Namun nyatanya apa? Ia bahkan tak bisa menggerakkan tubuhnya sedikitpun. Sialnya pula, matanya tak bisa ia pejamkan. Mau teriak, tapi seakan-akan suaranya itu ada yang menahan hingga sekeras apapun ia mencoba, ia tak bisa sedikitpun mengeluarkan suara. Keringat dingin mulai bercucuran di kala sosok pocong itu mulai lebih dekat ke arahnya. Sialnya, dengan sangat sengaja, si guling bergerak itu mendekatkan wajahnya ke arah wajah Ihsan. Air mata Ihsan refleks langsung keluar dengan sendirinya, menandakan bahwa untuk sekarang ini ia benar-benar sangat ketakutan.
Beruntung hatinya tidak ikut kaku. Meski raganya yang sudah kaku, tak bisa digerakkan, ia masih bisa mengeluarkan senjata terakhirnya, yaitu berdo'a dalam hati. Berbagai doa yang ia hapal, ia baca di dalam hati dengan harapan si pocong itu bisa pergi dengan segera.
Ihsan hampir pingsan dibuatnya. Bahkan doa yang ia baca di dalam hati pun tak bisa ia baca dengan lancar. Mata yang dipaksa untuk menatap makhluk jelek, serta hidung yang mau tidak mau harus mencium bau busuk sosok pocong itu, tentu banyak alasan kenapa ia merasa sangat ketakutan pada saat ini.
Belatung yang memenuhi wajah si pocong itu jatuh ke pundak Ihsan. Ia melihat serta merasakannya dengan jelas tentang bagaimana hewan menjijikkan itu jatuh ke pundaknya. Geli, mual, dan ingin segera pingsan, itulah yang ia rasakan saat ini.
Ketakutan dan ketegangannya semakin tak karuan di kala belatung itu bergerak ke arah wajahnya. Tubuhnya semakin kaku, sama sekali tak bisa digerakkan, sementara hewan menjijikkan itu mulai bergerak dari bagian bawah mulutnya menuju ke atas. Tubuhnya terasa sangat lemas, namun sialnya tak mampu untuk dibuat pingsan. Doanya mendadak terhenti karena kalah dengan rasa takutnya.
"Aaaaa!" jeritnya.
Akhirnya ia bisa menjerit, di saat belatung itu mengarah ke matanya. Ia juga bisa menutup matanya dan langsung terduduk meringkuk dengan lemasnya. Ia bahkan tak tahu, apakah si pocong itu masih ada di depannya atau tidak, yang pasti ia merasakan bahwa belatung itu sudah menghilang dari wajahnya.
Ia duduk meringkuk. Matanya ia pejamkan sambil ada sedikit air mata yang keluar karena ketakutan. Mungkin baru kali ini seorang Ihsan merasakan ketakutan yang luar biasa.
"Ampun, Cong, ampun," katanya.
"Aku gak salah apa-apa, Cong, kenapa diteror?" ucapnya lagi.
Itulah Ihsan. Seorang lelaki yang dipenuhi dengan kesan humor, tak terkecuali dalam keadaan takut sekalipun. Namun tetap saja, tubuhnya yang gemetaran serta air mata yang keluar itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa dia sedang dalam kondisi yang memprihatinkan. Hanya gelap yang ia lihat karena matanya ia tutup menggunakan lengan tangannya. Ia hanya berharap semoga sosok pocong menakutkan itu sudah pergi dari hadapannya. Ihsan tetap berada pada posisinya sambil komat-kamit baca doa. Ia bahkan tak sedikitpun punya keberanian untuk membuka mata, takut jika seandainya pocong itu masih berada di tempat tadi. Hingga tiba-tiba, ia merasakan ada tangan yang terasa sangat dingin sedang menyentuh pundaknya.
"Aaaaa!" jeritnya lagi.
Ia merasakan bahwa tangan itu dingin bagai es batu. Dalam pikirannya, hanya para makhluk tak kasat mata lah yang punya suhu tangan seperti itu. Ia tak berpikir yang lain. Hanya hantu yang ada di pikirannya. Tak mungkin manusia punya suhu tangan sedingin itu. Dalam jeritnya, Ihsan merasa bahwa ini adalah akhir dari hidupnya. Berkali-kali ia menyesal. Harusnya tadi tidak usah pergi ke kamar mandi. Biarlah jika seandainya sampai ngompol, yang penting tidak mengalami kejadian seperti ini.
"Aaaa! Ampun!" jerit Ihsan.
"Oi, San. Kau kenapa? Ini aku."
Ketika Ihsan mendengar ada suara seseorang yang ia kenal, ia pun mulai memberanikan diri untuk membuka mata, dan alhasil di depannya sudah terpampang jelas wajah seorang manusia tampan yang tak lain adalah Alvaro Aditama.
"Jangan mendekat! Kau bukan Alvaro," kata Ihsan sambil menjauh dari Alvaro.
Tentulah ia masih trauma dengan kejadian yang tadi, di mana saat itu si pocong menyamar menjadi Imam. Ihsan berpikir bahwa yang ia lihat saat ini bukanlah Alvaro, melainkan sosok pocong yang menjelma menjadi Alvaro.
"Kau kenapa?" tanya Alvaro yang bingung, sambil mendekat ke arah Ihsan.
"Kubilang jangan mendekat!" ucap Ihsan lagi.
Pintu sebuah kamar tiba-tiba terbuka dan menampilkan sosok perempuan yang tak lain adalah Nanda. Ia masih terlihat sangat mengantuk.
"Ada apa sih, nih, ribut-ribut?" tanyanya sambil mengucek-ucek mata.
"Hei kau! Siapa kau? Berani-beraninya menyamar jadi teman-temanku," ucap Ihsan ke Nanda.
Gadis itu bingung. Tak tahu apa yang terjadi pada diri seorang Ihsan. Ia menatap ke arah Alvaro seakan ingin meminta penjelasan. Biar bagaimanapun juga, tidurnya sudah terganggu.
"Entahlah, Nda. Dari tadi ia begini," kata Alvaro yang langsung peka.
"Woi San, ini aku Alvaro," ucap Alvaro lagi kepada Ihsan. Nanda pun sudah mendekat ke arah Alvaro dan Ihsan.
Ihsan yang ketakutan mulai menggunakan otaknya lagi. Ia mengamati sekujur tubuh Alvaro sekaligus perilakunya. Kalau dipikir-pikir, tidak mungkin jika makhluk tak kasat mata bisa bertingkah seperti Alvaro yang berada di depannya ini. Buktinya saja, tadi, di saat si pocong itu menyamar menjadi Imam, ia hanya diam saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Sebentar," ucap Ihsan. Ia dengan hati-hati berjalan mendekati Alvaro.
Plakk!
"Aduh."
Sebuah tamparan yang lumayan kencang mendarat tepat ke pipi sebelah kanan Alvaro. Ya, itu adalah tamparan yang dilakukan oleh Ihsan. Entah apa maksudnya, tapi setelah itu, dirinya yang tadi tegang dan ketakutan, kini sudah mulai bisa tersenyum, bahkan juga tertawa.
"Hahaha.... Betul, ternyata kau Alvaro," katanya.
"Ya emang ini Alvaro, San. Kenapa pakai kamu tampar?" Kali ini Nanda yang berbicara.
"Untuk buktiin bahwa dia beneran Alvaro. Takutnya malah hantu yang nyamar jadi Alvaro. Dan kamu...." jawab Ihsan. Ia kemudian menggantung ucapannya sembari menatap tajam ke arah Nanda.
"Apa? Aku Nanda asli, bukan hantu. Nggak usah ngaco, deh," sahut Nanda.
"Jangan coba-coba bohong!" kata Ihsan.
"Cih, biarin aja, Nda. Mungkin nih orang lagi mimpi," kata Alvaro.
"Mimpi apanya?" tanya Ihsan.
"Sebentar," kata Alvaro.
Plakk!
Lagi-lagi terdengar bunyi tamparan yang juga lumayan kencang. Kali ini pipi Ihsan yang menjadi sasarannya, dan yang melakukannya adalah seorang Alvaro Aditama. Mungkin hal ini juga bisa disebut sebagai balas dendam.
"Aduh, kenapa ditampar?" protes Ihsan.
"Sakit, ya? Berarti bukan mimpi, dong. Maaf, aku salah," ucap Alvaro sambil menggaruk-garuk kepalanya. Nanda tersenyum melihatnya.
"Emang kamu kenapa sih, San, malam-malam kok teriak-teriak?" tanya Nanda.
Seketika pertanyaan itu berakhir, Ihsan langsung teringat dengan kejadian menyeramkan yang baru saja ia alami. Ia merapatkan tubuhnya ke tubuh Alvaro, takut jika nantinya si pocong itu kembali lagi. Ketakutan kembali melandanya, namun tak sebesar tadi.
"Kau kenapa?" tanya Alvaro sambil mendorong tubuh Ihsan supaya menjauhinya.
"Aku habis dihantui sama pocong," jawabnya.
"Pocong?" tanya Alvaro dan Nanda bersamaan.
"Iya," jawab Ihsan.
"Pocong itu juga sempat menyamar jadi Imam, makanya aku tadi takut saat lihat kalian berdua," ucap Ihsan jujur.
"Oh, gitu?" tanya Alvaro.
"Iya," jawab Ihsan.
Tiba-tiba timbul keusilan dari dalam diri Alvaro untuk menjahili sahabatnya itu. Melihat raut wajah Ihsan yang ketakutan, ia malah ingin membuat sahabatnya itu lebih ketakutan. Sungguh, Alvaro adalah sahabat terbaik sepanjang masa.
"Oh, jadi pocong yang di belakangmu itu, yang dari tadi ganggu kamu?" tanya Alvaro.
"Apa?" Ihsan meloncat kaget dan dengan gerakan kilat langsung bersembunyi di belakang tubuh Alvaro.
"Jadi dia masih di sini? Di mana sekarang?" tanya Ihsan pelan kepada Alvaro.
"Maksud di belakangmu itu, dia lagi minta gendong kamu. Ya sekarang masih ada di belakangmu, lah," jawab Alvaro tenang. Nanda langsung menyenggol lengan Alvaro, mengisyaratkan untuk menghentikan kejahilannya.
"Al, jangan bercanda, Al," kata Ihsan.
"Ini kenyataan," jawab Alvaro sok serius.
"Ka-kalau begitu, cepat usir dia, Al!" perintah Ihsan. Ia semakin ketakutan karena hal itu.
Nanda terlihat menghembuskan napasnya dengan malas dikarenakan melihat tingkah bodoh kedua sahabatnya itu. Alvaro dengan tingkah usilnya, dan Ihsan yang dengan begitu mudahnya percaya dengan apa yang Alvaro katakan.
Walau bagaimanapun juga, Nanda masih menggunakan otaknya dengan baik. Ia tahu bahwa Alvaro hanya sedang mempermainkan Ihsan dengan bilang bahwa ada pocong di belakang Ihsan. Bukan apa-apa. Mengingat Alvaro yang juga sangat takut dengan pocong, rasanya aneh jika ia bisa berekspresi setenang ini. Itulah yang Nanda rasakan.
"Heh, Ihsan, Ihsan, mau aja dibohongi," ucap Nanda.
"Hahahaha." Alvaro tertawa.
"Cih, sialan kau, Alvaro!" ucap Ihsan.
Alvaro masih tertawa. Tiba-tiba pintu kamar yang dihuni Ihsan sedikit demi sedikit mulai terbuka. Baik Alvaro, Ihsan maupun Nanda memfokuskan pengelihatan ke arah sana guna mengetahui tentang siapa sosok di balik terbukanya pintu itu. Hingga pada akhirnya, terpampang jelas sosok pembuka pintu itu.
"Ada apa sih, malam-malam begini ribut?"
Dia adalah Imam. Yang paling menjadi sorotan dari munculnya Imam adalah ekspresi Ihsan yang kaget sembari bersembunyi lagi di balik tubuh Alvaro. Ia masih trauma dengan si pocong yang menyamar jadi si Imam, tadi.
"Sumpah, pocong dia tuh. Aku yakin, dia pasti pocong," ucap Ihsan berbisik ke Alvaro.
"Pocong, pocong. Dia Imam beneran," ucap Alvaro.
"Nggak, pasti dia itu pocong," kata Imam.
"Dasar penakut," ejek Alvaro. Ia lagi-lagi mencoba menjauhkan diri dari Ihsan.
"Nggak ada apa-apa, Mam. Nih, si Ihsan, habis tidur sambil berjalan," jawab Alvaro ngawur pada pertanyaan Imam yang tadi.
"Ya udah, kalau begitu, aku balik dulu ke kamar," lanjut Alvaro sambil memandang mereka bertiga secara bergantian. Mereka mengangguk, kecuali Ihsan yang masih ketakutan.