Lagi dan lagi. Tak ada suara sama sekali di dalam sana. Ia jadi berpikir. Mungkinkah memang tak ada orang di dalam sana? Atau mungkinkah mereka sedang berada di dalam, tapi sudah menyadari kehadirannya?
Dia tak bisa bertanya-tanya pada dirinya sendiri yang ia tahu tak akan mungkin mendapat jawaban. Dengan mental yang jauh lebih kuat dari baja, ia segera membuka pintu rumah tua itu sedikit demi sedikit.
Kriyyett!
Begitulah kira-kira bunyinya ketika pintu rumah itu didorong oleh Alvaro. Pelan namun pasti ia melakukannya, begitu terus sampai pintunya terbuka lebar. Tangan kanannya sudah siap dengan kerambitnya. Ia akan langsung menyerang begitu ia melihat si manusia berjubah itu ada di dalam.
Akan tetapi, harapannya musnah. Hanyalah sebuah rumah kosong biasa yang ia lihat. Hanya saja ada suatu keanehan di dalamnya. Jika benar itu rumah kosong yang lama tidak ada penghuninya, harusnya debu dan sarang laba-laba sudah memenuhinya. Namun rumah itu, seperti baru saja ada yang menempatinya. Terlihat bersih dan layak huni meski tampilan luarnya terlihat memprihatinkan.
Alvaro tak hanya sampai di ambang pintu rumah itu saja. Ia teringin untuk menjelajah lebih dalam lagi bagian dalam rumah itu. Sebelumnya ia sudah memberi isyarat kepada Reyhan agar tetap berada di tempat.
Ia masuk sendirian. Ia agak beruntung karena datang pada saat pagi menjelang siang. Meski tetap gelap, setidaknya tidak terlalu. Tak bisa dibayangkan jika seandainya dia datang pada saat malam hari.
Langkah demi langkah yang ia lakukan membuatnya bisa menjelajahi lebih jauh lagi bagian rumah tua itu. Menurutnya, tak ada yang menarik dari semua yang ia lihat. Cuma ada beberapa lilin dan lentera yang ia tentu tahu siapa pemiliknya. Namun ada yang aneh. Selama berada di situ, setiap benda yang ia pegang tak bisa membawanya kepada pengelihatan masa lalu. Padahal seharusnya benda-benda itulah yang bisa menjadi bukti dan petunjuk paling ampuh atas kejahatan mereka.
"Apa yang terjadi?" tanyanya pada diri sendiri.
Merasa targetnya tidak ada di dalam, Alvaro pun kembali dengan perasaan yang sangat kecewa. Ia berjalan kembali ke tempat Reyhan berada dengan raut wajah yang tak bisa digambarkan.
"Tidak ada," ucap Alvaro sebelum Reyhan bertanya.
"Cih, apa mungkin mereka belum kembali semenjak menculik Arga, tadi?" tanya Reyhan kesal.
"Mungkin saja. Atau mungkin juga mereka sudah tahu kalau kita akan ke sini," ucap Alvaro.
"Atau, berita tentang penculikan Arga itu tidak benar, alias hanya sebuah jebakan," ungkap Reyhan. Alvaro langsung memandang ke arah Reyhan dengan serius.
"Apa kamu bilang?" tanya Alvaro. Ia ingin Reyhan mengulangi ucapan itu.
"Berita tentang penculikan Arga tidak benar adanya. Bisa jadi Raisya dan ayahnya telah merencanakan ini semua. Mereka tahu bahwa cuma kau satu-satunya orang yang mengerti tentang mistis. Jadi mereka menjebakmu hingga sampai di sini. Lalu, di saat kamu tidak ada di sana, mereka bisa saja menghancurkan teman-teman kita. Kalau begitu, kita harus kembali," ucap Reyhan panjang lebar yang diakhiri dengan usulan.
"Lalu bagaimana jika asumsi yang pertama itu benar? Bahwa mereka belum sempat membawa Arga ke sini," ucap Alvaro tenang.
"Cuma satu nyawa, kan? Di villa itu ada puluhan nyawa, Al," kata Reyhan.
"Kalaupun kita kembali, dan jika asumsimu itu benar, aku tetap tak bisa apa-apa. Aku tak akan pernah bisa melindungi mereka semua. Bahkan mungkin malah aku yang dilindungi. Yakinlah bahwa tidak akan terjadi apa-apa disana!" ucap Alvaro.
Reyhan mengepalkan tangannya dengan kuat, tak bisa membayangkan jika seandainya apa yang ia pikirkan itu akan menjadi kenyataan.
"Tenanglah, Rey. Tidak akan terjadi apa-apa di sana. Sekarang lebih baik kita tunggu beberapa saat di tempat ini," ucap Alvaro.
Seperti cara Alvaro mempercayai dirinya, Reyhan juga berusaha untuk mempercayai bahwa apa yang dikatakan Alvaro itu memang benar, walaupun dalam lubuk hatinya yang paling dalam masih menyimpan sebuah keraguan untuk mempercayai.
Ditunggunya para manusia berjubah itu oleh mereka berdua sampai sang raja hari sudah berada tepat di atas kepala. Hari sudah siang, bukan hanya menjelang. Namun para manusia berjubah itu tak kunjung datang juga. Sepertinya, asumsi pertama adalah sebuah kesalahan. Tinggal asumsi kedua dan yang ketiga. Antara para manusia berjubah itu membawa Arga ke tempat lain, atau berita penculikan Arga hanya sebuah tipuan belaka.
"Cih, sial! Ayo Al, kita kembali!" ajak Reyhan. Ia sudah sangat kesal dengan keadaan ini.
"Iya," jawab Alvaro.
Sementara itu, di villa yang besar terdapat lima manusia yang duduk dengan perasaan was-was. Ya, mereka adalah para sahabat Alvaro dan Reyhan. Bagi mereka, menunggu kabar dari orang yang mereka sayangi yang sedang berada dalam situasi bahaya jauh lebih mendebarkan daripada harus ikut serta dalam bahaya itu.
"Udah siang, kenapa mereka belum juga balik?" tanya Delia membuka pembicaraan.
"Sebentar lagi pasti mereka balik kok, Del," ucap Imam yang mencoba untuk tetap memperlihatkan ketenangannya di hadapan para sahabatnya.
"Apa jangan-jangan, Alvaro dan Reyhan juga tertangkap?" kata Ocha.
"Husss.... Jangan ngomong kayak gitu! Alvaro dan Reyhan itu kuat. Mereka tak mungkin tertangkap dengan semudah itu," kata Ihsan.
"Tapi masalahnya, musuhnya kali ini jauh lebih kuat, San," ucap Delia. Ia terlihat sangat khawatir.
"Del, kau sudah mengenal Alvaro jauh lebih lama dibanding kami. Harusnya kamu lah yang paling tahu gimana Alvaro yang sebenarnya. Dia bukan orang yang lemah, Del. Tenang saja. Lagipula juga ada Reyhan di sana, yang akan selalu melindunginya. Mereka akan saling melindungi satu sama lain, Del," ucap Imam panjang lebar.
"Bukan itu, Mam. Bukan itu yang aku takutin. Aku tahu mereka pasti akan saling melindungi satu sama lain. Tapi situasinya beda, Mam. Mereka bukan lagi melawan manusia, tapi melawan iblis," ucap Delia. Tanpa ia sadari, ada sedikit air mata yang keluar dari matanya.
Imam tak dapat lagi menjawab. Kalau boleh jujur, ia juga sangat mengkhawatirkan kedua sahabatnya itu. Ia juga tahu bahwa para manusia berjubah itu bukan lagi seperti manusia biasa, tapi sudah sampai tahap setengah manusia setengah iblis. Baik Imam maupun juga Ihsan cuma berusaha menyembunyikan rasa khawatirnya itu di depan para gadis. Biar bagaimanapun juga, mereka berdua adalah para lelaki yang seharusnya tetap terlihat kuat walau dalam keadaan yang bagaimanapun juga. Mereka harus tetap berusaha untuk mengurangi rasa kekhawatiran para gadis dengan ketenangan yang mereka tunjukan itu. Begitulah para lelaki sejati itu bersikap.
"Delia benar. Kita tidak boleh berdiam saja menunggu kabar dengan perasaan yang berdebar-debar," ucap Nanda yang akhirnya buka suara.
"Kita harus menyusul mereka. Tidak peduli apapun risikonya. Jika kalian takut kami para cewek malah akan menjadi beban, sekarang atas nama para cewek, kami berjanji tidak akan menjadi beban bagi kalian," lanjut Nanda.
"Nanda...," ucap Delia yang melihat Nanda.
"Alvaro, Reyhan, mereka berdua adalah teman kita. Tidak, mereka adalah sahabat kita. Kalau mereka mati, maka persahabatan ini mungkin akan jadi tidak berarti," ucap Nanda lagi.
Memang, dia adalah perempuan yang mempunyai watak paling dewasa di antara yang lain. Meski sikapnya kadang galak dan dingin, aslinya dia adalah penyayang dan tak pernah mau kehilangan teman-temannya.
"Kalian,..." Ihsan bingung mau bicara apa.
"Aaaaa!"
Tiba-tiba, dari suatu arah yang tak mereka ketahui, terdengar sebuah jeritan yang sangat keras dari seseorang. Sontak hal itupun mengagetkan mereka berlima hingga menimbulkan tanda tanya di hati mereka masing-masing. Mungkinkah itu yang Reyhan takutkan? Mungkinkah itu asumsi dari seorang Reyhan yang benar-benar menjadi kenyataan?
***
Alvaro dan Reyhan terus berjalan menjelajahi hutan belantara. Tujuan selanjutnya adalah kembali ke villa. Walau tanpa meninggalkan jejak sebagai alat untuk kembali ke villa, ternyata mereka sudah hafal jalanannya. Mereka dengan yakinnya berjalan, seakan-akan ke manapun arah yang mereka lalui, itu adalah jalan untuk menuju ke arah villa. Memang, selama perjalanan tadi, Alvaro sudah sempat mengingat setiap jalan yang ia lalui.
"Ayo cepat, Al. Perasaanku tidak enak," ucap Reyhan.
Kali ini Alvaro terdiam. Ia tak mau menyangkal perasaan dari sahabatnya itu. Walau itu hanya asumsi, bisa saja itu jadi kenyataan.
Tapi, tiba-tiba sebuah kabut tebal datang menyelimuti mereka berdua. Setajam apapun pengelihatan mereka, mereka masih tak bisa melihat walau pada jarak satu meter sekalipun. Dengan kata lain, Alvaro tak dapat melihat Reyhan, begitu pula dengan Reyhan yang tak dapat melihat Alvaro.
"Cih, sial, kabut ini," ucap Alvaro.