***
Seseorang membuka matanya, dan di saat itu ia langsung melihat tempat yang sangat asing baginya. Ia berada di sebuah ruangan gelap, tanpa ada sedikitpun pencahayaan. Dan, apa itu? Ah, kedua tangan dan kakinya terikat oleh rantai dengan posisi tubuhnya yang berdiri.
Tiba-tiba ia melihat ada secercah cahaya terang. Kalau dilihat-lihat, itu mirip dengan cahaya lilin. Satu menyala, kemudian dua, tiga dan seterusnya sampai cahaya lilin itu mengitarinya. Samar-samar ia melihat sesosok manusia yang sedang menyalakan lilin terakhir, dan sosok itu adalah si manusia berjubah.
Lelaki yang dirantai itu meronta-ronta, ingin melepaskan diri. Namun apalah daya, rantai itu terlalu kuat.
"Kau sudah bangun ya, anak muda?" tanya orang berjubah itu. Suaranya adalah suara seorang lelaki.
Lelaki yang dipanggil dengan sebutan "anak muda" itu diam, tak menjawab pertanyaan si berjubah. Ia emosi dan ingin sekali langsung menghajar manusia berjubah itu. Tapi apalah daya, ia sedang dalam kondisi terikat rantai.
Oh ya. Anak muda itu bukanlah Arga. Samar-samar, ketika cahaya lilin itu berhasil menerangi ruangan, wajah si anak muda itu akhirnya terlihat. Dia Alvaro. Ya, dia benar-benar Alvaro. Tapi, bukankah dia sudah mati dengan kepalanya yang terpenggal, tadi?
Crussss!
Tanpa basa-basi, si manusia berjubah itu menusukan sebilah pedang ke arah perut Alvaro hingga tembus. Alvaro yang mendapat siksaan sedemikian rupa pun menjerit kesakitan. Pandangannya tiba-tiba menggelap. Ia yakin bahwa dirinya akan segera meninggalkan dunia ini. Hingga pada akhirnya, hilanglah kesadarannya.
Satu tusukan pedang yang menembus perutnya. Pastilah itu membuatnya mati seketika. Namun aneh, ketika pedang itu dicabut dari perut Alvaro, perlahan-lahan kesadaran Alvaro normal kembali. Ia tak jadi mati, sepertinya.
"Apa-apaan ini? Bukankah dia sudah menusukku menggunakan pedangnya itu, tadi. Tapi kenapa aku masih hidup? Dan, kenapa tak ada sisa rasa sakit yang tadi?" batin Alvaro.
Alvaro kembali tersadar dengan tatapan mata yang sangat tajam ke arah si manusia berjubah itu. Ia emosi, tapi ternyata emosinya itu masih kalah dengan rasa takut pada sakit yang bisa saja ia terima untuk yang kedua kalinya itu.
Di saat mata pedang itu bergerak ke arah dadanya, di situlah ia hanya bisa pasrah menerima apa yang akan terjadi. Hingga kemudian tercipta lagi teriakan memilukan dari seorang Alvaro Aditama. Sama seperti yang tadi, ia langsung mati seketika. Akan tetapi, lagi dan lagi, ketika pedang itu dicabut, kesadarannya berangsur pulih. Rasa sakit yang tadi ia rasakan juga sudah menghilang.
"Apa ini neraka? Tidak, ini bukan gambaran dari neraka yang sebenarnya. Aku harus berpikir. Ayo Alvaro, berpikirlah!" ucapnya pada diri sendiri lewat hati.
Crusss!
Untuk ketiga kalinya, mata pedang itu kembali menusuk tubuh Alvaro. Kali ini bagian leher yang si manusia berjubah itu incar. Alvaro kembali mengalami kematian untuk yang ketiga kalinya. Mungkin bisa dibilang empat kali pada saat kasus Reyhan yang melihat kepalanya dipenggal oleh si manusia berjubah itu.
Sementara di sisi lain, Reyhan berlari sambil terus berusaha mengusap air matanya. Tujuannya adalah untuk kembali ke tempat di mana Alvaro sudah tergeletak lemas dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya.
Akan tetapi, ia bingung. Ketika dirinya sampai di sana, ia tak menemukan apapun. Tubuh Alvaro sudah tidak ada di tempat itu, begitu pula dengan kepalanya.
"Apa aku salah tempat?" tanyanya pada diri sendiri seiring dengan isakan tangisnya.
"Tidak mungkin. Ini jelas tempat yang tadi," ucapnya lagi setelah melihat sekeliling.
Ia berjalan, entah ke mana tujuannya. Matanya menyorot tajam menjelajahi luasnya hutan belantara itu. Ketika dirinya melihat ke suatu arah, lagi-lagi ia harus menyaksikan peristiwa yang sangat tidak ingin ia saksikan.
"Itu Alvaro. Bagaimana mungkin? Bukankah dia sudah dipenggal tadi, kepalanya? Dan manusia berjubah itu...." Saking emosinya pada si manusia berjubah, ia tak dapat menahan diri lagi untuk mendekat. Ditambah lagi melihat keadaan Alvaro yang terikat di sebuah pohon. Kira-kira, ketika jarak antara Reyhan dengan si manusia berjubah dan Alvaro berada tinggal tersisa 5 meter lagi, Reyhan untuk yang kedua kalinya harus menyaksikan kepala Alvaro terpisah dengan tubuhnya lagi.
Matanya memanas. Ia bahkan melupakan keanehan yang terjadi. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari untuk membunuh si manusia berjubah itu. Akan tetapi, lagi dan lagi. Manusia berjubah itu malah melompat dan terjatuh ke dalam jurang.
"Sial! Apa-apaan ini? Kabut itu, tempat ini, si manusia berjubah dan juga Alvaro. Apa arti dari semua ini?" teriaknya.
Reyhan sudah terlalu muak berada di tempat tidak jelas seperti itu. Ia tak peduli lagi tentang perangainya. Meskipun karena teriakan yang penuh emosi itu ia bisa sampai mengganggu para makhluk tak kasat mata, ia tetap tak peduli. Dua kali sudah, ia diperlihatkan kematian sahabatnya itu dengan cara mati yang sangat mengenaskan. Bagaimana hatinya tidak kacau?
Ia kembali ke tempat di mana Alvaro terbunuh tadi, dan seperti kejadian yang pertama, jasad Alvaro menghilang. Ia sudah tak begitu kaget. Dengan perasaan yang hancur ia berjalan kembali, mencoba mencari jalan keluar dari tempat menyebalkan seperti itu. Akan tetapi....
"Oh Tuhan, jangan lagi," ucapnya.
Beberapa meter jauhnya, ia melihat di depan sana kapak yang diayunkan oleh si manusia berjubah itu kembali berhasil memisahkan kepala Alvaro dari tubuhnya. Sialnya, meski Reyhan sudah tahu bahwa kejadian selanjutnya juga akan sama seperti sebelum-sebelumnya, hatinya masih saja teriris saat melihat kepala sahabatnya menggelinding bebas ke tanah. Ia bahkan tetap harus meneteskan air matanya walaupun itu sudah kejadian yang ketiga kalinya. Ia masih tak habis pikir, di hari yang sama, di tempat itu pula, tepat di depan matanya ia melihat kepala sahabatnya itu terpisah dari tubuhnya.