Bab 25

1538 Words
"Iya, bicarakan hal ini pada yang lain, tapi hati-hati, jangan sampai pemilik villa ini mendengarnya. Dan beritahu juga kepada yang lain untuk tidak sembarangan berbicara tentang hal ini. Tentang apa mereka akan percaya atau tidak, itu terserah mereka," ucap Alvaro pelan. "Tunggu, tunggu. Memangnya kenapa gak boleh didengar oleh pemilik villa?" tanya Delia penasaran. "Aku curiga jika salah satu di antara mereka, atau semuanya adalah dalang di balik semua ini," jawab Alvaro. Delia langsung terkejut ketika mendengarnya, tak menyangka bahwa alasannya adalah karena itu. Mendadak ia merasa ketakutan. Pikiran yang aneh-aneh langsung memenuhi isi otaknya. Jika apa yang dikhawatirkan Alvaro itu memang benar, ia takut jika seandainya nanti sang pemilik villa itu akan membunuh dirinya ketika tidur. Atau mungkin, bisa saja mereka menculiknya dan membawa ke tempat yang diceritakan oleh Alvaro tadi. "Kalau seperti itu, kenapa kita gak ninggalin tempat ini saja, secepatnya?" usul Delia. "Kalau itu mudah, sudah dari awal kita lakuin, Del. Masalahnya, apakah teman-teman kita akan dengan begitu mudahnya percaya dengan sesuatu yang terdengar seperti takhayul?" jawab sekaligus tanya Alvaro. Delia diam. "Aku tadi sudah menyampaikannya kepada para dosen, dan kau tahu apa tanggapan mereka? Mereka terlihat seperti mengiyakan, tapi di sisi lain mereka juga menertawakan seolah-olah menganggap bahwa aku ini sedang bermimpi," kata Reyhan. "Maka dari itu, aku ingin jika semua teman-teman kita tahu. Setidaknya dengan begitu mereka bisa lebih waspada dengan segala kemungkinan yang akan terjadi," ucap Alvaro. Suasana yang cukup menegangkan. Tiga anak manusia sedang berbicara tentang hal yang berhubungan dengan nyawa. Kemampuan ajaib yang dimiliki oleh Alvaro ketika dirinya terbangun dari masa komanya itu ternyata kini menjadi anugerah untuk semuanya. Jika bukan karena kemampuan itu, ia tak akan tahu tentang apa yang akan terjadi ke depannya. "Oh ya, kalian tadi berbicara tentang hantu yang takut mendekati Alvaro, itu maksudnya gimana, ya?" tanya Delia serius. "Kau ingat waktu kita dikejar kuntilanak hari itu? Waktu itu bukannya hanya tinggal sedikit lagi kuntilanak itu bisa menyentuh tubuh Alvaro, tapi mendadak dia menghilang. Apa kau tidak merasa ada yang aneh? Itu berarti, di dalam tubuh Alvaro ini ada suatu energi yang sangat ditakuti oleh mereka. Entah kapan itu akan muncul. Kalau menurutku, saat Alvaro sedang marah dan saat ia dalam kondisi terdesak," jelas Reyhan. "Dan dia tadi juga sudah mengakui bahwa dia memang takut dengan energi yang ada di tubuhku ini," lanjut Alvaro. Dia yang ia maksud adalah si hantu wanita berwajah menyeramkan itu. "Emmm.... Lalu soal manusia berjubah itu gimana?" tanya Delia lagi. "Entahlah. Aku sudah nanya ke hantu itu tentang siapa mereka, tapi dia menjawab bahwa dia tidak tahu. Cih, benar-benar hantu yang menyebalkan dan tidak berguna," kata Alvaro. Mungkin sekarang ini, si hantu wanita buruk rupa itu sedang mengalami bersin-bersin karena sedang dibicarakan oleh Alvaro dan kawan-kawannya. Jika ia mendengar pun, ia pasti akan merasa kesal sendiri karena sedari tadi selalu disebut oleh Alvaro bahwa dia adalah hantu yang tidak berguna. Sementara itu, Delia seperti sedang memikirkan sesuatu. Perlu diketahui, bahwa Delia ini adalah seorang pemikir yang hebat. Menurut kalian, siapa yang memikirkan bahwa kemampuan Alvaro itu hanya datang ketika energi Alvaro benar-benar cukup? Ya, itu adalah Delia. Dia yang mengungkapkan hal itu, dan ternyata terbukti juga kebenarannya. Di kala Alvaro sedang lelah-lelahnya, ia malah tak bisa melihat mereka. "Kalau menurutku, dia bukannya gak tahu, tapi tak berani untuk memberitahu," ucap Delia. "Maksud kamu?" tanya Alvaro. "Kau tadi bilang kan, kalau sebelum ia menjadi hantu, ia akan dijadikan persembahan oleh para manusia berjubah itu untuk makhluk tak kasat mata," ucap Delia. "Bisa jadi, jiwanya masih terbelenggu. Ia belum bisa bebas berkeliaran, bahkan juga berbicara. Kalau menurutku, jiwanya masih ada di genggaman mereka. Jadi, dia tak bisa seenaknya membicarakan sesuatu kepada orang lain. Mungkin lebih mudahnya gini. Kalau sampai ia memberitahukan sesuatu yang ada hubungannya dengan manusia berjubah itu, dalam bentuk lisan ataupun tulisan, maka tubuhnya akan merasakan sakit yang luar biasa, walaupun sudah dalam wujud hantu. Tapi entahlah, aku tak begitu paham dengan yang beginian," lanjut Delia panjang lebar. "Pemikiranmu ada benarnya juga sih," ucap Reyhan. "Tapi tentang benar atau tidaknya hal ini, aku juga tidak yakin," kata Delia. "Hmmm.... Nggak apa-apa. Kita lihat saja nanti," ucap Alvaro sambil memegang puncak rambut halus Delia. Kalau dilihat-lihat, apa yang dilakukan oleh Alvaro kepada Delia itu jauh dari menggambarkan bahwa mereka pacaran. Mau dibilang bersahabat, juga kurang cocok. Untuk kali ini, yang paling pantas adalah Alvaro seperti menjadi seorang kakak untuk Delia. Apa yang ia lakukan kini adalah sebagai bentuk apresiasi atas pemikiran Delia yang luar biasa, juga sebagai cara untuk bisa membuat Delia tenang. *** Malam sudah semakin larut. Alvaro, Reyhan dan ketiga orang lainnya pun satu-persatu sudah mulai memejamkan mata dan terjun ke alam mimpi. Kini tinggal Alvaro saja yang masih terjaga. Ia tak bisa tertidur lelap. Pikirannya melayang ke mana-mana. Ia sangat khawatir dengan nasib teman-temannya nanti. Dibandingkan dengan memikirkan nasib dirinya sendiri, Alvaro malah lebih memikirkan nasib teman-temannya. Wajar saja. Kalau sampai ia tidak bisa melindungi teman-temannya, maka seumur hidupnya ia akan sangat merasa menyesal. Ia mungkin akan hidup dalam penyesalan yang tak berakhir dan bisa saja akan bertindak gegabah untuk membalaskan dendam kepada orang itu. "Apa yang harus aku lakukan?" Alvaro bergumam dalam hati, kemudian perlahan demi perlahan mulai menutup mata. Sementara itu, di kamar yang lain, nampak Ihsan yang sedang gelisah. Ia tiduran, lalu bangun, lalu tiduran lagi, kemudian bangun lagi. Ia melihat teman-teman sekamarnya sudah tertidur semua. Dikarenakan tak dapat lagi menahan untuk buang air kecil, ia pun memutuskan untuk pergi ke kamar mandi sendirian. Sebenarnya ia takut, tapi mau bagaimana lagi? Lorong-lorong villa yang cukup menyeramkan ia lewati, hingga pada akhirnya sampai di kamar mandi yang juga cukup menyeramkan ketika malam hari. Tak mau ambil pusing, ia pun langsung memasukinya dan mulai menjalankan keinginannya untuk buang air kecil. Sepi dan sunyi. Tentu suasana itu membuat bulu kuduk Ihsan berdiri. Untuk mengobati keheningan, ia mulai bersiul. Sebuah hal yang harusnya tidak ia lakukan, karena konon katanya, bersiul adalah cara untuk mengundang makhluk halus supaya mendekat. Hingga tiba-tiba.... "Brakkkk!" Terdengar sebuah suara dari luar kamar mandi. Entah dari apa dan mana suara itu berasal. Sontak hal itu membuat Ihsan langsung berhenti bersiul. Bola matanya bergerak liar melihat seisi kamar mandi, takut jika nantinya ada sosok tak kasat mata yang juga sedang berada di kamar mandi itu. Raut wajahnya menegang. Kini ia diselimuti oleh ketakutan. Satu detik, dua detik, tiga detik, dan seterusnya tidak ada kejadian apa-apa. Ihsan pun mulai tenang dengan keadaan yang ia alami. Ketika ia mengambil air dengan menggunakan gayung, entah ia sadari atau tidak, sebenarnya di dalam bak mandi itu terdapat bayangan wajah yang sangat menyeramkan. Namun sepertinya ia tak menyadarinya. Hingga pada saat ia selesai dengan urusannya, tiba-tiba bulu kuduknya merasa merinding kembali. Ia bahkan tak kuat untuk menoleh, takut jika seandainya di belakangnya ada sosok tak kasat mata yang ia takuti. Badannya sudah gemetaran. Di dalam pikirannya, kalau tahu begini, ia lebih baik ngompol di kasur. Palingan nantinya ia cuma harus membersihkan kasur itu saja. Namun kini, beginilah posisinya. "Yakin aja, yakin aja gak ada apa-apa," ucap Ihsan. Ia perlahan demi perlahan menggerakkan kepalanya untuk menengok ke belakang. Rasa takut yang teramat sangat sudah menjalar dengan sempurna ke sekujur tubuhnya. Tubuhnya memang terasa kaku, tapi ia tetap memaksakan untuk bergerak. Ia bukanlah Alvaro yang ketika melihat makhluk tak kasat mata langsung memukulnya. Srett! Kalau dibunyikan, begitulah kira-kira bunyi ketika Ihsan menoleh. Ternyata tidak apa-apa di belakangnya. Ia bisa bernapas lega sekarang. Semua itu hanya ketakutannya belaka. "Hufff.... Ternyata," ucapnya yang mengalihkan pandangannya kembali sambil bernapas lega. "Haaaaaa....!" Ketika ia menoleh, secara refleks ia langsung menjerit. Bagaimana tidak. Tepat di depan matanya, nampak sesosok makhluk berbalut kain kafan dengan ikatan di kepalanya. Sosok yang biasa disebut dengan pocong. Bukan wujudnya yang berlumuran darah dengan banyaknya belatung itu saja yang menakutkan, melainkan juga posisinya yang tergantung terbalik, kepala di bawah dan kaki di atas. Lebih enaknya, gambarannya seperti Spiderman. "Po-po-pocong!" teriak Ihsan. "Haaaa.... Ampun!" jeritnya. Tak peduli dengan pintu kamar mandi yang ia buka secara paksa, ia terus mempercepat laju larinya demi menghindari si sosok berbalut kain kafan itu. Ihsan bahkan sampai meneteskan air matanya karena saking ketakutan. Ia berlari dengan kencang, menembus gelapnya lorong villa untuk cepat-cepat sampai ke kamarnya. Perasaannya sedikit melega di kala ia melihat sahabatnya, Imam, yang sedang berjalan ke arahnya. Dalam pikirnya, Imam ingin menuju ke kamar mandi juga. Kebetulan sekali. Dengan begitu, ia bisa mendapat perlindungan dari Imam sekaligus untuk mencegah Imam supaya tidak jadi ke kamar mandi yang ada pocongnya itu. "Mam, Mam." Ihsan memegang bahu Imam sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan. "Jangan ke kamar mandi. Di sana.... Di sana...." Ihsan menunjuk-nunjuk ke arah kamar mandi, dengan nada bicara yang belum bisa normal. "Di sana ada poc-" Ucapannya terhenti di kala ia melihat ke arah Imam. Faktanya, sosok yang ia lihat sebagai Imam tadi, kini sudah berubah menjadi sosok menyeramkan yang baru saja dilihatnya di kamar mandi tadi. Parahnya, tangannya menyentuh tubuh sosok itu. Dengan pelan ia menjauhkan tangannya dari menyentuh tubuh si guling bergerak itu. Lagi-lagi gemetaran hebat harus ia rasakan. Sensasi menyeramkan ini, sungguh baru kali ini lah ia merasakannya. Bahkan sepertinya jauh lebih seram dari pada melihat si hantu tanpa kepala waktu itu, karena kini ia posisi sedang sendirian, sedangkan waktu itu sedang bersama teman-temannya. "Po-pocong," ucapnya lagi sambil memaksakan kakinya untuk bisa diajak berlari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD